Bab 3
. Masuk Kamar Suami
"Mau apa kamu memanggilku malam begini?"
Reyvan menutup laptop perlahan, lalu menatap Amber sambil menegakkan tubuhnya. Tatapannya begitu tajam.
"Kenapa kamu tidak makan malam? Kamu kira rumah ini kekurangan makanan hanya karena bertambah satu orang? Atau nona muda Dinata biasa dilayani bak ratu?" Senyumnya miring sinis.
Amber meremas jemarinya sendiri, menahan gemuruh di dadanya. Jelas tidak ada yang memanggilnya untuk makan malam.
Lalu Amber tersenyum tipis. "Aku kira rumah seorang Tuan muda yang sebesar ini tidak punya acara makan malam, jadi aku tidak keluar. Atau Tuan rumahnya terlalu sibuk untuk makan sendiri sampai lupa kalau ada penghuni baru?"
Reyvan membelalak kecil, sedikit terkejut dengan jawaban itu. Namun, buru-buru menyembunyikannya dengan senyum remeh.
"Selain licik, ternyata keluarga Dinata juga menurunkan bakat membual."
Amber menarik napas tajam. Rasa sakit itu kembali menjalari dadanya. "Kalau ada hal penting, cepat katakan. Aku lelah. Mau tidur dan berharap cepat pergi dari dunia nyata."
Reyvan terkekeh, remeh. "Seindah apa mimpimu sampai buru-buru mau pergi? Tapi sayang sekali, setelah masuk rumah ini, kamu tidak akan pernah punya mimpi indah lagi. Bahkan tidur pun tidak akan pernah tenang."
Amber menatap tajam, rahangnya mengeras. Masih memaksakan senyum tipis.
Reyvan melirik Prama.
Prama mengangguk. "Amber Madina. Dua puluh enam tahun. Karyawan bagian keuangan di Kalingga Corp, selama dua tahun terakhir."
Reyvan menyeringai kecil, menatap Amber dengan sorot mengejek. "Kamu bahkan tidak bisa pakai nama Dinata. Tidak bisa masuk perusahaan keluarga sendiri. Tapi ayahmu, dengan penuh percaya diri menyerahkan anak buangannya pada pewaris keluarga Kalingga. Sungguh membuatku terkesan."
Amber mengepal. "Kalau bisa memutar waktu, aku tidak akan datang ke hotel itu. Dan tidak sudi menikah dengan pria angkuh sepertimu."
"Kamu!" Reyvan membelalak tajam dengan rahang mengeras. Lalu sekian detik, terbit senyum tipis di satu sudut bibirnya.
Seumur-umur belum ada wanita yang mengatakan hal seperti itu padanya. Selama ini para wanita selalu memuja dan berusaha menarik perhatiannya dengan cara apa pun.
Amber menghela napas berat. "Jangan bertele-tele lagi. Sebenarnya yang mau kamu bicarakan?"
Reyvan mendengkus. "Aku akan bicara soal pernikahan kita yang di luar dugaan. Kita akan tidur di kamar terpisah. Meski begitu, di depan publik, terutama opa, kita harus tampak seperti pasangan pengantin biasa. Mesra, harmonis, saling mendukung dan saling perhatian. Karena pernikahan kita disaksikan publik."
Amber tertawa kecil. "Dan aku harus menuruti semua itu? Bagaimana saat di kantor? Aku harus menganggapmu atasan dan aku bawahan, atau aku sebagai nyonya Kalingga?"
Sorot mata Reyvan menajam. Dalam diam, dia kesal sendiri. Kenapa Amber harus bekerja di kantornya?
"Kalau begitu, resign saja. Kamu cukup di rumah. Mau apa di rumah, terserah. Aku jamin hidupmu tidak akan kekurangan."
Amber sontak menggeleng. "Aku tetap mau kerja. Kalau keluar dari perusahaanmu, aku akan cari tempat kerja lain."
Reyvan mendesis. "Tugasmu juga termasuk menjaga nama baik suamimu, Amber. Apa kamu paham artinya bekerja di perusahaan lain setelah keluar dari perusahaan suamimu?"
Amber menegakkan bahu. "Ya sudah. Kalau gitu aku akan tetap kerja seperti biasa. Dan katakan saja bagaimana aku harus bersikap di kantor. Apa juga harus berpura-pura mesra?"
"Di kantor, kita seperti biasa. Tidak ada kemesraan. Jangan tanggapi omongan publik. Fokus saja kerja dan diam."
Amber mengangguk. "Lalu, apa lagi?"
Reyvan menatap dingin. "Di rumah ini, kamu harus hati-hati. Banyak mata-mata opa di sini. Kamu harus tetap jalankan peran sebagai istri. Siapkan makan, urus keseharianku. Soal kamar, kita memang sudah dapat izin tidur terpisah. Karena kamu istri dadakan."
Amber menarik napas panjang. "Paham. Cuma itu?"
Reyvan menyandarkan punggung. "Kalau begitu, keluar. Aku masih ada kerjaan. Ingat, besok bangun pagi sekali. Tanya pembantu apa saja yang harus kamu lakukan."
Tanpa berkata-kata lagi, Amber berdiri. Tapi sebelum melangkah pergi, dia sempat berbalik.
"Aku mungkin cuma istri dadakan, tapi kamu juga BUKAN suami idamanku."
Amber cepat keluar.
"Hish! Wanita ini!" Reyvan mendengkus keras. Tangan kirinya mencengkeram kuat.
Reyvan meradang. Dia berdiri menatap arah pintu sambil menunjuk, tapi sorot matanya tajam pada Prama.
"Kamu lihat, Pram! Lihat seperti apa wanita buangan yang dikirim keluarga Dinata padaku? Janji nikah macam apa ini? Padahal kakek Dinata sudah meninggal, kenapa opa masih repot menikahkan cucunya denganku? Konyol!"
Deru napas Reyvan berat memburu. Lalu dia kembali menghentakkan tubuhnya ke sofa. Meremas rambutnya kuat. "Argghh!"
Prama duduk di seberang Reyvan. "Maaf, jika saya lancang, Pak Rey. Amber ini kalau di kantor diam dan jarang bergaul dengan yang lain. Tapi soal pekerjaan, dia selalu profesional dan cakap. Entah kenapa di depan Anda dia berani kurang ajar."
Reyvan terkekeh geli menatap Prama. "Dia pendiam?"
Prama mengangguk. "Kalau Anda ingin saya melakukan sesuatu pada Amber, katakan saja. Saya pasti tidak akan membiarkan wanita itu menyakiti dan membuat Anda terganggu."
Reyvan mendesah berat. "Sudahlah, kamu bisa pulang atau istirahat di rumah ini malam ini. Besok kita akan tetap masuk kerja."
"Tapi, Opa bilang kalau tiga hari ini Anda di rumah saja."
"Aku nggak peduli. Kenapa aku harus di rumah? Menjaga wanita itu?" Reyvan menghentakkan napasnya.
Pagi harinya.
Masih gelap ketika Amber membuka matanya, Bahkan matahari pun belum menampakkan sinarnya.
Dia terus ingat perkataan Reyvan semalam, harus memerankan istri sesungguhnya.
Amber menarik napas dalam. Di rumah ini, semua mata mengawasinya. Dan dia harus tahu siapa yang harus diwaspadai.
Selesai mandi, Amber menatap cermin besar di kamar. Rambutnya disisir rapi ke belakang, dikuncir setengah, dengan make up tipis dan natural. Dress rumahan warna abu-abu lembut membingkai siluet tubuhnya, tapi cukup menonjolkan kesan anggun. Wajahnya juga tampak cantik dan manis.
Dia turun ke dapur.
Aroma roti panggang dan suara alat masak terdengar lebih dulu sebelum pandangan matanya menangkap tiga wanita berseragam rumah tangga. Satu berdiri di depan kompor, satu menyiapkan lainnya, dan satu lagi yang berdiri paling tegak dan berwajah paling ketus-Siska.
Amber melangkah pelan, mendekat. "Selamat pagi," ucapnya datar tapi terdengar ramah.
Ketiganya sontak menoleh. Tapi hanya Siska yang maju.
"Pagi-pagi sudah ke dapur? Ada perlu, Nyonya?" ketus Siska, tanpa basa-basi.
Amber tetap berdiri tegak. "Aku mau tahu soal kebiasaan suamiku di rumah dan lainnya. Selera pakaiannya, makanan favoritnya, apa yang tidak dia suka, dan mungkin kalau ada alergi. Aku butuh semua informasi itu."
Siska tersenyum culas.
Bab 4
. Tugas Istri
Siska, pembantu itu tersenyum miring, samar. "Baru sehari sudah sok mau atur-atur rumah. Anda memang Nyonya. Tapi tidak diakui di keluarga ini. Urusan Tuan Rey, dari dulu saya yang tangani. Lebih baik jaga sikap. Jangan sampai bikin Tuan marah di awal."
Amber menatapnya lama. "Kalau kamu tidak mau kasih tahu, tidak masalah. Aku tinggal tanya langsung sama Reyvan atau Opa. Nanti biar mereka yang nilai, pembantu rumah ini melawan perintah istri sah Reyvan Kalingga. Dan asal kamu tahu, semua ini juga perintah dari mereka."
Siska menegang, matanya membelalak. Senyum kecut langsung terbit, menahan geram. "Ikut saya!"
Amber mengikuti Siska menuju meja kecil dekat dapur. Siska duduk lebih dulu, menyilangkan kaki, lalu mulai bicara dengan ritme cepat.
"Tuan Rey suka warna gelap seperti hitam, biru navy, abu-abu tua. Bajunya harus disetrika kering, kancing dicek satu-satu. Dasi harus cocok sama warna jam tangannya, bukan bajunya. Sepatu ganti setiap hari, sesuai kegiatan. Tapi jangan pernah coba bereskan ruang kerja atau kamarnya tanpa izin. Dia benci kalau barangnya berpindah dan disentuh sembarangan."
Amber hanya mengangguk kecil, menyerap semua dan mematri dalam ingatannya.
"Pagi-pagi, yang bangunkan Tuan ya saya. Sarapan ringan, roti gandum, salad kecil, kopi hitam. Makan malam, kalau dia minta. Biasanya grilled salmon, beef steak, atau ayam kukus dengan butter garlic. Sayur harus segar, buah dingin, dan dia nggak suka makanan manis. Nggak ada alergi, tapi tuan paling benci kalau makanan terlalu asin atau terlalu banyak rempah. Dia orangnya presisi."
Siska berhenti, menatap Amber dengan alis terangkat. "Paham?"
Amber tersenyum kecil. "Sangat."
Lalu Amber menatap lurus.
"Mulai hari ini, selama aku ada di rumah ini, aku sendiri yang akan urus semua keperluan tuan kalian. Tidak akan merepotkan kalian."
Wajah Siska langsung berubah. Perempuan 33 tahun itu berdiri mendadak.
"Ya terserah! Asal jangan sampai Anda mengacaukan selera dan mood Tuan aja. Sekali tuan marah, semua bisa kena," dengkusnya ketus.
Amber berdiri tenang. "Terima kasih sudah menjelaskan."
Siska mendesis pelan, lalu berbalik, berjalan kembali ke arah dapur.
Setelah itu, satu persatu apa yang jadi tugas Amber dilakukan. Hingga tiba saatnya dia harus membangunkan suaminya.
Ini pertama kalinya dia akan masuk kamar utama suaminya. Dia mengetuk pintu dulu, tanpa menunggu jawaban, dia langsung masuk.
Begitu masuk, dia menelan ludah saat melihat sosok suaminya.
"Mau apa kamu di kamarku?!" Reyvan terbelalak saat melihat Amber berdiri masuk kamarnya.
Amber langsung berbalik. Wajahnya memerah seketika. Saat masuk tanpa mengetuk, dia langsung disuguhi pemandangan tubuh kekar suaminya yang hanya dibalut handuk putih melilit pinggang. Otot perutnya terukir jelas, dada bidangnya tampak masih sedikit basah.
Reyvan mendesis. Tatapannya tajam bak belati, lalu dia kembali membentak.
"Kenapa belum pergi?!"
Amber menunduk, masih posisi menyamping. "A-aku mau membangunkanmu dan menyiapkan baju."
Reyvan terkekeh. "Mau membangunkanku? Tidak lihat ini jam berapa? Dan apa kamu nggak tahu, yang biasa menyiapkan baju itu pengurus rumah pria?"
Amber terdiam. Barulah dia sadar kalau Siska membohonginya. Tapi dia tidak boleh mundur sekarang. Terlanjur masuk ke kamar itu, harus ada yang bisa dibalikkan.
Perlahan Amber memutar tubuh, meski tatapannya tetap ke bawah. "Bukannya kamu bilang sendiri kalau aku juga harus mengurus keseharianmu? Dan bukannya menyiapkan baju termasuk urusan keseharianmu?"
Reyvan mengatup matanya sebentar. Ya, dia memang mengatakan soal itu.
Amber menarik napas dalam. "Mulai sekarang, aku yang akan mengatur semua soal kebutuhanmu di rumah ini. Termasuk membangunkanmu setiap pagi dan menyiapkan baju kerjamu."
Reyvan tersenyum tipis. Tatapannya tajam, menyiratkan banyak hal yang tak bisa ditebak. Sungguh, dia makin penasaran dengan wanita yang menjadi istrinya itu.
Beberapa saat kemudian, Reyvan berbalik, melangkah menuju walk-in closet. "Ikuti aku kalau kamu memang mau menyiapkan bajuku."
Jantung Amber berdetak tak karuan. Dia sedikit gemetar. Jujur saja, selama pacaran dengan Dion dulu, dia bahkan belum pernah melihat Dion bertelanjang dada.
Sampai di walk-in closet, Amber tertegun.
Ruangannya tidak sempit. Rak-rak tinggi memenuhi sisi dinding, berisi jas-jas mahal dari desainer ternama, kemeja-kemeja limited edition, tak sedikit dasi dari luar negeri, dan deretan parfum pria high class. Di pojok ruangan, ada lemari kaca berisi koleksi jam tangan eksklusif dan rak sepatu formal dari kulit asli, mengkilap sempurna.
"Kenapa masih diam? Suara Reyvan membuyarkan lamunan Amber. "Aku ada meeting pagi ini, dan kamu cepat ambilkan setelan jasku."
"O-oh, iya!" Amber lekas bergerak. Matanya menyapu jajaran kemeja dan jas. Setelah berpikir sejenak, dia mengambil setelan jas berwarna midnight blue dengan potongan slim fit. Dia padukan dengan dasi sutra hitam bermotif garis tipis silver, dan jam tangan hitam berlapis platinum dengan desain elegan.
Reyvan hanya melipat tangan, memperhatikannya dari balik cermin panjang di sisi kanan. Sudut bibirnya sedikit terangkat.
Amber meletakkan jas dan kemeja pada stand hanger berdiri di sudut ruangan, sekat cermin panjang. Dasi dan jam tangan dia letakkan rapi di atas meja kaca bundar.
"Kemarin kita baru menikah. Sekarang kamu sudah masuk kerja? Nggak takut jadi omongan publik?" tanya Amber lirih.
"Aku tidak peduli dengan opini publik. Kamu juga bisa mulai kerja lagi besok. Jangan hari ini," balas Reyvan datar
Amber mengangguk. "Baik. Kalau begitu aku akan keluar dulu."
"Tunggu!"
Langkah Amber terhenti. Tubuhnya mematung. Ingin menghindari tatapan Reyvan, tapi matanya masih sempat mencuri pandang.
Pantas Reyvan dikagumi para wanita. Wajahnya tampan dengan garis tegas, karismanya mendominasi, tubuhnya tinggi atletis, dan suara beratnya mampu membuat detak jantung tak karuan. Belum lagi statusnya sebagai CEO muda dengan kekayaan luar biasa.
Reyvan mengambil kemeja dari gantungan, lalu mulai memakainya di depan cermin. Dan detik itu juga, dia menyadari kalau tatapan Amber belum beranjak dari dirinya.
Tanpa menoleh, Reyvan tersenyum tipis. "Kemari!"
Amber melangkah pelan ragu. "Ada apa?"
Reyvan berbalik, tubuhnya kini tepat menghadap Amber. "Kancingkan!" ucapnya pelan tapi tegas.
Amber membeliak. "Apa?"
"Kamu bilang mau mengurus semua keperluanku. Kenapa masih tanya? Jangan bilang mau keluar sebelum selesai melakukan tugas." Reyvan menyeringai tipis.
Mata Amber masih membelalak. Jarak mereka begitu dekat. Dada bidang Reyvan dan otot perutnya yang nyaris sempurna membuat napasnya tercekat.
"Mengurus bukan berarti sampai mengancingkan kemeja. Tadi aku sudah menyiapkan baju dan lainnya. Kalau ada perlu lain, silakan katakan. Tapi yang ini, tidak," gumamnya gugup. Wajah Amber kian memerah. Jantungnya juga berdetak makin kencang.
Reyvan menatapnya lekat senyumnya tipis. "Kalau bukan istriku yang mengancingkan kemeja, apa aku harus panggil pembantu?"
Amber menatap tajam kesal. Setelah mengancingkan baju, apalagi yang mau Reyvan lakukan?
Bab 5
. Rasanya Tidur dengan Reyvan?
"Kenapa masih diam? Cepat kancingkan? Atau aku-"
"Ya!" ketusnya. Amber menghentak napasnya. Matanya menajam. Bibirnya mengatup rapat menahan kesal. Lalu dengan cepat, tangannya meraih sisi kanan dan kiri kemeja Reyvan. Satu per satu, kancing itu dia kaitkan, sampai semua terpasang rapi.
Reyvan diam. Reaksi Amber membuatnya terkejut. Ada sensasi aneh saat tangan kecil itu tanpa sengaja menyentuh dadanya. Sejenak, dia sendiri seperti kehilangan kata.
Amber selesai mengancingkan semuanya. Lalu, dia menatap wajah suaminya yang masih mendadak kaku. "Sudah. Apalagi? Jangan aneh-aneh!"
Reyvan menarik napas panjang. "Tunggu aku di bawah."
"Hem." Amber berbalik dan keluar dengan langkah cepat.
Begitu keluar dan menutup pintu kamar itu, Amber langsung menyentuh dadanya. Dia menunduk dan menghembuskan napas berat.
Huufff ....
Jantungnya masih berdebar. Tadi dia berusaha sekuat mungkin agar tidak goyah. Tapi, aroma tubuh Reyvan sempat membuatnya hampir kacau.
"Amber!" panggil seseorang dari arah sana
Amber menoleh cepat. Tubuhnya jadi menegang. "Mama ...."
Dia Tania, ibunya Reyvan. Wanita itu berjalan angkuh mendekat. Langkahnya anggun, tubuhnya dilapisi busana branded warna nude, dengan rambut disanggul elegan dan kakinya ditopang sepatu hak tinggi.
Tania berdiri di depan Amber.
"Sebenarnya kamu nggak pantas memanggilku Mama. Tapi, aku nggak punya pilihan lain dan harus tetap mendengar panggilan itu saat ini."
Amber menunduk, tangannya saling meremas.
"Reyvan di mana?" tanya Tania dingin.
"Sedang bersiap untuk meeting pagi ini," jawab Amber pelan.
Tania tersenyum miring, sorot matanya menyiratkan penghinaan. Dia menatap Amber dari ujung ke ujung.
"Bagus. Sekarang ikut aku."
Amber berjalan di belakangnya, menuju balkon di lantai itu.
Di balkon itu, Tania berdiri tegak, memandangi taman belakang yang luas. Amber berdiri satu langkah di sampingnya, menjaga jarak.
"Kamu tahu kenapa bisa berada di rumah ini?"
Amber menarik napas perlahan. "Karena jadi istri Reyvan."
Tania mendengkus pelan. "Tepatnya, jadi istri sementara. Sampai media bosan membicarakan kalian. Setelah itu, kamu harus bercerai. Keluarga kami tidak akan pernah menerima anak buangan, yang bahkan dulu sempat tidak diakui ayahnya sendiri."
Amber menelan ludah. Dadanya terasa nyeri. Tapi wajahnya tetap tenang.
Dia menatap lurus ke taman. "Baik. Aku paham, Ma. Mama tidak perlu khawatir. Pernikahan ini pun bukan sesuatu yang aku inginkan."
Tania berbalik, menatapnya dari ujung kepala hingga kaki. "Kamu lumayan pintar. Ingat baik-baik yang kamu katakan tadi. Tinggalkan Reyvan nanti. Dan selama kamu jadi istrinya, jangan berani menggodanya, apalagi berani naik ke ranjangnya."
Amber mengangguk.
Tania melangkah pergi, tapi baru satu langkah, dia kembali menoleh. "Satu lagi. Jangan coba-coba memanfaatkan kebaikan Opa hanya karena kemarin beliau merestui kalian."
Amber tersenyum tipis. "Baik, Ma. Terima kasih atas peringatannya."
Tania pergi dan tak selang lama, Reyvan keluar dari kamarnya.
Di lantai bawah. Reyvan menatap dari lantai atas.
"Dia. Bukannya dia Viona? Yang seharusnya jadi mempelai wanitanya? Kenapa dia muncul di rumahku sekarang?"
Dan di lantai bawah itu. Amber berdiri di depan Viona.
"Bagaimana rasanya tidur dengan pria yang seharusnya jadi suamiku, Amber? Aku yakin, kamu pasti belum pernah merasakan sentuhannya. Reyvan nggak akan berselera dengan wanita licik sepertimu. Apalagi dengan caramu merebut kursi pelaminanku."
Amber menatap datar Viona yang tersenyum sinis dengan kekehan remeh. Drama baru Viona!
Kemarin, Viona pergi menghilang tanpa jejak. Sekarang pagi-pagi malah muncul di rumah Reyvan. Permainan apa yang direncanakannya?
Hanya dalam waktu singkat, setelah pernikahannya dengan Reyvan, Amber langsung mendapat predikat buruk. Dan semua itu ramai di postingan media sosial yang mengomentari pernikahannya.
[Amber mencelakai mempelai wanitanya, sampai tidak bisa hadir di pernikahan.]
[Dia anak haram tak tahu diri yang merebut calon suami sodaranya.]
[Amber berambisi menikah dengan tuan Reyvan karena ingin menguasai hartanya saja. Dia menghalalkan segala cara agar bisa naik ke ranjang tuan Reyvan.]
Ya, semua itu yang dikatakan orang-orang pada seorang Amber. Dia bak pemeran antagonis di tengah ketegangan dua keluarga besar. Namun, wanita itu malah membisu, tak mencoba menyanggah ocehan publik.
Bahkan seorang Reyvan pun tidak peduli dengan persepsi publik soal dirinya. Tidak ada yang membantunya untuk mengklarifikasi atau menyanggah.
Amber menghentakkan heels 5 sentinya, mengikis jarak pada Viona.
"Viona, mau tahu gimana rasanya sentuhan Reyvan? Tanyakan sendiri pada suamiku. Kenapa malah tanya padaku. Kebetulan, darah perawan di malam pertama kami masih ada. Dan yang pasti Dion-mu itu tak sebanding Reyvan-ku. Oh, kamu mau lihat darah perawanku?"
Rahang Viona mengerat dengan mata melebar tegang. Napasnya kian berat memburu. Dia juga mencengkram dua kepalan tangannya.
"Diam, Jalang murahan! Aku nggak akan percaya omong kosongmu itu. Reyvan nggak mungkin mau menyentuhmu. Mana dia sekarang?! Dia harus tahu seperti apa wanita yang jadi istrinya saat ini!" teriak Viona geram. Dia tak terima kalau Reyvan menerima Amber.
Amber tersenyum tipis. "Terserah apa yang kamu pikirkan, Vio. Salahmu sendiri pergi di hari pernikahan. Dan bukan salahku Reyvan jadi milikku. Jadi, sekarang silahkan pergi dari rumah ini sebelum aku bilang pada publik seperti apa kelakuanmu sebenarnya!" Matanya menajam.
"Berani kamu mengancam dan mengusirku. Siapa kamu, hah?! Memangnya Reyvan mau percaya sama ocehanmu?!" sentak Viona dengan mata nyalang.
Dagu Amber sedikit diangkat. "Siapa aku? Kamu masih tanya siapa aku? Aku istri sah Reyvan Kalingga yang pernikahannya disaksikan banyak tamu undangan!" lantangnya.
Emosi Viona makin menjadi-jadi. Dia tak terima dengan pengakuan Amber. Dadanya bergemuruh panas.
"Sejak kedatanganmu ke rumahku, aku seperti dapat kutukan sial."
Tangan Viona cepat melayang dan mendarat di pipi Amber.
"Akh!" Amber sampai memalingkan wajahnya karena terlalu keras.
Viona tersenyum tipis menatap tangannya yang juga terasa panas. Rasanya puas sekali bisa menampar Amber .
"Jangan lupa dimana posisimu, Amber. Kamu cuma anak haram pembawa sial yang disuruh papa untuk jadi pengantin penggantiku. Dan cuma sementara!" Viona menunjuk wajah Amber .
Napas Amber makin berat. Dia menatap tajam Viona sambil tertawa merutuki dirinya. Sejak dulu, dia terbiasa diperlakukan buruk oleh orang di sekitarnya.
"Posisi? Kamu yang harusnya sadar pada posisimu, Vio. Di rumah ini, aku nyonya dan kamu cuma-"
"Viona?" Suara bariton memecah perdebatan.
Amber dan Viona cepat menoleh ke arah tangga. Di sana, Reyvan melangkah tegas dengan mata nyalangnya.
"Reyvan." Viona tersenyum pada pria itu.
Amber hanya membolakan matanya.
Sedang Reyvan, tetap dingin tak peduli. "Mau apa kamu datang kemari? Bukankah pesta pernikahannya sudah kemarin? Dan kamu telah melewatkannya."
Mata Viona mendadak berkaca-kaca. "Maaf, semuanya jadi kacau, Rey. Aku terlambat. Tapi itu bukan kesalahanku." Tangis Viona pun pecah.
Reyvan masih diam menatap tangisan Viona. Lalu, tatapan tajamnya beralih pada Amber yang hanya diam saja dengan wajah jengah.
Viona mengusap air matanya. "Semuanya gara-gara Amber dan ibunya, Reyvan. Aku nggak rela dia yang berdiri di pelaminan menggantikanku."
Amber membelalak tajam. Gara-gara dia? Bagaimana ceritanya?