Bab 1
Tunanganku adalah ilmuwan otak terkemuka di dalam negeri. Kekasih masa kecilnya, Yuki, didiagnosis kanker dan hanya bisa hidup selama sebulan.
Demi menemaninya melewati hari-hari terakhirnya, Oscar memaksaku meminum obat penghapus ingatan yang baru dikembangkan agar aku melupakannya selama sebulan.
Dalam sebulan itu, dia menikahi Yuki, berbulan madu, dan berjanji untuk bertemu kembali di kehidupan berikutnya di tengah lautan bunga.
Sebulan kemudian, Oscar menangis darah, berlutut di tengah hujan. Dengan suara serak, dia bertanya kepadaku.
"Obat itu seharusnya hanya bekerja selama sebulan. Kenapa kamu melupakanku seumur hidup?"
Cinta pertama Oscar, Yuki, telah kembali ke tanah air.
Dengan santai, Oscar menuangkan segelas air gula merah dan menyerahkannya kepadaku. "Yuki mengidap kanker stadium akhir, hidupnya hanya tersisa sebulan. Dia ingin aku menemaninya di akhir hayatnya."
Ekspresinya tenang, sama sekali tak terlihat ada emosi.
Aku bertanya dengan bingung, "Di saat seperti ini bukankah seharusnya dia mencari keluarganya? Kenapa malah mencarimu?"
Yuki adalah kekasih masa kecil Oscar. Oscar pernah berkata, meskipun mereka putus, mereka tetap seperti keluarga. Dulu aku sering cemburu pada Yuki. Namun, sebentar lagi aku dan Oscar akan menikah.
Oscar menunduk, menghindari tatapanku. "Paman dan Bibi baru saja meninggal dalam kecelakaan mobil, sekarang dia sendirian."
"Kamu merasa kasihan padanya," kataku yang menangkap emosinya dengan peka.
"Ya, hanya merasa iba." Oscar mengangkat bahunya, lalu mengusap ujung hidungku dengan manja, mengalihkan topik pembicaraan. "Gugup nggak? Sebentar lagi kamu jadi pengantinku."
"Cih." Aku memutar bola mata. "Masih lama."
"Sebentar lagi." Dia tersenyum lembut, lalu menatapku dengan serius. "Kamu satu-satunya istriku. Aku mencintaimu, selamanya."
Oscar adalah orang yang tenang dan pendiam, jarang sekali mengucapkan kata-kata cinta. Bahkan saat menyatakan cintanya dulu, dia hanya menyusun diagram EEG-nya menjadi bentuk hati untuk mengungkapkan perasaannya.
Dia tidak pernah mengungkapkan cinta dengan kata-kata. Namun sekarang, dia tiba-tiba berjanji akan mencintaiku selamanya.
Aku bersandar di pelukannya, mengajaknya memilih foto penyambutan bersama. Dia hanya mempererat pelukannya sambil berkata, "Kamu saja yang pilih. Pernikahan kita sudah dekat, aku harus ke lab untuk serah terima pekerjaan."
Oscar pun pergi berganti pakaian. Dia selalu memperhatikan penampilannya dan aku selalu terpesona olehnya. Namun, tadi saat dia keluar rumah, kemejanya hanya diselipkan ke celana secara asal dan kaus kakinya sepertinya berbeda warna.
Aku menggigit bibirku, tak berkata apa-apa. Kemudian, aku turun dan memesan mobil, mengikuti dari kejauhan.
Aku melihat Oscar mengemudi melewati laboratorium tanpa berhenti. Dia langsung menuju rumah sakit.
Aku tidak mengikutinya lebih jauh. Dia mungkin pergi menjenguk kekasih masa kecilnya itu.
Bab 2
Menjelang subuh, Oscar akhirnya pulang.
Aku tidak menyalakan lampu, hanya meringkuk di sofa sambil menatapnya tanpa berkedip. Dia menyalakan lampu. Saat melihatku duduk menunggunya di sana, dia sempat tertegun sejenak sebelum perlahan melangkah mendekat.
"Kamu sudah tahu," kata Oscar dengan agak gugup dan menelan ludah.
Aku mengangguk. Lima tahun hidup bersama, kami terlalu mengenal satu sama lain. Janji manis yang tiba-tiba, pakaian yang berantakan, semuanya menunjukkan bahwa dia sedang gelisah dan merasa bersalah.
Di mata Oscar, aku selalu ceria. Diam-diam duduk di kegelapan malam seperti ini jelas bukan diriku. Kami sama-sama sadar, ini tidak normal.
Dia duduk perlahan di sampingku, lalu mengeluarkan sebuah tabung kaca kecil berisikan cairan dan meletakkannya di hadapanku.
"Dia kasihan sekali. Aku melihatnya terbaring di ranjang rumah sakit dan seluruh tubuhnya penuh selang," ujar Oscar dengan ekspresi tenang. "Aku pernah janji pada ayahnya untuk menjaga dia."
Hatiku seolah-olah tenggelam ke dasar lautan es. Tangan dan kakiku mulai mati rasa. "Jadi, kamu mau menemani dia melewati bulan terakhir dalam hidupnya?"
"Ya."
Keheningan menyelimuti ruangan. Beberapa saat kemudian, Oscar mengulurkan tangan dengan ragu, menyentuh tabung kecil di depannya.
"Itu apa?" tanyaku sambil menatap matanya. Suaraku terasa getir.
Dia menghindari tatapanku. Suaranya lembut saat menyahut, "Maggie, selama sebulan ini Yuki butuh aku sepenuhnya. Tapi, aku tahu kamu nggak akan pernah menyetujuiku pergi."
"Aku ingin setelah aku menemani Yuki, kamu tetap menjadi pengantinku. Jadi, kamu hanya perlu melupakanku untuk sementara waktu. Setelah aku kembali, kita akan tetap melangsungkan pernikahan."
Aku mulai paham. Jadi, ini adalah obat penghapus ingatan yang baru dikembangkan oleh Oscar. "Kamu mau aku melupakanmu."
Aku terpaku. Orang yang kucintai ingin pergi menemani perempuan lain.
"Bukan! Maggie, aku nggak memintamu untuk melupakanku selamanya, hanya satu bulan saja." Suara Oscar tetap lembut, tetapi kata-katanya terdengar begitu gila. "Satu bulan lagi, aku akan kembali ke sisimu."
Aku duduk terpaku, tatapanku mulai menunjukkan kesedihan. Lima tahun ....
Aku tersenyum mencela. "Obat ini bahkan belum lolos uji klinis. Gimana kalau terjadi kesalahan? Gimana kalau aku melupakanmu lebih dari satu bulan? Gimana kalau obat ini merusak tubuhku?"
Gerakan Oscar yang sedang membuka penutup tabung terhenti sejenak, tetapi hanya sesaat. Dia segera melanjutkan dan terdengar suara "pop" saat botol terbuka.
"Obatku nggak akan bermasalah. Aku adalah ilmuwan otak terbaik di negara ini." Dia menyodorkan tabung itu ke mulutku. "Satu bulan lagi, aku akan kembali. Kita akan menikah, menjadi pasangan paling bahagia."
Aku memalingkan wajah. "Kenapa harus aku? Aku ini bukan tempat daur ulang. Kamu mau kasih aku barang buangan dan rusak? Ini perselingkuhan terang-terangan! Kalau kamu pergi, jangan pernah kembali lagi!"
"Aku nggak selingkuh!" Oscar tiba-tiba naik pitam. "Dia hanya ... sangat menyedihkan. Jangan bicara begitu soal dia!"
Laki-laki yang kucintai selama ini, kini justru membela perempuan lain dalam batas yang tidak wajar.
Oscar menarik napas dalam-dalam, mengangkat tabung itu. "Maggie, satu bulan lagi, semua akan baik-baik saja."
Tiba-tiba, dia bangkit dan menekanku erat di sofa. Daguku dicengkeram kuat, kedua pipiku ditekan keras hingga menempel ke gigi. Tabung kaca yang dingin itu dipaksa masuk ke mulutku. Cairan pahit menyebar ke seluruh rongga mulut.
Karena gerakannya yang kasar, sebagian cairan masuk ke saluran pernapasan, membuatku batuk hebat. Namun, Oscar tidak berhenti, malah semakin kuat menekanku.
Aku berjuang mati-matian, menendang keras perutnya. Oscar meringis kesakitan dan tangannya melemah sejenak. Aku buru-buru mencoba memuntahkan cairan itu, tetapi dia langsung menarik rambutku, menarikku kembali ke sisinya, dan memaksa menuangkan lebih banyak cairan ke dalam mulutku.
Lidahku tergores oleh ujung tabung, rasa pahit bercampur bau amis. Sakit sekali.
Air mataku mengalir deras tanpa bisa kucegah. Karena pandanganku kabur, aku tak bisa lagi melihat jelas ekspresi Oscar.
Begitu cairan dalam tabung habis, Oscar melepaskanku. Aku segera mencoba memuntahkannya dengan mencungkil tenggorokan, tetapi tidak ada yang bisa kukeluarkan. Yang kurasakan hanya cairan asam.
Aku mulai sesak napas, hanya bisa mengeluarkan suara napas yang berat. Aku gemetar sambil memegangi kepalaku. Kepalaku berdenyut hebat, seolah-olah ada sesuatu yang ingin meledak keluar dari pelipisku.
Perlahan-lahan, dalam rasa sakit itu, kesadaranku mulai memudar. Tubuhku lemas dan terjatuh di lantai. Dunia di depanku mulai kabur, aku hanya bisa mendengar suara lembut Oscar.
"Maggie, aku benar-benar mencintaimu. Tapi, Yuki akan segera meninggal. Apa pun yang terjadi, aku harus menemani dia sampai akhir hayatnya. Lupakan aku .... Lupakan Oscar ...."
Suaranya semakin kabur, semakin jauh. Tubuhku miring dan terjatuh ke sofa. Dalam pikiranku, hanya berputar kata terakhir, yaitu Oscar.
Siapa itu Oscar?
Bab 3
Kring, kring, kring ....
"Halo?" Mataku sulit dibuka karena masih merasa kantuk, kepalaku pun terasa berat dan pusing.
"Maggie! Kamu lagi ngapain?" Itu suara Sachi, sahabat terbaikku. "Aku terbang tujuh jam penuh cuma buat jadi pengiring pengantin, tapi sekarang bahkan pintu hotel pun aku nggak bisa masuk!"
"Dan satu lagi, pengantinnya ternyata Yuki? Siapa itu? Kalian berdua lagi main-main sama aku ya?"
Aku langsung terbangun sepenuhnya. "Siapa yang menikah?"
"Apa maksudmu?" Sachi lebih kaget dariku. "Bukannya hari ini kamu dan Oscar menikah?"
Peluh dingin langsung membasahi punggungku. Aku segera membantah, "Oscar siapa? Kamu 'kan tahu aku ini jomblo dari dulu."
"Ya ampun, kalian sudah pacaran lima tahun. Foto prewedding kalian bahkan digantung di tembok rumahmu!" Sachi merasa frustrasi.
Aku cepat-cepat bangun dari tempat tidur dan mulai mencari di sekeliling kamar. Tidak ada apa-apa. Tidak ada satu pun barang milik pria.
"Yang di tembok itu fotoku sendiri." Aku menjawab tanpa daya. "Tempat tidurku bahkan tempat tidur single."
"Mana mungkin!" seru Sachi. "Tunggu di rumah, aku ke sana sekarang!" Dia langsung menutup telepon.
Begitu masuk ke rumahku, dia langsung memarahiku habis-habisan, menuduhku pura-pura amnesia untuk menakutinya. Namun, setelah dia melihat isi kamar dengan jelas, dia juga terdiam. Mulutnya terus bergumam, "Nggak mungkin ...."
"Akan aku buktikan!" Sachi tiba-tiba ingat saat menemaniku dan Oscar pemotretan prewedding, dia sempat mengambil beberapa foto dan mengunggahnya ke media sosial.
Dalam foto itu, aku mengenakan gaun pengantin warna putih, menggandeng seorang pria tampan dengan kacamata berbingkai emas yang mengenakan jas hitam. Kami berdua tampak tersenyum bahagia.
Aku tertegun. Aku sama sekali tidak mengenal pria tampan di foto itu. Tidak ada satu pun ingatan ataupun emosi yang terhubung dengannya. Namun, entah kenapa, air mata menetes begitu saja di sudut bibirku.
Saat aku mengangkat tangan untuk menghapus air mata itu, tiba-tiba sebuah pemikiran muncul di kepalaku. "Sachi! Apa mungkin aku punya saudara kembar yang terpisah sejak lama? Mungkin ... mungkin adik kembarku yang akan menikah?"
Sachi tampak benar-benar pasrah. "Kamu berantem sama dia ya?"
Aku mulai panik. "Kamu masih nggak percaya? Aku benaran nggak kenal siapa itu Oscar!"
Sachi mengamatiku, ekspresinya semakin serius. "Jangan-jangan kamu benaran hilang ingatan. Apa baru-baru ini kepalamu terbentur?"
Dia buru-buru mengambil ponselku dan mencari kontak Oscar, tetapi dia tidak menemukan nama itu.
Akhirnya, dia menggunakan ponselnya sendiri dan menelepon Oscar. Begitu tersambung, terdengar suara lembut dari seberang. "Halo?"
"Oscar, ada apa sih? Maggie bilang dia nggak kenal kamu! Dan sekarang kamu malah menikah sama wanita lain?" Sachi langsung menyerangnya dengan pertanyaan.
Pria di ujung sana diam selama dua detik, lalu menjawab dengan nada kaku, "Maaf ... ini siapa ya?"
Sachi langsung naik pitam. "Oscar! Kamu kira kamu aktor? Pandai sekali bersandiwara! Masa kamu nggak kenal suaraku?"
"Maaf, salah sambung ...." Sebelum Oscar selesai berbicara, terdengar suara perempuan lemah dan batuk keras dari seberang. "Kak, siapa?"
Oscar terdengar gugup, buru-buru menjawab, "Bukan siapa-siapa ... salah sambung saja."
Sebelum Sachi sempat membalas, sambungan telepon sudah diputuskan.
"Ada yang nggak beres." Sachi langsung berlari keluar. "Tunggu aku di rumah. Aku akan cari tahu apa yang sebenarnya terjadi."
Dia bersikeras ingin mengungkap kebenaran, sementara aku sama sekali tidak punya semangat. Aku memang tidak pernah tertarik pada orang asing.