Bab 1

Sekelompok tamu tak diundang tiba-tiba muncul di pemakaman kerabat.

Wanita yang memimpin kelompok itu mengaku sebagai pacar suamiku, ingin menghukumku yang dianggapnya sebagai simpanan.

Demi menghormati pemakaman keluarga, aku tidak ingin memperpanjang masalah. Aku hanya menasihatinya untuk menunggu sampai pemakaman selesai.

Siapa sangka, dia tiba-tiba bertindak kasar dengan memerintahkan orang-orang untuk merobek semua pakaianku.

Kerabat di sekitarku hanya berdiri, menonton tanpa melakukan apa-apa, menyaksikan semuanya dengan tatapan dingin.

Aku bertepuk tangan, berdiri, lalu mengarahkan dia untuk berdiri di dekat guci abu.

"Guci abu ibuku ini juga dibeli oleh pacarmu, harganya hampir 20 miliar!"

Simpanan itu benar-benar marah, lalu berteriak sambil menghancurkan guci abu itu hingga pecah berkeping-keping.

"Kalian memang keluarga yang nggak tahu malu. Jangan harap dapat satu sen pun dari pacarku bahkan setelah mati!"

Dia tidak tahu bahwa yang aku maksud dengan "Ibu" adalah ibu dari suamiku, yaitu ibu mertuaku.

Yang dia rusak adalah guci abu dari ibu mertuaku, sementara ini adalah pemakaman ibu mertuaku.

Aku dan suamiku sudah hidup seperti orang asing selama beberapa tahun ini. Tak disangka, keluarganya masih menghubungiku.

"Nita, ibu mertuamu sudah meninggal. Kami nggak bisa menghubungi Viktor. Cepat pulang dan urus pemakamannya!"

Mendengar bahwa ibu mertuaku meninggal, hatiku terasa berdebar aneh.

Bukan perasaan sedih, melainkan perasaan seperti tali yang tegang di dalam hati tiba-tiba terputus.

Sekitar tiga tahun lalu, Viktor Wiryo sudah pisah tinggal denganku.

Sejak kami hidup terpisah, dia seperti menghilang dari dunia ini. Dia selalu ikut berbagai pertemuan bisnis atau keluar masuk bar. Namun, dia sama sekali tidak merespons pesanku ataupun mengangkat teleponku.

Aku mengernyitkan kening. Viktor benar-benar makin tidak bertanggung jawab. Ibunya sendiri mengalami kecelakaan, tapi dia malah tidak bisa ditemukan.

Aku menatap panggilan itu selama beberapa saat. Akhirnya aku membatalkan semua pertemuan selama seminggu, lalu buru-buru pulang ke kampung halaman.

Asisten kecilku tidak berkata apa-apa, hanya memanggilkan sepuluh pengawal untuk menemaniku.

Sepanjang perjalanan, telepon Viktor sama sekali tidak bisa dihubungi. Entah apa yang sedang dia sibukkan.

Aku membuka akun WhatsApp-nya. Satu jam yang lalu dia memperbarui status WhatsApp-nya dengan memamerkan foto mobil sport baru yang dibelinya.

Kerabat memberitahuku bahwa ibu mertuaku sudah membeli guci abu khusus yang nilainya hampir 20 miliar sebelum meninggal. Karena hal ini, dia sempat beberapa kali bertengkar dengan keluarga.

Wajah kerabat Viktor menunjukkan ekspresi kesedihan. Namun, saat harus membayar, mereka semua menghindar lebih cepat daripada siapa pun.

Aku berpikir sejenak, lalu menggunakan kartu kredit Viktor untuk membayarnya.

Telepon Viktor yang sebelumnya tidak bisa dihubungi, hampir seketika itu juga berdering.

"Apa yang kamu beli sampai menghabiskan uang sebanyak itu? Cepat kembalikan!"

Aku tidak ingin berdebat soal uang. Jadi aku hanya mendesaknya, "Cepat pulang ke kampung, ada masalah di rumah."

Viktor akhirnya mendengar suara musik duka di latar belakang. Suaranya terhenti sesaat sebelum akhirnya dia bertanya, "Siapa?"

Aku menjawab dengan tenang, "Orang tua di rumah ada yang meninggal."

Viktor tidak berbicara lagi dan langsung menutup teleponnya.

Aku merasa sangat penasaran. Jika aku tidak bilang bahwa yang meninggal adalah ibu mertuaku, apakah Viktor akan salah mengira bahwa keluargaku yang meninggal, lalu tidak akan datang?

Setelah menyelesaikan semua urusan, aku membuka ponsel untuk mengurus pekerjaan, lalu melihat pemberitahuan dari forum.

"Pacarku menghabiskan 16 miliar tanpa alasan, bukankah ini mencurigakan?"

Jenis postingan dengan judul menggoda seperti ini memang sering muncul. Aku hampir menutupnya, tapi aku sadar kalau aku ternyata mengikuti akun penulis blog ini.

Aku membuka postingannya karena rasa penasaran, lalu membacanya perlahan. Baru pada saat itu aku ingat bahwa dia adalah Chika Kartono, salah satu staf di perusahaan suamiku.

Saat perusahaan Viktor baru dibuka, hubungan kami masih sangat dekat.

Aku membantu Viktor mengurus hampir semua hal di perusahaannya, termasuk merekrut karyawan angkatan pertama.

Orang ini direkomendasikan oleh orang lain. Pada saat melakukan penelitian atas latar belakangnya, aku mengikuti akun media sosialnya.

Aku membuka postingan itu, lalu melihat sudah ada banyak komentar di bawahnya.

Sebagian besar mengatakan bahwa pacarnya memberikan uang untuk wanita lain, yang adalah seorang perempuan matre. Mereka semua juga memperingatkannya untuk berhati-hati.

Aku tidak tertarik dengan berita ini. Tepat ketika aku hendak berhenti mengikuti akun itu, Chika memperbarui postingannya lagi.

"Teman-teman, sudah pasti itu adalah simpanan. Pacarku sedang menuju ke tempat simpanannya untuk berkencan. Aku sedang dalam perjalanan untuk menangkap basah mereka."

Di bawahnya ada gambar tangkapan layar dari aplikasi yang biasa digunakan pasangan. Gambar itu menunjukkan bahwa pacarnya sedang dalam perjalanan ke kampung halamanku dan Viktor.

Bab 2

Aku menghela napas, lalu menutup ponselku.

Lagi-lagi ada seorang yang terluka dalam sebuah hubungan. Jika ada yang bisa aku bantu nanti, aku akan mencoba membantunya.

Viktor masih tidak memberi kabar ataupun menjawab teleponnya.

Ibu mertuaku sudah dikremasi, sementara aku mengirimkan pesan terakhir kepada Viktor, "Aku akan menunggu setengah hari lagi. Kalau malam ini kamu nggak datang, besok aku akan langsung menguburkannya."

Bagaimanapun juga, ini adalah rumah tua. Makin lama jenazah ditinggalkan, makin buruk dampaknya untuk lingkungan sekitar.

Kerabat Viktor sudah mulai berkumpul dalam kelompok kecil. Mereka bermain kartu, sementara kulit kacang tampak bertebaran di lantai.

Aku sengaja duduk jauh dari mereka. Mereka juga tidak menghiraukanku, seolah tidak ingin mencari masalah denganku. Jadi aku meminta pengawal yang berjaga di pintu untuk pergi makan secara bergantian.

Bau rokok yang tertinggal di ruangan itu membuat kepalaku pusing.

Aku mengernyit, ingin keluar untuk menghirup udara segar. Namun, aku mendengar suara gaduh yang makin dekat di luar pintu.

Saat membuka pintu, aku berhadapan langsung dengan Chika.

Di belakangnya ada tujuh hingga delapan orang. Satu tangan mereka memegang ponsel, sementara tangan lainnya memegang tongkat. Jelas mereka datang untuk membuat keributan.

Aku yang sedikit terkejut pun bertanya, "Chika? Kenapa kamu datang ke sini?"

Chika awalnya merasa terkejut. Kemudian, dia meletakkan tangannya di pinggang, lalu berteriak ke arah belakang, "Benar, dia simpanannya! Kalau nggak, kenapa dia bisa tahu namaku?"

Sebelum aku bisa bereaksi, Chika langsung menampar wajahku.

Karena sibuk mengurus masalah pemakaman, aku kurang tidur beberapa hari ini. Aku langsung terjatuh ke lantai dengan mata berkunang-kunang.

Ketika melihat itu, Chika menjerit dan langsung menyerangku lagi. Dia menarik kerah bajuku.

"Pacarku bahkan belum datang, tapi kamu sudah berpura-pura lemah. Dasar jalang!"

Setelah berkata demikian, Chika menamparku lagi. Kuku tajamnya menggores sudut mataku hingga berdarah.

Sebelum aku memahami apa yang terjadi, aku sudah dipukuli tanpa alasan. Emosiku pun tersulut. Aku bangkit berdiri, lalu langsung menampar Chika.

Chika memegangi wajahnya sambil menatapku dengan tatapan tak percaya.

"Kamu berani memukulku? Seorang simpanan hina berani memukul kekasih sah?"

"Pacarku adalah bos besar Grup Andalas! Kamu, orang kampung yang tinggal di desa, berani menggodanya. Apa kamu ingin menaikkan statusmu? Apa kamu sudah bosan hidup?"

Baru saat itu aku mengerti. Ternyata pacarnya adalah suami sahku, Viktor.

Awalnya aku mengira wanita ini sudah salah orang, tetapi ternyata dia memang tidak salah.

Sayangnya, dialah yang sebenarnya simpanan tak tahu malu itu.

Demi menghormati pemakaman ini, aku tidak ingin terlalu banyak berdebat dengan Chika. Aku hanya membalasnya dengan tenang.

"Di rumah ini sedang ada pemakaman, bukan hal yang baik. Pergilah dulu. Nanti setelah pemakaman selesai, baru kita bicara."

Setelah mendengar itu, Chika tertegun. Dia baru menyadari tata letak perabot di rumah ini.

Di ruang tamu, ada foto mendiang yang tergantung. Sementara itu, di atas meja ada sebuah guci abu kecil yang dihiasi berlian berkilauan.

Kerabat yang ada di rumah menghentikan permainan kartu mereka, lalu melihat ke arah kami dengan ekspresi ingin tahu.

Chika mulai menjadi gugup. Dia memegang tongkat seolah bersiap melindungi diri, lalu berkata, "Jangan mendekat! Aku hanya menghukum seorang simpanan. Ini nggak ada hubungannya dengan kalian! Kalau kalian menyentuhku, aku akan lapor polisi!"

Para kerabat tetap tidak bergerak. Wajah mereka memperlihatkan senyum sinis.

Setelah beberapa saat, Chika melihat aku masih tergeletak di lantai tanpa ada yang membantuku. Kemudian, dia tiba-tiba menyadari sesuatu, lalu tertawa keras sambil menunjuk ke arahku.

"Dasar wanita jalang. Lihat saja, keluargamu nggak ada yang membelamu. Siapa lagi yang akan membantumu? Lihat saja, hari ini aku akan menegakkan keadilan!"

Chika melihat foto mendiang, lalu melihat hadiah yang tersebar di seluruh ruangan.

Dia tertawa dingin, lalu berujar, "Orang di foto itu pasti ibumu, sementara hadiah-hadiah ini pasti dari pacarku."

Bab 3

"Kamu menghasilkan uang dari orang mati, apa kamu nggak punya malu? Kalian sekeluarga, jangan harap mendapatkan satu sen pun dari pacarku bahkan setelah mati!"

Setelah berkata begitu, Chika mengarahkan orang-orangnya untuk menghancurkan semua barang di rumah itu.

Baru saat itu aku menyadari bahwa Chika datang dengan segerombolan orang. Paling tidak, ada dua puluh sampai tiga puluh orang yang datang bersamanya. Masing-masing dari mereka memegang tongkat.

Foto almarhum yang tergantung di dinding dilempar ke lantai, membuat kaca bingkainya pecah berserakan.

Beberapa guci keramik yang baru aku beli, yang masing-masing bernilai beberapa puluh juta, jatuh satu per satu, hingga serpihan porselen melukai kakiku.

Aku ingin menghentikan mereka, tetapi ketika melihat kamera pengawas yang baru dipasang di dinding, aku menelan kembali kata-kataku.

"Chika, barang yang kamu hancurkan bernilai lebih dari miliaran. Kalau kamu sanggup membayarnya, silakan terus hancurkan."

Chika merasa aku sudah menghinanya. Tiba-tiba, dia menggila, lalu mulai menyerangku lagi.

"Kamu masih mau berlagak sombong? Uang yang kamu pakai semuanya adalah uang pacarku! Aku akan menghancurkan semuanya! Mau apa kamu?"

Chika menarik rambutku, lalu menyeretku di lantai. Gaun sutra yang aku pakai robek terkena serpihan porselen, lalu suara robekan kain yang tajam terdengar di telingaku.

Aku tanpa sadar menutupi dadaku. Namun, aku melihat tatapan mata Chika yang makin menggila.

"Gaun ini pasti mahal juga, 'kan? Apakah ini juga pacarku yang membelinya untukmu? Lepaskan sekarang juga! Kembalikan semua barang yang pacarku beli!"

Aku menyadari bahaya dari situasi ini. Aku mati-matian menahan gaunku, berharap Chika akan segera tersadar.

"Meski pacarmu selingkuh, kamu seharusnya menghadapinya untuk menyelesaikan masalah. Kenapa kamu malah menyerangku?"

Chika sudah memanggil beberapa orang untuk menahan tangan dan kakiku, lalu dengan ganas mulai merobek pakaianku seperti orang gila.

"Kalau bukan karena kamu merayu Viktor, dia nggak akan tergoda! Semua ini salahmu, dia nggak bersalah!"

Begitu dia selesai bicara, pakaian terakhir yang menutupi tubuhku pun sudah direnggut olehnya.

Dia tertawa sambil mengangkat ponselnya untuk memotret, lalu terus mengoceh, "Bukannya kamu sangat menggoda? Biarkan keluargamu dan netizen melihat seperti apa kamu sebenarnya!"

Ketika mendengar itu, wajah para penonton yang semula tampak acuh, kini berubah jahat. Beberapa di antara mereka mengeluarkan ponsel, lalu mulai merekam ke arahku.

Kepalaku mulai berputar. Perasaan yang sudah lama terkubur kembali muncul.

Beberapa tahun lalu, kejadian yang sama juga pernah terjadi. Mertuaku juga memperlakukanku seperti ini.

Tak kusangka, beberapa tahun kemudian di pemakamannya, aku mengalami penghinaan yang sama.

Ketika aku menutup mataku dengan putus asa, asistenku datang bersama dengan lima orang pengawal.

Para pengawal ini adalah orang yang sangat terlatih. Mereka menjatuhkan beberapa orang hanya dalam hitungan detik, lalu langsung melindungiku.

Ketika melihat ini, para kerabat mulai gelisah.

"Kenapa kalian ikut campur? Kami belum puas melihatnya!"

"Benar, apa hanya kalian yang boleh menonton, tapi kami nggak boleh? Alasan macam apa ini?"

Salah satu pengawal yang sudah sangat marah, langsung meninju seorang pria paruh baya yang sedang berkomentar dengan kata-kata kotor. Pria itu menjerit kesakitan sambil memegangi perutnya, lalu darah mengalir dari hidungnya.

Ketika semua orang melihat perkelahian meluas ke pihak mereka, para penonton pun segera berlari kabur sambil berteriak. Dalam sekejap, rumah kecil itu dipenuhi oleh keributan yang kacau balau.

Meski pengawal kami sangat terlatih, mereka kalah dalam hal jumlah. Para kerabat serta orang-orang yang dibawa oleh Chika mulai bergabung melawan pengawal, tidak membiarkan mereka mendekatiku.

Chika berjongkok di depanku dengan senyum penuh kemenangan.

"Wah, wanita jalang keluar rumah dengan membawa pengawal ya? Pasti uang Viktor lagi yang kamu pakai, 'kan?"

"Apa kamu pikir kamu benar-benar akan menikah dengan orang kaya? Apa kamu bermimpi sampai otakmu rusak?"

Pandangan mataku melewati Chika, mendarat pada wajah-wajah jahat yang sedang tersenyum. Akhirnya, mataku tertuju pada guci abu yang berkilauan di sana.

Aku mengangkat tanganku, lalu tersenyum mengejek kepada Chika.

"Memang kenapa kalau kamu menggila seperti ini? Viktor tetap mau menghabiskan uangnya untukku."

"Lihat guci abu itu. Harganya 16 miliar! Viktor yang membayar semuanya! Kalau berani, hancurkan saja!"

Chika melihat ke arah yang aku tunjuk dengan tatapan tak percaya. Kemudian, dia berdiri dengan penuh amarah.

"Jadi memang benar, kamu yang menghabiskan 16 miliar itu, dasar jalang!"

"Kenapa? Ini hanya pemakaman keluargamu yang nggak berguna. Kenapa pacarku harus membayarnya?"

"Orang sepertimu nggak pantas memakai barang bagus. Keluargamu nggak pantas menerima sepeser pun dari pacarku!"

Sambil memaki, Chika mengambil guci abu yang dibuat secara khusus itu dari meja.

Kemudian, dia melemparkannya dengan keras ke lantai.

"Aku akan menghancurkan ini untuk pacarku. Biar keluargamu semua nggak bisa hidup dengan baik!"

Dituduh Sebagai Simpanan Setelah Membeli Guci Abu Seharga 16 Miliar

Bab 1
Bab
Sesuaikan
Bab Berikutnya