Bab 1

Pada Hari Ibu, aku berniat memberikan hadiah kepada ibu mertuaku. Namun tak disangka, aku melihatnya membawa seorang pria berkulit gelap masuk ke kamar. Setengah jam kemudian, ibu mertuaku keluar dengan wajah memerah ....

Namaku Sonya. Aku sudah menikah dengan suamiku, Marcus, selama lebih dari setahun. Marcus bekerja di sebuah perusahaan asing dan biasanya kami selalu hidup harmonis.

Ketika Hari Ibu tiba, untuk menyenangkan hati suamiku sekaligus mempererat hubungan dengan ibu mertua, aku sengaja mengusulkan untuk pergi bersama Marcus memilihkan hadiah untuk ibu mertua.

Namun tak disangka, perusahaan Marcus tiba-tiba memintanya untuk lembur dan diperkirakan baru akan pulang tengah malam. Akhirnya, aku memutuskan untuk pulang terlebih dahulu sambil membawa hadiah yang sudah kupilih.

Aku memilihkan sebuah gelang giok seharga 10 juta untuk ibu mertua dengan kemasan yang sangat indah. Saat sedang mengagumi gelang di tanganku, tiba-tiba aku mendengar suara pintu depan yang dibuka dengan kode sandi.

Aku melihat ibu mertuaku mengganti sepatu dengan sandal rumah dan diikuti oleh seorang pria berkulit gelap dengan tinggi tubuh 180 cm! Pria itu memiliki otot yang kekar dan hanya mengenakan kaus oblong serta celana pendek. Dengan bahasa lokal yang fasih, dia memanggil ibu mertuaku, "Bu Melina, aku akan membuatmu merasa nyaman."

Ibu mertuaku tersenyum dengan kerutan di sekitar matanya. Sambil menahan dadanya yang sudah mulai kendur, dia menggandeng pria berkulit gelap itu masuk ke kamarnya. Aku terkejut dan buru-buru bersembunyi di kamar mandi dengan jantung yang berdetak kencang!

Ibu mertuaku sudah berusia lebih dari 50 tahun. Kenapa dia membawa pria berkulit gelap itu ke rumah? Apakah ayah mertuaku tahu soal ini?!

Dengan perlahan, aku berjalan mendekati pintu kamar. Dari dalam, terdengar suara-suara yang membuat wajahku merona. Mendengar suara ibu mertuaku, jelas sekali bahwa pria berkulit gelap itu sangat kuat.

Melalui celah pintu, aku melihat ibu mertuaku tidak mengenakan sehelai pakaian pun! Dia berbaring di atas ranjang dan membiarkan pria berkulit gelap itu memperlakukannya sesuka hati.

Pria itu bergerak naik turun di atas tubuh ibu mertuaku, sedangkan ibu mertuaku sesekali mengeluarkan suara yang membangkitkan imajinasi liar. Pemandangan itu begitu sensual hingga membuat lututku terasa lemas.

Yang lebih aneh lagi, pria berkulit gelap itu mengeluarkan sebotol minyak, lalu menuangkannya ke tubuh ibu mertuaku.

Melihat tubuh ibu mertuaku yang putih berkilau dengan bekas berwarna kemerahan akibat sentuhan pria itu, jantungku berdebar kencang.

Pria ini ... punya banyak trik untuk bersenang-senang! Hebat sekali! Setelah beberapa saat, suara dari dalam ruangan itu pun berakhir.

Aku segera bergegas kembali ke kamarku, lalu diam-diam membuka sedikit celah pintu untuk mengintip apa yang terjadi di luar.

Terdengar suara pintu kamar terbuka, pria berkulit gelap itu keluar dengan bertelanjang dada dan hanya mengenakan celana pendek.

Pandanganku mulai melirik otot-otot kekar di bagian atas tubuhnya sambil menelan ludah. Bagian tubuhnya yang bawah terlihat sangat besar, apakah ibu mertuaku benar-benar bisa menahan benda sebesar itu?

Tiba-tiba, aku merasakan tatapan tajam yang mengarah padaku. Pria itu menoleh ke arahku! Tatapannya seolah-olah ingin menelanjangiku hingga ke tulang-tulang!

"Ada apa, Justin?" Suara ibu mertuaku membuyarkan perhatian pria itu dan mengalihkan pandangannya dariku. Aku buru-buru menutup pintu. Rupanya, nama pria itu adalah Justin.

Aku menempelkan telingaku di dekat pintu untuk mendengarkan suara di luar. Syukurlah, Justin tidak membocorkan keberadaanku. "Nggak apa-apa. Aku mau mandi dulu, Bu Melina. Tubuhku berkeringat banyak," katanya.

Dari dalam kamar mandi terdengar suara air mengalir, tapi aku tidak berani mendengarkan lebih lama lagi.

....

Malamnya, suami dan ayah mertuaku akhirnya pulang. Dari sana, aku tahu bahwa ayah mertuaku belakangan ini sedang hobi bermain kartu. Ibu mertuaku bahkan menggoda ayah mertuaku, mengatakan bahwa dia sudah seperti kecanduan.

Namun, aku tidak bisa ikut tertawa mengingat kejadian siang hari saat melihat ibu mertuaku berhubungan dengan pria berkulit gelap itu. Rasanya sungguh menjijikkan.

Sampai suamiku, Marcus, menyikutku dan berkata, "Bu, hari ini Hari Ibu, Sonya sengaja membeli gelang giok untuk Ibu. Sonya, ayo serahkan hadiahnya ke Ibu."

Bab 2

Aku mengeluarkan gelang giok itu dan berkata dengan senyum kaku, "Selamat Hari Ibu." Sekalian, aku juga memberikan teh yang sudah kupersiapkan untuk ayah mertua. Meskipun ini Hari Ibu, menurutku tidak baik jika sampai mengabaikan ayah mertuaku.

Begitu melihat label harga pada gelang giok itu, mata ibu mertuaku langsung berbinar dan tersenyum semringah. Dia terus memuji Marcus karena sudah menikahi menantu yang baik. Ayah mertuaku pun tak henti-hentinya memuji kebaikanku.

Bahkan, ibu mertuaku yang biasanya bersikap dingin, kini tiba-tiba berubah. Dia mengambilkan sup untukku sambil berkata, "Sonya, makan yang banyak ya. Biar nanti bisa kasih kami cucu yang gemuk."

Aku meneguk sup di mangkuk sambil teringat masa lalu. Dulu, aku dan Marcus pernah memiliki seorang anak. Namun sayangnya, anak itu tidak bisa dipertahankan.

Malam itu, suasana terasa sangat hangat. Semuanya tampak bahagia. Melihat ayah mertua yang tampak begitu jujur dan baik hati, aku benar-benar tidak mengerti kenapa ibu mertuaku bisa begitu kesepian hingga melakukan hal seperti itu?

Aku tidak bisa langsung membongkar masalah ini, sehingga hatiku terus diliputi kegelisahan. Keesokan siangnya saat sedang memasak, aku mencari kesempatan untuk mengajak ibu mertuaku bicara.

"Bu, belakangan ini aku sering dengar kabar ada pria berkulit gelap yang sering muncul di kompleks perumahan sekitar. Menurut Ibu, kejadian itu benaran nggak ya?"

Ibu mertuaku yang sedang memotong sayuran langsung terhenti sejenak, tapi kemudian dia bersikap seolah-olah tidak terjadi apa pun. "Sekarang negara kita sudah terbuka dengan dunia luar. Ada pria kulit gelap yang datang, itu menandakan negara kita sudah kuat."

Melihat ibu mertuaku tetap tidak mau mengakuinya, aku pun menghentikan ucapanku. Aku tidak berani membayangkan bagaimana reaksi suami dan ayah mertuaku jika mereka tahu tentang hal ini. Namun setelah berpikir panjang, aku akhirnya memutuskan untuk berbicara dengan Marcus.

Suamiku langsung marah besar dan membanting sendoknya. "Kamu ngomong apaan, Sayang? Biasanya ibuku memperlakukanmu dengan baik, kenapa kamu malah fitnah dia begini?"

Aku hanya bisa terdiam tak bisa membela diri, "Itu sungguhan, Marcus! Aku benar-benar melihatnya. Aku juga sudah lama bingung sebelum memutuskan untuk memberitahumu."

Di saat itulah, ibu mertuaku muncul bagaikan seorang penengah yang baik hati untuk menenangkan Marcus, "Marcus, jangan bertengkar sama Sonya. Kalau ada masalah, bicarakan baik-baik."

Aku merasa sangat emosi. Selama bertahun-tahun menikah dengan Marcus, meskipun hidup kami bahagia, tapi setiap kali ada hal yang menyangkut ibunya, dia selalu membela ibunya habis-habisan!

Seperti yang sudah kuduga, begitu mendengar kata-kata ibu mertuaku, sikap Marcus langsung melunak, "Bu, Sonya bilang Ibu bawa seorang pria berkulit gelap ke rumah. Entah kenapa, dia selalu ngomong sembarangan!"

Ibu mertuaku berusaha untuk menenangkan Marcus. Entah apa yang dibicarakannya, tetapi emosi Marcus langsung mereda setelah mendengarnya. Aku tidak berani lagi membahas hal ini karena takut Marcus akan marah lagi.

Beberapa hari kemudian, suamiku bilang dia akan pergi dinas selama dua minggu. Namun yang tak kusangka, ibu mertuaku kembali membawa pria berkulit gelap itu ke rumah!

Dari kamar mandi, terdengar suara pancuran air yang bercampur dengan desahan yang membuat wajahku merah padam. Aku bahkan mendengar pria berkulit gelap itu bertanya, "Nyaman, 'kan?"

Kemudian, terdengar suara ibu mertuaku yang terdengar lemah, "Terlalu kuat!"

Wajahku langsung memerah karena merasa malu sekaligus kesal.

Kupikir setelah aku bicara dengan Marcus waktu itu, ibu mertuaku akan berhenti. Namun siapa sangka, dia malah kembali berhubungan dengan pria itu! Usianya sudah tua, tapi masih berani melakukan hal seperti ini tanpa merasa malu sedikit pun!

Tak lama kemudian, pria itu keluar dari kamar mandi sambil mengenakan handuk mandiku. Sementara itu, ibu mertuaku masih melanjutkan mandinya di dalam. Aku merasa jijik, tapi tetap mengikutinya secara diam-diam.

Yang tak kusangka, dia tiba-tiba berhenti dan berbalik. Aku sontak terkejut hingga langsung menabraknya. Aroma maskulin pria itu langsung menyelimutiku. Otot-otot kekarnya membuat jantungku berdetak kencang tanpa sadar dan aku bahkan bisa merasakan bagian tubuhnya yang menonjol!

Baca Cerita Lengkapnya Sekarang
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk menghadirkan lebih banyak cerita luar biasa Goodnovel
Buka Semua Bab
Cari "B73282" di goodnovel para membaca buku selengkapnya.
Salin kode dan cari di aplikasi NovelShort untuk melanjutkan membaca.
B73282
Salin

Mengungkap Rahasia Ibu Mertua

Bab 1
Bab
Sesuaikan
Bab Berikutnya