Bab 1

Donny akhirnya menyetujui permintaanku untuk menikah.

Dia secara khusus memintaku untuk berpakaian rapi dan mengatakan jika dia sudah menyiapkan kejutan untukku.

Namun, saat aku datang dengan pakaian terbaikku, ternyata tidak ada pengantin pria di acara pernikahan.

Donny berbalik dan tersenyum kepada adik tiriku di sampingnya. "Kamu bilang pernikahan itu rumit dan membosankan. Hari ini, aku tunjukkan pernikahan yang seru padamu, bagaimana menurutmu?"

Pembawa acara pernikahan pun mengumumkan dengan suara lantang, "Pernikahan ditunda."

Sahabat masa kecilku bahkan menarik bola air yang sudah disiapkan sebelumnya dan menjatuhkannya di atas kepalaku, hingga membuat seluruh tubuhku basah kuyup.

Donny tersenyum nakal sambil mengangkat alisnya kepadaku. "Kirana, ini cuma lelucon saja. Kamu benar-benar mengira aku akan menikahimu?"

Pernikahan ini hanyalah sandiwara yang mereka buat untuk menyenangkan adik tiriku yang menderita depresi.

Melihatku diam, Donny kembali tertawa dan berkata, "Kalau kamu memang begitu ingin menikah, pilih saja salah satu tamu yang ada di sini dan menikahlah dengannya."

Namun, ketika aku benar-benar berjalan bersama pengantin pria ke pelaminan ….

Mereka malah jadi panik.

Pembawa acara di atas pelaminan sudah selesai membacakan janji pernikahan, tetapi pengantin pria tidak kunjung naik ke pelaminan.

Para tamu di bawah mulai berbisik-bisik.

Aku pun sadar. Ini merupakan skenario satu lagi yang dibuat untuk mempermalukanku.

Benar saja. Di bawah pelaminan, Donny Aditya dengan santai memainkan cincin di tangannya, lalu berbalik sambil tersenyum dan bertanya pada adik tiriku, Tasya Atmaja.

"Tasya, bukankah kamu bilang upacara pernikahan itu sangat rumit dan membosankan? Dua orang membaca janji pernikahan, memasang cincin, lalu semuanya selesai."

"Sekarang aku akan menunjukkan padamu seperti apa rasanya menikah seorang diri. Bagaimana? Menarik, 'kan?"

Kakakku, Bayu Atmaja, langsung menangkap maksudnya dan dengan lantang mengumumkan lewat mikrofon. "Pernikahan ditunda."

Teman masa kecilku, Haris Andika, juga berteriak keras, "Tasya, lihat ke sini."

Bola air di atas kepalaku tiba-tiba jatuh. Meskipun aku sempat menyadarinya dan menghindar dengan cepat, bola itu tetap mengenaiku secara tidak terduga.

Rambutku basah kuyup dan menempel di sisi wajahku. Sementara, air menetes deras dari rokku yang basah.

Aku mencengkeram erat kedua sisi gaunku.

Barulah pada saat itu Tasya tertawa kecil.

Donny perlahan mendekat, berpura-pura peduli padaku, tetapi suaranya terdengar menggoda.

"Kenapa Kirana? Kamu nggak senang?"

Kemudian, dia menoleh. Sambil bercanda, Donny meninju pelan Haris. "Mainnya keterlaluan begini. Kalian nggak memikirkan kalau hari ini Kirana yang jadi pengantinnya?"

Saat aku mengira Donny benar-benar menyadari jika lelucon ini sudah keterlaluan, Donny justru menyerahkan cincin yang seharusnya disematkan di jari tengahku, beserta kotaknya ke tanganku.

"Bukankah kamu ingin menikah? Ingin jadi pengantin wanita? Aku kabulkan keinginanmu. Aku bahkan memanggilkan pembawa acara, pendamping pengantin dan para tamu untukmu."

Donny malah mencibir melihat tatapanku yang dingin.

"Kamu menatapku seperti itu, jangan-jangan kamu benar-benar mengira aku akan menikahimu? Aku cuma membantumu mewujudkan keinginanmu. Aku nggak pernah bilang kalau aku akan menikahimu."

Terakhir, Donny bahkan berbaik hati menambahkan satu kalimat lagi.

"Jaga baik-baik cincin pernikahannya, jangan sampai hilang. Soalnya pengantin pria nggak punya cincin cadangan untukmu."

"Oh, aku lupa. Pernikahan ini bahkan nggak ada pengantin prianya."

"Wah, ternyata pernikahan ini bahkan tidak ada pengantin prianya, ya?"

Haris tidak menyembunyikan nada ejekan dalam suaranya.

"Tapi, menurutku Kirana sudah siap untuk menikah denganmu. Lihat saja, betapa resmi dandanan dia hari ini."

Kalimatnya langsung membuat semua orang menoleh dan memusatkan pandangan pada gaun pengantinku yang basah kuyup.

Jika ini terjadi sebelumnya, aku pasti akan menahan air mataku dan dengan suara pelan memohon pada Donny agar tidak mempermalukanku di depan begitu banyak orang.

Akan tetapi, sekarang aku hanya bisa menghapus air mata di wajahku secara diam-diam, berusaha agar riasan wajahku tidak rusak.

Dengan suara acuh tak acuh, aku mengucapkan terima kasih pada mereka.

"Terima kasih kalian sudah menemaniku menjalani prosesi pernikahan ini. Tadinya aku agak gugup, tapi sekarang sudah jauh lebih baik. Nanti saat benar-benar menikah, harusnya bisa lebih lancar."

Donny tertegun untuk sesaat, lalu tertawa terbahak-bahak.

"Kamu ini benar-benar bodoh atau cuma pura-pura bodoh? Masih berpikir kalau aku akan menikahimu?"

"Kamu nggak lihat? Aku cuma ingin membuat Tasya senang."

"Wanita yang merendahkan harga dirinya demi merayu pria, cuma akan terlihat murahan."

Donny bahkan tidak mau repot-repot menyembunyikan raut wajahnya yang penuh ejekan itu. Dia sama sekali tidak peduli seberapa besar luka yang bisa ditimbulkan oleh kata-katanya padaku.

Bab 2

Bahkan Tasya dan yang lainnya ikut tertawa dengan begitu gembira.

Hatiku terasa seperti dicengkeram oleh sebuah tangan yang besar, lalu diremas-remas berkali-kali.

Aku sudah sejak lama mengetahui jika Donny, Bayu kakakku dan Haris sahabat masa kecilku memang berniat mempermainkanku.

Beberapa hari yang lalu, Donny meneleponku.

"Kirana, bukankah kamu ingin menikah? Ingin jadi pengantin wanita? Lokasinya sesuai tempat yang kamu pilih. Kita ketemu di sana, jangan sampai nggak datang."

Jantungku tidak bisa menahan diri untuk tidak berdegap kencang.

Donny tahu betul jika aku memang selalu ingin menikah.

Setelah ibuku meninggal, aku dan nenekku hidup saling bergantung satu sama lain. Sekarang nenekku juga sakit dan sakitnya sangat parah. Satu-satunya keinginannya adalah melihatku menikah dengan mata kepalanya sendiri dan melihatku meraih kebahagiaanku sendiri.

Aku sudah lama menentukan tempat pernikahan dan berkali-kali memohon pada Donny agar menikahiku. Meskipun hanya pernikahan palsu dan hanya demi formalitas di depan nenekku agar dia bisa merasa tenang, itu juga tidak masalah.

Panggilan telepon dari Donny sudah cukup membuat pikiranku kacau balau.

Aku berniat pergi ke ruang kerja untuk berbicara dengan Bayu, kakakku. Akan tetapi, tanpa sengaja aku mendengar mereka sedang bersemangat membahas bagaimana cara mengatur lelucon besar pada hari pernikahan.

Dony tertawa terbahak-bahak dan berkata, "Barusan aku menelepon Kirana, menyuruhnya mempersiapkan segala sesuatu untuk pernikahan. Coba tebak? Dia benar-benar mengira kalau aku mau menikahinya."

"Coba kalian pikir, wanita ini sangatlah bodoh, 'kan?"

Bayu kakakku berkata, "Kirana sama sekali nggak tahu apa-apa. Justru itu yang bikin efek dramatisnya. Reaksi spontan Kirana saat dipermalukan di tempat itulah yang akan membuat Tasya merasa terhibur."

Aku menutup mulutku tak percaya.

Bahkan kakakku, yang merupakan saudara tiri satu ayah denganku, entah sejak kapan juga sudah berpihak pada Tasya.

Sahabat masa kecilku, Haris, langsung menyambung, "Bagaimana kalau kita ganti konfeti di atas kepalanya dengan air? Biar nanti Kirana basah kuyup seperti tikus got."

"Yang penting, jangan sampai Tasya tahu dulu soal ini, nanti nggak seru lagi."

Mereka tampak sangat puas dengan rencana untuk menggodaku ini.

Wajah mereka terlihat penuh keyakinan.

Aku tertegun di ambang pintu, tidak kuasa melangkahkan kaki.

Ternyata, pernikahan yang sangat aku nantikan selama ini hanyalah sebuah sandiwara yang dibuat untuk menyenangkan Tasya.

Tiga orang yang di masa lalu rela keliling seluruh kota hanya demi membeli kue manis kesukaanku demi membuatku senang, kini sudah tidak ada lagi.

Sejak kapan mereka berubah menjadi seperti ini?

Sejauh yang kuingat, orang disayangi kakakku, Donny dan Haris adalah aku.

Namun, sejak Tasya datang ke keluarga ini, segalanya berubah.

Depresi yang diderita Tasya sangat parah.

Saking parahnya, suasana hatinya langsung menjadi buruk saat melihatku. Setiap kali kambuh, dia selalu memohon kepada kakak-kakaknya untuk menemaninya.

Awalnya, mereka menanggapi dengan sikap meremehkan. Mereka mengatakan jika penyakit itu pasti hanya purapura.

Perlahan-lahan, perhatian mereka pun beralih dari diriku menjadi kepada Tasya.

Mereka ini adalah Donny yang sudah kucintai selama tujuh tahun, juga kakakku dan sahabat masa kecilku yang selalu menemaniku sejak kecil.

Kini, mereka tega menjadikan pernikahanku sebagai bahan tertawaan demi senyuman Tasya.

Membuat Tasya bahagia menjadi keinginan terbesar mereka.

Bahkan, dengan mengorbankan rasa maluku sebagai gantinya.

Mereka begitu hati-hati saat membujuk Tasya, tetapi tanpa ragu menjadikanku bahan tertawaan.

Memikirkan semua itu, hatiku terasa nyeri dan mati rasa.

Hari ini, aku memang akan menikah.

Hanya saja, calon suamiku bukan Donny.

Aku merapikan rambutku, berusaha agar penampilanku tetap terlihat layak, lalu mengangkat mikrofon dan mengumumkan kepada semua orang. "Tadi hanya sedikit insiden kecil dalam acara pernikahan. Mohon semua bersabar menunggu sebentar lagi."

Setelah itu, aku mengangkat gaun pengantin yang kini terasa berat karena basah dan berkata kepada mereka, "Aku ganti gaun pengantin dulu. Kalau nggak, nanti saat suamiku naik ke pelaminan, waktunya sudah nggak sempat."

Untung, aku sudah memprediksi apa yang akan terjadi hari ini, sehingga aku tidak mengenakan gaun pengantin favoritku.

Tak kusangka, Donny menatapku seperti sedang melihat orang aneh.

"Kirana, jangan-jangan kamu sedih sampai jadi gila karena aku nggak mau menikahimu, ya?"

"Sudah kubilang, pernikahan hari ini adalah tipuanku, sama sekali nggak ada pengantin pria."

Bab 3

Bayu ikut mengejek sambil tertawa dan bertanya, "Kirana, meski kamu merasa malu, nggak perlu sampai berbohong seperti ini, 'kan?"

"Lagi pula, sebagai kakak, aku pasti tahu apakah ada orang yang mau sama kamu atau nggak, 'kan?"

Kata-katanya langsung membuat semua orang tertawa.

Selama bertahun-tahun ini, semua orang tahu jika aku terus mengejar Donny.

Haris berpura-pura berpikir sebentar, lalu berkata, "Jangan-jangan kamu sengaja ingin membuat Donny cemburu, ya?"

"Kirana, dengan cara rendahan seperti ini, apa kamu nggak merasa kalau ini sangat konyol?"

Tasya mencoba menghentikan mereka dengan lembut, lalu berbalik untuk membujukku, "Kak Kirana, semua keributan hari ini cuma lelucon yang mereka buat demi menghiburku. Aku benar-benar tersentuh karena Kakak bersedia ikut mereka untuk membuatku senang."

"Aku juga tahu kalau Kakak sudah lama menyukai Kak Donny. Tapi, perasaan tetap urusan dua orang …."

"Yang terpenting bagi seorang wanita adalah tahu menjaga harga diri. Ayah dan ibu masih duduk di bawah sana, belum lagi para tamu undangan yang lain. Jadi, sebaiknya Kakak jangan terus bersikeras."

Tasya menatapku dan bicara dengan nada yang lembut. Akan tetapi, ucapannya menyiratkan jika aku memalukan.

Aku melihat ayahku di bawah panggung tampak pucat. Dia terus-menerus menjelaskan kepada para tamu.

Aku menarik napas dalam-dalam dan menegaskan, "Hari ini benar-benar pernikahanku. Pengantin prianya sedang dalam perjalanan."

Sambil berkata seperti itu, aku mengambil ponsel dan menelepon nomor yang ada di posisi paling atas daftar kontak.

Namun, yang terdengar hanyalah nada sibuk. Setelah beberapa menit, tetap tidak ada yang mengangkat.

Hatiku pun terasa seperti balon yang kempes, dilanda kegelisahan. Itu karena sebenarnya, kami baru bertemu sekali saja.

Donny menatapku dengan tatapan mengejek, seolah sedang menonton pertunjukan lucu.

"Kirana, dulu aku cuma merasa kamu agak nggak tahu malu. Tapi, sekarang aku rasa kamu juga cukup pandai membohongi diri sendiri."

Bayu mencibir dan berkata, "Kirana, sebaiknya kamu berhenti melakukan pekerjaan nggak berguna seperti ini."

Tasya memandangku dengan ekspresi pura-pura mengerti, lalu berkata kepada Donny, "Kak Donny, sepertinya Kak Kirana benar-benar mau menikah."

"Bagaimana kalau kamu pura-pura menemaninya sampai prosesi selesai? Kulihat dia cukup memelas."

Donny tanpa pikir panjang langsung menolaknya dengan tegas. "Aku cuma ingin membuatmu senang. Aku sama sekali nggak ada niat untuk menikahi Kirana."

Donny mundur selangkah untuk menghindari kecurigaan, seakan ingin memperjelas batas antara kami. Takut aku akan terus mengejarnya.

Tasya lalu kembali menatap Haris.

Haris buru-buru menolaknya, "Aku nggak mau melakukan hal yang memalukan seperti itu."

Melihat mereka berdua buru-buru menolak untuk menunjukkan kesetiaan kepada Tasya ….

Dalam keadaan pikiran kosong, aku teringat saat berusia 18 tahun, ketika mereka berdua berebut mengundangku menjadi pasangan dansa di acara menyambut usia dewasa mereka.

Mereka berlomba-lomba menanam mawar untukku, hanya demi menyenangkan hatiku.

Namun, hatiku kini sudah benar-benar mati rasa.

Aku tidak ingin lagi melihat Tasya berpura-pura bersikap baik.

Aku pun berkata dengan dingin, "Tenang saja, aku nggak akan menikahi dua bajingan seperti kalian. Aku juga nggak akan izinkan kalian punya hubungan apa pun denganku."

"Mempelaiku adalah orang lain."

Ayah kandungku, Tito Atmaja, tampaknya juga sudah tidak tahan lagi melihat semua ini.

Dia membentakku dengan marah.

"Kirana, apa maksud tingkah lakumu ini? Apa kamu mau membuatku benar-benar malu?"

"Bisakah kamu belajar dari Tasya, menjadi agak lebih dewasa? Apa kamu harus membuat semua orang tahu kalau kamu itu wanita nggak laku yang putus asa ingin menikah dan cuma jadi beban?"

Aku merasa sangat malu di atas panggung, sampai-sampai tidak bisa turun dari panggung. Namun, yang dipedulikan ayahku hanyalah harga dirinya saja.

Akan tetapi, nenekku dengan susah payah menggenggam tanganku dan berdiri tegak di sampingku, memberiku senyuman yang menenangkan. "Kirana nggak akan pernah berbohong. Kumohon, tunggulah sebentar lagi."

Tepat di titik itu, ponsel yang kugenggam erat tiba-tiba berdering.

Aku pun buru-buru mengangkatnya.

Suara laki-laki di ujung telepon terdengar cemas, tetapi memiliki kekuatan magis yang menenangkan hati.

"Maaf ya, Sayang. Hari ini agak macet. Tapi, aku sudah dalam perjalanan ke sana."

Aku pun mengingatkannya agar hati-hati di jalan.

Haris menatapku dengan tatapan mengejek. "Wah, aktingmu cukup meyakinkan juga. Jangan-jangan kamu cuma sewa aktor dadakan, ya?"

Mereka Menyesal Setelah Aku Menikah

Bab 1
Bab
Sesuaikan
Bab Berikutnya