Bab 2
Suamiku segera menghampiriku, menarikku berdiri, dan menatap wajahku dengan raut yang muram.
"Hilda, siapa yang memukul wajahmu?"
Wajah suami saya penuh amarah. Dengan mata berkaca-kaca, saya menggenggam tangannya dan menggeleng pelan. "Sudahlah, kita pergi saja!"
Ibu besanku tertawa dingin. "Pergi? Apa aku bilang kalian boleh pergi? Hilda, jangan pikir kamu hebat hanya karena punya pendukung. Pas sekali, kalian berdua sujud saja sekalian!"
Mendengar itu, aku langsung menyesal datang ke sini.
Aku menggenggam tangan suamiku erat-erat. "Maaf, aku menyeretmu dalam masalah ini!"
Dia menepuk punggungku, menarikku ke pelukannya, dan menatap orang-orang yang mulai mengelilingi kami. Wajahnya langsung berubah serius. "Coba saja kalau ada yang berani menyentuhnya!"
Ibu besanku mendengus dingin, lalu saat itu juga bapak besan keluar.
"Ada apa ribut-ribut begini? Para tamu sudah datang, kenapa nggak masuk saja?"
Pria itu bahkan tidak memandangku, langsung menarik ibu besan untuk masuk ke dalam.
Namun, ibu besan tidak terima. "Pak, ini semua gara-gara Hilda! Wanita ini bawa sial. Di hari baik seperti ini, dia malah menangis di pintu. Aku suruh dia sujud di depan pintu, tapi dia malah melawan!"
"Benar, Ayah! Dia malah mengaku-ngaku sebagai nenek si bayi. Sama sekali nggak menghormati Ibu!"
Wajah Yana penuh kebencian. Bapak besan, Benny Yogantara, menatap tajam ke arahku, membuatku ketakutan hingga tanpa sadar mundur.
Namun, aku justru terjatuh ke pelukan suamiku.
"Benny, hari ini kami datang membawa hadiah. Beginikah caramu memperlakukan tamu?"
Benny langsung tertawa sinis. "Tamu? Kalian pikir kalian itu tamu?"
"Hilda, anakmu itu menantu yang menumpang hidup di keluarga kami. Jadi, dia sudah ‘terjual’ ke Keluarga Yogantara. Dan kamu sendiri sudah menikah lagi. Jadi, kamu sama sekali bukan keluarga kami!"
Sambil berkata demikian, dia mengeluarkan beberapa lembar uang dari sakunya dan melemparkannya ke arahku. "Ambil uang ini dan pergi! Ini uang hasil anakmu menjual diri. Mulai sekarang, jangan sampai aku melihat wajahmu lagi!"
Aku menatap uang yang berserakan di lantai dan melihat sekeliling. Dadaku bergemuruh. "Kalian ... kalian benar-benar keterlaluan!"
Suamiku menepuk bahuku dan berkata kepada mereka, "Benny, ingat kata-katamu hari ini. Jangan sampai kamu menyesal di kemudian hari!"
"Menyesal? Dalam Keluarga Yogantara, nggak ada tempat untuk orang seperti kalian!"
Benny memandang Yana sambil berkata, "Keluarga miskin seperti ini, aku nggak tahu apa yang kamu pikirkan dulu sampai memilih dia!"
Putraku, Candra Hutama, yang berdiri di samping tampak gelisah. Dia bergerak membuka mulut untuk berkata sesuatu, tetapi akhirnya hanya menatapku dan Yana dengan mata berlinang. "Bu, ini semua salahku yang nggak berguna."
Hatiku terasa tercabik-cabik. Suamiku berkata dengan tegas, "Candra, kamu harus ingat! Meski kamu itu menantu di rumah mereka, itu bukan berarti kamu kehilangan harga diri!"
"Ibumu diperlakukan seperti ini. Sebagai anak, jangan pernah berpihak pada mereka!"
"Kalau memang harus, kita putuskan hubungan ini! Tapi penghinaan ini harus kita balas!"
Perkataan suamiku membuatku tercengang. Aku menatapnya dan melihat sorot matanya yang tajam. Tatapan itu membuatku tertegun.
Aku belum sempat bereaksi ketika mendengar Benny tertawa terbahak-bahak. "Cukup! Kalian itu cuma ibu rumah tangga dan pensiunan tua, mau berpura-pura jadi pahlawan besar?"
"Hari ini keluarga kami sedang merayakan kelahiran bayi. Aku tidak akan mempermasalahkannya!"
"Cepat pergi!"
Aku hendak pergi, tetapi suamiku menarikku. "Pergi? Hah! Setelah memukul orang, kalian masih bisa sombong begini? Ini nggak bisa aku biarkan!"
Aku ketakutan. "Sudahlah, Jodi. Kita nggak bisa melawan mereka!"
Jodi Kusuma menepuk punggung tanganku. Di saat berikutnya, suara sirene polisi terdengar dari luar.
Wajah Benny dan ibu besan langsung berubah drastis.
"Berani-beraninya kamu melapor polisi!"
"Bukan Cuma melapor polisi. Aku juga akan memastikan nggak ada lagi yang mau bekerja sama dengan Keluarga Yogantara!"
Bab 3
Kata-kata Jodi membuatku terpana. Ini ... bagaimana mungkin?
Aku merasa gelisah, tetapi dia menggenggam tanganku dengan lembut.
Sudahlah, dia berkata begitu pasti demi membelaku.
Aku berdiri di sampingnya, sementara orang-orang di sekeliling kami tertawa terbahak-bahak, seolah-olah mengejek kami yang dianggap tidak tahu diri.
Saat polisi tiba, Jodi meminta agar aku diperiksa untuk bukti kekerasan. Benny berkata dengan dingin, "Bukannya kalian cuma mau uang? Bilang saja mau berapa!"
Jodi berkata dengan tegas, "Uang? Kami nggak kekurangan. Yang memukul harus bertanggung jawab!"
"Ini hotel, periksa saja rekaman CCTV-nya. Jangan biarkan siapa pun lolos!"
"Pak ...."
Jodi menatapku. "Tenanglah, selama aku di sini, nggak ada yang bisa memperlakukanmu semena-mena!"
Mendengar itu, aku merasa agak terhibur, tetapi tetap saja, mereka kaya dan berkuasa. Kami nggak akan mampu melawan mereka.
"Sudahlah, aku nggak mau bikin Candra tertekan."
Mendengar itu, Benny mencemooh, "Lagaknya saja omong besar!"
Polisi menjalankan prosedur sesuai aturan, tetapi pihak hotel malah mengklaim bahwa CCTV-nya rusak.
Mendengar kabar itu, aku sama sekali tidak terkejut, tetapi Jodi terlihat marah. "Di mana manajer hotel? Suruh dia keluar! Kenapa CCTV bisa rusak tepat di saat seperti ini? Aku nggak percaya!"
Benny tertawa di samping. "Sudah kukatakan, jangan buang-buang tenaga! Tapi tetap saja sok besar kepala!"
"Hilda, cepat pergi!"
Jodi marah, tinjunya terkepal. "Kalian tunggu saja, Keluarga Yogantara! Dan kamu juga!"
Dia berbicara kepada manajer hotel dengan nada yang penuh amarah.
Aku belum pernah melihat Jodi seperti ini sebelumnya, tegas dan penuh wibawa. Namun, aku merasa makin cemas, karena kami hanyalah keluarga biasa. Bagaimana mungkin kami bisa melawan mereka?
Mendengar itu, orang-orang di sekeliling kami tertawa keras. "Hei, Pak Tua, jangan terlalu sombong! Tahu nggak, orang yang kamu hadapi ini Pak Benny!"
"Benar! Coba lihat dirimu di cermin dulu. Berani-beraninya melawan Pak Benny!"
"Aku rasa dia sudah mau mati dan mulai linglung!"
Orang-orang makin keterlaluan. Aku tidak tahan lagi. "Apa yang kalian katakan?"
Benny berkata kepadaku, "Cukup, masih belum cukup memalukan? Candra, suruh ibumu pergi!"
Candra menatapku dengan wajah penuh kesedihan. Dia ragu-ragu, tetapi tetap tidak berkata apa-apa.
Jodi tetap tenang. Dia langsung mengeluarkan ponselnya dan menelepon, "Hentikan proyek Grup Mitra Sejahtera di Distrik Barat!"
Benny mencibir, "Hilda, menjual anakmu saja sudah cukup memalukan, sekarang kamu malah dapat pasangan yang suka berlebihan!"
Aku juga merasa gugup, tetapi di depan orang lain, aku dan Jodi adalah satu kesatuan!
Aku baru akan bicara ketika ponsel Benny berbunyi. Setelah menjawab panggilan itu, wajahnya langsung berubah.
"Apa?! Maksudnya Pak Jodi?"
Dia tersentak mundur, menutup telepon, dan menatap Jodi dengan ekspresi bingung. "Kamu ... Pak Jodi .... Itu nggak mungkin!"
Tatapan Jodi berubah tajam, menyapu orang-orang di sekitarnya. Semua yang sebelumnya menertawakan kami kini terdiam kebingungan.
Jodi berkata dengan dingin, "Rekaman CCTV-nya masih ada?"
"Siapa yang sebenarnya memukul?"
Benny menggertakkan gigi. "Nggak mungkin! Mana mungkin kamu itu Pak Jodi Kusuma?"
Jodi menjawab dengan dingin, "Kenapa nggak mungkin? Benny, hari ini kamu mempermalukan Hilda. Aku pasti akan menuntut keadilan!"
"Pilih sendiri, proyek atau reputasi keluarga kalian!"
Yang dimaksud dengan "keluarga kalian" tentu saja adalah Yana dan ibu besan.
Mendengar itu, Yana tidak percaya. "Ayah, mana mungkin? Hilda itu cuma wanita tua setengah baya. Jika dia benar-benar Pak Jodi Kusuma, mana mungkin dia memilih wanita tua seperti itu?"
Aku terkejut. Tidak kusangka putri orang kaya ini begitu kasar dan tidak sopan.
Di sampingku, Jodi tidak memedulikannya. Dia langsung mengambil ponselnya dan mengetik sesuatu.
Tak lama kemudian, seseorang bergegas masuk.
"Pak Benny, ini gawat! Pak Donny marah besar! Dia bilang Bapak sudah menyinggung seorang tamu penting dan harus segera minta maaf!"
Mendengar itu, Benny baru percaya. Dia langsung berlutut kepada Jodi.
"Pak Jodi! Aku salah!"
"Aku benar-benar salah!"
Orang-orang yang tadinya menonton kini saling berpandangan. Tidak ada yang menyangka bahwa pria paruh baya berpakaian sederhana itu ternyata adalah Presdir Grup Sinar Mulia.
Aku pun kebingungan. Jadi, Jodi adalah Pak Jodi itu?
Jodi menatapnya. "Kalau sudah tahu salah, kamu tahu apa yang harus dilakukan, bukan?"
Dia berbalik memarahi Yana, "Hilda itu ibu mertuamu! Bagaimana bisa kamu begitu nggak sopan? Cepat minta maaf!"
Wajah Yana memerah. "Ayah, dia cuma penipu!"
"Foto Presdir Grup Sinar Mulia ada di situs mereka. Cek saja, pasti ketahuan!"
"Diam!"
Benny membentaknya, tetapi ibu besan sudah mengeluarkan ponselnya. Setelah melihatnya, dia langsung berteriak.
"Lihat! Foto Presdir Grup Sinar Mulia bukan dia! Dan nama keluarganya juga bukan Kusuma!"