Bab 1
Teman masa kecil suamiku berkemudi saat mabuk dan menabrak orang tuaku hingga mati.
Aku ingin melapor polisi, tetapi suamiku malah menutup mataku dan membawaku ke ruang bawah tanah.
Selama tiga tahun, aku mengalami berbagai macam siksaan di tengah kegelapan. Setiap kali setelah disiksa, akan terdengar suara dingin seorang pria. "Yulia, kamu masih membencinya?"
Hingga suatu hari, aku berbaring di lantai yang dingin dan memohon ampun dengan orang di ujung telepon, "Nggak! Aku nggak membencinya lagi!"
Seketika, terdengar tawa bahagia suamiku di telepon.
Setelah aku keluar, aku menghindari pelukan suamiku. Saat aku mengusulkan perceraian, dia malah menggila.
Di ruang bawah tanah yang lembap dan gelap, aku duduk di sudut sambil menyeret kakiku yang terluka. Dinding yang basah menodai bajuku.
Pintu terbuka, memancarkan cahaya yang menyilaukan. Aku menutup mataku secara naluriah.
Ketika mendengar suara langkah kaki, aku tanpa sadar merangkak lebih dalam untuk bersembunyi. Saat berikutnya, terdengar suara seseorang. "Bu, Pak Jovan menyuruhku menjemputmu."
Aku mendongak dan melirik orang yang menghampiriku. Itu adalah pengawal yang sudah bekerja untuk Jovan selama bertahun-tahun.
"Ya." Aku menunduk dan mengangguk. Dengan susah payah, aku bangkit dan berjalan dengan satu kaki yang pincang.
Pengawal itu tampak terkejut. "Bu, kakimu kenapa?"
Tanganku mencengkeram erat lipatan celanaku. Dengan kepala tertunduk, aku menyahut, "Tadi terbentur lemari. Sepertinya ada patah tulang."
Pengawal itu menatapku dengan heran. "Kenapa nggak kasih tahu Pak Jovan?"
Aku hanya tersenyum pahit tanpa menjawab. Apa yang mau dibilang? Memangnya Jovan akan membiarkanku pergi berobat? Atau memanggil dokter untukku?
"Biar kupapah ya." Pengawal itu maju untuk membantuku. Ekspresinya terlihat agak rumit.
Tidak lama setelah keluar dari ruangan gelap itu, aku melihat Jovan dan Hanum turun dari mobil.
"Jovan, sudah kubilang dia cuma pura-pura supaya kamu kasihan padanya. Lihat, dia sampai minta orang memapahnya," ujar Hanum.
Jovan lantas memandang ke arahku. Dia tidak mengatakan apa pun, tetapi tatapannya terlihat bangga. Kemudian, dia bergegas menghampiriku. Ketika sudah dekat, dia tiba-tiba merentangkan kedua tangannya.
Aku sontak terkejut dan buru-buru menghindar dari pelukannya. Aku membungkukkan tubuhku, seolah-olah tidak merasakan rasa sakit pada kakiku.
"Jangan pukul aku lagi! Tolong jangan! Aku sudah salah!" seruku.
Jovan masih merentangkan tangannya. Ekspresinya dipenuhi ketidakpercayaan. Dia perlahan-lahan menurunkan tangannya, lalu bertanya kepada pengawal di samping, "Ada apa ini?"
Pengawal juga terkejut dengan reaksiku yang mendadak. Begitu mendengar pertanyaan Jovan, dia baru tersadar. "Bu Yulia ..."
"Jovan!" panggil Hanum tiba-tiba. Jovan tanpa sadar menoleh ke arah sumber suara. Pengawal pun tidak jadi berbicara.
"Yulia, jangan-jangan kamu dendam sama Jovan karena dia mengurungmu di sini untuk introspeksi diri? Kamu berakting seperti ini supaya dia merasa bersalah?"
"Sudahlah, jangan berpura-pura lagi. Karena kamu sudah mengakui kesalahanmu, aku dan Jovan juga nggak akan mempermasalahkan hal itu lagi." Hanum menekankan ucapannya.
Saat berikutnya, tubuhku bergetar tanpa henti. Hanum terkekeh-kekeh. "Lihat, apa yang kubilang tadi, Jovan?"
Aku tidak bangkit dan tetap berjongkok. Suara Jovan yang dingin tiba-tiba terdengar dari atas kepalaku. "Yulia, sudah 3 tahun. Kamu masih belum introspeksi diri?"
Bab 2
"Sudahlah, Jovan. Jangan marah lagi. Kita harus bertemu orang sebentar lagi. Kita pergi saja dulu."
Jovan menatapku yang masih berjongkok di tempat. Dia menggenggam ponselnya dengan erat, lalu berkata dengan kesal, "Yulia, kalau kamu nggak mau berubah, jangan pernah muncul lagi di depanku!"
"Selama tiga tahun ini, apa saja yang sudah kamu lakukan sebagai istri? Hanum yang selalu menemani dan merawatku. Kalau nggak ada dia, aku mungkin sudah nggak bisa bertahan. Kamu rasa kamu masih pantas untukku?"
Usai melontarkan itu, Jovan meraih tangan Hanum dan berbalik pergi. Hanum menyunggingkan senyuman sinis kepadaku. Dia menggerakkan mulutnya untuk mengucapkan kata "loser" tanpa suara.
Sekujur tubuhku gemetaran melihat keduanya pergi bersama.
"Bu! Jari kelingkingmu kenapa?" Aku perlahan-lahan menunduk melihat jari kelingking kananku.
Tiga tahun berpisah, Jovan selalu pergi dengan terburu-buru saat datang melihatku. Bahkan, dia tidak menyadari ada yang salah dengan kakiku, apalagi jari kelingking kananku yang terpelintir.
Aku tersenyum mencela diri sendiri. "Nggak apa-apa, cuma patah dan belum disambung."
"Aku antar kamu ke rumah sakit." Pengawal memapahku.
Sekujur tubuhku terasa lemas. Aku hanya bisa bersandar di tubuh pengawal.
Tiga tahun lalu, Hanum muncul di sisi Jovan. Aku tahu Jovan punya teman perempuan masa kecil yang sangat dekat dengannya. Kemudian, keluarga wanita itu mengalami masalah dan mengirimnya ke luar negeri. Selama bertahun-tahun, Jovan tidak pernah berpacaran ataupun dekat dengan wanita.
Aku tahu Jovan sedang menunggunya, sementara aku juga sedang menunggu Jovan.
Selama bertahun-tahun itu, keluargaku memperkenalkanku kepada banyak pria, tetapi aku menolak semuanya dengan halus. Orang tuaku hampir mengira aku lesbi, hingga suatu hari Jovan datang mencariku di tengah hujan deras.
"Yulia, aku nggak akan tunggu lagi. Apa kamu punya pria yang kamu sukai? Kalau nggak ada, gimana kalau menikah denganku saja?"
Aku sungguh bersemangat saat itu. Aku langsung memeluknya dengan erat. Jovan tidak akan tahu betapa aku mencintainya saat itu. Aku memberikan segalanya, berusaha menjadi istri yang baik dengan selalu merawatnya.
Seiring berjalannya waktu, semua pengorbananku akhirnya mendapat hasil yang baik. Namun, semuanya berubah setelah Hanum kembali.
Aku sudah menemukan saksi mata. Yang menabrak orang tuaku adalah Hanum. Dia berkemudi sambil mabuk. Karena takut, dia menabrak orang tuaku lagi sampai mati!
Namun, Jovan sama sekali tidak percaya. Dia bahkan membela Hanum mengatakan mereka bersama sepanjang malam itu. Dia juga menyuap saksi mata untuk mengubah pernyataan.
Aku sebatang kara, dianggap gila karena cemburu. Aku tidak akan pernah melupakan masalah ini untuk selamanya.
Hari itu saat tiba di rumah sakit, aku melihat dua jasad yang sudah tidak bisa dikenali.
Aku juga tidak akan pernah lupa bagaimana Jovan menipuku dan membawaku ke ruang bawah tanah yang gelap gulita! Dia mengurungku dengan kejam!
"Yulia, kamu terlalu emosional. Kamu butuh ketenangan."
....
"Gimana kamu bisa cedera seperti ini?" tanya Dokter sambil mengernyit. Kemudian, dia melirik pengawal di samping. "Kamu keluarga pasien?"
Pengawal memaksakan diri untuk mengangguk.
"Cederanya sudah begitu lama. Kenapa baru datang sekarang? Meskipun jari kelingking ini disambung, hasilnya nggak bakal kembali seperti semula. Terus, kakimu kenapa?"
Aku perlahan-lahan mendongak dan melirik pengawal. Aku tahu dia hanya mengikuti instruksi Jovan. Itu sebabnya, aku tidak mengungkapkan apa yang terjadi di ruang bawah tanah.
Jika tidak, Jovan tidak akan pernah memberitahuku di mana dia menguburkan orang tuaku.
Bab 3
Pengawal mengantarku kembali ke vila, lalu pergi. Sebelum membuka pintu, aku melihat dia memasukkan kode sandi. Itu bukan kode sandi yang dulu karena sudah diganti dengan ulang tahun Hanum.
Aku berjalan tertatih-tatih, memandang seisi rumah. Segalanya tampak sama dengan tiga tahun lalu, tetapi juga terasa berbeda.
Di depan pintu terdapat sepasang sandal pria dan wanita. Sandal pria itu milik Jovan, yang wanita milik Hanum.
Di kamar tidur Jovan, terdapat dua bantal. Sementara itu, lemari sebelah kiri berisikan pakaian Jovan, sebelah kanan berisikan pakaian Hanum.
Di kamar mandi, terdapat dua sikat gigi dan gelas kumur. Ada juga produk perawatan wanita yang banyak.
Semua ini seakan-akan memberitahuku bahwa Jovan dan Hanum sudah lama tidur bersama.
Ketika pintu terbuka, aku sudah keluar dari kamar yang sudah lama bukan milikku. Tampak dua sosok yang berpelukan dan berciuman di bawah cahaya bulan.
Tap! Aku menyalakan lampu ruang tamu. Seketika, wajah Hanum dipenuhi keterkejutan. Jovan refleks mendorong Hanum.
"Kapan kamu kembali?" tanya Jovan mengusap dahinya. "Aku minum terlalu banyak. Kalau Hanum nggak mengantarku pulang, entah gimana aku bisa bebas dari para pemabuk itu."
Kemudian, Jovan mengernyit dan menatapku. "Yulia, seharusnya ini tugasmu. Kalau kamu nggak menggila waktu itu, mana mungkin aku sesulit ini selama bertahun-tahun."
Aku hanya berdiri di tempatku, mendengarkan keluhan Jovan yang tanpa henti. Hingga akhirnya, Hanum keluar dari dapur dan membawakan secangkir air hangat.
"Minum air hangat dulu supaya tenggorokanmu nggak kering." Jika dibandingkan dengan kelembutan Hanum, aku terlihat sangat menyedihkan. Hanum lebih seperti istri yang penuh perhatian dan penuh kasih sayang.
Jovan merasa gusar. Dia menghela napas, lalu meminum air yang diberikan Hanum.
"Hanum sedang mencari tempat tinggal yang cocok. Sebelum ketemu, dia akan tinggal di rumah kita."
Ketika Jovan mengira aku tidak akan merespons, aku malah berkata, "Aku tahu, kamarmu penuh dengan barangnya."
Ekspresi Jovan sontak membeku. Dia melemparkan gelas di tangannya. "Kamu masuk ke kamarku?"
Suara rendah yang disertai suara pecahan kaca itu seolah-olah mengembalikanku ke ruang bawah tanah yang gelap gulita. Pikiranku hampa. Tanpa sadar, setelah mendengar pertanyaan itu, aku langsung meminta maaf, "Maaf! Maaf!"
Jovan termangu beberapa saat, lalu mendekat dengan alis berkerut. "Yulia, kamu kenapa? Aku cuma tanya biasa."
Aku tidak berkata apa-apa. Yang merespons adalah Hanum. Wanita itu menghela napas dan berujar, "Hais ... Kak Yulia, kamu nggak perlu begini. Aku nggak nyangka kamu begitu membenciku. Meskipun tiga tahun sudah berlalu, kamu masih begini. Jangan bilang kamu berakting untuk menipu Jovan?"
Jovan seolah-olah tersadar setelah mendengar ucapan Hanum. "Apa itu benar, Yulia? Sudah kubilang berkali-kali, saat itu aku sedang sibuk dan Hanum menemaniku."
"Kenapa kamu nggak percaya? Asal kamu tahu, kamu hampir mencelakai Hanum. Kariernya yang menjanjikan menjadi hancur karena kamu menuduhnya sebagai pembunuh. Dia menjadi bahan omongan orang."
"Apa kamu tahu betapa besarnya kerugian yang kamu timbulkan untuknya? Kamu ini jahat sekali. Kamu ... kamu pasti nggak tahu, Hanum hampir bunuh diri gara-gara kamu!"