Bab 1
Ini hari pertamaku pindah ke SMA swasta elite.
Aku melihat satu meja dan kursi berwarna merah tua di barisan belakang ruang kelas yang tidak diduduki siapa pun.
Semua orang di kelas baruku sering bicara dengan meja dan kursi itu.
"Selamat pagi."
"Sampai ketemu besok."
Seolah-olah ada seseorang yang duduk di sana.
Seseorang yang terlihat di mata semua orang, kecuali aku.
Ini hari pertamaku pindah ke SMA swasta elite.
Aku melihat satu meja dan kursi berwarna merah tua di barisan belakang ruang kelas yang tidak diduduki siapa pun.
Semua orang di kelas baruku sering bicara dengan meja dan kursi itu.
"Selamat pagi."
"Sampai ketemu besok."
Seolah-olah ada seseorang yang duduk di sana.
Seseorang yang terlihat di mata semua orang, kecuali aku.
Aku berdiri di podium. Ruang kelasnya lumayan sempit. Gadis yang duduk di sudut baris terakhir di dekat dinding menarik perhatianku.
Kulitnya pucat, tapi bibirnya merah cerah. Wajahnya mungil dan indah, memancarkan aura yang anggun dan murni. Seperti anggrek yang sedang mekar.
Dia menyadari tatapanku yang terlalu lama dan sedikit mengerutkan kening.
Suara wali kelas, Pak Samuel, memotong di saat yang tepat. "Jangan berdiri saja, ayo perkenalan."
Aku tersentak kembali dan memaksakan sebuah senyuman. "Halo semuanya, namaku Farah Elara."
Diiringi tepuk tangan meriah, aku berjalan menuju tempat duduk yang ditentukan Pak Samuel untukku. Di bangku tepat di depan gadis pucat itu. Teman sebangkuku adalah ketua seksi olahraga kelas bernama Bastian.
Sebelum duduk, aku menyapu pandang ke buku pelajaran gadis di bangku belakangku. Namanya tertulis rapi dalam tulisan tangan yang indah.
Laura Pramesthi.
Saat aku baru duduk, Bastian berbalik ke samping dan meraih tangan Laura yang sedang mengemasi buku.
Laura menepis tangannya.
Siswa laki-laki itu tersinggung. "Pegang tanganmu saja nggak boleh?"
Dia menyeringai dengan jahil. "Kamu malu ya dilihat anak pindahan? Kulitmu halus banget. Farah, kamu mau coba pegang?"
Para siswa di sekeliling seperti sudah terbiasa dengan pemandangan ini. Mereka lanjut hilir mudik dengan acuh tak acuh. Sesekali, ada yang menengok dengan tatapan jijik.
Aku berkata dengan suara dingin, "Apaan sih? Jangan pegang-pegang."
Matanya menatapku beberapa saat. Mungkin dia teringat Pak Samuel menyebutkan bahwa aku anak pengusaha kaya. Jadi, dia merasa aku bukan seseorang yang bisa diganggu.
Dia mendecakkan lidah dan mengeluh, "Ah, nggak seru." Lalu dia bangkit dan meninggalkan ruang kelas.
Aku menoleh kepada Laura dan bertanya penuh perhatian, "Kamu nggak apa-apa?"
Laura menggeleng. Bulu matanya berkibar seperti sayap kupu-kupu, menimbulkan bayangan di bawah matanya.
Hatiku terenyuh.
"Kalau dia ganggu kamu lagi, bilang sama aku. Aku pasti bantu."
Dia memandang padaku. Matanya menyembunyikan emosi yang tidak dapat kumengerti. Seperti terkejut, tapi juga seperti kecewa.
Semua tempat duduk di kelas diatur dua-dua, tidak terkecuali Laura.
Kursi di sebelahnya kosong, dan warna mejanya terlihat lebih gelap dari miliknya, seperti kayu mahoni.
Terdapat goresan acak-acakan di meja berwarna merah tua itu. Samar-samar, aku dapat melihat satu kata terukir di atasnya.
Pelacur.
Saat istirahat siang, Laura pergi keluar bersama ketua kelas, Paula.
Dia baru pulang ketika bel masuk hampir berbunyi.
Pipi kanannya sedikit merah dan bengkak. Ekspresinya murung. Seragam sekolahnya yang semula bersih kini kotor dan bernoda lumpur.
Aku berbalik dan bertanya padanya, "Laura, kamu nggak apa-apa?"
Paula yang datang bersamanya mendengar pertanyaanku. "Tuan putri kita memang yang paling manis. Anak pindahan yang baru datang saja langsung suka."
Paula menepuk bahu Laura. Cat kuku merahnya menyengat mataku.
"Sesuka itu kamu dengan Tuan Putri? Perhatian sekali?"
Dia berdiri di samping Laura dan membuka tutup botol kola di tangannya, sudah hampir meneguk.
Dia membawa minuman bersoda itu sepanjang perjalanan ke kelas. Sehingga botolnya terkocok dan isinya banyak yang muncrat keluar saat tutupnya dibuka.
Sebagian besar cairan cokelat itu mendarat di baju kotor Laura. Sebagian kecil memercik ke sudut meja warna merah tua di sebelah Laura.
Seisi kelas seketika hening. Tatapan ngeri yang tak terhitung jumlahnya tertuju pada meja itu. Wajah Paula memucat dalam sekejap.
Dengan panik, dia menyeka meja dengan lengan baju putih bersihnya, sambil terus bergumam, "Maaf, Nadia. Maafkan aku, aku nggak sengaja. Maafkan aku."
Bab 2
Baru setelah bel berbunyi, dia berlari ke tempat duduknya, seakan-akan baru terbangun dari mimpi.
Aku menatap Laura dengan bingung. "Kenapa dia?"
Laura tidak menjawab. Matanya melebar dan kosong. Setelah beberapa saat, dia memaksakan senyum.
"Farah, jangan pedulikan meja ini. Jangan pedulikan aku."
"Dia akan kembali lagi."
Di kelas XI IPA 7, Laura adalah anak yang paling sering di-bully.
Meski dia cantik, pendiam, dan kalem, dia adalah siswa tidak mampu penerima beasiswa. Para siswa yang merasa lebih tinggi tidak mau menerimanya.
Aku tidak mengerti mengapa mereka harus mem-bully salah seorang siswa di kelas.
Dia menyuruhku untuk tidak memedulikannya, tapi aku tidak bisa.
Aku ingin menarik anggrek putih itu keluar dari lumpur dan membantunya mekar kembali.
Suara kapur di papan tulis berhenti. Guru selesai memberikan pekerjaan rumah dan membubarkan kelas.
Langit di luar jendela mendung meski bukan musimnya. Angin menderu menghantam bingkai jendela. Para siswa yang duduk di sebelah jendela terkena rintik-rintik hujan yang tertiup angin. Mereka buru-buru menutup jendela.
Langit menjadi gelap gulita dalam sekejap. Petir membelah awan, menyinari ruang kelas yang lampunya belum dinyalakan.
Wajah Paula pucat pasi. Bibirnya membuka dan menutup mengatakan sesuatu. Aku terlalu jauh dan tidak bisa mendengarnya, tapi aku dapat melihat dengan jelas dari gerak mulutnya bahwa dia berkata, "Maafkan aku."
Para siswa akhirnya berkemas, membawa buku-buku pelajaran yang berat dan mengunci pintu kelas.
Mereka tampak gugup, tapi mereka memasang senyum lebar. Satu per satu berjalan menuju meja dan kursi merah tua di sebelah Laura dan berpamitan.
"Sampai jumpa besok, Nadia!"
"Sampai jumpa, Nadia!"
....
Mereka berbaris seolah sedang menyelesaikan suatu tugas. Setelah berpamitan, mereka satu per satu meninggalkan kelas melalui pintu belakang.
Akhirnya, hanya aku dan Laura yang tersisa di dalam kelas.
Lampu masih belum dinyalakan. Saat petir menyambar, aku menangkap ekspresi di wajah Laura.
Wajahnya yang pucat semakin pucat. Senyum sinis mengembang di bibirnya.
Bibir indahnya terbuka lembut, "Sampai ketemu besok, Nadia."
Siapa Nadia?
Siapa yang mereka ajak bicara?
Suara guntur menggelegar.
Tampak ada seorang gadis duduk di meja dan kursi berwarna merah tua. Dia berlumuran darah dan sudut mulutnya terbelah membentuk lengkungan mengerikan yang melebihi batas.
Aku berkedip dan mencoba melihat lebih jelas, tapi sosok itu tidak terlihat lagi. Seolah aku sedang berhalusinasi.
Sensasi rasa dingin menjalar di punggungku. Aku mengambil tasku dan bergegas keluar dari kelas seakan-akan melarikan diri.
Keesokan harinya, aku memanfaatkan waktu istirahat siang untuk pergi ke ruang arsip sekolah, mencari foto-foto siswa dari tahun-tahun sebelumnya.
Memang ada seorang gadis bernama Nadia Larasati dalam foto kelas X IPA 7. Dia sangat mirip dengan sosok hantu yang kulihat kemarin.
Dia memakai kacamata dan berambut pendek sedagu. Dia terlihat biasa saja dan pemalu.
Petugas pengelola arsip melihatku memandangi foto kelas X IPA 7 dengan tatapan kosong. Dia menghampiriku dan berkata, "Oh, kelas ini. Ada anak yang nilainya sangat bagus, tapi sayangnya hasil nyontek."
Aku tidak penasaran dengan gosip semacam ini. Aku hanya mengangguk dan mengeluarkan ponsel untuk memotret foto itu.
Mata Nadia yang ada di ponselku berubah mengeluarkan air mata darah dan sudut mulutnya pecah-pecah. Seperti ada yang memotong kedua sisi mulutnya.
Aku kaget dan buru-buru ingin menekan tombol hapus, tapi Nadia kembali menjadi wajah malu-malunya seperti semula.
Mungkin aku terlalu lelah karena pindah rumah dan pindah sekolah, sehingga sering melihat yang tidak-tidak.
Aku kembali ke kelas aku dan mendapati bahwa anak-anak di kelas sering berbicara ke bangku itu.
"Nadia, makanan di kantin siang ini enak?"
"Nadia, kamu sudah ngerjain soal ini? Aku nggak bisa."
Bab 3
....
Aku semakin bingung, jadi aku bertanya pada Laura, "Laura, kamu kenal Nadia?"
Laura menunjuk meja di sebelahnya, tapi tidak mengatakan apa-apa.
Aku lalu menepuk bahu siswa laki-laki yang duduk di depanku.
Dia berbalik dan menatapku bertanya-tanya.
"Nadia yang sering kalian panggil-panggil itu siapa? Setahuku, nggak ada yang namanya Nadia di kelas, 'kan?"
Kelas sangat ramai. Karena takut dia tidak mendengar ucapanku dengan jelas, aku agak mengeraskan suaraku.
Tapi kelas seketika sunyi. Siswa yang duduk di depanku buru-buru menoleh ke belakang dengan wajah pucat, memegangi kepalanya dan bergumam.
"Bukan salahku. Aku nggak tahu, aku nggak tahu."
Paula memaksakan senyum dan berkata, "Farah, kamu ini gimana? Nadia 'kan di sebelah Laura, kamu nggak lihat?"
Kelas menjadi hidup kembali.
Semua orang memperkenalkan Nadia dengan kata-kata masing-masing.
"Nadia sangat cantik. Kulitnya putih, matanya lebar, paling cantik di kelas kita! Masa kamu nggak merhatiin?"
"Iya, Farah, Nadia itu favorit di kelas kita. Jangan cuekin dia."
"Kulit Nadia mulus, alisnya tipis melengkung. Alis alami, bukan make-up. Ya 'kan, Nadia?"
"Aku iri sama warna bibir Nadia. Merahnya cerah alami. Lihat bibirku, jelek banget."
Mereka berebut untuk bicara, seperti takut terlambat.
Ketika aku menoleh ke belakang, meja dan kursi yang kosong masih tetap kosong.
Matahari tengah hari sedang terik-teriknya. Garis-garis sinarnya jatuh ke atas meja itu, membingkai kata "pelacur".
Laura tersenyum tipis.
Tampak persis seperti Nadia cantik yang mereka gambarkan.
Pelajaran olahraga sore itu gabungan dari dua kelas. Saat waktu bebas, Bastian menarik pergelangan tangan Laura, memaksa ditemani ke ruang peralatan untuk mengambil bola basket.
"Ayo Laura, waktu kita terakhir ke ruang peralatan itu asyik, 'kan?"
Mata Laura diwarnai rasa takut. Dia berjuang untuk melepaskan diri dari cengkeraman Bastian.
Aku buru-buru melangkah maju dan melindungi tubuh Laura.
"Bastian, ambil benda seringan bola basket saja perlu ditemani anak perempuan?"
Bastian melepaskan pergelangan tangan Laura dan pergi dengan marah.
Sebelum aku sempat berkata apa-apa, Laura berkata dengan pandangan tertunduk, "Terima kasih."
Aku takut dia akan diganggu lagi, jadi aku berkata, "Aku bisa melawannya, Laura. Jangan takut aku kena masalah, panggil aku kapan saja kalau kamu butuh sesuatu."
Dia tiba-tiba mendongak, bekas tamparan yang masih membekas di wajahnya tampak sangat mencolok. Matanya yang cokelat gelap memeram banyak emosi yang tidak dapat kumengerti, termasuk benci, amarah, dan rasa tersentuh.
Dia menarik napas dalam-dalam. "Farah, kamu anak baik. Jangan pedulikan aku."
Melihat wajahku yang tidak mengerti, dia membisikkan sesuatu yang tidak dapat kupahami.
"Kamu tadi pagi bilang kalau kamu nggak bisa lihat Nadia. Kata-katamu itu membuat gembok di tubuhnya terbuka."
Aku segera bertanya apa maksudnya.
Tapi dia tidak mengatakan apa-apa, hanya menggelengkan kepalanya tanpa suara dan berbalik pergi, duduk di dekat petak bunga.
Seorang siswa laki-laki kelas sebelah menghampiriku setelah melihat Laura pergi. "Kamu anak pindahan itu, ya?"
Dia memegangi bola basket dan tersenyum cerah, terlihat seperti anak yang supel.
Aku tidak menjawab pertanyaannya dan balik bertanya dengan sedikit bersemangat, "Kamu tahu ada yang namanya Nadia di kelas kami?"
Dia menggaruk kepalanya dan mencoba mengingat-ingat.
"Nadia ... ingat, ingat! Dia anak yang dulu mencontek waktu ujian. Memangnya kenapa? Kamu anak pindahan, 'kan? Harusnya kamu nggak tahu dia. Dia sudah meninggal."
Meninggal?
Lalu siapa yang mereka ajak bicara setiap hari?
Nadia itu tidak ada!
Ketika anak laki-laki itu melihat wajahku tiba-tiba pucat, dia menyodorkan kola yang masih tersegel kepadaku. "Kenapa? Lemas belum makan siang? Minum ini."
Aku menolak tawarannya, mencoba mengendalikan suaraku yang gemetar.
"Dia meninggal kenapa?"
"Kayaknya kecelakaan? Aku dengar dari anak-anak kelas kalian kalau Nadia itu secantik Laura. Tapi aneh, kenapa aku nggak pernah lihat gadis secantik itu sejak masuk?"
"Tapi," bisiknya sambil mencondongkan tubuh lebih dekat padaku. "Aku dengar katanya Nadia ini sangat terkenal. Sampai-sampai dia meninggalkan meja dan kursinya di kelas sebagai kenang-kenangan setelah kematiannya. Beneran ada meja kursi kosong punya dia di kelasmu?"
Benar.
Meja dan kursi tua berwarna merah yang dicoret-coret.
Langit kembali mendung.