Bab 1
Sistem 'Kamu Hebat, Kamu Maju' muncul di dunia.
"Kalau kamu merasa seseorang nggak menjalani hidupnya dengan baik, asalkan yang kamu lakukan lebih baik dari orang itu, kamu akan mendapat bonus."
Ibu yang menginginkan putrinya sukses, suami yang menghindari tanggung jawabnya, dan putra yang menganggapku memalukan, semuanya mendorongku ke persidangan.
Mereka bilang asalkan mereka berada di posisiku, mereka pasti bisa melakukan jauh lebih baik dariku.
Jika mereka berhasil melakukannya, maka aku akan dimusnahkan dan menjadi budak mereka. Selain itu, mereka juga akan mendapat bonus puluhan miliar.
Siapa sangka, malah aku yang meraup 60 miliar.
Sistem kehidupan 'Kamu Hebat, Kamu Maju' sudah muncul seminggu, tetapi belum ada yang berinisiatif untuk mendaftar.
Andai yang mendaftar bisa menggantikan hidup orang lain dengan baik, dia akan mendapatkan bonus puluhan miliar. Namun, juga akan menyebabkan kesadaran orang yang diadili menghilang, yang setara dengan kematian.
Jika tidak bisa berbuat lebih baik dalam kondisi kehidupan yang sama, maka akan mati.
Semua orang takut mati dan juga takut menjadi pelaku yang membunuh orang lain.
Tak disangka, aku akan menjadi kelinci percobaan pertama.
Aku dibawa duduk di barisan depan oleh robot. Semua kamera fokus menyorotiku.
Ibuku, suamiku, dan putraku semuanya menghindari pandanganku.
Melihat ekspresi bersalah mereka, aku pun bertanya, "Kalau kalian berada di posisiku, apa kalian pikir bisa lebih baik dariku?"
Ibuku membuang muka. "Tentu saja! Aku sudah memberimu pendidikan terbaik. Agar kamu menghasilkan banyak uang dan masuk universitas. Tapi kamu bahkan nggak bisa melakukannya dengan baik."
Suamiku dan putraku saling berpandangan. "Menantu orang lain bisa mengurus rumah dengan rapi dan menjadi ibu rumah tangga yang baik. Kenapa kamu nggak bisa?"
Putraku mengangguk. "Benar, kamu nggak pantas jadi ibuku. Penampilanmu seperti nenek-nenek. Keluar bersamamu hanya membuatku malu saja."
Anak perempuan, istri, dan juga ibu .... Memikirkan tiga identitasku ini, aku tertawa.
Penonton yang berada di bawah panggung ikut mengomentari. "Bahkan, tiga kerabat terdekatnya pun merasa yang dia lakukan kurang baik. Sepertinya, dia memang nggak berguna."
"Mengapa aku nggak terpikirkan untuk mengadili istriku? Padahal, dia hanya di rumah sepanjang hari, tapi masih mengeluh capek. Aku pasti bisa lakukan lebih baik darinya."
"Tiga orang mengadili satu orang. Kalau yang pertama berhasil, apa dua orang lainnya akan diberi bonus?"
Karena kalimat tersebut, ibuku, suamiku, dan putraku langsung berjuang untuk menjadi yang pertama datang.
Aku merasa ironis. Mereka terlalu percaya diri.
Terakhir, sistem menjawab, "Kalau ketiga uji coba berhasil, bonus setiap orang akan menjadi tiga kali lipat."
Ada banyak penonton yang bersorak di bawah panggung.
Ibuku, suamiku, dan putraku makin bersemangat. Mereka bertiga mendadak akrab dan saling menyemangati.
Saat ini, sistem bertanya kepadaku, "Nyonya Hera, sebagai orang yang diadili, apa kamu keberatan?"
Begitu mendengar pertanyaan itu, para penonton merasa tidak puas.
"Cepat mulai. Jangan buang-buang waktu."
"Dia sudah diadili, apa mungkin ada kesalahpahaman?"
"Setelah ketiga peserta selesai, bolehkah aku ikut? Yang aku lakukan pasti akan lebih baik daripada wanita busuk ini. Setidaknya, aku nggak akan membuat ibuku, suamiku, dan putraku membenciku."
Aku mengingat wajah orang yang berbicara itu dan tersenyum tipis. "Nggak ada yang ingin aku katakan. Mari kita mulai saja."
Ibuku adalah orang pertama yang duduk di bangku persidangan.
Wajah ibuku memerah karena terlalu antusias. "Halo semuanya, aku seorang ibu tunggal."
"Agar putriku bisa belajar dengan baik, aku mengambil tiga pekerjaan dalam sehari."
"Aku hanya berharap putriku bisa sukses."
"Tapi putriku bilang, belajar adalah hal yang sulit. Apanya yang sulit? Belajar adalah hal yang paling mudah. Dia bahkan nggak bisa melakukannya dengan baik, jadi apa lagi yang bisa dia lakukan?"
"Semua orang membesarkan anak agar kelak bisa berbakti pada orang tuanya. Sia-sia aku membesarkan anak perempuanku. Kalau aku punya kesempatan untuk belajar, aku pasti akan menjadi orang hebat. Setelah lulus kuliah, setidaknya gaji yang akan kudapatkan 200 juta. Tapi putriku hanya diterima di universitas biasa-biasa saja."
"Aku mengorbankan segalanya untuk membesarkannya. Tapi setelah dia besar, dia malah memutuskan hubungan denganku. Menurut kalian, apa orang nggak tahu berterima kasih seperti ini nggak pantas diadili?"
Banyak orang yang setuju dengan perkataan ibuku.
Semua orang berteriak agar segera mengadiliku. Biar aku bisa mati secepatnya.
Sistem bertanya, "Jadi, menurutmu, aspek mana yang bisa kamu lakukan lebih baik daripada putrimu kalau kamu menggantikannya?"
"Semuanya!" Ibuku berkata dengan percaya diri, "Kalau harus dipilih, maka prestasi dan sifat berbakti."
Sistem memberi peringatan. "Segel sebagian ingatan Ningsih Sari dan tarik kesadarannya. Eksperimen simulasi menggantikan hidup orang lain dimulai."
Aku menyadari ibuku tiba-tiba membeku di tempat dan tidak bergerak lagi.
Semua orang juga terkejut melihat pergerakan ini. Mereka semua langsung menatap layar lebar yang tergantung di atas.
Penonton makin penasaran. Mereka ingin tahu seperti apa kehidupan yang akan dijalani ibuku jika dia menjadi aku.
Dari layar, terlihat seorang gadis kecil lahir.
Sistem memberi instruksi untuk menyebut ibuku sebagai Nomor 1. Nomor 1 adalah tubuh dan penampilanku, yang akan menjalani pengalaman hidupku. Namun, kesadaran yang mengendalikan tubuh telah menyegel ingatan. Hanya menyisakan 'prestasi' dan 'berbakti' sebagai tujuan hidup ibuku.
Kondisi keluargaku kurang baik. Apalagi, ibuku melahirkan anak di luar nikah. Setelah melahirkan Nomor 1, ibuku sering mengajak Nomor 1 untuk mengemis.
Dia sangat berani mengambil risiko, jadi mereka masih mendapatkan makanan.
Sampai di sini, penonton mulai berkomentar.
"Si ibu sangat mulia. Sebaliknya, si anak yang sudah paham kondisi keluarga mereka, tapi masih nggak giat belajar. Dia memang harus dipukul."
"Anak dari keluarga miskin sudah seharusnya sadar diri. Mari kita lihat apa yang akan terjadi selanjutnya."
Waktu berlalu dengan cepat. Nomor 1 telah berusia enam tahun. Selama ini, ibuku tidak memberikan didikan apa pun kepada Nomor 1. Ibuku masih membawa Nomor 1 untuk mengemis dan tidak berpikir untuk membiarkan Nomor 1 bersekolah.
Penonton mulai memiliki pendapat berbeda. "Di usia seperti ini, seharusnya dia masuk Kelompok Bermain."
"Nggak semua anak harus dididik sejak dini, 'kan? Semua harus disesuaikan dengan kondisi keluarga. Ada banyak orang yang belajar setelah melanjutkan ujian masuk universitas, tapi juga berhasil menjadi orang sukses. Yang paling penting dari belajar itu tergantung pada individunya."
Saat Nomor 1 berusia delapan tahun, ada orang yang baik hati melihat Nomor 1 dibawa untuk mengemis. Jadi, dia mengingatkan ibunya dan mengatakan Nomor 1 sudah seharusnya bersekolah.
Itu pertama kalinya Nomor 1 begitu dekat dengan lingkungan sekolah. Dia mendengar suara murid membaca dan memandang iri anak-anak yang bermain sepak bola di dalam.
Sebaliknya, ibuku malah menampar Nomor 1. "Belajar membutuhkan uang. Memangnya kamu punya uang? Masih berani mau sekolah."
Penonton terkejut. "Mengapa wanita tua itu berbohong? Dia sama sekali nggak membiarkan putrinya belajar."
"Jangan-jangan dia sengaja berbuat curang agar putrinya mendapatkan uang?"
"Kasih ibu memang paling mulia di dunia ini."
Ada orang menatapku. "Demi mendapatkan uang, kamu tega mengorbankan nyawa ibumu. Hatimu kejam sekali. Untungnya, masih ada suami dan anakmu yang akan menghukummu."
Bab 2
Aku hanya tersenyum dan tidak menghiraukan mereka.
Aku tidak perlu membuktikan kebenaran. Sekalipun aku membuktikan, orang yang tidak mau percaya, juga tidak akan percaya.
Ada kakak baik hati yang memberikan dana kepada ibuku.
Ibuku bertanya, "Dari mana kamu punya uang? Mungkinkah kamu melakukan hal yang aneh-aneh? Aku nggak butuh uang kotor ini."
Meski berkata demikian, ibuku enggan melepaskan uangnya.
Dari kakak baik hati itu, ibuku baru tahu bahwa hanya mereka yang punya kualifikasi pendidikan yang bisa memperoleh pekerjaan yang lebih baik dan punya peluang lebih besar untuk menghasilkan banyak uang.
Setelah mempertimbangkannya, ibuku mengizinkanku bersekolah keesokan harinya.
Dia bahkan menangis keras di kantor kepala sekolah. "Meski aku miskin dan harus mengemis, aku juga harus membiarkan putriku bersekolah."
Penonton langsung terharu.
Aku hanya tersenyum dan tidak berkata apa-apa.
Penonton mulai berdiskusi. "Aku juga pernah memukul putriku sebelumnya, tapi itu semua karena tekanan finansial dan ketidakberdayaan."
"Si ibu tanggap juga. Setelah tahu pentingnya belajar, dia langsung membiarkan putrinya bersekolah."
"Apa susahnya belajar? Kalau aku punya orang tua yang memperlakukanku dengan baik, aku pasti akan bekerja keras."
Dari layar, terlihat kehidupan Nomor 1 dan ibunya terus berlanjut.
Di hari pertama sekolah, tepat pada upacara pengibaran bendera, ibuku menangis dan berlutut di lapangan. Dia bilang kondisi yang dimiliki putrinya kurang baik dan memohon kepada guru agar lebih menjaganya.
Nomor 1 berdiri di samping. Ibunya berlutut, dia pun ikut berlutut.
Ibu memegang celana guru dan tidak melepaskannya. Dia juga ikut memegang celana guru dan tidak melepaskannya.
Siswa lain langsung memandang ibuku dan Nomor 1.
Ibu baru mau berdiri setelah semua guru memberikan sumbangan.
Ibu menepuk punggung Nomor 1. "Ibu rela kehilangan harga diri hari ini, bersedia menanggung semua kesulitan agar kamu bisa bersekolah. Kamu harus ingat dengan kebaikan ibumu."
Penonton yang menyaksikan adegan itu terdiam.
Setelah beberapa saat, barulah ada yang berbicara. "Sebenarnya, orang-orang yang seperti ini baru bisa melangkah lebih jauh. Banyak orang yang disandera secara langsung, tapi masih bersikeras menyelamatkan harga diri."
"Tonton terus saja. Aku yakin gadis kecil ini juga bisa mengubah takdirnya dengan belajar."
Tidak banyak yang menanggapi perkataan itu.
Banyak orang yang memandangiku dengan simpati.
Aku teringat dengan masa kecilku. Ibuku selalu bilang, dia telah bekerja keras. Jadi, aku harus belajar giat agar ibuku bisa tinggal di rumah besar dan menjalani kehidupan yang lebih baik.
Saat itu, aku masih belum memahami apa itu hikmat duniawi. Aku tidak mengerti mengapa guruku tidak menyukaiku dan teman sekelasku juga membenciku.
Di saat aku duduk di bangku SMP, harga diriku baru muncul. Saat itulah, rasa sakit yang sesungguhnya dimulai.
Kehidupan dalam SD Perdana terlintas di layar.
Setiap semester, kakak baik hati akan memberikan uang kepada Nomor 1. Pihak sekolah juga mengatur pekerjaan bersih-bersih untuk ibuku. Dengan begitu, ibuku memiliki sumber penghasilan tetap.
Walau sikap guru terhadap Nomor 1 agak dingin, juga tidak ada teman sekelas yang mau berteman dengannya.
Namun, Nomor 1 lulus dari SD Perdana dengan nilai bagus dan berhasil masuk kelas penting di daerah tersebut.
Banyak penonton yang menghela napas lega.
"Nggak peduli seperti apa lingkungannya, nggak akan menghalanginya menjadi orang berbakat."
"Nomor 1 sangat giat belajar."
"Kalau terus seperti ini, Nomor 1 pasti akan lebih sukses dari putrinya."
"Benar. Nomor 1 terlihat seperti orang berkemauan keras dan nggak akan terpengaruh oleh orang lain."
Suamiku memandangku dengan pandangan meremehkan. "Andai aku tahu kondisi keluargamu yang sesungguhnya, aku juga nggak akan menikahimu."
Putraku juga menutupi hidungnya. "Memalukan sekali punya ibu sepertimu. Masa kecilmu begitu miskin. Kamu masih ingin aku menjadi miskin sepertimu."
"Akan ada giliran kalian nantinya," kataku dengan acuh tak acuh.
Dari layar, siaran langsung masih terus berlanjut. Kehidupan seperti apa yang bisa dicapai ibuku jika dia berada dalam situasiku.
Iuran sekolah tidak dipungut. Aku hanya membutuhkan buku, akomodasi, dan biaya hidup bulanan selama duduk di bangku SMP.
Namun, ibuku sempat ragu karena ada yang berniat menjodohkanku.
Hal ini juga berarti ibuku akan menerima mahar dalam jumlah besar.
Bab 3
Saat duduk di bangku kelas satu SD, aku sudah berusia delapan tahun. Jadi, setelah lulus SD, aku sudah berusia empat belas tahun.
Pencari jodoh dari desa sebelah menunjuk ke televisi. "Orang zaman dahulu sudah punya anak di usia seperti ini."
"Aku bisa membiayai semua yang kamu butuhkan selama tiga tahun SMP. Tapi setelah lulus SMP, kamu harus menikah. Bagaimana?"
"Bukannya aku ingin menasihatimu. Anak dari pedesaan nggak akan bisa mengikuti perkembangan di kota. Anak perempuan nggak perlu belajar tinggi-tinggi seperti anak laki-laki. Tiga tahun kemudian, bagaimana kalau kamu nggak bisa lulus ujian? Bagaimana kalau ada yang menghamilimu? Saat itu, kamu nggak akan mendapatkan apa pun."
Sekilas, ibuku tampak tidak setuju.
Beberapa hari kemudian, saat kakak baik hati yang selalu memberikan uang menanyakan situasiku.
Ibuku baru mengatakan ingin aku bertunangan.
Kakak itu terkejut. Dia mencari temannya dan memutuskan untuk terus menyokongku.
Ibuku baru merasa puas dan menolak pencari jodoh itu.
Dia sudah terbiasa mendapatkan uang dengan menarik simpati orang lain terhadapku.
Asalkan memanfaatkanku dengan baik, dia bisa menghasilkan uang dengan mudah. Bahkan, jauh lebih mudah daripada transaksi jual beli.
Dia ingin aku diterima di universitas terkenal seperti Universitas Palapa dan Universitas Gading. Itu juga karena dia dengar Universitas Palapa dan Universitas Gading bisa menarik lebih banyak simpati dan pendanaan dari masyarakat.
Bagaimanapun, siswa miskin yang nilainya bagus bisa mendapatkan lebih banyak simpati dan pengakuan dibandingkan siswa miskin yang nilainya buruk.
Di layar besar, ibuku sedang mengajari Nomor 1. "Saat bertemu guru dan kepala sekolah, menangislah dengan sedih. Dengan begitu, kamu baru bisa menghasilkan uang. Mengerti?"
"Aku melakukan semua ini juga karena mengkhawatirkanmu."
"Biarlah aku yang menjadi orang jahat. Aku mendapat uang, tapi semua uang itu juga untukmu. Siapa tahu kelak masih bisa belikan rumah untukmu."
"Aku sudah menciptakan kondisi yang bagus agar kamu bisa belajar. Kamu harus belajar baik-baik."
Di layar, Nomor 1 mengangguk dengan tegas.
Para penonton kini juga memiliki pendapat berbeda. Sebagian berpendapat bahwa ibu tidak boleh menghasilkan uang dengan menarik simpati.
Yang sebagian lagi mengatakan kebaikan orang tua patut dipuji. Meski si ibu melakukan hal licik, itu juga karena dia tidak punya kemampuan lain. Jadi, dia hanya bisa menghasilkan uang dengan cara ini.
Kehidupan dalam SMP Perdana juga dimulai dengan berlutut lagi.
Nomor 1 berkulit gelap dan kurus. Dia jauh lebih pendek dari teman-teman sebayanya. Apalagi, pakaiannya compang-camping.
Setelah kepala sekolah dan guru berjanji untuk memberikan kebijakan pendanaan kepada Nomor 1, ibuku baru bangkit.
Namun, ibuku tidak puas. Pada pertemuan orang tua murid untuk pendaftaran sekolah, dia menargetkan orang tua murid paling kaya di kelas.
Dia menangis dan memohon bantuan kepada orang tua paling kaya itu sambil mengatakan bahwa dia bisa menjodohkan Nomor 1 pada putranya.
Orang tua kaya tidak berdaya. Dia berjanji akan memberikan 1 juta untuk biaya makan setiap tanggal 1.
Ibuku kini telah menerima uang dari tiga orang yang berbeda. Kakak baik hati, bantuan dari pihak sekolah, dan juga orang tua murid yang kaya.
Namun, Nomor 1 sering mengeluh tidak kenyang. Dia meminta ibunya untuk memberinya lebih banyak uang untuk makan.
Ibuku berkata, "Kalau kamu menjalani kehidupan yang baik, apa orang lain masih akan mengasihanimu? Lagi pula, kita ini orang miskin. Jadi, kita harus berhemat."
Nomor 1 mengalami semua hal yang mungkin dialami siswa miskin di sekolah.
Anak laki-laki yang membuat keributan itu tersenyum sinis saat melihatnya. "Ibunya menjualnya!"
Teman sekelas juga mulai meledeknya.
Satu bulan setelah sekolah dimulai, Nomor 1 mendapatkan menstruasi pertamanya. Dia bingung dan menerima sebungkus pembalut pemberian gurunya.
Dia telah mengikuti instruksi pemakaian dan mengganti pembalut setiap empat hingga lima jam. Namun, sebungkus pembalut tidak cukup untuk seminggu. Dia meminta uang kepada ibunya, tetapi ibunya malah memberinya gulungan tisu toilet.
Dia tidak bisa berbuat apa-apa. Setiap kali menghadapi pertanyaan di kelas, dia pasti akan melihat bangkunya dengan ketakutan.
Meski kondisinya sangat sulit, Nomor 1 masih tetap giat belajar.
Dia tidak mengikuti les privat dan tidak punya uang untuk membeli buku pelajaran. Jadi, dia hanya bisa mengikuti kelas dengan cermat dan bertanya kepada guru.
Teman-teman sekelas mentertawakannya. Dia menghabiskan waktu luang untuk belajar.
Beberapa penonton tersentuh.
"Orang yang mampu menghadapi kerasnya hidup, pasti akan menjadi orang yang berhasil begitu memasuki masyarakat."
"Aku sangat mengagumi karakter Nomor 1. Dia nggak peduli dengan pendapat orang lain dan fokus pada tujuan sendiri. Menghadapi kondisi seperti itu, dia juga nggak mementingkan ego-nya. Setelah dia menang nanti, aku akan menghadiahinya 200 juta."
Jujur saja, aku sangat mengagumi karakter ibuku. Dia memiliki mental yang sangat kuat.
Namun, mental yang kuat bukanlah satu-satunya faktor yang memengaruhi nilai belajar yang baik.
Saat berada di kelas satu SMP, nilai Nomor 1 selalu berada di posisi menengah ke atas. Belakangan, nilainya mulai menurun secara bertahap.
Penonton tidak senang. "Bukankah Nomor 1 bilang, asal diberi kesempatan, dia akan belajar dengan giat? Mengapa dia selalu nggak fokus dan tertidur di kelas?"
Aku menjawab, "Karena lapar."
Di masa pertumbuhan remaja, rasanya sangat tersiksa kalau perut tidak terisi kenyang. Dia sangat kelaparan dan sering terbangun di tengah malam. Jadi, memengaruhi kualitas tidur.
Badannya kurang nutrisi dan kepalanya selalu terasa berat.
Terlebih lagi, Nomor 1 selalu begadang untuk belajar di bawah cahaya lampu berkekuatan belasan watt. Dia kini mulai rabun.
Ibuku enggan membelikan kacamata untuk Nomor 1. "Buat kacamata itu mahal. Jangan bertingkah seakan-akan kamu putri orang kaya. Kamu hanya perlu minta tolong pada gurumu agar membiarkanmu duduk di barisan pertama."
Nomor 1 sudah memohon, tetapi guru mengatakan bahwa tempat duduk dirotasi setiap minggu dan tidak ada yang namanya perlakuan khusus. Para guru dan teman sekelas mulai bosan dengan ibunya. Tidak ada yang mau memanjakan Nomor 1 lagi.
Penonton terdiam. "Kita tertipu. Dia sama sekali nggak memberikan apa yang dibutuhkan anaknya dalam belajar."
"Ditertawakan dan tekanan mental mungkin nggak masuk hitungan. Tapi setidaknya kebutuhan dasarnya harus terjamin, 'kan?"
Ada seorang gadis tersenyum padaku dan berkata, "Kak, kamu sudah bekerja keras."
Aku menggelengkan kepala, "Masih lumayan. Sebenarnya aku nggak punya bakat dalam belajar. Itu sebabnya, nilaiku nggak begitu bagus."
Seperti yang aku katakan, begitu ada pelajaran kimia dan fisika, Nomor 1 mulai kesulitan mempelajarinya.
Ibuku enggan mendaftar les privat. Apalagi, tidak ada teman sekelas yang mau membantu Nomor 1. Lantaran keluarga Nomor 1 aneh dan miskin. Tidak ada yang mau berbicara dengan Nomor 1 karena mereka takut ibunya akan mendatangi keluarga mereka dan meminta dukungan.
Nilai Nomor 1 mulai menurun drastis.
Di atas persidangan, wajah suamiku perlahan berubah kusut. "Apa Nomor 1 yang berisi kesadaran ibu mertuaku punya bakat belajar yang sama dengan Hera Kumala?"
Sistem menjawab, "Ya. Kalau kamu hebat, kamu maju. Ini mengacu pada sejauh yang bisa kamu lakukan dalam kondisi yang sama."
Suamiku tiba-tiba berkeringat dingin. Putraku memandang kami dengan bingung.
Aku tersenyum sinis pada mereka semua.
Ujian masuk SMA sudah tiba.
Sistem mengumumkan. "Nilai ujian masuk SMA Ningsih lebih rendah daripada nilai orang yang diadili. Persyaratan 'Kamu Hebat, Kamu Maju' belum terpenuhi. Dia akan dimusnahkan."