Bab 1
Aku mengalami kram menstruasi dan memesan obat pereda nyeri. Di aplikasi, pengantarnya tertulis seorang pengendara wanita, tapi yang datang ternyata seorang pria mabuk.
Kali ini, aku tidak menelepon dua kakakku untuk meminta bantuan. Langsung saja aku melapor ke polisi.
Di kehidupan sebelumnya, kedua kakakku bukan hanya memanggil semua pengawal pribadi yang ada, tetapi mereka sendiri juga buru-buru kembali.
Akibatnya, mereka melewatkan drama panggung yang dimainkan oleh adik angkat mereka.
Adik angkat mereka begitu sedih hingga dia menusukkan tombak mainan ke dirinya sendiri di atas panggung dan membuat dirinya terluka parah.
Kedua kakakku mencoba menghiburku, "Jangan merasa bersalah. Setidaknya kamu tetap selamat."
Namun, di balik itu, mereka mengikatku dan menyerahkanku kepada sekelompok pria mabuk.
"Cuma pria mabuk, 'kan? Kamu bisa mengusirnya sendiri. Kenapa harus manggil kami? Sekarang lihat akibatnya. Kalau Hilda meninggal, kamu juga jangan berharap bisa hidup!"
Ketika aku membuka mata lagi, aku kembali ke hari di mana pria mabuk itu mengetuk pintuku.
Kali ini, aku tidak menelepon mereka. Mereka akhirnya bisa menyaksikan drama panggung adik angkat mereka, memberi dukungan dan semangat. Namun, setelah drama itu selesai, mereka malah menyesal.
Tengah malam, pria mabuk di luar pintu mengetuk dengan suara yang menggema dan meruntuhkan suasana sepi malam itu.
Aku segera mendorong sofa, meja, dan semua furnitur ke depan pintu untuk memblokirnya. Namun, bibiku mulai memindahkan satu per satu benda itu dengan ekspresi tak sabar. Dia melirikku dengan kesal. "Kamu ini berlebihan sekali!"
"Kakakmu sudah janji mau nonton drama panggung Hilda. Sekarang mereka pasti sibuk, mana mungkin ganggu mereka! Kita buka saja pintunya dan usir dia langsung, selesai perkara!"
Melihat adegan ini, aku tiba-tiba menyadari satu hal. Aku telah mengalami hal ini sebelumnya. Aku telah kembali ke masa lalu. Di kehidupan sebelumnya, kejadiannya persis seperti ini.
Saat itu, aku baru saja pindah dari rumah setelah bertengkar dengan kedua kakakku. Tidak lama setelahnya, seorang pria mabuk yang menyamar sebagai kurir datang mengetuk pintu.
Kebetulan, kedua kakakku sedang menonton drama panggung adik angkat mereka, Hilda. Aku juga bertengkar dengan bibiku saat itu. Aku mati-matian menjaga pintu agar pria itu tidak masuk, tetapi bibiku tetap ingin membukakan pintu.
Di kehidupan sebelumnya, aku menelepon kakakku untuk meminta bantuan. Namun kali ini, aku memutuskan untuk mengandalkan diriku sendiri.
Saat aku mengambil ponsel dan hendak menelepon polisi, bibiku berlari ke arahku dengan ekspresi panik. Dia merampas ponselku. "Sudah kubilang, nggak perlu seribet itu!"
Aku tahu dia akan mencoba menghentikanku, jadi saat dia sibuk menyembunyikan ponselku, aku berlari ke ruang tamu. Aku mengambil telepon rumah dan mulai memutar nomor polisi.
Namun, sebelum aku sempat menyelesaikan panggilan, bibiku menekan telepon itu dengan kasar, memutus sambungan. "Ternyata kamu mau nelepon polisi?"
"Kamu sengaja mau memaksa kakakmu untuk pulang, 'kan? Tapi kalau kakakmu pulang, Hilda mau gimana?"
Dengan amarah yang membara, bibiku mengangkat telepon rumah itu dan membantingnya ke lantai. Dia bahkan menginjak-injaknya dengan keras hingga hancur. Lalu, dia meraih lenganku dan menyeretku ke arah pintu.
"Masalah kecil begini! Kalau kamu nggak tenang, kita buka saja pintunya dan lihat siapa dia!"
Tangannya sangat kuat. Aku tidak bisa melepaskan diri. Meskipun kakiku berusaha mengerem di lantai, dia menyeret tubuhku perlahan ke depan.
Pria mabuk di luar pintu yang mulai tidak sabar, mengetuk pintu semakin keras. Suara ketukan yang tajam itu seperti palu yang menghantam langsung ke jantungku.
Aku berkeringat dingin, tubuhku bergetar setiap kali mendengar bunyi itu. Namun, bibiku tidak peduli. Dengan keras kepala, dia terus menyeretku ke pintu.
"Jangan pikir aku nggak tahu apa rencana busukmu! Kamu cuma nggak suka melihat kedua kakakmu memperhatikan Hilda, 'kan?"
"Tapi Hilda itu yatim piatu! Dia nggak punya siapa-siapa. Kalau kamu nggak mau peduli, ya sudahlah. Tapi kenapa kamu selalu iri dan nggak bisa nerima dia!"
Aku telah mengenal bibiku hampir 20 tahun. Dia selalu sombong dan memandang rendah siapa pun. Namun entah kenapa, dia sangat peduli pada Hilda.
Setiap kali Hilda tampil, bibiku selalu muncul untuk merebut apa pun yang menjadi milikku dan memberikannya pada Hilda. Namun, aku tidak pernah menyangka bahwa dia bahkan tidak peduli pada nyawaku.
Di luar, suara pria mabuk semakin liar. Kata-kata kotor mulai terdengar jelas menembus pintu. Aku tahu, begitu pintu itu terbuka, aku pasti mati!
Bab 2
Aku berusaha menenangkan bibiku. Namun, dia menarikku dengan kuat ke depan seperti kerasukan. Seketika aku sadar, kemungkinan besar pemabuk itu adalah perbuatannya.
Dia tidak menyukaiku karena aku adalah anak angkat, dan kini dia rela berbuat sejauh ini, menggunakan tangan gelandangan untuk mencelakaiku. Aku merasa sangat putus asa. Apakah meskipun memulai kembali, aku tetap tidak bisa menghindari takdir disiksa hingga mati oleh pemabuk?
Di kehidupan sebelumnya, meskipun aku lolos dari tangan pemabuk, aku akhirnya tetap mati di tangan mereka. Aku diam-diam menelepon kakakku tanpa sepengetahuan bibi. Kakak yang mendengar permohonanku, membawa orang-orang dan menangkap pemabuk itu tepat waktu, sehingga aku berhasil selamat.
Namun, adik angkatku, Hilda, merasa ditinggalkan karena tidak melihat kakak kami hingga pertunjukan selesai. Merasa diabaikan, dia memilih menusuk tubuhnya sendiri dengan alat peraga di panggung.
Dia meninggal seketika.
Di pemakamannya, aku sangat sedih, tetapi kedua kakakku memelukku erat dan menghiburku. "Jangan salahkan dirimu, setidaknya kamu masih selamat."
Namun, pada malam itu juga, mereka mengikatku dan mengirimku kepada sekelompok pemabuk.
Di tengah kegelapan, mata kakak sulungku bersinar menyeramkan. "Kenapa kamu masih punya nyali untuk hidup di dunia ini?"
Kakak kedua menarik rambutku dengan marah. "Ini cuma pemabuk, kamu tinggal usir saja, kenapa harus panggil kami pulang? Kamu sengaja menelepon kami di depan kamera, bukankah untuk membuktikan bahwa kamu lebih penting?"
"Sekarang lihat hasilnya, Hilda sudah mati, kamu juga nggak layak hidup!"
Tujuh atau delapan tangan besar mulai menjamah tubuhku dan bajuku langsung terkoyak. Aku menahan tangis dan berusaha menjelaskan sekuat tenaga.
"Aku sama sekali nggak mikir sejauh itu! Aku cuma refleks teringat kalian waktu dalam bahaya! Kalau aku tahu drama itu lebih penting daripada nyawa, aku lebih baik mati sendiri!"
Sejak kecil, aku tumbuh besar bergantung pada kakak-kakakku. Demi bertahan hidup, kami berusaha sekuat tenaga. Tidak mungkin kami menyerah begitu saja.
Ketika aku tahu Hilda mengakhiri hidupnya hanya karena kakak kami tidak menonton pertunjukannya, aku sangat terkejut hingga tidak bisa berkata-kata. Yang lebih mengejutkan lagi, kakakku memilih mengorbankanku demi hal itu!
Tangan-tangan yang kasar menjelajahi tubuhku. Aku merasa malu dan marah hingga berharap kakak sulungku segera menghabisiku saja. Namun, dia justru tertawa pelan.
"Sejak kamu bermain trik kecil itu, kamu seharusnya sudah tahu hari ini akan datang!"
"Kalian semua, bersenang-senanglah dengannya. Kalau sampai dia mati, ada hadiahnya!"
Mereka semua pun pergi. Namun tak lama kemudian, kakak keduaku kembali. Harapanku seketika membuncah.
Namun, dia mengeluarkan beberapa pisau dan memaku keempat anggota tubuhku. Jeritanku memecah keheningan malam dan membuatnya puas. "Dasar licik, coba aku lihat trik apa lagi yang bisa kamu mainkan!"
Aku terkulai di lantai dan tenggelam dalam kesedihan, membiarkan orang-orang itu berbuat semaunya. Aku masih ingat saat Hilda baru datang ke rumah kami. Mereka bersumpah bahwa aku akan selalu menjadi satu-satunya adik mereka. Aku percaya. Namun pada akhirnya, hanya aku yang menjadi orang bodoh!
Suara pintu diketuk dengan keras membangunkan lamunanku. Aku menarik napas dalam-dalam untuk menenangkan diri. Bagaimanapun, bibiku sudah tua. Setelah berulang kali memaksakan diri, dia pun kelelahan dan terengah-engah.
Aku memanfaatkan kesempatan itu untuk menggigit tangannya dengan keras, lalu segera melepaskan diri dan berlari ke kamar tidur. Aku langsung mengunci pintu dan meninggalkan bibiku di luar yang marah-marah.
Saat kebebasan kembali kuraih, tubuhku menjadi lemas, dan aku terduduk perlahan bersandar di pintu. Harapan besar memenuhi hatiku. Ini adalah langkah pertama menuju keberhasilan. Kali ini, aku harus bertahan hidup!
Namun tiba-tiba, terdengar suara kunci yang sedang diputar di pintu.
Bab 3
Bibiku ternyata memiliki kunci kamar tidurku!
Begitu pintu dibuka, dia langsung menamparku dengan keras. Kemudian, dia menarik rambutku dan menyeretku keluar. Tepat saat itu, telepon rumah di dekat kakiku tiba-tiba berdering. Aku buru-buru menggunakan kakiku untuk mengangkat gagangnya dan menekan tombol pengeras suara.
Suara tetangga, Bibi Deslin, terdengar dari seberang dengan nada sedikit kesal. "Winona, tengah malam begini kenapa masih ribut? Ada apa di rumahmu? Siapa pria di luar itu? Suruh dia berhenti mengetuk pintu!"
Aku segera berteriak, "Bibi Deslin, tolong lapor polisi! Di dalam rumah ada orang yang mencoba membunuhku!"
"Pria mabuk di luar itu aku nggak kenal, kemungkinan dia komplotan penjahat! Kalau dia berhasil mendobrak masuk ke rumahku, berikutnya mungkin giliran rumahmu!"
Tuduhan penjahat itu hanyalah karanganku, tapi manusia cenderung baru peduli saat kepentingannya sendiri terancam. Benar saja, setelah mendengarnya, suara Deslin langsung meninggi. "Penjahat? Tunggu, aku akan segera telepon polisi! Kamu tahan dulu sebentar!"
Mendengar ucapan itu, bibiku langsung berhenti menyeretku. Dengan senyum pura-pura, dia menjawab, "Ah, penjahat apanya? Itu pengantar obat untuknya! Anak ini memang pandai mengarang cerita sekarang!"
"Aku ini bibinya. Dia cuma ngambek karena kakaknya lebih memperhatikan adik kecilnya yang tampil di drama panggung. Nggak perlu lapor polisi. Maaf kalau suara berisik ini mengganggu, sungguh, aku minta maaf!"
Tak lama kemudian, suara tawa lepas Deslin terdengar. "Ah, nggak apa-apa! Aku juga punya beberapa anak yang sering ribut, jadi aku mengerti."
"Tapi sudah larut malam, Winona, sudahlah jangan terlalu berlebihan. Aku pernah lihat adik kecilmu itu. Dia manis sekali. Kamu juga sudah besar, seharusnya bisa lebih dewasa sebagai kakak."
Bibiku melanjutkan basa-basi beberapa saat lagi. Sementara itu, aku semakin putus asa. Alasan mereka bisa bertindak begitu semena-mena adalah karena kompleks ini masih baru, tingkat hunian rendah, dan sebagian besar unitnya masih berupa bangunan kosong.
Jika aku kehilangan kesempatan dengan Bibi Deslin, akan sangat sulit berharap ada orang lain yang mendengar keributan ini.
Dari luar, suara pemabuk itu semakin keras. Tiba-tiba terdengar suara tajam, seperti benda tajam yang menghantam keras pintu anti malingku.