Bab 1
Aku seorang wanita dengan hasrat seksual yang sangat kuat. Meski tidak melakukan pemeriksaan di rumah sakit, aku tahu kalau diriku pasti kecanduan seks.Terutama pada masa ovulasi, aku harus lakukan setidaknya dua atau tiga kali sehari. Kalau tidak, aku bakal terasa gatal di sekujur tubuh. Awalnya, suamiku yang tinggi dan kuat bisa mengisi kesepian tubuhku. Namun, dia sangat sibuk akhir-akhir ini dan sedang dalam perjalanan bisnis selama lebih dari setengah bulan...
"Bagaimana rasanya... Pertama kali memainkan wanita muda sepertiku... Apakah menyenangkan?"
Di dalam ruangan yang remang-remang itu, aku membenamkan kepalaku di dalam selimut, berlutut telanjang di atas ranjang dan berusaha mengangkat pantatku untuk melayani pria di belakangku.
Meski tidak membandingkannya secara sengaja, aku dapat merasakan perbedaannya. Ayah mertuaku jauh lebih kuat dari putranya...
Aku seorang wanita dengan hasrat seksual yang sangat kuat.
Meski tidak melakukan pemeriksaan di rumah sakit, aku tahu kalau diriku pasti kecanduan seks.
Terutama pada masa ovulasi, aku harus lakukan setidaknya dua atau tiga kali sehari. Kalau tidak, aku bakal terasa gatal di sekujur tubuh.
Awalnya, suamiku yang tinggi dan kuat bisa mengisi kesepian tubuhku.
Namun, dia sangat sibuk akhir-akhir ini dan sedang dalam perjalanan bisnis selama lebih dari setengah bulan.
Sekarang, aku benaran tidak tahan lagi. Bukan saja sering kehilangan fokus saat bekerja, bahkan masturbasi dengan vibrator setiap malam pun tidak dapat memuaskanku.
Yang ada dipikiranku hanyalah pria.
Bahkan sampai pada titik di mana aku harus membawa dua celana dalam di tas untuk bergantian, agar tidak mempermalukan diri sendiri.
Ada banyak sekali orang di kereta bawah tanah setelah pulang kerja hari itu, aku pun terdorong ke pojok.
Aku merasakan ada tangan besar yang panas sedang meremas pantatku dengan keras.
"Mesum!"
Hampir setiap wanita cantik yang naik kereta bawah tanah pasti pernah bertemu dengan orang mesum.
Aku juga mengalaminya.
Hari ini aku mengenakan rok mini yang ketat. Kalau membungkuk bakal bisa melihat bagian pribadiku yang tertutup dengan celana dalam seksi berwarna merah muda. Akulah tipe wanita muda yang paling suka disentuh oleh orang-orang mesum di kereta bawah tanah.
Aku berkemungkinan besar akan menjadi sasaran para mesum.
Namun, saat menoleh ke belakang, mukaku memerah.
Aku tidak menyangka kalau pria yang sedang meremas pantatku adalah ayah mertuaku, Marvin Nardim, yang baru saja datang ke Sulo.
Tadi malam suamiku menelepon dan mengatakan kalau ayah mertuaku akan datang tinggal di sini untuk sementara waktu, tetapi aku malah menemuinya di kereta bawah tanah.
Tak kusangka dia bahkan tidak mengenaliku dan mengira aku ini tipe wanita muda yang tidak akan berani menolak meski disentuh.
Sambil menatap pantulan di jendela, dia merengkuh seluruh tubuhku dalam pelukannya, dengan ekspresi menikmati kenikmatan dalam dorongan itu.
Aku menundukkan kepalaku, menjepit bokongku erat-erat dan menegangkan seluruh otot tubuhku untuk melawan rasa kebas dan nyeri hebat yang menusuk jauh ke dalam tulang-tulangku.
Aku khawatir akan mengeluarkan erangan tak tahu malu.
Apa yang harus kulakukan? Apa aku harus berbalik?
Namun, tangan besar ayah mertua meluncur di balik bokongku. Bukankah terlalu memalukan kalau kami saling mengenali saat ini?
Haruskah aku berpura-pura tidak tahu?
Namun, tujuan kami sama, jadi tak peduli turun lebih awal atau duduk beberapa halte kemudian, bakal bertemu satu sama lain.
Aku ragu-ragu, sekarang aku hanya punya dua pilihan, berbalik untuk mengenalinya atau terus menikmati.
Awalnya aku ingin menggertakkan gigi dan mengenalinya, tetapi ketika ayah mertuaku memasukkan jarinya ke dalam celana dalamku, tubuhku tanpa sadar memilih untuk menikmatinya.
Ini bagaikan pemanasan sudah selesai dan langsung masuk ke dalam.
"Ugh..."
Sentuhan mendadak itu membuatku mengerang tanpa sadar dan aku menjulurkan pantatku ke belakang.
Agar dia bisa masuk lebih dalam.
Aku harus mengakui kalau teknik ayah mertuaku sangat lincah. Selain menyentuh bagian tersensitifku, dia lebih mirip sebuah kunci yang melepaskan hasrat tak berdasar dalam tubuhku.
Tubuhku segera merespons, arus hangat perlahan mengalir keluar.
Ayah mertuaku tidak puas dengan ini, dia menginginkan lebih.
Bab 2
Aku dapat merasakan ayah mertuaku menurunkan tubuhnya sedikit, mengaitkan ibu jarinya pada kedua sisi celana dalamku, lalu perlahan-lahan menariknya ke bawah sampai ke tepi pahaku dan menggulungnya.
Kemudian, dia merenggangkan pantatku, menempelkan tubuhnya yang panas dan keras itu, lalu bergerak maju sedikit demi sedikit, seolah-olah ingin masuk ke dalam.
"Ti… Tidak."
Orang di belakangku adalah ayah mertuaku. Bagaimana aku bisa memiliki hubungan seperti itu dengannya?
Dengan kewarasanku yang tersisa, aku menggigit bibir bawahku pelan, berusaha tetap sadar, lalu tiba-tiba berbalik.
"Ayah, ini... ini aku."
Aku menundukkan kepalaku dan menarik celana dalamku. Wajahku tersipu dan begitu panas, aku tidak berani menatap mata ayah mertuaku.
"Eh… ini Faye."
Ayah mertuaku tampak terkejut dan segera mundur selangkah.
Hampir seketika, sesuatu yang besar muncul dalam pandanganku.
Mataku langsung terbelalak.
Ini... apakah ini ukuran yang pantas dimiliki manusia?
Aku bukanlah gadis kecil yang tidak tahu apa-apa. Sebaliknya, pengalamanku melebihi banyak wanita muda seusiaku, tetapi aku tetap tercengang dengan barang ayah mertuaku yang jauh lebih agung dari pria bule.
Punya suamiku sudah cukup besar, tapi yang ini bahkan sepertiga lebih besar darinya.
Kalau ditekan oleh pria kekar kayak gini sambil memukul pantatku, aku bakal kelelahan, bukan?
Begitu pikiran ini muncul di benakku, aku langsung terkejut.
Aku segera memalingkan kepalaku ke samping, menggunakan tasku untuk menutupi perut bagian bawahnya dan berkata dengan suara gemetar, "Cepat... cepat masukkan..."
"Oh... Oke..."
Setelah turun dari kereta bawah tanah dan hampir sampai di rumah, ayah mertuaku berkata, "Faye, kamu harus lebih berhati-hati, jangan memakai pakaian yang terlalu seksi. Kalau nggak, akan mudah bertemu orang mesum, apa lagi kamu begitu muda dan cantik."
Dia sama sekali tidak menyebutkan apa yang terjadi di kereta bawah tanah dan bersikap seperti orang tua yang sedang mengajari anaknya.
Aku tak menjawab, pikiranku masih penuh dengan apa yang baru saja kulihat tadi.
Aku mengulurkan tangan dan menyentuh pipiku yang sudah terasa panas terbakar.
"Kalau aku nggak berbalik..."
"Bakal dimasukkan olehnya di dalam gerbong..."
Aku mulai berkhayal, tubuhku yang kesepian menjadi semakin tak terkendali. Rasanya seperti ada segerombolan semut yang merayap di antara kedua kakiku, membuatku gatal dan lemas. Adegan diriku ditekan ayah mertuaku dan diperkosa terus muncul dalam pikiranku.
Akhirnya, aku tak tahan lagi rangsangan terlarang dan memalukan ini, aku pun segera bergegas ke kamar tidur.
"Ayah... aku sedang nggak enak badan. Kamu makan sesuatu dan tidurlah lebih awal."
Aku tak sabar untuk bergegas ke ranjang, menanggalkan semua pakaianku, lalu mengeluarkan vibrator dari bawah nakas. Aku merentangkan kakiku dan menekan tombol ke arah ayah mertuaku di ruang tamu.
Aku sangat menginginkannya!
Aku sungguh ingin seorang pria muncul di ranjangku sekarang juga!
Tidak peduli siapa orangnya!
Tak peduli apa pun akibatnya, yang penting dia bisa sekuat ayah mertuaku! Asalkan dia bisa mengisi kesepian dalam tubuhku!
Sampai detik terakhir ketika aku kehabisan tenaga dan kehilangan kesadaran, aku masih berpikir, bagaimana kalau... ayah mertua datang dan memperkosaiku sekarang.
Akankah aku menolak?
Pagi-pagi sekali, ketika aku terbangun karena suara dengungan, aku baru sadar kalau kakiku masih menjepit mainan itu.
Meski kelelahan dalam tubuh membuatku terbaring di ranjang dan tidak ingin bergerak, dorongan untuk buang air kecil memaksaku berjuang untuk bangun. Aku mengenakan gaun tidurku dan pergi ke kamar mandi dalam keadaan linglung.
Namun, kecelakaan terjadi!