Bab 1
Sebelum hari pernikahanku, aku dilecehkan oleh dua orang pria.
Untuk membela diri, aku berakhir membunuh salah satu orang tersebut dan melukai salah satunya.
Saat itu tunanganku, Adrian, yang seharusnya melindungiku malah mengabaikanku dalam persidangan.
Aku pun dijatuhi hukuman penjara selama 2 tahun.
Saat aku dibebaskan dua tahun kemudian, aku mengetahui kalau mantan tunanganku telah menikah dengan sahabatku, Ivana.
Dan si Ivana itu? Dia tidak hanya 'mencuri' tunanganku tapi dia juga mengambil posisi dokter yang seharusnya menjadi milikku.
Aku tidak tahu harus pergi ke mana. Di saat aku sangat terpuruk, Edwin Guntoro muncul di hadapanku.
Sebagai pemimpin mafia paling berpengaruh di Nigari, Edwin memanfaatkan kekuasaannya untuk memastikan tidak ada satu pun yang mengungkit masa laluku.
Dia juga melamarku, mengatakan bahwa dia menyimpan perasaan padaku dan ingin menikahiku.
Aku percaya dia adalah pahlawanku, cinta sejatiku.
Setidaknya, empat tahun pertama pernikahan kami sangat sempurna, itulah yang kupikirkan. Sampai hari di mana aku tidak sengaja mendengar percakapan antara suamiku dan orang kepercayaannya, Alex.
"Bos, kamu sangat pintar membiarkan bajingan-bajingan itu menyakiti Ellea. Kalau hal itu nggak terjadi, Nona Ivana nggak akan memiliki kesempatan bersama dengan Adrian."
Suara Edwin yang seolah mengolok terdengar. "Aku hanya ingin sedikit menakutinya. Siapa sangka dia akan membunuh salah satu orang itu dan berakhir dipenjara?"
Alex menjawab dengan agak bingung, "Tapi, Nona Ivana sudah menikah sekarang. Kenapa kamu masih bersama jalang itu setelah dia keluar dari penjara?"
"Karena..." Edwin berhenti sejenak lalu melanjutkan, "Aku harus memastikan dia nggak kembali mengejar Adrian atau mengganggu Ivana."
Tawa mereka berdua mencabik-cabik hatiku.
Jadi, seluruh ingatan tentang Edwin yang menyelamatkanku dari penghinaan itu?
Ternyata semuanya bohong?
Dialah yang buat hidupku hancur berantakan, hanya untuk buat Ivana hidup bahagia.
Aku menyeka sisa air mataku dan segera menelepon rival terbesar Edwin, Cavin Nugroho. "Apa kamu masih ingin menyingkirkan Edwin dari Nigari?"
Sudut Pandang Ellea.
Selama tahun-tahun pernikahan kami, aku sangat percaya bahwa Edwin adalah belahan jiwaku. Dia datang dalam hidupku saat aku berada di titik terendah. Dia menyelamatkanku dan mencintaiku...
Sampai aku mendengar sendiri percakapan pria itu dengan asistennya.
"Alasan kenapa aku menikahi Ellea adalah untuk mengontrolnya agar dia nggak punya kesempatan ganggu kehidupan pernikahan Ivana yang sempurna."
Saat itu, aku baru menyadari bahwa pernikahan kami bukan dibangun atas dasar cinta tapi dibangun dengan kebohongan yang dipahat sempurna. Itu semua demi wanita lain.
Tawa di ruangan itu tidak sirna, malah makin keras, makin mengejek dan makin menyesakkan.
Suara Alex terdengar seolah sedang memuji. "Waktu itu aku memilih dua bajingan dengan sempurna, 'kan Bos? Meski Ellea membunuh salah satu orang itu, satunya tetap bungkam."
Edwin mencemooh, suaranya terdengar rendah. "Ngomong-ngomong, aku berencana mengirimnya dalam perjalanan pengiriman yang biasanya. Polisi sudah curiga pada kita. Karena wanita itu sudah pernah dipenjara, kurasa dia nggak keberatan kembali ke sana lagi untuk menggantikanku."
Alex segera menjawab dengan lancar, "Dia pasti akan menyambut kesempatan itu dengan sukarela, Bos. Dia selalu menganggap dirinya setara denganmu, selalu ingin membantumu. Kalau kamu bilang kamu membutuhkannya dalam pengiriman narkoba itu, dia pasti setuju."
Tawa kejam bergema di dalam ruangan itu. "Bos, bagaimana kalau wanita itu tahu kebenarannya? Tentang apa yang terjadi empat tahun lalu?"
Edwin menyeringai. "Wanita seperti dia? Nggak mungkin. Aku datang padanya saat dia berada di titik terendah. Sekarang, aku hanya perlu mengatakan satu kata, dia akan datang merangkak padaku seperti anjing paling setia."
Sisa percakapan mereka tak terdengar, tapi kata-kata itu menggantung di udara seperti tali yang mengikat leherku.
Aku berdiri terpaku di ambang pintu, jantungku berdegup sangat kencang sampai aku tidak yakin apakah aku akan pingsan atau malah mati di tempat.
Aku menutup mulutku untuk menahan jeritan yang memaksa keluar.
Suara langkah kaki terdengar makin dekat. Aku berbalik dan berlari menuju tangga.
Aku lari, makin cepat dan cepat sampai aku tiba di rumahku, atau lebih tepatnya … rumah Edwin.
Aku menuang segelas bir untuk diriku sendiri. Kuminum sekali teguk dan cairan itu terasa membakar menuruni tenggorokanku. Putus asa mencari sesuatu yang bisa menjernihkan pikiranku.
Baru setelah tegukan pertama aku bisa menarik napas.
Lalu, air mataku mengalir. Isak tangis sekaligus teriakan yang tadi aku tahan akhirnya keluar.
Dan, kata-kata yang diutarakan Edwin tadi … terus berputar di kepalaku.
…
Sehari sebelum pernikahanku, aku diculik oleh dua orang bajingan.
Mereka bilang hanya ingin uang, hanya uang. Tapi, setelah aku menyerahkan seluruh uangku, mereka tidak membiarkanku pergi.
Lalu, mereka bilang ingin lebih.
Aku tidak punya pilihan selain menghubungi tunanganku, Adrian. Dia menjawab panggilanku setelah dering tiga kali dan saat itu aku sangat percaya kalau aku akan selamat.
Namun, apa yang terjadi setelah itu menghancurkan segalanya.
Saat panggilan video berlangsung, dua bajingan itu malah melecehkanku. Aku melawan dengan sisa tenaga yang kumiliki, tapi malah berakhir membunuh salah satu pria bajingan itu dan melukai salah satunya.
Saat persidangan tiba, aku mengira Adrian akan mendukungku dan membelaku, membuktikan kalau tindakanku adalah untuk membela diri.
Namun, ternyata tidak.
Sebaliknya, dia malah menatapku dengan acuh dan cuek seraya berkata, "Kamu membuatku jijik, Ellea. Pasti karena kamu wanita jalang, makanya pria-pria itu menemukanmu. Kenapa mereka malah menargetkan kamu dan bukan orang lain?"
Aku menangis, berteriak dan memohon padanya.
Aku mengatakan padanya kalau itu bukan salahku. Aku hanya berjalan di gang yang sudah sering kulewati sepulang kerja. Aku memakai blus dan celana panjang, sama sekali tidak berlebihan sampai bisa menarik perhatian. Dia harusnya menyalahkan dua bajingan yang melakukan kejahatan padaku, bukannya malah menyalahkanku.
Aku adalah korban di sini.
Namun, Adrian sama sekali tidak mau dengar.
Dia memutuskan kalau hal yang terjadi padaku adalah kesalahanku. Dia bilang pria sepertinya tidak tahan dengan skandal diriku yang telah dilecehkan. Jadi, dia berbalik dan meninggalkanku. Membiarkanku menghadapi seluruh tuduhan sendirian.
Dan begitu saja, aku dijatuhi hukuman dua tahun penjara karena membunuh akibat kelalaian bukan pertahanan diri.
Ketika akhirnya aku dibebaskan, aku berpikir bisa memulai kembali hidupku, bahwa mungkin... mungkin saja hidup akan memberiku kesempatan kedua.
Namun, ternyata Adrian sudah melanjutkan hidupnya. Dia telah menikah … dengan Ivana, sahabatku sendiri.
Aku pikir hidupku sudah berakhir, benar-benar berakhir.
Lalu, Edwin Guntoro muncul, seperti secercah harapan yang menembus kegelapan hidupku.
Aku sempat berpikir, apakah aku pantas bersanding dengannya? Dia adalah pemimpin mafia paling berkuasa di Nigari, sementara aku hanyalah seorang wanita mantan tahanan yang hidupnya sudah hancur berkeping-keping.
Namun, Edwin berkata, aku tak perlu berpikir tentang pantas atau tidak, bahwa dia mencintaiku apa adanya.
Sekarang, saat berdiri di sini, aku menyadari bahwa aku telah menikah dengan monster yang membuat kehidupanku seperti neraka.
Dan yang lebih buruk lagi, dia muncul bak penyelamat, bertingkah seolah dia adalah obat atas seluruh penderitaanku.
Sekarang semuanya masuk akal. Saat aku meninggalkan penjara dan Ivana datang berkunjung, aku sempat memperhatikan tatapan anehnya. Kupikir itu karena masa laluku dulu saat di penjara.
Ternyata bukan itu … karena dia sudah tahu, dia tahu Edwin-lah yang menyuruh dua bajingan itu untuk melecehkanku. Dia mencemooh karena aku sangat naif dan sepenuhnya buta terhadap kebenaran.
Empat tahun rasa cinta. Empat tahun berbagi ranjang, berbagi kehidupanku bersama Edwin, tapi tidak sekalipun dia membuatku meragukan hubungan kami.
Tanganku mengepal erat. Badai amarah, kesedihan dan ketidakpercayaan berputar dalam diriku, hampir membuatku hancur.
Pintu terbuka dan Edwin melangkah masuk. Tatapannya seketika tertuju padaku, sorot matanya melembut begitu melihat air mataku. Alisnya berkerut dan segera menghampiriku, gambaran sempurna dari suami yang penuh perhatian. "Siapa yang buat istriku nangis?" Suaranya rendah dan kejam, berbahaya namun lembut. "Akan kubunuh bajingan itu untukmu."
Ruangan seketika hening.
Edwin tidak sabar begitu melihatku masih saja diam. Dia menarik pistolnya dan mengerahkan ke sekeliling ruangan dengan santai tapi mengerikan. "Sayang, sebutkan saja namanya. Akan kubunuh mereka."
Pistolnya mengarah ke wajah Alex.
Bisa kurasakan jantungku berdetak kencang.
"Hentikan."
Mata Alex terbelalak tak percaya. Pria itu gemetar, jelas tidak mampu mengendalikan rasa takutnya.
"Waktu itu aku memilih dua bajingan dengan sempurna, 'kan Bos?"
Kata-kata itu masih saja terngiang di benakku. Berulang-ulang seperti melodi yang menyimpang.
Tepat saat aku hendak membongkar kebenaran, Edwin menatapku dengan nada yang anehnya tenang. "Hari ini cerah. Bagaimana kalau kita hindari pertumpahan darah?"
Aku menelan ludah dan memaksa tersenyum meski seluruh tubuhku berteriak ingin melawan. "Tentu saja."
Edwin melihat gelas bir di meja lalu meraih tanganku lembut, menarikku ke dalam pelukannya. "Kamu jadi suka minum di siang hari sekarang?"
Dia sadar. Aku memang tidak pernah minum di siang hari, kecuali jika ada sesuatu yang menggangguku. Tapi, aku tidak boleh menimbulkan sedikit pun kecurigaan sekarang. Jadi, aku tersenyum palsu dan berbohong. "Hanya pusing sedikit. Kupikir sedikit bir bisa membuatku lebih baik."
Bab 2
Sudut Pandang Ellea.
Dia tersenyum dan menepuk kepalaku seolah aku adalah anak kecil. "Sayang, kamu harus pergi ke rumah sakit kalau nggak enak badan."
Lalu, dia berbalik ke arah salah satu pelayan, suaranya terdengar keras. "Tidak lihat kalau Nyonya Ellea sedang nggak enak badan? Cepat bawakan limun."
Pelayan itu mengangguk dan buru-buru meninggalkan kamar. Dia segera kembali dengan nampan dan mengulurkannya padaku.
Lalu, seketika Edwin mengeluarkan pistolnya dan menembak kepala pelayan itu.
Suara tembakan itu memekakkan telinga, diikuti dengan cipratan darah dan otak di depan wajahku. Tangan pelayan yang sudah tak bernyawa itu masih terulur padaku dengan limun bercampur darah yang sekarang mengotori kulitku.
Aku tidak bisa menahan rasa jijikku. Aku ingin muntah, lari dan berteriak.
Edwin tidak gentar. Dia menyeka bersih pistolnya dengan lengan bajunya dan menatapku seolah tidak terjadi apa-apa. "Dia gagal melakukan pekerjaannya, sayang. Dia seharusnya nggak menunggu perintah dariku untuk menyajikan limun untukmu."
Aku menelan ludah dengan sulit, rasa pahit seolah naik dari tenggorokanku tapi aku memaksakan diri untuk tetap diam.
Edwin benar-benar monster.
Dia menyeka darah di wajahku dengan sapu tangan. Sentuhannya lembut tapi entah mengapa terasa mengganggu. "Kamu sekarang adalah Nyonya Guntoro. Jangan pernah minum alkohol di siang hari lagi, ya? Gimana kalau ada yang melihatmu seperti ini, mereka akan mengira kalau kamu adalah pecandu alkohol. Dan, Nyonya Guntoro nggak boleh jadi pecandu alkohol."
Aku mengambil napas dalam-dalam, mencoba menenangkan tanganku yang gemetar. Seluruh tubuhku menggigil ketakutan dan muak.
"Aku mengerti," bisikku, kata-kata itu terucap begitu saja saat aku berusaha menahan badai di dalam diriku agar tidak mengacaukan segalanya.
"Apa kamu masih merasa nggak enak badan, sayang?" Suara Edwin lembut, terdengar agak khawatir saat mengamati wajahku. "Kamu terlihat seperti mau pingsan."
"Tidurku nggak nyenyak." Aku berbohong, suaraku nyaris tidak terdengar.
"Gimana kalau kamu berbaring dulu? Kita bisa pergi ke vila liburan favorit kita besok saja, hanya kita berdua." Suaranya sangat lembut, sangat menenangkan seolah tidak terjadi apa-apa.
Sekali waktu, dia adalah monster, di saat yang lain dia adalah pria yang sempurna. Bagaimana mungkin aku tidak menyadarinya selama ini?
"Oke," jawabku dengan memaksakan senyum yang bahkan tidak sampai mataku.
Begitu sampai di dalam kamar, aku sudah tidak bisa menahannya lagi. Aku segera berlari ke kamar mandi dan muntah saat ingatan tentang otak pelayan yang meledak di depanku berkelebat di dalam benakku. Darahnya sekaligus tangannya yang masih terulur padaku ….
Aku tidak bisa menghilangkan pikiran mengerikan itu, bahwa suatu hari nanti, kalau aku sampai membuatnya marah, mungkin aku akan menjadi korban berikutnya.
Ketika rasa mual itu akhirnya mereda, aku kembali ke ranjang. Ponsel Edwin tergeletak di nakas. Dia pasti lupa membawanya.
Tanpa pikir panjang, aku meraih ponsel itu. Sekilas kulihat layarnya, itu adalah foto Ivana sedang tersenyum saat Edwin memutar wanita itu dalam pelukannya.
Dan kata sandinya … adalah tanggal ulang tahun Ivana.
Aku membuka pesan-pesan di dalamnya, jantungku berdegup kencang sampai rasanya mau pecah. Edwin jelas tak pernah mengira aku akan melihat isi ponselnya, jadi semua pesan antara dirinya dan Ivana masih tersimpan rapi.
Pesan terakhir dikirim hari ini [Gimana kalau makan malam bersama?]
Aku menggulir layar, satu per satu pesan itu terlihat seperti surat cinta dari Edwin.
Lalu aku tertegun, jariku berhenti pada satu pesan dari Ivana.
[Kukira kamu tertembak waktu pengiriman narkoba ke Urui. Gimana keadaanmu?]
Balasan Edwin membuatku menggigil: [Ellea menghadang peluru itu untukku.]
[Heroik sekali dia] tulis Ivana. [Kamu pasti sangat tersentuh dengan pengorbanannya.]
[Lebih ke terkejut. Dia benar-benar sebodoh itu] jawab Edwin.
Aku berkedip, setetes air mata jatuh mengenai layar ponselnya.
Waktu itu, saat pengiriman narkoba yang berbahaya ke Urui, aku memohon untuk ikut dengannya. Aku tak tahan berpisah jauh setelah dia bilang betapa berbahayanya kesepakatan itu.
Dia setuju dan perjalanan itu memang berubah menjadi mimpi buruk.
Aku tertembak dan Edwin terkena peluru di punggung.
Dia pulih dengan cepat, tapi aku tidak. Peluru yang mengenaiku merusak indung telurku, akibatnya kini aku tak akan pernah bisa punya anak.
Selama ini aku merasa malu karena tak bisa memberinya keturunan, karena merasa diriku sudah rusak.
Saat aku hendak mengembalikan ponsel itu, jariku tak sengaja menggulir lagi, membuka pesan berikutnya. Kata-kata Edwin membuatku terpaku seolah tersambar petir.
[Aku sudah mencintaimu sejak kamu menyelamatkanku di Makua. Tindakanmu sangat heroik saat menyelamatkanku setelah baku tembak. Kalau bukan karena kamu dan tindakan operasi daruratmu, aku pasti sudah mati.]
Menyelamatkannya? Ivana tidak pernah menyentuh pisau bedah seumur hidupnya.
Dia hanya perawat. Aku dokter.
Dan akulah yang menyelamatkan seorang pria dalam baku tembak brutal di Makua itu. Akulah yang melakukan operasi pengangkatan peluru itu bahkan saat moncong pistol diarahkan ke kepalaku.
Bukan Ivana.
Sebuah pikiran gila dan mengerikan muncul di benakku.
Apakah … akulah yang menyelamatkan Edwin hari itu?
Dan lebih menakutkan lagi, apa Ivana berbohong pada Edwin dan mengaku bahwa dialah yang menyelamatkannya?
Tanganku gemetar saat aku meletakkan ponsel itu kembali.
…
Setelah entah berapa lama, aku akhirnya mengumpulkan keberanian. Aku mengambil ponselku, menekan nomor yang sudah tersimpan di kontakku selama bertahun-tahun.
"Apa kamu masih ingin menyingkirkan Edwin dari Nigari?"
"Apa maksudmu?" Suara di ujung sana rendah, terdengar penasaran.
"Dalam dua hari, culik aku." Pandanganku beralih ke foto di nakas, foto pernikahan kami di mana aku mengenakan gaun putih dan Edwin berdiri di sampingku, terlihat seperti suami yang sempurna. "Dia akan menyerahkan segalanya padamu … dengan sukarela."
Aku menutup panggilan itu tepat saat Edwin masuk ke kamar. Dia tampak mabuk, langkahnya goyah seolah alkohol telah menguasainya. "Kamu telpon siapa?" Matanya menyipit, selalu waspada dan selalu curiga. "Jangan bilang itu pria."
Aku membantunya ke tempat tidur, seperti yang biasa aku lakukan. "Tentu saja bukan. Hanya orang salah sambung."
Dia menghela napas lega, bersandar di pelukanku seolah tak ada yang berubah. "Bagus. Jangan pernah bicara dengan pria lain selain aku."
Aku menyelimutinya, lalu berbaring di sampingnya.
Tapi, aku tidak mengantuk dan terjaga sepanjang malam, pikiranku berputar dengan segala hal yang baru saja kutemukan dan segala yang sedang aku rencanakan.
…
Keesokan harinya, Edwin dan aku berangkat menuju vila liburan yang dia katakan kemarin. Di tengah perjalanan, dia mendapat telepon dan langsung membatalkan perjalanan kami. Katanya, dia harus menangani masalah di kasino miliknya. Beberapa pria mabuk membuat keributan di sana.
"Maafkan aku, sayang. Aku akan menebusnya, aku janji. Ini, pakai kartu ini." Dia menyerahkan kartu hitam padaku, terasa halus sekaligus dingin di telapak tanganku. "Beli apa pun yang kamu mau, sayang."
Dan begitu saja, dia pergi.
Bab 3
Sudut Pandang Ellea.
Sepuluh menit kemudian, mobil Alex datang untuk menjemputku. "Nyonya Ellea, Pak Edwin menelepon. Dia mengirimku untuk menjemputmu."
Aku masuk ke dalam mobil tanpa bicara, aku memikirkan banyak hal.
Dalam perjalanan pulang, ponselku berbunyi. Itu adalah pesan dari Ivana, sebuah foto tepatnya.
Edwin sedang memeluknya, Ivana duduk di pangkuannya dengan tangan Edwin memeluknya dari belakang.
Latar belakangnya? Lautan. Berdasarkan foto itu, aku bisa tahu mereka berada di atas kapal pesiar, kemungkinan adalah salah satu kapal yang baru saja dibeli Edwin. Sebotol sampanye dengan dua gelas berada di depan mereka.
Edwin berbohong padanya.
Dia tidak berada di kasino. Dia sedang bersama dengan Ivana.
Sebuah pesan baru muncul di bawah foto itu. Itu adalah tangkapan layar dari pesan Edwin untuk Ivana.
"Setiap malamku bersama Ellea rasanya seperti neraka. Aku membayangkan kamulah yang berada di bawahku, dengan begitu aku baru bisa ejakulasi. Aku sangat merindukanmu, Ivana. Keluar diam-diam malam ini dan temui aku di rumahku, oke? Ellea tidak di rumah dan aku menginginkanmu di ranjangku."
Penglihatanku menjadi kabur begitu mengalihkan pandangan dari ponsel, lalu aku menyadari pemandangan di luar jendela mobil bukanlah rute pulang yang biasanya.
"Kita nggak pulang?" tanyaku, suaraku terdengar lebih lemah dari yang kuharapkan.
Senyum Alex mencurigakan, sekarang terlihat berbeda, lebih dingin dan penuh intrik, seperti dua bajingan yang dulu menculikku. "Pulang?" Nada suaranya rendah, seolah kata-kata itu mengandung racun. "Jangan mengaturku. Kamu bukan Nyonya Guntoro bagiku."
Aku berusaha menjaga ketenanganku. "Edwin akan membunuhmu kalau dia tahu apa yang kamu katakan."
Alex tertawa, suaranya kasar dan menjijikkan. "Aku tinggal memastikan dia nggak tahu hal ini, 'kan?" Dia mengunci pintu lalu menekan pedal gas hingga mobil melesat kencang. "Aku punya kejutan untukmu."
Mobil meluncur ke area parkir terpencil, aroma asin udara laut langsung menusuk hidungku.
Kami berada di dermaga sekarang.
Aku berusaha membuka pintu, tapi Alex lebih cepat. Cengkeramannya kejam dan kuat saat menarik rambutku. Dia menyeretku keluar lalu melemparkanku ke tanah.
Aku mencoba bangkit, tapi rasa sakit yang menyayat tiba-tiba menjalar dari tanganku.
Sebuah hak sepatu tanpa belas kasihan menginjak punggung tanganku.
"Lama nggak jumpa, Ellea." Sebuah suara mendesah pelan, dingin namun manis.
Aku mengenali suara itu. Aku mendongak, mataku membelalak tak percaya.
Itu … Ivana.
Tentu saja dia berada di sini. Dia bersama Edwin di kapal pesiar dan kapal itu tidak jauh dari dermaga.
Ivana tidak hanya menginjak tanganku, tapi juga memutar tumitnya, menekannya sampai aku bisa merasakan darah mengalir dari telapak tanganku. Baru setelah itu dia mengangkat kakinya. Dia menatapku dengan pandangan pura-pura iba.
Lalu berbalik dan mencium pipi Alex. "Kerja bagus, Alex. Aku akan memberimu hadiah nanti, oke?"
Setelah itu dengan senyuman sekejam iblis, dia menatapku. "Kasihan sekali kamu, Ellea. Dipermainkan oleh Edwin, tapi masih saja percaya kalau dia adalah pahlawanmu."
Alex terkekeh dan menatapku kejam. "Aku tahu kamu telah mendengar semua waktu itu. Aku sudah mengecek CCTV."
Ivana melangkah mendekat, suaranya lembut tapi menusuk. "Ya ampun! Kenapa kamu bodoh sekali, sih? Kamu bahkan membuat siksaan ini jadi nggak menyenangkan lagi."
Alex ikut menimpali, nada suaranya penuh ejekan. "Benar, juga peluru yang kamu hadang untuk melindungi Edwin itu? Apa kamu tahu kalau sejak awal peluru itu memang diarahkan untukmu?"
Aku berusaha bangkit, tapi tubuhku berkhianat. Kakiku gemetar saat aku memaksakan diri untuk berdiri.
Belum sempat aku benar-benar berdiri tegak, Alex menendangku dengan keras hingga aku jatuh lagi. Kakinya menginjak dadaku dengan kuat. Dia meludah pada kakiku, suaranya penuh rasa jijik. "Jangan coba-coba, dasar pelacur!"