Bab 2
Aku menatap diriku di cermin. Kulit putih mulus dan tubuh sintal yang sempurna membuat siapa pun pasti akan memujiku sebagai wanita penggoda.
Tapi, aku yang sesempurna ini justru diabaikan hingga terpaksa harus memuaskan diri sendiri.
Di depan cermin, aku mengangkat sebelah kaki dan menggigit bibir merahku dengan liar.
Teringat ucapan ibu mertua yang menyuruh suaminya mencari wanita lain, aku ingin sekali berteriak, "Cari aku saja!"
Aku jauh lebih bersih dan jauh lebih membutuhkan daripada wanita mana pun di luar sana!
Astaga, apa yang kupikirkan? Dia itu ayah mertuaku sendiri.
Namun, makin aku melarang diri, hasrat ini makin menjadi hingga mulutku lancang berteriak.
"Yah .... ah ... ayah cepet lakuin itu ke aku ... lakuin sampai aku mati ...."
Sensasi terlarang ini memberiku gairah yang belum pernah ada hingga gerakan tanganku menjadi makin cepat dan tak terkendali.
Aku bahkan tidak sadar suaraku sudah sangat melengking dan memalukan.
Sampai tiba-tiba, pintu kamar mandi terbuka perlahan.
Aku panik sampai pucat pasi dan langsung menghentikan gerakan, tapi desahan tertahan tetap lolos dari bibirku.
Begitu tatapan beradu, aku merasa ingin mati saja karena malu. Orang itu tidak lain adalah ayah mertuaku sendiri.
Saat melihat tatapannya menggelap, aku baru sadar kalau gaun tidurku masih tersingkap sampai mata kaki.
Dia pasti mendengar teriakanku tadi. Melihatku seperti ini, orang bodoh pun tahu apa yang baru saja kulakukan.
Aku benar-benar ingin menghilang dari bumi karena dia adalah ayah dari suamiku!
Ayah mertuaku sendiri.
Tadi aku memanggil namanya sambil memuaskan diri dan memintanya melakukan hal itu padaku.
Dia pasti mendengar semuanya. Aku berfantasi tentangnya sambil menghibur diriku sendiri.
Bagaimana aku bisa menatap wajahnya lagi sementara kami tinggal di satu atap.
Dia pasti menganggapku wanita murahan yang menginginkan mertuanya sendiri.
Dengan panik aku menarik gaun untuk menutupi bagian pribadiku yang sudah sangat basah.
Sambil menunduk malu dengan wajah semerah kepiting rebus, aku berbisik, "Ayah, ma ... maaf ...."
"Ayah nggak bakal rendahin aku, 'kan?"
"Nggak," jawabnya lembut, "tapi apa kamu lagi berantem sama Leon? Kenapa ...."
Untungnya dia tidak membahas teriakanku tadi. Entah dia benar-benar tidak dengar atau pura-pura tidak tahu.
"Aku ...."
Aku tergagap dengan keringat dingin yang mulai bercucuran.
Mengingat tatapan jijik suami dan malam-malam penuh siksaan, aku ingin sekali berterus terang agar ayah mertua bisa membantuku.
Namun, kata-kata itu seolah tersangkut di tenggorokan.
"Ada apa sebenarnya? Bilang saja sama Ayah, Ayah pasti bisa bantu."
Dia mendekat dan menepuk bahuku lembut sambil memintaku untuk tidak merasa takut.
Aura dewasa dan menenangkan darinya tiba-tiba memberiku keberanian yang besar.
Akhirnya, aku pun menceritakan penyakit memalukanku dengan suara sekecil bisikan.
Dia tampak terkejut dan berkata bahwa otot kewanitaan seharusnya punya kemampuan pemulihan yang kuat setelah robek.
Kondisiku yang sama sekali tidak bisa mencengkeram itu dianggapnya sebagai hal yang langka.
"Gini saja, biarin Ayah periksa dulu untuk lihat gimana detail kondisinya."
Apa? Aku merasa seperti salah dengar.
Meski tadi aku sudah berani bercerita, tapi menunjukkannya langsung kepada ayah mertua tetap terasa mustahil bagiku.
Melihatku ragu, dia membujuk dengan sangat sabar.
"Wajar kalau kamu malu. Ayah memang laki-laki dan ayahnya Leon, tapi Ayah ini dokter kelamin. Ayah sudah biasa lihat yang kayak gitu, jadi nggak usah terlalu dipikirkan."
Karena aku masih ragu-ragu, dia berkata lagi, "Kalau kamu malu, biar Ayah saja yang bantu."
Seketika, dia langsung menggendongku untuk duduk di atas meja wastafel.
Belum sempat aku bereaksi, dia sudah menyingkap gaun tidurku dengan satu sentakan.
Pakaian dalamku sudah lama terlepas dan kini semuanya terpampang nyata tanpa penghalang apa pun.
Bab 3
Ayah mertuaku bertindak terlalu langsung hingga wajahku memerah karena malu.
Aku hampir tidak percaya suatu hari nanti akan seterbuka ini di hadapan ayah mertuaku sendiri.
Aku melihat tatapannya terpaku pada bagian itu, sementara jakunnya naik turun dengan suara menelan ludah yang sangat keras.
Aku merasa sangat malu. Aku refleks menggunakan kedua tanganku untuk menutupi bagian depan.
Dia perlahan menyingkirkan tanganku, "Nurut kata Ayah, biar Ayah periksa kamu."
Sambil berkata begitu, tangannya langsung menyentuh bagian itu layaknya seorang petugas pemeriksa. Dia membuka dan meraba teksturnya secara detail bahkan merasakan ketebalannya.
Dia bahkan tidak memakai sarung tangan saat telapak tangannya yang besar dan kasar itu menyentuhku.
Tubuhku mendadak bergetar hebat karena aku merasakan gelombang panas muncul seketika di dalam tubuhku.
Aku merasa ini pertanda buruk karena aku akan segera bereaksi. Aku ingin menghentikannya tapi tubuhku terasa lemas bahkan mataku terus melirik ke arah tubuh ayah mertuaku.
Ayah mertuaku hanya memakai celana pendek besar dengan tubuh bagian atas polos. Otot perutnya yang berjumlah delapan kotak serta pinggangnya yang kokoh terlihat sangat jelas, bahkan ada bulu halus di sekitar pusarnya.
Aroma hormon yang sangat kuat menerjang indra penciumanku, aku langsung bergairah dan api besar seolah membakar tubuhku.
Setelah serangkaian pemeriksaan, ayah mertuaku akhirnya menyimpulkan, "Kamu kena penipisan jaringan otot pascapersalinan, atau biasa disebut sindrom relaksasi."
"Orang normal biasanya cuma bisa masuk dua sampai tiga jari, tapi punya kamu bisa masuk satu tangan penuh. Punya Leon paling cuma 10 senti, hubungan kalian pasti nggak harmonis, ya?"
Aku mengangguk dengan perasaan sedih, "Iya Yah, dia nggak mau nyentuh aku, makanya tadi aku ...."
"Jangan terlalu khawatir, ada cara untuk sembuh. Cuma Ayah nggak tahu, ada nggak pria yang cocok untuk bantu terapi kamu."
"Ada kok, Leon 'kan bisa," kataku dengan polos.
"Tapi bukannya tadi kamu bilang kalian nggak cocok? Terapi yang mau Ayah kasih itu harus cari pria yang ukurannya pas sama kamu, terus kalian harus coba selama seminggu penuh tanpa putus sehari sekali."
"Hah?"
Terapi macam apa ini, bukannya ini sama saja dengan berselingkuh?
Lagi pula kondisiku sangat longgar, mana mungkin ada pria yang ukurannya cocok denganku.
Melihatku ragu, ayah mertuaku tiba-tiba berkata, "Pria yang ukurannya kayak gitu memang jarang. Gini saja, biar Ayah yang bantu kamu coba karena Ayah punya sindrom ukuran besar di bagian itu yang sangat cocok untuk kamu."
Hah?
Ternyata dia benar-benar menderita sindrom kebesaran?
Tapi, kami ini mertua dan menantu, apa hal seperti ini diperbolehkan?
Aku merasa sangat ragu, "Tapi ... tapi ...."
Ayah mertuaku menjawab dengan nada yang tidak bisa dibantah, "Nggak usah tapi-tapian lagi. Kalau nggak segera diobati, bagian itu bakal makin longgar ...."
Setelah berkata demikian, dia langsung menarik kedua kakiku hingga terbuka lebar.
Aku berada dalam posisi yang sangat memalukan tepat di hadapannya.
Detik berikutnya, ayah mertuaku sudah tidak sabar untuk melepaskan celana pendeknya.
Seketika itu juga, sesuatu yang sangat besar muncul dengan tiba-tiba.
Napasku seolah berhenti karena ukurannya memang sangat tebal dan panjang ....
Meski aku merasa longgar, aku tetap takut apa akan mati jika dimasuki benda sebesar itu?
Melihat tubuh ayah mertuaku yang perkasa serta asetnya yang luar biasa, gairahku telah terbakar sepenuhnya.
Padahal ibu mertua ada di luar sana, tapi stimulasi gila ini membuatku hampir kehilangan akal sehat.
Tatapan ayah mertuaku tampak terobsesi dan dia sudah kehilangan sisi elegannya. Matanya memerah dan napasnya memburu seperti binatang buas sambil mengarahkan miliknya tepat ke bagianku yang sedang gemetar ....