Bab 1
- Terpaksa Berjodoh
“Adikmu itu sudah seperti benalu di sini. Harusnya dia tahu diri!”
Embun baru saja hendak mengucap pamit berangkat kerja saat dia mendengar suara omelan ibu mertua kakak semata wayangnya dari dalam rumah.
Gadis cantik bermata coklat tersebut pun terdiam di tempat dan menguping percakapan di dalam dapur itu.
“Numpang di rumah orang kok keterusan. Dia kan sudah bekerja, seharusnya secara finansial sudah bisa mandiri. Suruh dia cari tempat kos atau kontrakan kek. Bukan tinggal terus-menerus di rumah anakku ini!”
Lagi-lagi suara ibu mertua sang kakak kembali mengudara.
“Bu, Embun adik Rindang satu-satunya. Hanya dia keluarga Rindang yang tersisa.” Kali ini Embun mendengar suara kakak perempuannya, Rindang, berujar dengan sabar. “Anak perempuan tinggal di luar sendirian bahaya, Bu.”
“Tapi bukan berarti dia bisa seenaknya tinggal di sini, dong! Ibu nggak mau tahu, suruh dia secepatnya keluar dari rumah ini.”
“Tapi, Bu ….”
“Tidak ada tapi-tapian ya, Rindang. Kamu yang ngomong ke adikmu atau Ibu yang akan bicara langsung sama dia malam ini!” ancam ibu mertua Rindang.
Embun mendengar suara langkah kaki yang menjauhi ruang tamu. Sepertinya, ibu mertua sang kakak telah pergi. Dengan mengucap doa agar sabar, Embun memejamkan mata.
Memang sudah lama Embun merasa tidak enak menumpang di rumah sang kakak ipar. Akan tetapi, setiap kali Embun melontarkan niatan untuk tinggal di luar, kakak dan kakak iparnya tidak pernah mengizinkan. Alhasil, Embun terpaksa menetap bersama keduanya. Itu pun dia juga berikan uang bulanan sebesar lima juta kepada sang kakak ipar guna balas budi karena sudah diizinkan tinggal.
Akan tetapi, sepertinya ibu mertua sang kakak tidak pernah mengetahui hal itu … atau tahu tapi tetap tidak mau tahu.
Teringat oleh Embun ucapan sang kakak dulu, “Mau tinggal di luar sebenarnya boleh, tapi kamu harus nikah dulu.”
Helaan napas kabur dari bibir Embun.
Menikah? Menikah dengan siapa kalau pacar saja dia tidak punya? Akan tetapi, hanya itu jalan keluar Embun agar tidak mengganggu rumah tangga kakaknya.
Embun terus memikirkan hal tersebut sepanjang siang, bahkan selagi bekerja.
“Menikah sama siapa ya …?”
“Sama anak kakek saja.”
Embun terkejut ketika pertanyaannya dibalas oleh orang lain. Dia pun menoleh dan mendapati seorang kakek telah berdiri di hadapannya.
“Kakek Surya ….” Embun tersenyum kepada langganan kafe miliknya itu. “Kakek mengagetkan saja.”
“Kakek sudah panggil kamu berkali-kali, kamunya yang nggak sadar,” balas sang kakek. “Menu biasa, ya,” ucap pria itu yang langsung dimengerti oleh Embun.
Dengan cepat Embun menghidangkan pesanan sang kakek. Di saat itu juga sang kakek memaksanya duduk bersama dan bertanya perihal apa yang terjadi, “Jadi, apa masalahnya?”
Awalnya, Embun ragu menceritakan. Akan tetapi, Kakek Surya adalah langganannya sejak satu tahun yang lalu. Oleh karena itu, mereka sudah cukup dekat dan sudah hal biasa bagi keduanya untuk berbagi cerita.
Akhirnya, Embun pun menceritakan semuanya dan berakhir mendapatkan tawaran mengejutkan dari sang kakek.
“Kalau kamu nggak keberatan, kakek sungguh mau kamu menikah dengan anak kakek.”
Dikatakan Kakek Surya memiliki seorang putra berusia tiga puluh lima tahun yang belum menikah. Dia sudah mapan secara finansial, tapi terlalu sibuk bekerja sampai tidak memiliki waktu mencari pasangan. Hal itu membuat Kakek Surya khawatir anak bungsunya tidak akan menikah, padahal cucu sang kakek saja sudah ada yang punya pacar.
Di sisi lain, Kakek Surya sangat menyukai Embun. Gadis itu selalu sabar dan mendengarkan cerita dan keluh kesahnya yang mungkin membosankan untuk gadis seusianya. Gadis sabar dan penyayang yang juga mandiri dan bekerja keras. Sangat cocok untuk jadi calon menantunya!
Embun tampak tertegun mendengar usulan dari Kakek Surya. Akan tetapi, sepertinya usulan sang kakek sungguh pilihan yang baik untuk rencananya saat ini. Menikah dan keluar dari rumah kakak iparnya.
“Kalau anak Kakek tidak keberatan, saya tertarik menerima.”
Alhasil, di hari esoknya, Embun pun pergi ke sebuah kafe untuk bertemu dengan anak Kakek Surya.
Sejujurnya, Embun tidak menyangka jika putra bungsu sang kakek akan bener-benar menyetujui perjodohan ini. Akan tetapi, dia juga lega karena artinya dia tidak perlu lagi mencari calon suami.
“Wah, lihat deh, pria itu ganteng banget!”
“Iya, kayak artis!”
Baru saja duduk di salah satu kursi kafe, Embun dikejutkan oleh sejumlah komentar para pelanggan wanita yang ada di kafe tersebut. Gadis berambut panjang bergelombang itu mengikuti arah pandang para wanita dan berakhir menatap sosok yang duduk di meja depannya.
Tampak seorang pria tampan berjas rapi sedang duduk di sana sembari mengetik di laptop dengan serius. Alis tebal yang menukik tajam, hidung mancung yang dihiasi kacamata tipis, lengkap dengan rahang tegas yang menunjukkan wibawa.
Patut Embun akui, pria itu memang tampan.
Namun, Embun punya urusan yang lebih penting.
[Saya sudah di kafe.]
Embun mengetikkan pesan tersebut dan mengirimkannya kepada putra Kakek Surya, Kaisar.
TING!
Detik itu juga, dentingan notifikasi ponsel terdengar. Embun mengangkat pandangan, mendapati bahwa pria di hadapannya kebetulan juga menerima pesan.
Gadis itu agak tertawa dalam hati. ‘Nggak mungkin kebetulan banget dia anaknya si Kakek, ‘kan?’ Embun menggelengkan kepala dan kembali memerhatikan ponselnya. ‘Kalau seganteng itu, masa iya belum punya pacar.’
Tak lama, sebuah balasan pun diterima Embun.
[Saya juga sudah tiba di kafe. Tolong foto lokasimu di sebelah mana.]
Melihat hal itu, Embun bergegas mengangkat ponselnya untuk mengambil foto tempat mejanya berada. Saat itulah gadis cantik itu menyadari dari kamera ponselnya bahwa pria di depannya itu menghilang.
Detik berikutnya terdengar seseorang memanggil namanya.
“Embun Prajaya?”
Embun langsung menoleh. Seketika, dia tersentak.
Pria tampan yang tadi duduk di hadapannya telah berdiri di samping mejanya sekarang.
“Kaisar Rahardja?” tebak Embun.
Lelaki bertubuh tinggi dan tegap itu mengangguk.
Embun langsung berdiri dan mengulurkan tangan kanannya yang disambut jabat tangan sopan dari pria tampan di hadapannya itu.
“Salam kenal. Saya Embun,” ujar gadis itu seraya tersenyum.
“Kaisar Rahardja, panggil saja Kaisar.”
Embun pun mempersilakan Kaisar untuk duduk di depannya. Hal itu membuat para gadis yang tadi memerhatikan pria tersebut tampak kecewa, terlebih karena di tengah-tengah pembicaraan, Embun dan Kaisar membicarakan latar belakang masing-masing, khas dua orang yang sedang kencan buta.
Dari pembicaraannya dengan Kaisar, Embun mendapati bahwa pria itu adalah anak terakhir dari tiga saudara yang semuanya pria. Kakak pertama adalah seorang dokter spesialis bedah, sedangkan kakak kedua merupakan seorang pemuka agama. Itulah alasan sang kakek membebani Kaisar dengan tanggung jawab perusahaan yang membuatnya tidak memiliki waktu untuk menjalin cinta.
Embun pun juga menjelaskan latar belakangnya. Anak bungsu dari dua bersaudara yang tinggal bersama dengan kakaknya yang sudah menikah. Kedua orang tuanya meninggal saat Embun masih kecil.
Setelah memperkenalkan diri dan memahami situasi satu sama lain, Kaisar pun berkata, “Oke. Saya rasa perkenalannya sudah cukup.” Pria itu pun berdiri dari kursi dan mengisyaratkan kepada pelayan kafe bahwa dia akan melakukan pembayaran. Sembari menatap Embun, dia lanjut berujar, “Waktu saya tidak banyak, jadi ayo selesaikan pernikahan ini sekarang juga.”
Embun terkejut. “Sekarang?”
Selesai membayar dengan kartu hitamnya, Kaisar menjawab Embun yang juga ikut berdiri, “Kantor catatan sipil ada di dekat sini. Kamu sudah bawa dokumen yang saya minta juga, ‘kan?”
“Iya, tapi–”
Kaisar tidak menunggu ucapan Embun sampai selesai. Pria itu langsung berbalik dan berkata, “Kalau begitu, ikut saya.”
Alhasil, Embun pun hanya bisa mengikuti perintah Kaisar dan mulai berjalan dengan pria tersebut berdampingan menuju kantor catatan sipil.
Dalam hati, Embun membatin bagaimana dirinya tidak heran pria tersebut belum memiliki pasangan hingga sekarang. Pria itu begitu dingin dan angkuh!
Selagi Embun memikirkan hal itu, sebuah pertanyaan dilontarkan Kaisar, “Kamu yakin dengan pernikahan ini?” Mereka sudah sampai di depan gedung kantor catatan sipil. “Pernikahan kita memang tidak diawali dengan cinta, tapi saya harap kamu tidak menganggapnya permainan.”
Bab 2
- Pernikahan Telah Sah
“Pernikahan kita memang tidak diawali dengan cinta, tapi saya harap kamu tidak menganggapnya permainan.”
Ucapan Kaisar membuat Embun menatap pria tersebut dengan saksama.
Jujur saja, Embun kaget Kaisar menyatakan hal seperti itu. Gadis itu sempat berpikir bahwa Kaisar menganggap enteng pernikahan ini karena memang terpojok situasi. Akan tetapi, ternyata Kaisar cukup serius.
Diselimuti keyakinan, Embun pun berakhir menjawab, “Saya sudah setuju di awal, Kaisar. Jadi tidak mungkin saya mengubah kata-kata saya.”
Dengan pandangan yang mendarat di wajah pria itu, Embun mempelajari ekspresi Kaisar. Akan tetapi, sama sekali tidak bisa Embun baca reaksi pria tersebut terhadap jawabannya.
Kaisar pun mengangguk dan mengisyaratkan Embun untuk mengikutinya masuk ke dalam kantor catatan sipil. Di dalam mereka menyerahkan sejumlah dokumen dan menandatangani berkas-berkas pernikahan. Dalam waktu singkat, keduanya pun keluar dari ruangan dan menjadi pasangan suami istri yang telah dianggap sah oleh negara.
Di lobi gedung, Kaisar menghadap Embun. “Meski pernikahan kita ini hanya status, tapi saya akan tetap memenuhi kewajiban saya sebagai seorang suami yang sesungguhnya.”
Kaisar memandang Embun lekat. Kedua tangannya dimasukkan ke dalam saku celana panjangnya.
“Akan tetapi ….”
“Akan tetapi ... apa?” tanya Embun.
“Jangan harapkan cinta,” tegas Kaisar.
Embun tersenyum. “Saya sama sekali tidak keberatan. Cinta memang tidak muncul begitu saja. Lagi pula, awal pernikahan kita hanya untuk keuntungan masing-masing saja.”
Setelah mengatakan itu, Embun memperhatikan pria di depannya itu. Memindai penampilan sang suami dari atas sampai bawah. Embun bisa melihat apa yang dipakai oleh Kaisar adalah barang-barang yang cukup mewah. Akan tetapi, ada satu hal yang ingin dia tanyakan.
Embun harap, pria itu tidak tersinggung.
“Ada apa?” tanya Kaisar dengan curiga, menangkap keraguan Embun. “Kamu menyesali keputusanmu?”
Kepala Embun menggeleng. “Bukan, tapi … apa nanti pengeluaran rumah perlu kita bagi dua? Saya tidak keberatan kalau memang perlu.”
Bukan tanpa alasan Embun menanyakan hal itu pada Kaisar. Jujur saja ia trauma dengan teguran ibu mertua kakak perempuannya.
Sementara itu, Kaisar terkejut. Tidak pernah dia duga akan mendengar Embun menyatakan hal semacam itu.
Kaisar pun meraih dompet dari balik saku celananya dan mengeluarkan kartu kredit hitam serta sebuah kunci.
“Ini kunci rumah dan kartu kredit saya, pakailah untuk masuk ke rumah dan belanja segala keperluanmu maupun kebutuhan rumah.” Pria itu tidak lupa berujar, “Ada alamat yang tertera di belakang kunci.”
Mata Embun mengerjap menerima kedua benda itu. Jujur saja dia tidak menyangka jika Kaisar akan memperlakukannya seperti ini.
Kunci rumah sepertinya masih masuk akal. Akan tetapi, kartu kredit? Apa Kaisar sepercaya itu padanya?
Embun menyodorkan kembali kartu kredit Kaisar. “Agaknya, ini berlebihan. Saya punya uang sendiri.”
Kaisar menatap Embun selama sesaat dengan pancaran mata menelisik. Namun, akhirnya dia berkata, “Kamu sudah menjadi istri saya, jadi mulai saat ini semua kebutuhanmu akan menjadi tanggung jawab saya.” Pria itu menegaskan, “Kalau memang tidak mau pakai, simpan saja. Gunakan saat perlu.”
Mendengar hal itu, Embun pun menyadari Kaisar tidak menerima penolakan. Akhirnya, dia pun mengangguk dan menyimpan kartu kredit beserta kunci itu.
“Saya sibuk, jadi perlu kembali ke kantor. Kamu bisa pulang sendiri, ‘kan?” Suara Kaisar kembali terdengar yang dibalas anggukan pelan Embun. “Sebelum pulang, kamu bisa beli cincin pernikahan untuk kita. Gunakan saja kartu kredit yang kuberikan,” pesannya. “Saya belum ingin memberitahukan soal pernikahan kita pada siapa pun, tetapi ketika menghadiri acara tertentu, kita perlu memakainya.”
Sekali lagi, Embun mengangguk. “Saya mengerti. Akan kubeli sebelum kembali nanti.”
Pasangan pengantin baru itu melangkah meninggalkan lobi Kantor Catatan Sipil. Keduanya kembali menuju tempat parkir kafe tempat mereka bertemu tadi.
Sebelum berpisah, Kaisar kembali bertanya, “Kamu pulang naik apa?”
“Bis,” jawab Embun.
“Tidak ada mobil?”
Embun tersenyum tipis. “Saya tidak punya SIM.”
“Kalau begitu, secepatnya kamu urus pembuatan SIM. Setelahnya kamu bisa beli mobil yang kamu inginkan. Saya akan bantu membayarkan uang mukanya.” Arahan dari Kaisar membuat kening Embun berkerut.
“Saya belum terlalu membutuhkan mobil, Kaisar. Saya lebih nyaman menggunakan bis atau naik taksi saja,” kilah Embun serius.
Kaisar menatap tepat di manik mata cokelat Embun. Kepalanya menunduk mensejajarkan tingginya dengan tinggi istrinya. “Kalau menggunakan mobil, kamu bisa lebih mudah bepergian ke mana pun.” Lalu Kaisar memasukkan kedua tangannya di saku dan kembali melanjutkan, “Pekerjaan saya padat, saya juga sering pergi pagi dan pulang malam. Meskipun kita memang suami istri, tetapi kamu jaga diri kamu sendiri dan tidak perlu mengurusi saya. Saya juga akan tetap mentransfer uang bulanan setelah gajian.”
“Tenang saja, saya mengerti. Saya akan melakukan apa yang kamu katakan tadi.” Embun menganggukkan kepala.
Sedikit banyak Embun mengetahui jika Kaisar orang yang terbiasa memerintah karena langsung mengatakan banyak hal tanpa menunggu tanggapan dari Embun.
Setelahnya mereka berdua berpamitan. Kaisar masuk ke mobilnya sendiri dan membunyikan klakson sekali sebelum meninggalkan Embun yang masih menunggu taksi online yang dipesannya.
Tak berapa lama, taksi online pesanan Embun tiba. Tujuan pertamanya adalah menuju toko perhiasan untuk membeli cincin kawin seperti perintah suaminya sebelum pulang ke rumah kakaknya.
Ponsel di dalam tasnya bergetar. Dilihatnya nama Kakek Surya yang menelepon.
“Halo, Kakek!” sapa Embun.
“Kenapa masih memanggilku kakek? Panggil aku papa. Kalian sudah resmi menikah, ‘kan?” suara di seberang itu penuh selidik.
“Iya Kek … eh iya, Pa, semua lancar. Pernikahan kami sudah tercatat di Catatan Sipil,” jawab Embun sedikit canggung karena belum terbiasa. Embun juga lupa kalau Kakek Surya sudah menjadi ayah mertuanya sekarang.
“Mana Kaisar? Dia masih bersamamu, ‘kan?”
Embun meringis mendengar pertanyaan Surya. Dia berdeham sebentar sebelum menjawabnya.
“Eh... Kaisar sudah kembali ke kantor, Pa,” ucap Embun pelan.
“Apa?! Kurang ajar sekali anak itu memang! Baru menikah dan kamu sudah ditinggal pergi kerja?! Harusnya dia antarkan kamu pulang dulu!” omel Surya dengan sedikit berteriak. Sadar dia kelepasan, Surya langsung menimpali, “Maafkan Kaisar ya, Embun. Dia memang cuek, tapi anaknya baik. Kamu jangan sedih dengan sikapnya itu. Dia cuma terlalu sibuk bekerja,” terang Surya memberikan penjelasan pada Embun.
“Tidak apa-apa kok, Pa. Embun paham,” jawab Embun.
“Kamu tenang, Embun. Papa akan tegur dia buat kamu!”
“Papa, aku–!”
Belum sempat Embun mengatakan apa pun, Surya mengakhiri panggilannya. Surya langsung menghubungi anak bungsunya itu.
Telepon diangkat. Sebelum Kaisar sempat mengucapkan salam, sang ayah sudah terdengar mengomelinya.
“Apa yang kamu pikir kamu lakukan?!” seru Surya kepada Kaisar.
Kaisar menjauhkan ponsel dari telinganya, merasa telinganya berdengung mendengar teriakan sang ayah. “Apa lagi?”
“Kaisar, kalian itu baru saja menikah! Bisa-bisanya kamu pergi begitu saja dan membiarkan Embun pulang sendirian. Kenapa tidak kamu antarkan pulang dulu istrimu itu?!”
“Papa, aku sudah menikah sesuai keinginan Papa saja sudah cukup bagus.”
“Kamu ini! Bersikaplah yang baik kepada istrimu! Aku sudah susah payah mencari wanita yang baik untukmu!”
Helaan napas kasar kabur dari mulut Kaisar. Pria itu pun berujar, “Aku menghargainya, itulah kenapa aku ingin mengenalnya dengan lebih baik.” Pria itu menambahkan, “Kalau hanya dengan seperti hal ini saja dia sudah tidak terima, maka aku mulai mempertanyakan apakah dia memang sebaik yang Papa ceritakan.”
“Tapi kamu harus tetap–” Suara koneksi terputus terdengar. “Halo? Kaisar?!”
Surya memindahkan ponsel dari telinga ke hadapannya kesal. Kaisar sungguh memutuskan panggilan!
Dalam hati, Surya membatin, dia akan pastikan Kaisar mendapatkan pelajaran karena sudah menelantarkan menantu barunya!
Di sisi lain, Kaisar yang sudah tiba di depan sebuah hotel terlihat memasukkan ponselnya ke dalam saku. Dirinya terlalu malas mendengarkan omongan sang ayah.
Lagi pula, bukan tanpa alasan dirinya menyuruh Embun pulang dan membeli cincin pernikahan seorang diri. Kaisar ingin menguji Embun. Apakah perempuan itu benar-benar baik dan tulus seperti yang ayahnya bilang. Atau dia hanya seorang wanita materialistis yang berpura-pura baik untuk mengincar uangnya.
Tepat di saat itu, Kaisar mencapai puncak tangga hotel. Terlihat rentetan pelayan telah berbaris dengan rapi di sana.
Melihat kedatangan Kaisar, mereka pun membungkuk hormat dan menyambutnya, “Selamat datang, Tuan Kaisar.”
Bab 3
- Kartu Hitam
Toko Perhiasan Elegance Jewelry.
“Saya mau lihat beberapa cincin pernikahan koleksi terbaru di toko ini,” kata Embun pada pegawai perempuan yang menghampirinya dengan ramah.
“Baik, Bu,” jawab pegawai itu masih dengan senyum ramah di wajahnya.
Embun baru saja tiba di sebuah toko perhiasan sesuai dengan permintaan Kaisar untuk membelikan masing-masing dari mereka cincin pernikahan.
Memerhatikan kartu kredit yang diberikan padanya, Embun tahu bahwa kartu kredit tersebut spesial dan hanya dimiliki oleh beberapa orang saja. Hal itu membuat Embun memutuskan untuk pergi ke toko perhiasan terbaik di kota itu.
Bukan karena tahu Kaisar memiliki uang untuk dibuang, tapi lebih karena wanita itu berpikir membeli di tempat terjamin lebih baik agar kalau-kalau nanti pernikahan mereka disudahi, Kaisar tidak akan kehilangan uangnya dan bisa menjual kembali cincin tersebut.
“Ini salah satu koleksi terbaik di toko kami. Berlian berwarna biru ini merupakan berlian langka yang didatangkan langsung dari Afrika Selatan.”
Tampak pramuniaga toko perhiasan itu menyerahkan sebuah cincin dengan berlian biru besar di dengan deretan berlian kecil menghiasi pinggirannya.
Embun menerima cincin yang terasa berat di genggamannya itu. Memang terlihat sangat mewah.
“Atau cincin bermata putih ini juga salah satu yang menjadi penjualan tertinggi di toko kami. Berliannya diambil dari tambang berlian lokal di negeri kita. Tapi, potongan dan desainnya yang indah menjadi ciri khusus untuk cincin ini.”
Kali ini sang pramuniaga mengeluarkan sepasang cincin dengan desain yang lebih rumit. Tak kalah cantik dengan cincin bermata biru tadi. Tapi bagi Embun itu terlihat sangat berlebihan.
Embun masih menimbang-nimbang, cincin mana yang baiknya dia ambil. Pernikahannya dengan Kaisar hanyalah sebuah perjanjian untuk kenyamanan bersama. Oleh karena itu, rasanya tidak baik bagi Embun bila memilih yang terlalu mahal atau yang terlalu mencolok.
“Jika Ibu tidak berkenan dengan desain cincin koleksi kami, Ibu juga bisa memesannya sesuai dengan keinginan Ibu.” Pegawai perempuan itu memberikan alternatif pilihan.
Embun menggelengkan kepalanya. “Itu pasti akan butuh waktu yang lama. Saya akan memilih yang sudah ada di sini saja,” jawab Embun.
Pandangannya kembali menelusuri jejeran perhiasan di etalase.
Sampai akhirnya, pandangan Embun mendarat pada satu cincin di toko itu.
"Saya mau lihat yang itu." Tunjuk Embun pada cincin bermodel klasik dengan desain yang sangat sederhana.
Melihat cincin pilihan Embun, pramuniaga itu mengerutkan kening. “Cincin ini adalah model lama, Bu. Selain itu, modelnya agak kuno dan sederhana.”
Walau mendengar ucapan sang pramuniaga, Embun memiliki pendapat berbeda. Cincin itu tampak sangat manis. Tidak terlihat mewah, tapi juga tidak terlalu sederhana.
Melirik harganya yang juga terlihat tidak terlalu menguras kartu kredit Kaisar, Embun pun mengambil keputusan.
“Saya ambil model ini saja. Sepasang ya, Mbak.” Embun menyerahkannya kembali pada sang pegawai.
Karena tamu sudah memilih, maka pramuniaga itu hanya bisa menurut.
“Apa perlu kami beri ukiran nama di dalamnya?” suara lembut pegawai wanita itu menawarkan pilihan pada Embun.
Embun mengangguk. “Bisa dituliskan nama Kaisar dan Embun ya, Mbak,” jawab Embun tersenyum.
"Apa ada hal lain yang dibutuhkan, Ibu?"
Embun menggelengkan kepalanya. "Cukup itu saja, Mbak."
“Baik Ibu. Mohon ditunggu sebentar ya, Bu. Pesanan Ibu akan segera kami siapkan,” ujar wanita berseragam itu sambil menunjukkan pada Embun untuk menunggu di ruang tunggu eksklusif yang menjadi fasilitas toko perhiasan ini.
Satu jam kemudian Embun diberitahu jika pesanannya sudah selesai. Seorang pegawai mengarahkan Embun menuju kasir yang ditunjuk.
Embun mengeluarkan kartu kredit hitam milik Kaisar untuk melakukan transaksi pembayaran.
Seorang lelaki paruh baya berjas rapi yang sepertinya adalah manajer toko yang mendampingi pegawainya sedikit mengernyitkan dahi kala melihat kartu kredit tersebut. Dia menatap Embun penuh selidik.
“Itu kartu kredit suami saya,” ujar Embun seolah menjawab keterkejutan di wajah sang manajer toko yang kemudian dibalas dengan anggukan senyum ramah sang manajer.
Embun tahu kartu kredit itu memang spesial, tetapi melihat reaksi sang manajer yang seperti itu, apakah berarti Kaisar orang yang begitu istimewa?