Bab 1
Pada bulan keempat aku mencoba program bayi tabung, teman masa kecil suamiku yang juga merupakan tetangga kami memosting selembar foto hamilnya.
[ Buah cinta kami. Sekeluarga bertiga. ]
Di foto itu, terlihat juga tangan suamiku yang membuat tanda hati bersamanya. Hal yang paling ironis adalah, jarinya masih mengenakan cincin pernikahan kami.
Aku meninggalkan sepatah kata “mantap” di kolom komentar postingan itu dan menambahkan emoji jari jempol.
Tidak lama kemudian, aku menerima telepon dari Jeremy, suamiku.
“Itu keinginan ibuku. Dia merasa risiko bayi tabung terlalu besar, sedangkan kamu juga menderita. Habis Sherine melahirkan, kita bisa adopsi anaknya.”
Aku hanya tersenyum sinis dan langsung memutuskan sambungan telepon tanpa mengatakan apa-apa. Selama 3 tahun pernikahan, kami masih belum memiliki anak. Setelah diperiksa, ternyata saluran tubaku tersumbat. Berhubung pengobatannya tidak membuahkan hasil, dokter menyarankan aku untuk mencoba program bayi tabung.
Aku sudah berusia 30 tahun dan memang ingin memiliki anak. Jadi, aku menahan rasa sakit dan pergi suntik setiap bulan hingga perutku memar-memar. Baru saja aku menunjukkan kemajuan di bulan ini, Jeremy malah memberiku kejutan sebesar ini. Pantas saja mertuaku kurang setuju saat kami berdiskusi untuk mencoba program bayi tabung.
Sherina adalah tetangga lama kami. Orang tuanya tinggal di kampung halaman mereka, sedangkan dirinya hidup sendiri di kota. Dia sudah berusia 26 tahun, tetapi masih belum memiliki pacar. Setiap kali bertemu dengan Jeremy, rasa suka di matanya terpampang sangat jelas.
Aku juga termasuk orang berpengalaman. Mana mungkin aku tidak menyadarinya? Hanya saja, aku dan Jeremy sudah menikah. Meskipun menyukai Jeremy, dia juga harus menyerah. Tak disangka, dia malah bersedia melahirkan anak untuk Jeremy. Selain itu, dia juga sudah hamil. Sejak kapan mereka mulai berhubungan?
Telingaku langsung berdengung. Aku tidak dapat menerima hal ini. Hasil pemeriksaan yang sedang kupegang benar-benar terasa bagaikan lelucon.
Saat Jeremy pulang, langit sudah gelap. Begitu menyalakan lampu, dia langsung menyadari aku yang masih duduk di sofa. “Kenapa nggak buka lampu?”
Aku tidak menjawab dan hanya menatapnya. Setelah sesaat, aku baru bertanya, “Sejak kapan? Maksudku anak itu. Kapan kalian melakukannya?”
Jeremy terdiam sejenak sebelum menjawab, “Waktu kamu lembur malam itu.”
Aku adalah seorang akuntan dan sudah biasa bekerja lembur. Tiga bulan lalu, perusahaan meminta kami untuk melakukan inventarisasi. Aku pun lembur sampai jam 2 dini hari. Saat pulang, aku tidak menemukan Jeremy.
Ketika meneleponnya, aku merasa suaranya terdengar agak aneh dan ada juga suara wanita. Dia mengatakan bahwa dia sedang menemani klien dan berada di bar. Pada saat itu, aku sudah sangat mengantuk. Ditambah dengan Jeremy biasanya tidak pernah macam-macam, juga bersikap baik terhadapku, aku pun tidak curiga. Tak disangka, kenyataan malah begitu kejam.
“Ternyata hari itu! Jeremy, apa yang kamu pikirkan? Begitu anak ini lahir, hubungan kita juga akan berakhir.”
“Kamu berpikir kejauhan. Dia cuma pengen punya anak, sedangkan kamu juga nggak bisa punya anak. Anggap saja anak itu sebagai ... sebagai .... “ Dia tidak menemukan kata yang cocok untuk mendeskripsikannya dan menjadi kesal.
“Duh, ngapain kamu berpikir kejauhan! Aku sudah 30 tahun. Memangnya kenapa kalau aku pengen punya anak! Dia masih muda, sehat, juga bersedia melahirkan anaknya. Kita juga nggak akan rugi. Buat apa kamu mempermasalahkannya!”
Aku sontak berdiri. “Jeremy, ini namanya selingkuh! Aku memang nggak bisa punya. Kalau kamu pengen punya anak, kamu boleh ceraikan aku, lalu menikahinya dan lahirkan anak kalian bersamanya secara terbuka!”
“Tapi, apa yang kamu lakukan sekarang? Memangnya kamu anggap Sherine itu alat untuk lahirkan anak? Kamu kira dia akan kembali ke posisi awalnya setelah lahirkan anak ini? Asal kamu tahu, nggak mungkin! Dia akan minta kamu nikahi dia dengan andalkan statusnya sebagai ibu dari anakmu!”
Aku menarik napas dalam-dalam dan melanjutkan, “Kamu pikirkan saja sendiri dengan baik. Bulan depan, aku nggak akan suntik lagi!”
Jeremy menatapku dengan ekspresi muram. “Nggak mau suntik, ya nggak usah. Lagian, ada banyak wanita yang bisa lahirkan anak!”
Seusai berbicara, dia langsung membanting pintu dan berjalan keluar. Aku berdiri di tempat dengan tubuh gemetar. Saat tersadar kembali, aku menyentuh wajahku dan merasa tanganku basah. Aku bahkan menangis demi pria itu?
‘Meliya, sejak kapan kamu berubah jadi begini!’
Bab 2
Aku menarik napas dalam-dalam, lalu mengepalkan tanganku. Orang yang melakukan kesalahan bukan aku, melainkan mereka. Selama anak itu lahir, aku bisa menuntut Jeremy melakukan poligami supaya dia dipenjara.
Begitu pikiran ini muncul di benakku, aku tidak dapat menepisnya lagi. ‘Jeremy, kamu dulu yang khianati aku!’
Dari aku mengenal Jeremy sampai menikahinya, waktu yang berlalu sudah 6 tahun. Pacaran 3 tahun, menikah 3 tahun. Aku kira, hubungan kami memiliki landasan cinta.
Dulu, waktu aku terjatuh dan lututku berdarah, dia akan merasa sangat sakit hati. Sekarang, gara-gara suntik, kulitku jadi alergi sehingga menjadi merah-merah dan bengkak. Setiap hari, aku merasa cemas hingga tidak bisa tidur dan rambutku juga rontok banyak. Namun, dia bukan hanya tidak peduli, malah berani tidur dengan tetangga.
Atas dasar apa dia melakukan hal ini?
Setelah memikirkan hal ini, aku segera menghubungi pengacara. Namun, balasan yang diberikannya langsung membuatku putus asa. Di tahap ini, aku akan sulit mendapatkan bukti. Selain itu, jika Jeremy tidak mengakui itu adalah anaknya, aku juga tidak berdaya. Jika ingin melakukan tes DNA, kedua orang itu harus melakukannya dengan status sebagai suami istri, juga harus ditemani saksi.
Hal ini membuatku sangat tidak berdaya.
Pengacaraku membujuk, “Sebaiknya kalian langsung cerai saja. Cari bukti perselingkuhan lebih gampang. Meski nggak bisa buat dia dipenjara, kamu bisa buat dia bangkrut.”
Pengacaraku menyuruhku untuk mempertimbangkannya dengan baik. Aku pun terlebih dahulu menyuruhnya menyiapkan surat cerai. Mengenai buktinya, aku pasti bisa menemukannya.
Setelah menenangkan diri, aku pergi ke ruang baca dan menyalakan komputer Jeremy. Sebelumnya, aku tidak pernah menyentuh komputernya karena sepenuhnya percaya padanya. Namun, demi mencari bukti, aku tidak peduli lagi sekarang.
Untungnya, kata sandi yang digunakannya adalah hari peringatan pernikahan kami. Ironis sekali. Setiap dia memasukkan kata sandi ini, entah dia ingat kenangan kami atau tidak.
Setelah masuk ke komputernya, aku mencari data yang tersimpan di dalamnya, tetapi tidak menemukan apa-apa. Aku berpikir sejenak dan membuka e-mail. Untungnya, dia adalah orang yang malas berpikir. Kata sandi yang digunakannya adalah kombinasi nomor rumah kami dengan inisial namanya. Ini pun memudahkanku mencari bukti.
Alhasil, aku benar-benar menemukan buktinya. Pengeluarannya yang besar selama beberapa bulan terakhir digunakan untuk membayar tagihan hotel, belanja di mal, toko perhiasan, dan toko baju. Totalnya lebih dari 400 juta.
Aku sama sekali tidak percaya pada ucapannya tadi. Aku pun menyalin semua bukti itu sambil menahan air mata. Setelah itu, aku mencoba untuk masuk ke WhatsApp-nya. Untung saja, WhatsApp-nya bisa masuk otomatis dari komputer. Aku pun membaca riwayat obrolannya dengan Sherine.
Setelah membaca percakapan mereka, aku mengepalkan tanganku erat-erat. Sejak aku tidak bisa hamil, obrolan kami berkurang banyak. Setiap hari, obrolan kami hanya seputar masalah makan di rumah atau tidak. Balasannya juga sangat singkat.
Aku kira dia sibuk bekerja dan memaklumi kesulitannya. Namun, dia ternyata bisa mengobrol dengan begitu gembira bersama Sherine. Mereka bahkan menganalisis tentang kenikmatan dan posisi di ranjang. Intinya, percakapan mereka sangat menggoda. Aku benar-benar tercengang.
Selain merasa muak, aku baru menyadari bahwa suamiku itu terasa sangat asing. Aku sama sekali tidak memahaminya. Aku bahkan tidak bisa membedakan sisi mananya yang tulus saat menghadapiku.
Aku memaksakan diri untuk berhenti berpikir dan menyimpan bukti-bukti itu, lalu menghapus semua jejakku sebelum mematikan komputernya. Baru saja aku kembali ke ruang tamu, dia sudah kembali. Aku mau tak mau merasa agak panik dan mencengkeram ponselku erat-erat.
Sementara itu, Jeremy menatapku dengan sedikit perasaan bersalah. Selanjutnya, dia berjalan mendekatiku dan memelukku. Aku sontak menangis.
“Meliya, aku juga nggak mau begini. Kamu nggak tahu seberapa besar tekanan yang kuhadapi. Ayah dan ibuku sudah berulang kali menyuruhku menceraikanmu, tapi aku nggak rela. Aku benar-benar nggak rela melepaskanmu. Aku sudah jelaskan semuanya pada Sherine. Dia akan pergi begitu melahirkan anaknya. Dia nggak mungkin sanggup besarkan anak ini seorang diri!”
Aku merasa sangat muak. Tepat pada saat aku hendak berbicara, terdengar suara ketukan pintu.
“Kak Jeremy, kamu ada di rumah?”
Itu adalah suara Sherine.