Bab 1

Pertama kali aku tidur di ranjang yang sama dengan seorang pria, apalagi di tengahnya ada sahabatku.

Pada pagi hari, pria itu diam-diam menciumku dan berjanji akan bertanggung jawab padaku.

Aku sudah berusia 25 tahun, tetapi masih belum pernah berhubungan seks dengan seorang pun pria.

Sahabatku, Julia Joman tiba-tiba memberitahuku bahwa kami harus berbagi ranjang dengan dua pria malam nanti.

Mataku langsung berbinar dan memperlihatkan ekspresi canggung.

Sebenarnya, hatiku sama sekali tidak merasa canggung karena aku pernah melihat dua pria itu.

Salah satu dari mereka adalah tipe pria idealku dengan tubuh 185 cm. Pria itu juga memiliki garis rahang yang sangat jelas dan mata yang bersinar cerah, serta jari tangan dan kaki yang panjang...

Dia tampak sempurna dalam segala sisi. Akan tetapi, aku hanya bisa menatapnya tanpa berani mendambakannya.

Sebab, pria itu adalah adiknya Julia. Dia lebih muda delapan tahun dariku.

Hal yang terpenting adalah Sandy Joman masih belum menginjak usia dewasa. Meskipun sikapnya sudah tampak dewasa, aku tetap harus memikirkan hati nuraniku.

Lalu, kenapa kami berempat harus berbagi ranjang?

Aku dan Julia sangat miskin. Kami hanya mendapatkan gaji yang cukup untuk membayar biasa sewa serta memenuhi kebutuhan sehari-hari.

Dua adik laki-lakinya, Sandy dan Kevin Joman memberitahunya akan bermain ke kota saat liburan musim panas.

Dengan tujuan menghemat lebih banyak dana, kami memutuskan untuk tinggal bersama di satu tempat. Untungnya, ranjang ini cukup besar untuk ditiduri empat orang.

Demi bisa bermain bersama mereka hari ini, aku rela mengenakan sepatu setinggi 7 cm untuk berjalan sepanjang hari.

Aku bahkan memperlihatkan diri sebagai seorang kakak yang dewasa.

Namun, empat orang yang harus mandi setelah pulang ke rumah sontak menjadi masalah. Oleh karena itu, aku langsung pulang terlebih dahulu.

Tak diragukan lagi, aku merasa nyaman setelah melepaskan sepatu dengan ketinggian 7cm.

Meskipun terus mengingatkan diri untuk bertingkah seperti seorang kakak, hatiku tanpa sadar terkekang begitu melihat wajah itu.

Setelah mandi dan mengeringkan rambut, aku pun menyemprotkan sedikit parfum di ruangan. Akan tetapi, itu masih belum cukup. Di malam hari, aku tanpa sengaja mengoleskan sedikit bedak padat di wajah agar terlihat cantik.

Saat ini, aku yang menjadi seorang gadis licik malah menunggu suara ketukan pintu.

Tak lama kemudian, suara ketukan pintu pun terdengar. Aku langsung membuka sedikit celah pintu dan merasakan tekanan dari pria berpakaian hitam di depanku.

Setelah mendongak dan meliriknya sejenak, aku pun berbalik sambil menggerakkan rambutku yang baru saja dicuci dengan harum.

Di dalam cermin, aku bisa merasakan bahwa pria berpakaian itu terus melihatku.

Meskipun kami sudah bermain bersama sepanjang hari, aku tetap merasa malu saat berinteraksi dengan dua adik itu di satu ruangan.

Ketika Julia sedang mandi, Sandy sudah berbaring di sebelahku. Sementara itu, Kevin berbaring di sisi luar dan kemudian aku berbaring di sisi dalam.

Awalnya, aku hanya mengira bahwa Sandy masih kecil, tetapi aku sepertinya lupa kalau dia adalah seorang pemain basket yang bermain setiap hari. Sandy mengenakan pakaian berlengan pendek, dia berbaring di ranjang dan memperlihatkan otot-otot yang kokoh di lengannya. Sungguh menyilaukan! Akan tetapi, aku tidak berani melihatnya terlalu lama.

Sandy terus memancarkan aura maskulin yang kuat.

Sebagai seorang gadis yang baru pertama kali berdekatan dengan pria, aku benar-benar merasa canggung. Sebab itu, aku tidak berani berbaring dan mendesak Julia agar bisa mandi secepat mungkin.

Meskipun kedua adik itu sedang bermain game, aku bisa merasakan tatapan Sandy.

Tatapannya sangat gairah, sehingga membuatku semakin gugup. Akhirnya, aku hanya bisa berpura-pura memainkan ponsel.

Bab 2

Rasanya seperti satu abad telah berlalu, Julia akhirnya selesai mandi.

Begitu Julia berbaring di antara aku dan Sandy, barulah aku berani berbaring.

Kakak beradik itu benar-benar tidur sangat nyenyak, bahkan suara napas mereka pun terdengar sangat jelas.

Aku perlahan tertidur di antara suara napas yang tenang itu.

Ketika langit mulai terang, aku yang masih linglung merasakan sesuatu yang lembut menempel di bibirku.

Sentuhan itu terasa samar. Di sisi lain, tubuhku semakin panas dan mulai kesulitan bernapas.

Begitu aku membuka mata, wajah Sandy ada di depanku dan bibirnya masih mencium bibirku. Kedua tangannya menopang di bahuku, postur seperti ini tampak mesra.

Pikiranku tiba-tiba kosong dan wajahku sontak memerah.

Andai saja orang di depanku bukan Sandy, aku pasti sudah melapor polisi. Akan tetapi, begitu melihat wajah Sandy, aku sama sekali tidak ingin menolak.

Terlepas dari semua itu, aku harus segera sadar.

Di sampingku masih ada dua orang lagi.

Omong-omong, kenapa aku bisa tidur di sebelah Sandy?

Saat ini, aku tidak bisa memikirkan banyak hal, karena pria di atas tubuhku sepertinya sudah terangsang.

Aku dicium hingga merasa sedikit lemas. Aku tidak tahu tenaga dari mana yang kumiliki sehingga bisa mendorongnya menjauh.

Aku berusaha dengan susah payah untuk bangkit dari tubuh dua orang itu, tetapi Sandy menarikku kembali.

Aku kehilangan keseimbangan sehingga terjatuh ke dalam pelukannya lagi. Kemudian, tanganku tidak sengaja menopang di pahanya.

Sungguh memalukan!

Aku takut akan membangunkan dua orang di sebelahku, jadi aku hanya bisa menopang pahanya dengan kuat dan berusaha untuk tidak mengeluarkan suara apa pun.

Sandy perlahan mendekatkan wajahnya ke telingaku.

"Maaf, Kak. Aku pasti akan bertanggung jawab padamu."

Tiba-tiba, wajahku memerah dan kepalaku berdengung. Aku tanpa sadar mengangguk.

Setelah turun dari ranjang, aku langsung berlari ke toilet dan menutup pintunya.

Saat bercermin, aku merasa sangat malu.

Aku tiba-tiba berpikir bahwa apa tindakanku tadi malam sedikit keterlaluan, sehingga membuat Sandy tidak bisa menahan diri.

Bagaimanapun, aku juga tidak bodoh. Meski Sandy masih kecil, tapi pengetahuannya mungkin tidak kalah dariku.

Aku terus membilas wajahku dengan air dingin, agar bisa segera menurunkan suhu.

Di mana harga diriku lagi kalau sampai Julia tahu hal ini.

Setelah membilas wajahku cukup lama, aku sudah merasa jauh lebih baik. Tiba-tiba, terdengar suara dari pegangan pintu toilet.

Mungkin karena otakku tidak berjalan dengan baik hari ini, aku hanya melihat pegangan pintu itu diputar begitu saja.

Kemudian, sosok yang tinggi perlahan-lahan mendekatiku.

Sampai-sampai aku mundur ke depan wastafel.

"Kak, kemarin kamu masih setinggi aku. Kenapa tiba-tiba menjadi begitu kecil?"

Bab 3

Wajah dan perilakunya memang bisa membuatku terpesona hingga gila, tetapi setiap gerakannya tetap memperlihatkan kekanak-kanakan.

Aku seketika jatuh dalam keadaan dilema.

Entah dari mana keberanian itu muncul, aku menatapnya dengan tegas.

"Dek Sandy, apa pun yang kamu pikirkan, aku harap kamu benar-benar tahu apa yang sedang kamu lakukan. Kalau kamu hanya terbawa perasaan sesaat, aku bisa anggap tidak ada yang pernah terjadi."

Tatapannya sontak memuram dan juga menghindar, bahkan juga menarik tangannya kembali. Dia tampak bingung.

"Oh iya, Dek Sandy. Sekarang, aku masih belum bisa menghidupimu."

Saat ini, sosoknya yang tinggi tampak kehilangan sedikit wibawa.

"Kak, kamu mandi dulu. Maaf!"

Setelah Sandy berjalan keluar, aku kembali ke situasi semula dan juga merasa jauh lebih tenang.

Namun, apakah perkataan yang baru saja aku katakan itu sedikit keterlaluan?

Sungguh menyebalkan! Padahal aku tidak ingin melukai hati siapa pun, apalagi seorang pria tampan yang tampak lemah.

Pada pukul setengah sembilan, aku dan Julia pun berangkat kerja.

Mengingat kami tidak memiliki rahasia satu sama lain, aku tidak tahu apakah harus jujur pada Julia.

Namun, ada satu pertanyaan yang ingin kutanyakan sebelum itu.

Di dalam bus, aku melihat Julia.

"Apa yang kamu lakukan semalam?"

Julia langsung tertawa terbahak-bahak, aku tahu bahwa semua itu adalah ulahnya.

"Aku ingat seseorang pernah bilang kalau adikku sangat tampan, bukan? Nah, ini adalah kesempatanmu untuk berinteraksi lebih dekat dengannya."

"Kamu jangan bercanda lagi. Kamu pasti merasa sangat panas di tengah malam, sehingga mendorongku ke bagian tengah. Aku sangat tahu sifatmu."

"Kamu memang sangat memahamiku."

Aku memukulnya dengan kuat, tetapi dia seharusnya akan mengusir Sandy pulang begitu tahu apa yang terjadi barusan.

"Maaf, sayangku. Kalau kamu keberatan, aku akan segera mengusir mereka berdua pulang."

Seperti dugaan, kami memikirkan hal yang sama.

Namun, aku masih belum puas melihat pria tampan. Bagaimana aku bisa membiarkan mereka pulang begitu cepat?

"Tidak apa-apa! Aku tidak keberatan!"

"Omong-omong, banyak juga gadis di sekolah yang tergila-gila pada Sandy. Benarkah dia setampan itu?"

Aku berpura-pura tenang dan berkata, "Aku tidak membantahnya."

"Semester lalu, ada guru musik yang baru mengajar di kelas mereka dan sepertinya seumuran dengan kita. Sandy terus memuji kalau gurunya sangat cantik."

"Dasar bocah kecil,” lanjut Julia.

Benar juga, usiaku segini pun bisa menjadi gurunya.

"Bukankah semua anak kecil seperti ini? Mereka sangat suka pada guru muda yang baru dan menarik."

Aku mencoba untuk menghiburkan suasana, tetapi hatiku merasa sangat sedih.

Setelah bertahun-tahun, aku tidak pernah merasakan cinta. Akhirnya, aku menemukan seorang pria yang membuatku jatuh cinta, tetapi pria itu adalah orang yang seharusnya tidak aku sukai.

Namun, aku tetap berharap bahwa dia hanya memperlakukanku seperti itu.

Mimpi yang Mengubah Hidup: Si Malaikat

Bab 1
Bab
Sesuaikan
Bab Berikutnya