Bab 1

Ibu mertuaku diam-diam menukar adik iparku dengan putriku.

Hanya karena dia tidak tega membiarkan putrinya hidup menderita.

Parahnya lagi adalah suamiku menyetujui hal itu.

Akan tetapi, diam-diam aku menukar mereka lagi tanpa memberi tahu siapa-siapa.

Putriku pun dibesarkan dengan segala yang baik, sementara adik iparku kabur dari rumah karena tersiksa.

Bertahun-tahun setelah itu, ibu mertuaku didiagnosis mengidap kanker. Dia pun melakukan tes DNA untuk menuntut bakti dari putrinya.

Aku menatap suamiku yang sok itu dan berkata sambil tersenyum, "Oke! Kalau memang salah, ya sudah ayo ditukar!"

"Kukembalikan putrimu, jadi kembalikan putriku."

Ibu mertuaku diam-diam menukar adik iparku dengan putriku.

Hanya karena dia tidak tega membiarkan putrinya hidup menderita.

Parahnya lagi adalah suamiku menyetujui hal itu.

Akan tetapi, diam-diam aku menukar mereka lagi tanpa memberi tahu siapa-siapa.

Putriku pun dibesarkan dengan segala yang baik, sementara adik iparku kabur dari rumah karena tersiksa.

Bertahun-tahun setelah itu, ibu mertuaku didiagnosis mengidap kanker. Dia pun melakukan tes DNA untuk menuntut bakti dari putrinya.

Aku menatap suamiku yang sok itu dan berkata sambil tersenyum, "Oke! Kalau memang salah, ya sudah ayo ditukar!"

"Kukembalikan putrimu, jadi kembalikan putriku."

....

Ibu mertuaku menderita kanker.

Aku sedang belanja bersama putriku, Cecilia Oktani, saat mendapatkan kabar itu.

Suamiku, Jack Viron, berulang kali meneleponku seolah-olah ibunya akan segera meninggal.

Para tetangga pun memadati rumah untuk menjenguk ibu mertuaku. Begitu aku masuk, ada yang memandangku dengan simpatik, tetapi ada juga yang terlihat angkuh.

Beberapa saat kemudian, ibu mertuaku menyerahkan hasil tes DNA kepadaku.

"Nak, beberapa tahun yang lalu Naraya jatuh sakit. Ibu membawanya ke rumah sakit dan dari situ ketahuan kalau Naraya ternyata bukan putri Ibu. Cecilia-lah putri Ibu! Pihak rumah sakit nggak sengaja menukar mereka!"

"Ibu awalnya ingin menyimpan rahasia ini, tapi … tapi Ibu ternyata mengidap kanker dan hidup Ibu hanya tinggal hitungan hari."

"Ibu bisa mati dengan tenang asalkan Cecilia mau memanggilku ibu!"

"Aduh, Cecilia, permata hati Ibu! Ibu benar-benar nggak mau berpisah darimu!"

Ibu mertuaku pun bersandar di tubuh putrinya sambil menangis tersedu-sedu.

Para orang tua yang berada di dalam sini juga ikut mengusap air mata masing-masing.

"Hei, anakmu sudah ada di sini! Jangan asal bilang mati begitu!"

"Iya! Ilmu kedokteran sekarang sudah sangat maju, kamu pasti bisa berumur panjang!"

"Lihat saja betapa hebatnya Cecilia! Dia sudah menjadi seorang mahasiswi! Nasibmu justru bagus sekali!"

….

Semua orang mencoba membujukku, sementara putriku menatapku dengan sorot kebingungan.

Aku pun tersenyum dengan dingin, lalu mengambil hasil tes DNA itu dan merobeknya.

Yang seharusnya adalah putri kandung jadi cucu, yang seharusnya adalah adik perempuan malah jadi sang putri, sementara yang seharusnya menjadi kakak malah menjadi ayah.

Manusia mana pun yang punya hati nurani dan tahu etika tidak mungkin melakukan hal semenjijikkan ini.

Di sisi lain, Jack dan keluarganya malah melakukan semua ini dengan percaya diri.

Jack sontak bangkit berdiri dengan kaget. "Jessica Oktani! Apa-apaan kamu!"

"Kedua anak itu harus ditukar lagi! Itu satu-satunya keinginan ibuku. Kalau kamu nggak setuju, kita cerai saja!"

Nada bicara Jack terdengar begitu tegas. Sepertinya dia sudah tidak sabar ingin melihatku pingsan.

Ada dua orang anak yang diperebutkan di sini. Yang satu merupakan primadona sekaligus mahasiswi di salah satu universitas ternama, sementara yang satu lagi bertubuh kurus dan sudah lama kabur dari rumah.

Siapa pun pasti akan merasa terpukul, apalagi aku yang hanya punya satu orang putri.

Para tetangga kembali menatapku dengan simpatik, tetapi mereka diam saja karena menganggap almarhum ayah mertuaku adalah yang terhebat.

Aku pun tidak menyetujui pertukaran kedua anak itu.

Ibu mertuaku mulai meratap lagi. Dia bahkan begitu menjiwai sampai-sampai muntah darah.

"Putriku! Putriku …."

Nada bicaranya terdengar begitu memilukan.

Jack pun memelototiku dengan lebih marah. "Jessica! Kamu setuju atau nggak?"

"Masa iya kamu tega membiarkan ibuku mati dalam kesedihan!"

Kalian ingin mengambil putri yang kubesarkan dengan susah payah ini begitu saja?

Dasar kurang ajar! Awas saja kalian!

Aku menatap suamiku yang sok itu dan berkata sambil tersenyum, "Oke! Kalau memang salah, ya sudah ayo ditukar!"

"Kukembalikan putrimu, jadi kembalikan putriku!"

Bab 2

Ekspresi ibu mertuaku dan suamiku sontak menjadi kaku, suasana mendadak menjadi sangat sunyi.

Sudah menjadi rahasia umum bahwa Naraya Viron kabur dari rumah tiga tahun lalu hanya karena masalah dia memakan sepotong daging rebus.

Ibu mertuaku memukulinya habis-habisan sambil mencacinya.

"Kamu dulunya hantu kelaparan, hah! Daging rebus itu buat keponakanmu! Masa iya kamu yang lebih tua berani-beraninya memakannya!"

"Sini, biar kuhajar kamu sampai mati hari ini! Dasar gadis sialan!"

Ibu mertuaku kasar dan kejam sekali. Naraya pasti sudah mati dia pukuli jika bukan karena para tetangga menghentikannya.

Padahal hari itu dingin sekali, tetapi Naraya hanya mengenakan baju lengan pendek dan celana pendek. Tubuhnya dipenuhi bekas luka.

Ada yang bekas dipukuli dengan batang bambu, ada yang bekas disundut puntung rokok, bahkan ada pula bekas luka bakar yang besar di bagian wajahnya.

Naraya yang tidak tahan lagi pun akhirnya memberanikan diri untuk pertama kalinya menyahuti ibu mertuaku, "Ternyata Ibu sebegitunya membenciku, ya!"

"Harusnya Ibu nggak pernah melahirkanku supaya Ibu bisa menikah lagi! Kalau Ayah tahu Ibu menganiaya putrinya seperti ini, Ayah pasti akan mencekik Ibu sampai mati!"

Naraya tidak mengerti kenapa ibu mertuaku begitu kejam kepadanya, padahal orangtuanya begitu saling menyayangi.

Ibu mertuaku yang tersulut emosi pun akhirnya mengusir Naraya.

Naraya juga tidak kalah keras kepalanya. Sudah tiga tahun ini dia tidak pernah pulang.

"Dia … dia … bukan putri Ibu, mana Ibu tahu dia di mana? Kamu 'kan ibunya, cari saja dia sendiri!"

Ibu mertuaku menggendong Cecilia dan duduk di sofa dengan perasaan bersalah.

"Sudahlah! Kamu nggak usah mempermalukan Ibu! Ibu sudah berusaha keras untuk Naraya. Ibu memang memukuli dan memarahinya, tapi sayangnya Naraya terlahir sebagai orang jahat! Untung saja Ibu membuatnya putus sekolah, kalau nggak, entah berapa banyak murid laki-laki di sekolah yang termakan godaannya! Ingat, ya, Ibu nggak akan mengakuinya sekalipun dia kembali!"

Jack menyalakan sebatang rokok dan menatap ekspresi maluku dengan sangat puas.

Aku tahu dia akan selalu menyundut rokok ke tubuh Naraya setiap kali merasa frustrasi dipermalukan olehku.

Kukira aku sudah lama mati rasa semenjak tahu sifatnya yang sebenarnya.

Ternyata, amarahku masih membara. Aku tidak bisa membayangkan bagaimana jadinya jika aku tidak menukar putriku.

Bisa-bisa dia hidup di bawah aniaya neneknya dan perlakuan tidak adil dari ayahnya.

Akankah dia bertemu dengan orang-orang yang baik hati setelah kabur di usia yang belia?

Tidak, malah mungkin dia sudah keburu mati sebelum sempat bertemu.

Ibu mertuaku dan Jack memang sama-sama manusia tidak berakhlak.

Aku pun memejamkan mata dan mengeluarkan seutas kabel data dari tasku, lalu mengayunkannya ke arah Cecilia.

"Padahal kalian tahu yang sebenarnya, tapi malah berani-beraninya menganiaya putriku! Kalian sudah menyiksa putriku!"

"Jadi, sekarang giliranku menganiaya putri kalian! Kehidupan yang Naraya jalani dulu adalah kehidupan yang akan Cecilia jalani sekarang! "

Ekspresiku terlihat sangat berang, seolah-olah aku adalah seorang ibu yang patah hati setelah mengetahui yang sebenarnya.

Tentu saja ibu mertuaku dan Jack sangat kaget.

Mereka pasti sudah menduga aku akan bereaksi, tetapi aku yakin mereka tidak menyangka aku bisa setega ini dengan putriku.

Putriku pun berseru, "Nenek, Ibu … Ibu gila! Tolong aku!"

Ibu mertuaku pun menindih putriku dengan sigap untuk melindunginya.

Ctaas!

Sebuah luka yang panjang dan tipis segera muncul di wajah ibu mertuaku, darahnya mengalir keluar.

"Aaah! Nak … Nak! Cepat selamatkan Ibu! Istrimu gila!"

Aku menendang Jack menjauh, lalu meraih Cecilia yang berada di belakang ibu mertuaku.

Saat ini, ibu mertuaku benar-benar berperan sebagai ibu yang sangat baik. Dia berdiri mengadang untuk melindungi putriku dengan tegas.

"Jessica! Kalau kamu nggak sudak dengan Ibu, langsung hadapi Ibu! Kamu sendiri yang bodoh karena nggak mengenali putri kandungmu!"

"Ibu nggak sepayah kamu! Pokoknya, nggak akan Ibu biarkan kamu menyakiti Cecilia sedikit pun hari ini!"

Aku bodoh karena tidak bisa mengenali putrikku sendiri?

Aku pun menjambak rambut ibu mertuaku dan mendorongnya ke balkon. "Iya! Aku bodoh, sedangkan kamu pintar!"

"Padahal kamu tahu yang sebenarnya, tapi kamu malah menganiaya putriku! Akan kubalaskan dendam putriku hari ini!"

Bab 3

Separuh tubuh ibu mertuaku terayun ke luar. Kedua tangan dan kakinya bergerak meronta, wajahnya tampak merah padam.

Para tetangga yang menonton kehebohan ini pun bergegas menghampiri. Mereka memintaku untuk jangan berbuat bodoh.

Aku menoleh menatap mereka dan balas memaki, "Kenapa sekarang kalian sok benar? Tadi kalian nggak bilang apa-apa waktu aku disuruh tukar anak! Sekarang?"

"Kalian pura-pura membela kebenaran mentang-mentang sesuatu sudah terjadi! Kuberi tahu, ya, masalah ini belum selesai!"

Ucapanku ini menyulut kekesalan semua orang. Mereka menganggap ini bukanlah urusan mereka.

Salah seorang gadis yang berada di antara kerumunan pun menyahut, "Kak, nggak usah takut sama orang-orang sok suci ini! Aku di pihak Kakak!"

"Jangan lakukan hal bodoh! Putrimu masih menunggumu!"

Ekspresi Jack sontak berubah. Bisa gawat apabila masalah ini menjadi terlalu besar.

"Jessica! Cepat lepaskan ibuku!"

Dia bergegas menghampiriku sambil memegang sebuah tongkat.

Aku tidak sempat menghindar dan terkena hantaman tongkat itu.

Rasa sakit yang hebat membuatku sontak menangis, hampir saja cengkeraman tanganku terlepas.

Jack pun bergegas ke arahku dengan postur hendak mendorongku ke bawah!

Aku berpura-pura kaget. Saat dia bergegas, aku sontak membungkuk dan menangis dengan pilu.

Bruk!

Jack yang tidak sempat berhenti pun terjatuh bersama ibu mertuaku.

Setiap rumah pasti punya kanopi di balkonnya. Mereka berdua terjatuh lebih dulu ke atas kanopi.

"Tolong!"

Namun, tangan mereka berdua kehilangan tenaga dan mereka akhirnya terjatuh ke atas lantai.

Mereka berdua pun muntah darah, lalu pingsan dalam beberapa detik kemudian.

"Aaaah!"

"Cepat telepon 112! Tolong!"

"Astaga! Ini sih namanya tindak pidana!"

Semua orang sontak menjadi ricuh.

Aku juga tidak kuat menahan pukulan sekencang tadi, jadi aku hanya melirik sebentar sebelum jatuh pingsan.

Jack dan aku menjalin hubungan di mana kami bebas mau memilih menikah dengan siapa.

Sebelum menikah, aku tidak tahu-menahu soal Jack yang tidak ingin punya anak.

Waktu itu, aku menyaksikan ibu mertuaku diam-diam menukar anakku.

Firasat buruk pun menjalari benakku. Aku akhirnya diam-diam menukar anakku kembali.

Sayangnya, aku tidak sempat kembali ke kamar. Pada akhirnya, aku bersembunyi di kamar mandi dengan putus asa.

Aku bisa mendengar nada bangga ibu mertuaku.

"Nak, coba lihat foto anak perempuan yang Jessica lahirkan. Jelek sekali!"

Jack mencubit Naraya dengan kencang dan anak itu langsung menangis.

"Hmph, kamu sama menyebalkannya dengan ibu sialanmu! Memangnya kenapa sih kalau mengesahkan properti sebelum menikah? Aku yakin dia berusaha menghalangiku! Dia nggak menganggap kita ini sebagai keluarganya!"

Ibu mertuaku mengangguk dan berujar dengan penuh kebencian, "Dia nggak mau memberi Ibu uang untuk membesarkan putri Ibu, jadi biarkan saja dia yang besarkan sendiri!"

Sebagai seorang yatim piatu, uang adalah satu-satunya hal yang dapat membuatku merasa aman.

Aku tahu betul karakter Jack. Aku yakin Jack tidak akan rela.

Namun, tidak kusangka dia akan menyetujui rencana ibunya.

Anak yang kulahirkan itu juga adalah darah dagingnya!

Masalahnya, aku tidak mungkin tidak memercayai fakta yang ada di depan mata.

Aku berpikir keras sepanjang malam sambil menggendong putriku. Aku hanyut dalam lamunan sampai-sampai matahari akhirnya terbit.

Karena aku tidak terima dengan semua ini, aku akan dengan senang hati membunuh mereka!

Jack dan ibu mertuaku terjatuh dari lantai tiga.

Sayangnya, rumah mereka tidak begitu tinggi dan momentum jatuh mereka sempat ditahan oleh kanopi.

Mereka berdua hanya muntah darah sedikit dan mengalami patah beberapa tulang rusuk.

Namun, operasi membuat ibu mertuaku yang sudah menderita kanker jadi tampak sepuluh tahun lebih tua.

Setelah pengaruh obat bius hilang, ibu mertuaku, Karen Viron, dan Jack hanya bisa terbaring di atas ranjang rumah sakit sambil menangis tersedu-sedu.

Mereka terus menggaruk-garuk bagian dada dengan kesakitan, rasanya seperti ada serangga yang menggerogoti mereka dari dalam.

Di sisi lain, putriku yang selalu penurut dan peka itu sepertinya sudah bisa menerima kenyataan ini.

Dia merawat mereka di rumah sakit dengan sepenuh hati. Saat putriku keluar, hubungan mereka bertiga tampak lebih akrab.

Itu sebabnya mereka merasa begitu sedih dan tertekan saat aku datang bersama putriku yang hidung dan wajahnya memar.

"Cecilia, wajahmu!" pekik Karen.

Cecilia pun menutupi wajahnya yang babak belur sambil menangis dengan sedih. Dia bahkan secara tidak sengaja memperlihatkan bekas luka di lengannya.

Lengannya dipenuhi dengan bekas luka bakar yang mengerikan, sama seperti yang Naraya alami.

Dia pun berlutut di pinggir ranjang rumah sakit. "Huhuhu …. Tolong aku! Tolong aku!"

Karen marah sekali sampai-sampai tekanan darahnya meningkat. Mesin yang berada di samping ranjang rumah sakitnya terus berbunyi.

Dia menunjuk ke arahku dengan jari yang gemetar, wajahnya tampak merah padam.

"Dasar wanita jahat! Kamu …."

Namun, Cecilia merasa penampilannya masih belum cukup. Dia berkata lagi sambil menangis, "Dia … dia juga ingin menjodohkanku dengan orang lain! Aku nggak mau hidup lagi!"

Mata Karen sontak terbelalak lebar, napasnya sampai terengah-engah. Dia langsung dibawa ke UGD tanpa sempat menarik napas terakhirnya.

Jack pun bangkit berdiri dan hendak melapor polisi.

"Boleh!" sahutku sambil tersenyum mencengkeram leher putriku. "Nanti aku tinggal memukulinya habis-habisan!"

Menukar Putri yang Ditukar

Bab 1
Bab
Sesuaikan
Bab Berikutnya