Bab 1

Pada malam sebelum pernikahan, tunanganku, Gavin, seorang profesor sejarah, mengadakan pernikahan dengan cinta pertamanya yang mengidap kanker di sebuah desa.

Di bawah langit berbintang, Gavin merangkul June dan tersenyum lembut. "Menurut adat kuno, istri yang sah adalah yang lebih dulu melangsungkan upacara pernikahan. Meskipun aku sudah mengambil akta nikah dengan Mayra, dia tetap hanya selir rendahan."

Setelah menerima ucapan selamat dari para tamu, mereka meminum anggur pernikahan dan memasuki kamar pengantin.

Aku menyaksikan semuanya tanpa menangis atau membuat keributan, hanya diam-diam membuat janji untuk operasi aborsi.

Sejak usia 15 hingga 30 tahun, aku mencintai Gavin dengan sepenuh hati. Aku mencintainya selama 15 tahun. Namun, di hatinya selalu hanya ada adik tiriku, June. Jika memang begitu, aku memilih untuk melepaskannya.

Kemudian, aku bergabung dengan tim penelitian geologi Antartika yang terisolasi dari dunia. Aku hanya meninggalkan selembar surat perjanjian cerai untuk Gavin, juga sebuah hadiah perpisahan.

Namun, entah kenapa, pria yang selalu meremehkanku itu tiba-tiba beruban dalam semalam.

Aku berdiri di bawah hujan dengan keadaan basah kuyup, di anak tangga yang berjarak 50 meter dari desa itu.

Dengan diam, aku menatap tunanganku, Gavin. Melihatnya menaruh liontin giok berbentuk simpul cinta di mulut, lalu hendak memberikannya ke June yang mengenakan gaun pengantin merah dan tampak begitu memesona.

Wajah June memerah malu saat menerima liontin itu dengan mulutnya. Namun, sebelum sempat mengambilnya dengan tangan, Gavin sudah tidak sabar menariknya ke dalam pelukan.

Di tengah sorakan teman-teman mereka, keduanya berciuman dengan penuh gairah. Ciuman itu berlangsung hampir sepuluh menit, hingga akhirnya June hampir tidak bisa berdiri karena kakinya melemas. Saat itu, Gavin terengah-engah menghentikan ciuman mereka.

Angin musim gugur berembus, menyibakkan tirai tipis di desa. Saat itulah, aku akhirnya menyadari sesuatu. Di bawah cahaya lampu yang redup, ternyata semua keluarga dan teman-temanku ada di sana.

Bahkan Harlan, adik kandung yang dulu kulindungi dengan nyawaku, kini berdiri di depan sebagai pembawa acara pernikahan ini.

Dia mengenakan pakaian tradisional, menatap June dengan penuh kekaguman, seolah-olah telah melupakan bagaimana dulu kami nyaris kehilangan nyawa di sekolah rehabilitasi internet akibat perbuatan June dan ibunya.

"Semoga Kakak dan Kakak Ipar selalu bersama selamanya, bahagia sampai tua!" seru Harlan dengan penuh semangat.

Saat berikutnya, para penduduk desa menyalakan kembang api yang telah dipersiapkan sejak awal. Di bawah kilauan cahaya warna-warni, Gavin menggendong June bak seorang tuan putri.

Melihat itu, semangat Harlan semakin memuncak. Dia berseru dengan penuh antusiasme, "Upacara selesai! Antar pengantin ke kamar!"

Kesepian yang menyakitkan menelanku bulat-bulat, menenggelamkan semua kebisingan di sekitarku dalam kehampaan. Dengan tangan gemetar, aku menelepon Harlan.

Adik yang dulu bersumpah akan selalu berdiri di pihakku, kini hanya melirik sekilas ke layar ponselnya sebelum menekan tombol untuk menolak panggilanku.

Aku tidak menyerah. Aku mencoba menelepon Gavin. Saat melihat namaku di layar, wajah pria itu langsung berubah dingin.

Dia hampir saja menolak panggilan itu. Namun, setelah June membisikkan sesuatu, dia tampak kesal dan akhirnya menjawabnya.

Dengan suara pelan, aku bertanya, "Kamu di mana?"

Di hadapan semua orang, Gavin terkekeh-kekeh sinis dan mengejekku, "Lagi-lagi memeriksa keberadaanku? Sudah hamil tapi masih nggak bisa tenang? Mayra, kamu begitu haus akan perhatian? Kamu nggak bisa hidup tanpa seorang pria?"

"Sudah kubilang, aku dan June datang ke desa demi makam kuno yang baru saja ditemukan oleh museum kita! Cuma wanita berpikiran kotor sepertimu yang selalu mencampuradukkan urusan pekerjaan dengan hubungan pria dan wanita!"

Kata-katanya yang pedas seperti ombak ganas yang menghantam tanpa henti. Namun, perasaan terakhir yang kupunya untuknya membuatku terisak-isak saat berujar, "Tapi, Gavin, hari ini ulang tahunku ...."

Dulu, kamu berjanji padaku. Apa pun yang terjadi, kamu akan selalu ada di sisiku saat hari ulang tahunku.

Jadi, meskipun kamu berada seribu kilometer jauhnya, aku tetap memilih menempuh perjalanan jauh, bahkan berjalan kaki lima kilometer, dan menahan ketakutanku melewati hutan hanya untuk mencarimu.

Sampai akhirnya, para penduduk desa memberitahuku bahwa di tempat ini, tidak ada makam kuno. Yang ada hanyalah seorang profesor bernama Gavin, yang sejak setengah tahun lalu telah merencanakan pernikahannya dengan wanita yang dicintainya di desa ini.

Bab 2

Gavin tampaknya baru mengingat hal itu. Tidak ada suara di ujung telepon untuk sesaat. Dia ingin mengatakan sesuatu, tetapi Harlan tiba-tiba merebut ponselnya.

"Mayra, apa kamu bisa berhenti bertingkah rendahan seperti ini? Kamu pikir semua orang sepertimu yang suka bersaing?"

"Aku sarankan kamu berhenti membuat drama! Kalau sampai mengganggu pekerjaan Kak Gavin, apa kamu bisa tanggung jawab? Berhenti bertingkah bodoh dan membuat orang lain membereskan kekacauanmu!"

Setelah mengatakan itu, Harlan langsung mengakhiri panggilan.

June yang bersandar di pelukan Gavin, tersenyum lembut sambil mengusap kepala Harlan. Setelah itu, dia membujuk dengan suara lembut, "Sudahlah, kalian tahu seperti apa sikap Mayra. Hari ini adalah hari terpenting dalam hidupku. Jangan marah ya? Senyum dong."

Hanya dengan satu kalimat, Harlan langsung luluh.

Mereka semua berjalan dengan riang menuju kamar pengantin.

Saat keramaian menghilang, aku sendirian di bawah gelapnya malam, seperti badut yang tidak dipedulikan siapa pun.

Aku membuka ponsel dan menjadwalkan operasi aborsi, lalu berbalik dan pergi. Kini, aku tidak menginginkan lagi cinta yang telah kunantikan selama 15 tahun.

Saat kembali ke kota, waktu sudah larut malam. Aku memesan hotel, lalu mandi dan tertidur dalam keadaan linglung.

Di tengah malam, aku terbangun oleh dering telepon yang nyaring. Suara pemimpin stasiun TV terdengar panik sekaligus bersemangat. "Mayra! Kudengar desa tempatmu berada mengalami gempa bumi 5.3 SR kemarin! Cepat ambil liputannya!"

Tanpa menunggu jawabanku, dia langsung menutup telepon. Aku merasa semua ini sangat ironis. Jika tahu begini, aku tidak akan datang.

Dengan pasrah, aku bangkit dan membuka layar ponsel. Tanpa sengaja, aku melihat unggahan terbaru June di media sosialnya.

Hanya ada satu foto. Di dalamnya, tangan kecil dan putih milik June digenggam oleh tangan Gavin yang besar dan kekar. Di jari manis mereka, cincin pasangan melingkar sempurna.

Mataku tertuju pada bekas luka samar di punggung tangan Gavin. Hatiku yang sudah mati rasa, masih saja terasa sakit.

Luka itu karena ditusuk pecahan botol bir saat Gavin melindungiku dari ayahku yang mencoba menyerangku. Saat itu, aku berusia 18 tahun. Aku mengira itu adalah bukti bahwa dia peduli padaku, tetapi ternyata semua itu hanya ilusiku.

Perasaan terakhir dalam hatiku telah padam sepenuhnya.

Aku menyalakan laptop, menyelesaikan materi wawancara secepat mungkin, lalu meminta temanku yang seorang pengacara untuk membuatkan surat cerai.

Saat kembali ke desa, tempat itu telah porak-poranda. Aku menekan emosiku, lalu menghubungi tim penyelamat untuk membantu para warga yang terkena dampak bencana.

Entah kenapa, dampak gempa kali ini terasa jauh lebih parah dari perkiraan. Mataku tertuju pada bahan peledak yang digunakan untuk menggali gunung di dekat desa yang baru dibangun. Sebuah firasat buruk muncul dalam hatiku.

Namun, sebelum sempat berpikir lebih jauh, seseorang menendangku dengan keras dari belakang. Aku yang lengah pun terjerembap ke tanah berkerikil yang hancur akibat gempa. Kulit tanganku dan wajahku langsung terkoyak, menimbulkan luka yang perih.

Suara Harlan terdengar dari belakang, penuh amarah. "Mayra! Kamu itu kayak lintah ya? Kamu kemari cuma buat menangkap basah mereka? Kamu sakit jiwa ya?"

Entah sejak kapan, Harlan telah melupakan bagaimana ibu kami dipaksa mati oleh ibu June. Kini, dia hanya menjadi anjing penjaga June. Aku tidak membutuhkan adik seperti ini.

Tanpa berkata apa pun, aku bangkit dan menepuk debu dari bajuku. Dengan ekspresi datar, aku berjalan ke arahnya dan menamparnya dengan keras.

Tamparan itu membuat kepalanya menoleh ke samping. Harlan menatapku dengan terkejut, tidak menyangka aku akan melawan kali ini.

Tanpa memberinya kesempatan berbicara, aku menatapnya dengan jijik dan berkata, "Jangan terlalu percaya diri. Kalau kamu memang begitu menyukai June, silakan menjadi anjingnya."

"Tamparan ini untuk membayar semua yang kamu lakukan. Mulai sekarang, kita nggak ada hubungan lagi."

Mengabaikan tatapannya yang penuh amarah, aku berbalik dan melanjutkan wawancaraku.

Tidak jauh dari sana, Gavin mendekat sambil memeluk June yang wajahnya tampak pucat. Kilatan rasa bersalah melintas di wajahnya. Dia menjelaskan, "Mayra, semalam aku lupa mengucapkan selamat ulang tahun padamu. Setelah penggalian ini selesai, aku akan pulang dan merayakannya bersamamu ...."

Bab 3

Aku mengalihkan pandanganku dari tangan Gavin dan June yang bertautan, lalu menggeleng dengan tenang. "Nggak perlu."

Reaksiku yang begitu datar membuat ketiga orang di hadapanku terkejut. Harlan yang baru saja menyusul, malah tertawa sinis. "Mayra, drama apa lagi yang kamu mainkan? Berhenti berakting."

"Kamu sudah mengejar Gavin sampai hamil, sekarang masih mau pakai trik tarik-ulur? Lucu sekali. Dengar, meskipun kamu hamil, kamu tetap nggak pantas bersaing dengan Kak June!"

Harlan masih sama seperti dulu, tidak bisa melihat kebenaran.

Saat melihat ekspresiku tetap dingin, Gavin pun mulai kesal. Dengan wajah serius, dia menegurku sambil mengernyit, "Mayra, kamu sudah cukup mengganggu pekerjaanku, sekarang masih ingin bertingkah kekanak-kanakan?"

"Kesabaranku ada batasnya. June sedang sakit dan butuh ketenangan, kehadiranmu hanya akan mengganggu perasaannya. Sekarang juga, pergi dari sini!"

Sambil berkata begitu, dia meraih tanganku dan hendak menyeretku pergi dari lokasi. Namun, saat berikutnya, gempa susulan terjadi.

Hal pertama yang dilakukan Gavin dan Harlan adalah berlari ke arah June yang berdiri di tanah lapang. Lebih parah lagi, Gavin mendorongku ke tanah. Padahal, dia jelas melihat ada tiang listrik beton yang tumbang tepat di belakangku.

Tiang itu menghantam kaki kiriku. Rasa sakit yang luar biasa membuat kesadaranku langsung menghilang.

Saat aku terbangun, aku sudah berada di rumah sakit dan kaki kiriku sudah terpasang gips. Di samping tempat tidur, tidak ada siapa pun.

Seorang perawat mendekat, mencabut infusku, dan berucap dengan cemas, "Untung yang terluka cuma kakimu. Kalau nggak, bayimu mungkin nggak bisa diselamatkan."

Aku menatap langit-langit, suaraku lirih. "Nggak perlu diselamatkan. Tolong jadwalkan operasi aborsi untukku."

Ketika perawat mendorong kursi rodaku keluar dari kamar, aku baru tahu bahwa orang yang membawaku ke rumah sakit adalah kepala desa. Sementara itu, Gavin hanya meninggalkan satu pesan singkat.

[ June ketakutan sampai pingsan karena melihat kakimu terluka. Aku membawanya pulang ke ibu kota untuk perawatan. ]

Kemudian, dia dan Harlan segera mengajukan izin penggunaan helikopter penyelamatan untuk mengantar June ke ibu kota. Mengenai cederaku, Gavin sama sekali tidak peduli.

Keputusasaan yang menyelimuti hatiku begitu kuat, menyisakan rasa sakit yang menyesakkan.

Operasi aborsi dijadwalkan tiga jam lagi. Dalam waktu itu, aku menyelesaikan perjanjian perceraian dengan pengacaraku.

Saat aku keluar dari ruang obrolan dengan pengacaraku, aku melihat pesan di grup keluarga. Ayahku, Harlan, dan Gavin bergantian mengirim uang ke June sebagai hadiah.

Aku menatap burung yang terbang panik di luar jendela, lalu tersenyum getir. Jadi, mereka semua ingat ulang tahun June?

Ayahku mentransfer 104 juta dan mengirim pesan.

[ Selamat ulang tahun, sayangku June! ]

Harlan mengirim 200 juta dan mengirim pesan.

[ Kakak tercintaku, semoga bahagia selalu! ]

Sementara Gavin langsung mengirim tangkapan layar transfer 1 miliar dengan pesan di bawah.

[ Apa pun yang terjadi di masa depan, aku hanya akan mencintai June seumur hidupku. ]

Aku menatap pemandangan yang "hangat" ini beberapa detik, lalu langsung keluar dari grup.

Tak lama setelah itu, teleponku berdering. Gavin menelepon, suaranya penuh ejekan. "Mayra, kamu menggila lagi? Kamu benar-benar nggak tahan melihat kami memperlakukan June dengan baik ya?"

"Saat SMA, kamu menuduh dia dan ibunya membunuh ibumu. Tapi, apa hasilnya? Aku sudah tahu kebenarannya dari ayahmu sejak lama. Ibumu sakit jiwa! Dia bunuh diri!"

"Lalu, kamu bilang ibu June menipumu dan Harlan untuk masuk sekolah rehabilitasi kecanduan internet? Heh!"

Nada bicaranya terdengar jijik dan merendahkan. "Aku sudah menyelidikinya sejak lama. Sekolah itu nggak pernah ada!"

"Harlan bilang justru kamu yang menipunya ke gedung sekolah terbengkalai, lalu dia jatuh dan kepalanya terbentur hingga amnesia. Setelah itu, June yang merawatnya selama sebulan penuh!"

Seolah-olah telah menemukan tempat untuk melampiaskan segalanya, Gavin semakin gencar menghinaku.

"Aku sebenarnya nggak pernah ingin menikahimu. Kalau bukan karena June yang terlalu baik, takut kamu melakukan hal bodoh, malam itu aku nggak akan pernah minum anggur yang sudah kamu campur obat itu ...."

Aku tetap diam, mendengarkan semuanya dengan tenang. Tiba-tiba, suara dari pengeras suara rumah sakit memotong ucapannya. "Pasien nomor 37, Mayra, harap menuju ke ruang operasi untuk tindakan aborsi."

Tiba-tiba, Gavin terdiam. Napasnya terdengar memburu. "Kamu mau menggugurkan bayi itu?"

Entah kenapa, aku bisa menangkap nada tak percaya dalam suaranya. Sebelum aku bisa menjawab, tawa lembut June terdengar dari ujung sana.

"Gavin, kamu benar-benar bodoh. Mayra sangat mencintaimu dan anak itu. Mana mungkin dia tega menggugurkannya?"

Saat berikutnya, suara Gavin yang dingin kembali terdengar. "Benar juga. Mayra, kamu benar-benar mengecewakanku."

"Tak kusangka, meskipun lahir dari ayah yang sama, kamu bisa sekejam ini! Dulu kamu melakukan segala cara untuk menikah denganku, sekarang kamu mau memakai anak itu untuk mengancamku?"

"Dengar baik-baik, aku nggak akan terjebak dengan taktik murahanmu. Kalau kamu masih mau bermain drama, kita cerai saja!"

Setelah mengatakan itu, dia menunggu dengan penuh keyakinan, menantikan aku menangis dan memohon kepadanya.

Di luar dugaan, aku hanya terdiam beberapa detik, lalu menghela napas lega dan menyahut, "Oke. Sampai jumpa lusa di pengadilan negeri."

Setelah itu, aku mengakhiri panggilan dan melangkah masuk ke ruang operasi.

Baca Cerita Lengkapnya Sekarang
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk menghadirkan lebih banyak cerita luar biasa Goodnovel
Buka Semua Bab
Cari "B94464" di goodnovel para membaca buku selengkapnya.
Salin kode dan cari di aplikasi NovelShort untuk melanjutkan membaca.
B94464
Salin

Merelakan Suamiku Untuk Adik Tiriku

Bab 1
Bab
Sesuaikan
Bab Berikutnya