Bab 1
Pacarku adalah seorang pria kaya raya dalam lingkaran sosial kami. Namun, demi menyenangkan hati seorang mahasiswi, dia mendorongku ke laut saat merayakan ulang tahunku di atas kapal. Dia bahkan mentertawakanku dan meledekku karena tidak bisa berenang.
Namun kenyataannya, aku benar-benar takut air. Alhasil, aku berakhir di ruang ICU, sedangkan dia berhasil memenangkan hati gadis itu.
Setelah aku sadar, dia menggenggam tanganku dengan penuh penyesalan dan meminta maaf. Namun, aku hanya menatapnya dengan penuh kebingungan dan berkata, "Pak, siapa kamu?"
Dokter spesialis otak mengatakan bahwa aku mengalami trauma yang menyebabkan hilangnya ingatan tentangnya. Namun, dia terus-menerus mengatakan bahwa dia adalah pacarku. Akhirnya aku tak bisa menahan diri lagi dan menyanggahnya, "Pacarku Shawn!"
Semua orang tahu bahwa Shawn adalah musuh bebuyutannya.
Pacarku adalah anak orang kaya di ibu kota yang bernama Elton. Sifatnya sangat liar dan tak terkendali. Dia selalu menghambur-hamburkan uang sesuka hati dan senantiasa dikelilingi wanita. Aku sudah bersamanya selama tiga tahun dan selama tiga tahun itu, dia selalu bersikap baik. Bahkan, dia pernah melamarku.
Namun belakangan ini, dia menemukan mangsa baru.
Seorang mahasiswi muda yang cantik, berkulit putih, dan memiliki aura yang anggun. Elton tampaknya tidak kuasa menahan pesona terhadap gadis yang polos dan baik hati.
Demi menyenangkan gadis itu, Elton mendorongku ke laut tanpa ragu-ragu di hari ulang tahunku.
Hari ini langit sangat cerah tanpa awan sama sekali. Permukaan air yang tenang tiba-tiba menimbulkan percikan dahsyat ketika aku jatuh ke dalamnya. Aku terus berjuang untuk meronta-ronta di dalam air sambil menatap sekelompok orang di atas kapal pesiar.
Gadis yang berdiri di tepi kapal mengenakan gaun putih. Tatapannya tampak polos dan cerah. Melihat aku terjatuh dengan begitu menyedihkan, dia menutupi bibirnya dengan tangannya dan tersenyum manis.
Senyumnya begitu indah.
Elton pun ikut tersenyum. Dia tertawa dengan sangat lepas, bahkan kerutan di dahinya sedikit menghilang. Ketika dia mendengar teriakanku meminta tolong, aku sudah mulai tenggelam. Napasku mulai sesak karena menelan air.
Aku pernah tenggelam saat masih kecil dan sejak saat itu aku sangat takut pada air. Awalnya, aku tidak setuju mengadakan pesta ulang tahun di atas kapal pesiar. Namun, karena tidak bisa menolak bujuk rayu Elton yang tiada habisnya, pada akhirnya aku pun menyetujuinya.
Namun, begitu tiba di kapal pesiar, aku menyadari bahwa ada seorang gadis asing di sana selain teman-teman kami yang biasanya. Gadis itu benar-benar sangat cantik.
Elton sangat perhatian padanya. Dia adalah orang pertama yang diberikan minuman, potongan buah, dan bahkan potongan pertama kue ulang tahun. Elton merawatnya dengan sangat cermat. Dia bahkan sudah lama tidak pernah memperhatikanku seperti itu.
Saat itu, aku langsung merasa ada yang tidak beres. Namun, aku tetap tidak menaruh curiga padanya. Hingga saat dia mendorongku ke laut, saat itulah aku menyadarinya.
Perasaan Elton sudah berubah.
Melihatku tenggelam perlahan-lahan, Elton mengangkat kacamata hitamnya dengan santai dan meletakkannya di atas kepala.
Sambil menyipitkan matanya, dia menatapku yang terus berjuang di air dan mengejek, "Jilly! Kamu serius nggak bisa berenang? Jangan pura-pura lagi, cepat naik ke sini. Rachel sudah tertawa melihat tingkahmu, kamu nggak perlu berpura-pura lagi."
Nada ejekannya sangat menyakitkan.
"Elton, pacarmu kayaknya benaran nggak bisa berenang!" teriak seseorang yang mulai menyadari keanehan. Dia buru-buru melemparkan pelampung padaku, tapi tubuhku sudah mulai terjatuh ke dasar lautan.
"Tolong!"
"Jilly!"
Keadaan di atas kapal menjadi kacau. Beberapa orang bekerja sama menarikku keluar dari air dan membawaku kembali ke kapal. Hanya saja, meskipun sudah beberapa kali melakukan CPR, aku masih tetap tidak sadarkan diri.
Tubuhku menjadi dingin perlahan-lahan.
Saat itulah Elton mulai panik. Dia segera membawaku ke rumah sakit. Aku langsung dibawa ke ruang gawat darurat dan dokter-dokter bekerja keras selama lebih dari dua jam untuk menyelamatkanku.
Ketika akhirnya dokter mengatakan bahwa aku sudah melewati masa kritis dan tidak dalam bahaya lagi, Elton menghela napas panjang dengan lega.
Kalau sampai terjadi sesuatu padaku, dia bisa menjadi pembunuh. Elton memang suka bermain-main, tapi dia jelas tidak ingin masuk penjara.
Keesokan harinya, aku sadar di atas ranjang rumah sakit. Aku menatap langit-langit dan mencium aroma antiseptik yang menyengat dari selang oksigen di hidungku. Mataku tampak bingung. Saat aku mencoba bergerak sedikit, rasa sakit yang berdenyut langsung menusuk di kepalaku.
Aku mengangkat tangan dan menekan dahiku sambil mengerang pelan.
Elton yang baru saja masuk ke ruangan, langsung berjalan cepat ke arahku setelah melihatku sadar. Dia menggenggam tanganku dengan penuh semangat dan berkata, "Jilly, akhirnya kamu sadar juga! Kamu nggak sadar semalaman, aku takut sekali kamu nggak bisa bangun lagi!"
Aku buru-buru menarik tanganku dari genggamannya, lalu menatapnya dengan penuh kebingungan dan kecurigaan. Dengan alis berkerut, aku bertanya, "Siapa kamu?!"
Bab 2
"Jilly, kamu bercanda, 'kan? Aku ini pacarmu, Elton!" Elton kembali menggenggam tanganku sambil tersenyum.
Namun, ketika dia melihat ekspresi ketakutan di mataku, dia berpikir aku sedang berpura-pura. Suaranya mulai menunjukkan ketidaksabaran, "Aku salah karena mendorongmu ke laut, tapi kamu nggak perlu bersikap seperti ini, 'kan? Kamu baik-baik saja sekarang, bukan?"
"Pacar? Kamu ngomong apaan? Pacarku Shawn!" Aku buru-buru melepaskan tangannya dan memeluk bantal di dadaku. Kemudian, aku menatapnya dengan tatapan tajam dan waspada.
Aku sama sekali tidak mengenalnya!
"Apa?! Siapa yang kamu bilang pacarmu?!" Mata Elton langsung dipenuhi amarah. Dia meninju meja di samping tempat tidur dan berteriak marah. Shawn adalah musuh bebuyutannya.
Sejak kecil, dia selalu kalah dari Shawn dan sangat membencinya. Nama Shawn bahkan tidak boleh disebut di depannya.
Aku melihat sekeliling kamar rumah sakit yang kosong, lalu menatap Elton yang semakin mendekat dengan wajah marah. Aku berteriak dengan cemas, "Jangan sentuh aku! Aku nggak kenal kamu!"
Teriakanku itu membuat dokter dan perawat berlari masuk ke ruangan. Melihat betapa aku menolak keberadaan Elton, perawat lalu memintanya untuk keluar dari kamar dan menunggu di luar.
Dokter melakukan serangkaian pemeriksaan dan menanyakan banyak hal padaku. Setelah selesai, dia menyuruhku untuk beristirahat.
Elton tetap berdiri di luar kamar. Setelah menenangkan diri sejenak, dia menghampiri dokter dan bertanya dengan cemas, "Dok, sebenarnya apa yang terjadi pada pacarku? Kenapa dia nggak mengenaliku lagi? Bahkan menganggap pria lain sebagai pacarnya!"
"Dia mungkin mengalami gangguan ingatan akibat trauma di kepalanya. Lambat laun, ingatannya mungkin akan kembali. Untuk saat ini, jangan paksa dia dulu," jawab dokter sambil memberikan peringatan.
Elton mendengarnya, tapi sama sekali tidak percaya. Mana mungkin aku cuma lupa padanya seorang?
Begitu dokter pergi, Elton langsung masuk ke kamar. Dia memaksaku berbaring di tempat tidur dengan marah dan bertanya dengan kasar, "Aku cuma mendorongmu ke laut! Apa kamu perlu sampai pura-pura amnesia?!"
Perawat yang mendengar kegaduhan itu, bergegas masuk dengan beberapa orang dan menarik Elton keluar dari kamar.
"Pacar macam apaan kamu ini? Jangan ganggu dia lagi! Kalau nggak, dia nggak akan ingat sama kamu selamanya!" Perawat melihat ke arahku yang meringkuk di atas tempat tidur melalui jendela kecil di pintu, lalu berbalik memperingatkan Elton.
Namun, Elton sama sekali tidak peduli. Dia ingin melihat seberapa lama aku bisa berpura-pura.
Tidak lama kemudian, orang tuaku datang ke rumah sakit.
Elton takut insiden dia mendorongku ke laut akan terbongkar, sehingga dia bahkan tidak memberi tahu mereka bahwa aku dirawat di rumah sakit.
Keluarga Elton memang memiliki status yang cukup tinggi di ibu kota. Namun, keluargaku juga tidak kalah berpengaruh. Terlebih lagi, saat ini perusahaan keluarga Elton sangat membutuhkan investasi dari ayahku dan aku sendiri adalah kepala arsitek di perusahaan tersebut.
Elton membutuhkan sumber daya dari keluargaku dan juga kekuasaanku.
"Paman, Bibi, lihat saja. Akting Jilly meyakinkan sekali sampai berpura-pura nggak kenal aku. Barusan dia bahkan mencakar lenganku," Elton tertawa sambil melapor ke orang tuaku.
Orang tuaku terkejut. Mereka segera berlari ke arahku dan bertanya dengan cemas, "Jilly, kamu masih kenal kami, 'kan?" Mereka khawatir aku juga akan melupakan mereka.
"Ayah, Ibu, kalian ngomong apaan? Mana mungkin aku nggak kenal kalian?" Aku tersenyum melihat ekspresi khawatir di wajah mereka. Mendengar jawabanku, mereka langsung menghela napas lega.
Namun, ketika melihat wajahku yang pucat dan lelah, mereka tampak khawatir dan penuh kasih sayang. Sambil membelai wajahku, mereka bertanya dengan lembut, "Jilly, dokter bilang kamu hampir tenggelam dan harus diselamatkan semalaman? Bukannya kamu takut air, kenapa pergi ke laut?"
Saat itulah, aku melihat Elton masuk ke dalam ruangan. Aku langsung berteriak ketakutan, lalu bersembunyi di belakang mereka. "Ayah, Ibu, orang ini gila! Jangan biarkan dia dekatin aku!"
Bab 3
"Dia bilang dia pacarku? Tapi pacarku Shawn!" Aku menggenggam erat tangan ibuku, menatapnya dengan tegas.
Mendengar itu, ekspresi kedua orang tuaku langsung berubah kaku. Mereka pun mulai menunjukkan foto-foto di ponsel satu per satu dan menanyakanku. Alhasil, aku hanya melupakan Elton dan tetap menganggap Shawn sebagai pacarku.
Namun, Elton tidak terlalu peduli. Pada hari aku keluar dari rumah sakit, dia bahkan pergi untuk mengajak Rachel makan malam.
Elton sudah beberapa kali mengajak Rachel dan akhirnya kali ini dia setuju. Tanpa ragu, Elton langsung menjemputnya dengan mobil sport mewahnya. Mobil Elton sangat mahal, sehingga menimbulkan banyak pembicaraan di kampus Rachel.
Begitu duduk di dalam mobil, Rachel melirik Elton sekilas dengan tenang. Tetap dengan penampilan anggun dan sederhana seperti biasanya, dia bertanya dengan lembut, "Pacarmu nggak apa-apa, 'kan?"
"Dia baik-baik saja. Umurnya masih panjang," jawab Elton dengan nada menggampangkan.
Sepanjang sore, Elton mengajak Rachel berkeliling ke beberapa toko barang mewah dan menghabiskan miliaran. Akhirnya, Elton membawanya makan malam romantis di restoran termahal.
Namun, ketika dia mengantarnya kembali ke gerbang kampus, Rachel menolak semua barang mewah yang diberikan Elton.
Elton merasa semakin tertarik dengan gadis seperti ini. Hatinya bergejolak dan dia merasa gairahnya kembali membara. Malam itu, dia pergi ke bar bersama teman-temannya untuk merayakan.
Beberapa temannya mengucapkan selamat dan berharap dia bisa segera "menaklukkan" Rachel. Namun, sahabat baiknya, Jonas, tampak tidak senang.
"Elton, bukannya sebentar lagi kamu mau nikah sama Jilly? Apa kamu nggak merasa bersalah sama dia? Lagi pula, dia baru keluar dari rumah sakit, seharusnya kamu menemaninya, bukan?" Jonas mengingatkannya.
Mendengar hal itu, Elton mengangkat alisnya dan tertawa kecil dengan tak acuh. "Kapan lagi seorang pria bisa bersenang-senang sebelum menikah? Lagi pula, aku sudah menahan diri selama tiga tahun. Ini kesempatan langka bertemu seseorang yang benar-benar cocok dengan seleraku, jadi jangan ganggu aku."
Nada bicaranya sangat santai. Beberapa teman lainnya tertawa mendengar perkataan Elton dan menyetujui sikapnya.
"Kamu nggak takut Jilly benar-benar melupakanmu?" Jonas bertanya dengan alis yang masih berkerut.
Elton baru saja mengangkat gelasnya ke bibir. Namun saat mendengar perkataan itu, ekspresinya sedikit berubah.
Dia segera tersenyum sinis dan berkata, "Lupa sama aku? Kalian belum lihat gimana dia dulu selalu mengemis perhatianku? Memangnya dia berani melupakanku? Kalaupun dia lupa, lalu kenapa? Sikap menjijikannya itu sudah lama membuatku muak."
Jonas yang tampak gelisah, berusaha menarik Elton beberapa kali untuk menghentikannya.
Namun, Elton langsung menepis tangan Jonas dan melanjutkan isi hati yang sudah lama dipendamnya. "Sikap Jilly yang sok suci itu sama sekali nggak bisa dibandingkan sama Rachel!" Nada bicaranya sangat merendahkan.
Jonas menunjuk ke arah belakang Elton dengan gugup, lalu berbisik, "Jilly."
Elton terdiam sejenak, ekpresinya berubah drastis. Dia buru-buru menoleh dan melihatku berdiri di belakangnya. Dia begitu terkejut hingga suaranya gemetaran. "J ... Jilly, bukannya kamu baru keluar dari rumah sakit? Ke ... kenapa kamu ada di sini?"
Dia buru-buru meletakkan gelasnya dan berdiri, lalu berusaha menghampiriku dengan senyuman yang dipaksakan. Aku memandangnya dengan tatapan datar dan tidak bereaksi terhadap perkataannya. Sorot mataku yang dingin dan tenang ini membuat Elton tertegun.
Jika mendengar perkataannya seperti itu dulu, aku pasti akan marah besar dan minggat dari rumah. Namun kali ini, aku tidak menangis ataupun berbuat onar. Aku hanya melihatnya seperti melihat orang asing.
"Jilly?" panggilnya lagi.
Aku menatap ke arahnya dengan bibir yang sedikit terangkat. Mataku yang berwarna kecokelatan juga tampak berbinar. Melihat hal itu, Elton mengira aku tidak marah. Dia pun berjalan mendekatiku.
Namun, aku melewatinya begitu saja dan berlari ke arah seorang pria yang mengenakan setelan hitam. Aku membuka kedua lenganku dan memeluknya erat-erat sambil tersenyum dan berteriak, "Shawn, aku rindu sekali padamu!"