Bab 1

Cucuku yang berusia 4 tahun merengek ingin main game komputer.

Aku tidak sengaja mengklik sebuah video.

Tampak dua insan bermain dengan sengit di ranjang.

Setelah menutup mata cucuku, aku menatap pria yang terengah-engah di video.

Suamiku yang impoten itu tampak bermain beberapa ronde dengan cinta pertamanya!

Suamiku, Hart, adalah profesor yang baik hati dan lembut. Di rumah, dia bahkan tidak kuat mengangkat karung beras. Di video, dia malah meletakkan kaki putih wanita itu ke bahunya sambil menabrak dengan kuat.

Bibir yang selalu tersenyum padaku tampak mencium dan menjilat leher wanita itu dengan penuh hasrat, seolah-olah dia mendapat harta karun besar. Dia tidak terlihat seperti berusia 70 tahun.

"Ibu, apa yang kamu lakukan?" Menantuku yang baru pulang kerja sontak terkesiap dan hendak menggendong anaknya.

Aku tersadar kembali dan buru-buru mematikan layar. Menantuku memutar bola matanya dengan kesal, lalu mengeluh, "Kukira kamu bakal sangat kolot karena dari desa. Siapa sangka, kamu malah seliar ini di usia tua. Padahal, Ayah adalah orang yang berpendidikan."

Usai mengeluh, menantuku membawa anaknya ke kamar. Sementara itu, aku masih syok. Aku tahu mereka melakukannya di asrama universitas.

Hart bilang dia tidak suka berada di rumah karena bising. Dia lebih terbiasa membuat penelitian di lingkungan yang tenang. Dia juga bilang tidak bisa memberiku kunci asramanya karena gedung itu punya universitas. Jadi, aku harus mengabarinya dulu kalau ingin membantunya beberes asrama.

Seprai yang mereka gunakan bahkan adalah seprai yang baru kupasang tiga hari lalu. Menantuku khawatir aku mengganggu Hart. Nyatanya, dia tidak tahu Hart tidak pernah menyentuhku.

Tiba-tiba, aku mencium bau gosong. Aku baru teringat aku memasak sup. Ketika aku buru-buru mematikan api, tanganku terkena asap panas. Sup yang lezat setidaknya harus dimasak selama tiga jam. Sudah bertahun-tahun aku memasak sup untuk Hart.

Putraku, Finn, langsung mengeluh setelah masuk. Dia bahkan belum melepas sepatunya. "Ibu, masa kamu nggak cium bau gosong? Gimana saja? Cuma Ayah yang bisa tahan sama kecerobohanmu ini."

Dulu, Hart memberitahuku bahwa kemaluannya pernah mengalami cedera sehingga dia menderita impotensi. Dia awalnya tidak berniat menikah lagi, jadi akhirnya mengadopsi seorang anak.

Siapa sangka, Hart malah bertemu denganku, gadis desa yang yatim piatu. Aku lebih muda 15 tahun dari Hart. Yang memperkenalkan kami adalah makcomblang.

Makcomblang itu berkata, "Hart adalah orang yang berpendidikan. Dia juga tampan. Hanya saja, dia punya anak adopsi. Kamu harus menjaga anak itu kalau bersamanya."

Zaman dulu tidak seterbuka sekarang. Setelah mendengarnya, wajahku pun tersipu. Hart memang tampan dan cerdas. Aku merasa pria seperti ini tidak bisa dijangkau olehku.

Namun, makcomblang berkata lagi, "Hart bilang kalian bisa langsung ambil akta nikah kalau kamu setuju."

Aku tidak pintar berbicara. Wajahku merah. Aku hanya bisa memberikan semua permen susu yang tidak rela kumakan kepada Finn.

Kemudian, aku baru tahu Hart terburu-buru untuk menikah karena ibunya lumpuh dan butuh orang menjaganya.

Tahun itu, aku merawat Hart, ibunya, dan Finn dengan sepenuh hati. Aku menganggap Finn sebagai putra kandungku. Aku sudah terbiasa hidup susah, jadi sama sekali tidak mengeluh.

Meskipun Hart dan Finn tidak punya hubungan darah, keduanya justru punya karakter yang sama. Mereka sama-sama tidak sabaran padaku.

Finn menatap tanganku yang melepuh sambil mengernyit. "Dasar kamu ini. Kalau kamu sehebat Bibi Hera, mungkin ayahku nggak bakal begitu stres."

Begitu mendengar nama Hera, aku merasa tidak nyaman. Hera adalah teman lama sekaligus rekan kerja Hart. Dia berwibawa. Semua mahasiswa mengakui keanggunannya. Usianya sudah 70 tahun, tetapi dia tidak menikah.

Hera sering datang ke rumah ini. Aku merasa orang seperti Hera pasti kesepian karena sendirian di kota ini. Jadi, setiap kali masak, aku akan menyuruhnya datang.

Hera dan Hart sepertinya punya topik yang tidak ada habisnya. Kadang aku ingin mendengar, tetapi Hart malah mengusirku. "Kamu bahkan nggak tamat SMP. Ngapain ikut-ikutan?"

Hera akan menepuk lengan Hart dan berkata, "Nggak ada kata terlambat untuk belajar."

Wajah Hera memang dipenuhi senyuman, tetapi tatapannya itu malah terlihat iba. Kemudian, Hera akan menanyakan beberapa kata susah kepadaku. Saat melihat tatapanku yang bingung, dia akan tertawa. "Nggak apa-apa, kamu bisa pelan-pelan belajar kalau nggak punya bakat."

Hera seperti dewi yang menatap rakyat jelata yang menyedihkan. Pada akhirnya, aku berhenti bergabung dengan pembicaraan mereka. Lagi pula, Hart tidak suka aku mengganggu mereka.

Suatu kali saat aku kebetulan melewati gedung asrama, aku ingin membantu Hart beberes tanpa memberitahunya kedatanganku.

Kebetulan, Hart dan Hera sedang membahas sesuatu. Hart marah besar karena aku mengganggu mereka. "Kamu nggak ngerti privasi? Sampai kapan kamu bakal begini? Kamu ini nggak paham apa-apa! Otakmu terbuat dari apa sih?"

Dulu aku merasa malu sekali karena dibentak di hadapan Hera. Namun, sekarang aku merasa Hera yang seharusnya malu. Hart, Hera, kalian adalah tokoh utama di dalam video itu!

Bab 2

Karena sup gosong, tidak ada makanan untuk hari ini. Menantuku memang hanya diam, tetapi wajahnya sangat masam.

"Koa masih kecil, tapi ikut kita makan makanan nggak sehat seperti ini," keluhnya.

"Cuma sesekali. Nggak separah yang kamu katakan," hibur Finn.

Menantuku langsung naik pitam. "Apa maksudmu? Koa bukan anakmu ya? Kamu nggak peduli sama dia? Aku capek-capek kerja, tapi nggak ada makanan di rumah. Waktu kamu di rumahku, apa ibuku membiarkanmu pesan makanan dari luar?"

Ucapan ini jelas ditujukan kepadaku. Finn merasa makin kesal karena dirinya ikut terseret. "Ibu juga salah. Coba lihat Ayah dan Bibi Hera. Mereka sudah 70 tahun, tapi masih semangat. Kamu baru 55 tahun, tapi sudah pikun ya? Aku nggak punya waktu menjagamu!"

Finn selalu berbicara blak-blakan seperti ini. Menurutnya, sikapnya memang seperti Hart yang blak-blakan.

Namun, saat berhadapan dengan Hera, Finn akan bersikap sangat lembut. "Bibi Hera nggak seperti ibuku yang nggak tahu malu. Kalau suaraku terlalu keras, takutnya dia terkejut."

Ini pertama kalinya aku memasang ekspresi dingin. "Biasanya kalian juga sering pesan makanan dari luar, padahal aku masak. Finn, orang nggak berguna mana yang bangun jam 5 pagi untuk masak sarapan dan cuci baju?"

"Setelah punya ayahmu beres, aku harus ke rumah kalian lagi untuk bantu. Setelah kalian pergi kerja, aku harus urus anak kalian. Kalian bilang Koa harus makan makanan sehat. Aku harus masak khusus untuknya lagi."

"Setelah antar Koa ke sekolah, aku kembali dan membantu kalian merapikan rumah. Kemudian, aku harus merapikan tempat tinggal ayahmu lagi. Makan siang dan makan malam juga harus dimasak. Setelah kalian makan kenyang, aku harus cuci piring."

"Kegiatanku ini bukan cuma sehari atau dua hari, melainkan bertahun-tahun! Terus, kamu bilang aku nggak berguna?"

Finn merasa gusar mendengarnya. Dia langsung menyahut, "Bukannya ini sudah kewajibanmu? Lagi pula, kamu nggak kerja. Kalau nggak, ngapain kami memanggilmu ibu dan Koa memanggilmu nenek?"

Ekspresi menantuku tampak dingin. Dia menggendong Koa dan hendak keluar. "Ini urusan keluarga kalian. Jangan bawa-bawa anakku. Aku mau pulang ke rumah ibuku!"

Biasanya, aku selalu melerai saat mereka bertengkar. Aku akan minta maaf kepada menantuku dan membujuknya. Namun, sekarang aku tidak peduli dan Finn makin murka.

Finn menarik istrinya dan membentak, "Pesan makanan dari luar saja harus marah-marah begini? Kamu juga sering pesan makanan dari luar kalau di rumah ibumu."

Menantuku mengempaskan tangan Finn, lalu memelototiku sambil memekik, "Setidaknya, orang rumahku punya rasa malu! Nggak ada yang bakal mengajaknya menonton film kotor seperti itu!"

Finn kebingungan. Menantuku menggertakkan gigi dan meneruskan, "Bilang saja kalau kamu malas menjaga Koa. Kamu bisa kasih dia nonton kartun. Kenapa malah sejahat itu? Dia baru 4 tahun! Kamu nggak takut dia trauma?"

Dia mengira aku sengaja memperlihatkan film porno kepada Koa. Sejak Finn menikah, aku selalu bersikap baik kepada istrinya karena takut dia merasa tidak nyaman. Namun, malah hasil ini yang kudapatkan.

Finn akhirnya paham. Dia mengernyit dan menyergah, "Kamu nonton film semacam itu? Bahkan mengajak Koa? Nenek macam apa kamu ini?"

Finn mendorongku dengan kuat. Aku sampai mundur beberapa langkah. Kebetulan, Hart berdiri di belakangku. Tubuhku mengenainya.

Hart mendorongku dengan jijik dan berdecak. "Ngapain kamu? Kamu ini nggak sadar umur ya?"

Aku seperti bola yang ditendang sana sini. Kami sudah menjadi suami istri selama bertahun-tahun, tetapi dia tidak pernah menyentuhku. Bahkan ketika aku ingin memeluknya dan menggandeng tangannya, dia merasa keinginanku itu sangat tercela.

Finn mengadu, "Dia mengajak Koa nonton film porno!"

Alis Hart lantas berkerut. Dia menatapku dengan kesal. "Aku tahu kamu nggak berpendidikan. Tapi, kamu nggak seharusnya serendahan ini."

Ketika melihat ekspresinya yang sok suci, aku langsung teringat pada ekspresinya di video. Seketika, aku merasa mual. Aku seperti terjatuh ke lubang kotoran selama bertahun-tahun! Menjijikkan!

Tubuhku gemetaran saking emosinya. Aku berucap dengan suara bergetar, "Benar, aku nonton. Pemainnya adalah Profesor Hart yang terhormat!"

Baca Cerita Lengkapnya Sekarang
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk menghadirkan lebih banyak cerita luar biasa Goodnovel
Buka Semua Bab
Cari "B60452" di goodnovel para membaca buku selengkapnya.
Salin kode dan cari di aplikasi NovelShort untuk melanjutkan membaca.
B60452
Salin

Menjadi Ibu Untuk Anak Pelakor

Bab 1
Bab
Sesuaikan
Bab Berikutnya