Bab 1

Di malam valentine, aku bertemu dengan sahabat kecil tunanganku di depan sebuah bar.

Dia tampak seperti habis diracuni, tak sadarkan diri.

Kali ini, aku pura-pura tidak melihatnya dan langsung berbalik pergi.

Di kehidupan sebelumnya, aku sama sekali tidak mengenalnya.

Karena niat baik, aku menolongnya. Tapi, malah tanpa sengaja melihat ada tato nama tunanganku di tulang selangkanya.

Awalnya, aku kira itu hanya salah paham. Tapi sesaat kemudian, saat aku membantu mengangkat teleponnya, aku mendengar suara tunanganku dari ponselnya.

Karena marah dan cemburu, aku pun memutuskan sambungan telepon itu dan mengabaikan 99 panggilan tak terjawab darinya.

Aku baru pergi setelah memastikan dia sudah baik-baik saja di hotel milik keluargaku.

Siapa sangka, dia malah menjadi korban pelecehan malam itu. Karena merasa memalukan, dia memilih mengakhiri hidupnya.

Setelah kebenaran terungkap, tunanganku tetap pura-pura tidak tahu apa-apa, bahkan tetap menggelar pesta pernikahan megah untukku.

Namun, di hari aku mengetahui kehamilanku, dia malah mematahkan kedua kakiku dan mengurungku di rumah.

Aku sangat terpuruk dan bertanya kenapa padanya.

Dia malah tertawa gila-gilaan.

“Kalau bukan karenamu, Luna nggak akan jadi korban pelecehan, dia juga nggak akan bunuh diri! Ini semua salahmu!”

Tak kusangka, saat membuka mata lagi, aku malah kembali ke hari di mana aku bertemu sahabat kecilnya di depan bar.

“Tolong bantu aku hubungi pacarku ….”

Di depan pintu bar, Luna tergeletak dengan wajah memerah, kesadarannya sudah mulai kabur.

Padahal hanya kalimat biasa saja, tapi aku malah berkeringat dingin. Saat itu juga, aku sadar diriku telah terlahir kembali.

Kali ini, aku pura-pura tidak melihat gerakan meminta tolongnya dan mempercepat langkah menjauh dari pintu bar.

Di kehidupan sebelumnya, karena rasa iba itulah aku berakhir di situasi yang begitu menyedihkan.

Kali ini, bagaimanapun juga, aku tidak akan ikut campur lagi.

Namun, baru beberapa langkah aku berjalan, Luna sudah berusaha bangkit dan mencoba menghadangku lagi. Karena tidak siap, aku malah terdorong hingga terjatuh.

Aku meringis kesakitan, aku tidak menyadari bahwa ponsel di tangan wanita itu berdering. Tak lama kemudian, terdengar suara Calvin, tunanganku.

“Luna, kenapa baru angkat telepon? Kamu tahu nggak aku sangat khawatir denganmu?!”

Dengan suara manja dan lemah, Luna menjawab,

“Kak Calvin, aku nggak enak badan~ Sepertinya aku habis diracuni, cepat tolong aku!~”

Suara Calvin langsung terdengar panik,

“Tunggu Luna, aku segera ke sana!”

Mendengar suaranya, tubuhku gemetar tanpa sadar. Rasa sakit waktu kaki-kakiku dipatahkan olehnya di kehidupan lalu, seolah masih belum menghilang.

Waktu itu, aku sama sekali tidak menyangka akan mati di tangan tunanganku sendiri, orang yang akan segera menikah denganku.

Kurang dari sepuluh menit, Calvin sudah tiba di depan bar.

Dia langsung menarik Luna ke dalam pelukannya dan saat hendak pergi, barulah dia melihat aku yang masih tergeletak di lantai.

“Rani?” panggilnya tampak sangat terkejut melihatku, lalu seulas ekspresi canggung melintas di wajahnya.

“Kok … kok kamu di sini?”

Mungkin kakiku terkilir, aku menahan sakit sambil berusaha berdiri. Menghindari tatapannya yang penuh kebingungan, aku berpura-pura tidak mendengar dan berjalan ke pinggir jalan untuk menghentikan taksi, lalu pulang ke rumah.

Tak lama kemudian, Calvin juga pulang ke rumah sambil membawa Luna. Wanita itu menempel padanya seperti gurita, mulutnya terus menggumamkan hal-hal yang tidak jelas.

Melihatku, Calvin tampak canggung dan buru-buru menjelaskan.

“Luna kurang enak badan, aku merasa nggak aman meninggalkannya sendirian di rumah, jadi aku bawa dia ke sini. Kamu nggak keberatan, ‘kan?”

“Nggak.”

Jawabku buru-buru memotong ucapannya, lalu menutup pintu kamar. Tapi, aku sempat menangkap tatapan rumitnya padaku.

Malam itu, suara mereka samar-samar menembus pintu kamar tamu dan masuk ke telingaku.

Hati ini terasa pedih, seperti ada yang mencubitnya keras-keras. Aku menyeka air mata yang entah sejak kapan mengalir di sudut mataku. Bukan karena cemburu, melainkan karena rasa takut setelah mengingat apa yang pernah terjadi.

Menjelang pagi, suara dari kamar mereka mulai mereda dan aku akhirnya bisa bernapas lega.

Di kehidupan sebelumnya, aku dibutakan cinta. Aku yang menolak 99 panggilan Calvin untuk Luna di depan bar, aku juga yang meninggalkannya sendirian di hotel.

Tak disangka, malam itu Luna malah menjadi korban pelecehan dan akhirnya mengakhiri hidupnya.

Calvin tetap menikahiku, menggelar pesta pernikahan yang membuat banyak orang iri.

Namun, di hari aku mengetahui kehamilanku, dia malah mematahkan kakiku dan mengurungku di rumah.

Saat kesadaranku mulai kabur karena kesakitan, aku bertanya padanya kenapa melakukan ini, tapi yang kudapat hanyalah makian tanpa belas kasihan.

Dia membenciku, menyalahkan kematian Luna padaku dan semua yang dia lakukan hanyalah untuk membalaskan dendamnya.

Kali ini, aku tidak akan ikut campur dalam hubungan mereka lagi. Tentu saja, aku juga akan melepaskan perasaan ini sepenuhnya.

Keesokan harinya, menjelang siang, mereka akhirnya keluar dari kamar.

Bab 2

Bahu Luna yang telanjang penuh dengan bekas lebam ungu kebiruan. Begitu melihatku, dia pura-pura malu dan menundukkan kepala.

“Kak Rani, kamu nggak marah soal tadi malam, ‘kan? Kak Calvin juga terpaksa, ini semua demi menyelamatkanku. Salahkan aku saja, aku yang nggak berguna sampai kena jebakan racun orang.”

“Jangan dimasukkan ke hati. Kalau gara-gara aku malah menghambat rencana pernikahan kalian, aku benar-benar merasa bersalah.”

Sambil bicara, matanya tampak berkaca-kaca, seolah-olah sangat tersiksa.

Tiba-tiba, terdengar suara langkah kaki. Wajah Calvin langsung berubah muram dan langsung memarahiku.

“Semalam aku juga sudah bertanya padamu, ‘kan Rani? Kamu sendiri bilang nggak keberatan. Sekarang malah menakut-nakutin Luna sampai nangis, apa maksudmu?”

Aku benar-benar merasa konyol.

“Dia sendiri yang bicara panjang lebar dan menangis. Apa hubungannya denganku?”

Mendengar jawabanku, kerutan alis Calvin semakin dalam.

“Kalau begitu, kenapa Luna menangis? Aku sudah setuju menikahimu, masih kurang apa lagi?!”

Padahal aku sudah mengalah, kenapa dua orang ini tetap tak membiarkanku pergi?

Memikirkan itu, aku langsung menatap Calvin.

“Kalau kamu merasa sangat dipersulit, lebih baik batalkan saja pertunangan kita.”

Seketika, Calvin langsung membeku di tempat.

“Batalkan pertunangan?”

Sorot matanya langsung menjadi dingin dan tajam.

“Rani, kok kamu lebay sekali? Luna itu diracuni semalam! Kalau bukan aku yang menolongnya semalam, entah apa yang bakal terjadi.”

“Kau malah mau batalkan pertunangan kita hanya gara-gara masalah sepele begini? Kamu pikir menikah itu main-main?!”

Sebenarnya, aku juga tak pernah berpikiran seperti itu.

Tapi Calvin sendiri yang lebih dulu menunjukkan siapa dirinya yang sebenarnya.

Aku malas berdebat, jadi dengan datar berkata,

“Aku baru sadar kalau kita nggak cocok, Calvin.”

“Nggak cocok?”

Tatapan matanya tampak gelap, lalu dengan cepat berubah menjadi marah.

“Jangan lupa, Rani. Kamu duluan yang bilang suka samaku.”

Iya benar, aku yang jatuh cinta lebih dulu.

Waktu itu, aku baru pulang ke negara ini setelah lulus kuliah di luar negeri. Di acara penyambutan itu, aku jatuh cinta pada pandangan pertama dengan Calvin.

Aku cari tahu semua tentang dia, mendapat nomor kontaknya dan akhirnya memberanikan diri untuk mengungkapkan perasaanku.

Yang mengejutkan, dia tak langsung menolak atau menerima. Dia hanya bilang bisa dicoba.

Bagiku, secuil harapan itu sudah cukup. Mulailah kami sering ketemuan, menonton bioskop dan jalan-jalan bersama.

Lama-lama, tatapannya semakin lembut padaku. Dia juga tanpa sadar melindungiku saat menyebrang jalan.

Waktu itu aku pikir, inilah cinta. Aku terlalu bersemangat sampai buru-buru meminta ayahku mengatur pertunangan kami.

Namun, setelah resmi bertunangan, Calvin mulai berubah. Dia mulai menjauh dan Luna pun mulai muncul.

Aku yang terlalu memaksakan, akhirnya menyeret diri sendiri ke jurang ini.

Memikirkan itu, aku menarik napas panjang dan tersenyum paksa.

“Benar, aku yang lebih dulu suka padamu. Tapi sekarang … aku sudah nggak cinta lagi, paham?”

“Rani!”

Calvin marah besar, menyeretku ke kamar, wajahnya tampak penuh amarah.

“Apa lagi yang kamu ributkan? Aku sudah jelasin soal Luna! Kami sudah kenal sejak kecil, mana mungkin aku hanya diam saja saat ada masalah?”

“Jangan pakai pikiran kotormu untuk nilai hubungan kami!”

Pikiran kotor?

Mendengar kata itu, aku benar-benar tak bisa menahan untuk ketawa.

“Pikiran kotorku? Calvin, semalam itu hari valentine. Aku mengajakmu kencan, kamu bilang lembur. Tapi begitu Luna meneleponmu, kamu langsung menemui dia. Kamu pikir aku bodoh?”

“Bahkan ada tato namamu di pundaknya, kamu masih berani bilang kalian nggak ada apa-apa?!”

Batu yang menekan di dada terlalu lama, tetap bisa terasa sesak.

Calvin terdiam, tak bisa membantah, lalu langsung pergi.

Aku juga tak mau ribut lagi. Aku langsung naik taksi untuk pulang dan kasih tahu ibu soal pembatalan pertunangan ini.

Ibu sempat kaget, tapi begitu aku ceritakan semuanya, beliau langsung marah besar.

“Kita benar-benar salah menilainya! Baiklah, kita tetap pura-pura seolah pernikahan tetap jalan. Biar di hari pernikahan nanti, semua orang lihat aibnya sendiri!”

Waktu sampai di rumah, sudah sore hari.

Begitu masuk, aku hampir mengira rumah kemalingan, rak sepatu dan ruang ganti berantakan parah.

Setelah diperiksa, ternyata semua baju dan sepatu hak tinggi edisi terbatas pemberian Calvin hilang.

Kemudian, pintu pun terbuka.

Calvin dan Luna masuk sambil bergandengan tangan.

Baju dan sepatu di badan Luna, semuanya adalah barang-barang di lemariku.

Bab 3

Melihatku, mereka berdua langsung melepaskan tangan. Luna buru-buru menjelaskan dengan suara manja,

“Kak Rani, jangan salah paham. Aku bukan sengaja pakai bajumu. Soalnya kemarin … semua bajuku sobek, jadi nggak ada yang bisa dipakai. Makanya Kak Calvin suruh aku ambil dari lemari bajumu.”

Setiap ada hari penting, Calvin selalu memberiku hadiah. Dia tahu aku tak suka barang kembaran dengan orang lain, jadi baju dan tas yang dia kasih semuanya edisi terbatas.

Namun sekarang, barang-barang yang dulu katanya khusus untukku, malah dipakai perempuan lain.

Melihat aku diam saja, Calvin langsung kelihatan kesal.

“Hanya pakai bajumu saja, kenapa harus pasang muka begitu? Bajumu ada begitu banyak, memangnya kenapa kalau dikasih ke Luna beberapa?”

Aku tetap tanpa ekspresi, mengangguk ringan dan menjawab datar,

“Iya, pakai saja.”

Namun, Calvin masih tak puas, kerutan alisnya semakin erat.

“Apa sih yang kamu pikirkan, Rani? Sengaja pura-pura cuek? Mau pakai cara ini untuk menarik perhatianku?”

Aku menatap matanya, lalu berkata pelan,

“Kamu pernah kepikiran, nggak? Kalau aku beneran nggak peduli lagi?”

Wajah Calvin langsung tambah muram, bibirnya menekan kencang, lalu menarik Luna masuk ke kamar.

Aku tahu dia marah, tapi benar-benar tak ada niat menenangkannya.

Lagipula, aku juga akan segera pergi dari sini.

Calvin marah lama sekali, mungkin berharap aku bakal seperti dulu, mengalah dan membujuknya.

Namun, kali ini aku sibuk mengurus persiapan ke luar negeri, jadi tidak peduli.

Setahun setelah lulus, sebenarnya profesor di luar negeri sempat menawarkanku untuk lanjut riset bersama mereka.

Namun, waktu itu aku dibutakan perasaan ke Calvin, tanpa pikir panjang langsung menolak.

Sekarang, kalau dipikir-pikir, rasanya bodoh sekali.

Sementara itu, Luna makin sering muncul di rumahku, seolah menganggap rumah ini hotel. Dia bahkan memakai semua barang-barangku seakan-akan dia nyonya di rumah ini.

Aku pura-pura tak melihatnya, fokus mengurus urusanku sendiri.

Yang aku heran, aku sudah tak ikut campur soal mereka, tapi kenapa Calvin tetap tak mau batalkan pertunangan ini?

Aku tak percaya, kalau dia benar-benar mencintaiku seperti yang dikatakannya.

Akhirnya, aku ikutin saran ibu, pura-pura lanjutkan persiapan pernikahan seperti sebelumnya.

Begitu tahu itu, Calvin malah kelihatan puas, bahkan mendekatiku sendiri.

“Kubilang apa, Rani. Kamu itu nggak mungkin meninggalkanku selamanya. Semua omongan batalkan pertunangan, itu hanya omong kosong, ‘kan?”

“Oh iya, Luna bilang dia mau merasakan rasanya jadi pendamping pengantin. Dia mau jadi pendampingmu, kamu nggak keberatan, ‘kan?”

Ujarnya dengan santai, bahkan tak melihatku sedikitpun.

Dulu, aku sangat serius soal pernikahanku sendiri. Tentu saja, pendampingku dipilih dari sahabat-sahabat lamaku, bukan orang seperti Luna yang punya hubungan gelap dengan tunanganku.

Namun, pernikahan kali ini hanya sandiwara.

Jadi, aku hanya mengangguk dan tidak peduli lagi.

“Boleh.”

Jawabanku membuatnya kaget. Dia menatapku lama, lalu mendengus marah,

“Kuperingatkan, ya. Jangan buli Luna atau buat keributan lain!”

Tentu saja aku tidak berniat begitu.

Beberapa hari kemudian, pihak perencana pernikahan memintaku datang untuk coba gaun pengantin. Aku juga tidak menolak.

Luna juga ikut pergi.

“Wah, Kak Rani! Gaun ini cantik sekali! Boleh nggak … aku coba pakai?”

Luna berdiri terpukau di depan gaun pengantin model duyung yang dipenuhi berlian di tengah ruangan toko.

Memang sangat cantik. Saat pertama kali melihatnya, aku juga langsung terpesona.

Itu adalah gaun yang sengaja dipesan Calvin dari desainer ternama di luar negeri untukku. Dia bahkan rela menghabiskan uang untuk membeli 99 butir berlian dan menyuruh orang menjahitkannya satu per satu di gaun itu. Sungguh luar biasa mewah.

Calvin bilang, hanya aku yang pantas mengenakan gaun ini.

Di kehidupan sebelumnya, aku pernah larut dalam kebahagiaan palsu ini, hingga akhirnya kehilangan nyawaku.

Tapi kini, aku bahkan tak mengernyit dan hanya mengangguk santai.

“Boleh, anggap saja sekalian mewujudkan impianmu jadi pengantin.”

Melihat reaksiku yang begitu tenang, Calvin justru mengernyit, lalu betanya,

“Rani, ini gaun yang kudesain khusus untukmu, satu-satunya di dunia. Kamu benaran rela orang lain memakainya?”

Aku mengangkat alis, lalu menimpali santai,

“Hanya coba saja, masa gara-gara Luna pakai gaun ini, dia langsung menggantikan aku jadi pengantinmu?”

Mendengar ucapanku, wajah mereka berdua langsung berubah drastis.

Terutama Calvin, wajahnya memerah karena marah dan bam! Dia membanting tangannya ke atas meja.

“Rani, apa yang kamu bicarakan?!”

Aku hanya mengangkat bahu sambil tersenyum kecil.

“Aku hanya asal bicara saja. Lagipula, kamu sendiri yang bilang kalau Luna itu sahabat masa kecilmu, masa aku harus sepelit itu?”

Mendengar itu, kerutan di kening Calvin semakin dalam dan tatapannya terus menempel padaku, seolah berusaha membaca pikiranku.

Akhirnya, dia mendengus dingin,

“Yasudah, terserah kamu.”

Pada akhirnya, Luna berhasil mengenakan gaun pengantin itu, bahkan dengan semangat menarik Calvin untuk foto bersama sebagai kenang-kenangan.

Namun, sepanjang sesi foto, pandangan mata Calvin sesekali melirik ke arahku, terlihat jelas pikirannya melayang entah ke mana.

Aku tahu apa yang dia pikirkan. Dia heran kenapa aku tidak lagi menempel padanya, tidak lagi mempedulikannya seperti dulu.

Aku yang sudah terlahir kembali, hanya ingin bertahap hidup di kehidupan baru ini.

Tak lama kemudian, hari pernikahan pun tiba. Karena acara penjemputan dibatalkan, Calvin pun berangkat sendiri ke lokasi pernikahan.

Di tengah sorak-sorai para tamu, Calvin pun merasa agak gugup.

Dia merapikan dasinya, menatap pintu besar di depannya.

MC mengumumkan, di balik pintu itu, pengantin perempuan telah menunggunya.

Namun, saat pintu terbuka, sosok pengantin yang seharusnya berdiri di sana … malah menghilang.

Baca Cerita Lengkapnya Sekarang
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk menghadirkan lebih banyak cerita luar biasa Goodnovel
Buka Semua Bab
Cari "B16746" di goodnovel para membaca buku selengkapnya.
Salin kode dan cari di aplikasi NovelShort untuk melanjutkan membaca.
B16746
Salin

Mengubah Cinta Lampau Yang Menyakitkan

Bab 1
Bab
Sesuaikan
Bab Berikutnya