Bab 1
Setelah menjalin cinta selama sepuluh tahun, akhirnya pacarku, Kennedy, bersedia menikah denganku.
Namun, saat sesi foto prewedding, fotografer meminta kami berpose saling mencium. Dia malah mengernyit dan berkata bahwa dia punya misofobia, lalu mendorongku dan pergi sendirian. Aku pun meminta maaf pada para staf atas sikapnya dengan canggung.
Hari itu turun salju lebat, sulit sekali mendapatkan taksi. Aku pun melangkah pulang dengan susah payah melewati tumpukan salju.
Namun, sesampainya di rumah yang seharusnya menjadi rumah pengantin kami, aku malah memergoki Kennedy sedang berpelukan dan berciuman mesra dengan perempuan yang selama ini dia anggap sebagai cinta sejatinya.
"Winona, asalkan kamu setuju, aku bisa kabur dari pernikahan ini kapan saja!" katanya.
Seluruh pengabdianku selama bertahun-tahun, kini hanya menjadi lelucon. Setelah menangis sejadi-jadinya, aku memutuskan untuk kabur dari pernikahan lebih dulu sebelum Kennedy melakukannya.
Belakangan, dunia sosial kami dihebohkan oleh sebuah kabar. Putra bungsu Keluarga Harath berkeliling dunia mencari mantan tunangannya, demi memohon agar wanita itu mau kembali.
Aku berdiri di luar rumah pengantin, menatap ke dalam lewat jendela besar. Di sana, aku melihat Kennedy tengah berciuman panas dengan Winona.
Dia memeluk Winona dengan erat dan mencium dengan penuh hasrat dan dominasi. Tak terlihat sedikit pun sikap dingin dan tertutup yang biasa dia tunjukkan.
Pakaian, sepatu, dan rambutku sudah kuyup oleh salju. Seluruh tubuhku terasa sedingin es. Hawa dingin itu merayap dari ujung tangan dan kakiku, masuk ke lambung dan membuat isi perutku bergolak hebat.
Saat melihat mereka bergumul di atas ranjang pengantin yang telah kupilih dengan teliti, aku mengangkat ponsel dan merekam mereka sejenak. Kemudian, aku tidak mampu lagi menahan diri. Aku muntah hebat, hingga kepalaku terasa sangat pusing.
Selama bertahun-tahun bersama, bahkan ketika kami berada di ranjang, Kennedy tidak pernah menciumku. Katanya dia punya misofobia dan aku percaya padanya. Ternyata, dia hanya mencium wanita yang benar-benar dia cintai ....
Keduanya mendengar suara, lalu serentak menoleh ke arah luar. Padahal merekalah yang berselingkuh, tapi malah aku yang refleks menyelinap bersembunyi.
Tubuhku basah oleh air salju, sehingga aku menggigil tanpa henti. Aku hanya ingin menunggu sampai Winona pergi, lalu pulang. Namun setelah satu jam, tak ada satu pun dari mereka yang keluar. Aku bersin, lalu menyeret tubuhku yang kaku dan beku kembali ke rumah.
Rumah pengantin itu hangat dan nyaman. Kennedy yang biasanya bahkan tidak mau mengerjakan pekerjaan rumah, kini sedang memasak di dapur. Gerakannya sangat terampil, jelas bukan pertama kalinya dia melakukannya.
Mesin pengisap asap berdengung keras, tapi bau masakan yang pedas dan menyengat tetap memenuhi ruangan. Padahal aku punya penyakit lambung dan sama sekali tidak pernah makan makanan pedas.
"Dasar rakus, masakannya belum selesai ...."
Mendengar ada suara, Kennedy menoleh sambil tersenyum. Namun, saat melihat bahwa itu aku, senyum di wajahnya langsung lenyap.
"Ternyata kamu. Bajumu basah kuyup begini, kenapa nggak langsung mandi dan ganti pakaian? Jangan masuk sembarangan! Rumah jadi kotor gara-gara kamu!"
"Maaf." Aku meremas jaket tebalku yang basah kuyup dan seperti biasa, aku langsung minta maaf.
Kennedy mengerutkan kening dengan kesal, seolah masih ingin mengomel. Namun saat itu, Winona keluar dari kamar. Bibirnya tampak bengkak dan pipinya memerah. Wajahnya jelas menunjukkan bekas-bekas bercinta.
Aku memandang ke arahnya.
Winona refleks menarik bajunya, lalu buru-buru menjelaskan, "Villy, kamu ... kamu jangan salah paham!"
"Apa yang perlu disalahpahami? Malam ini salju turun deras, jalanan sulit dilalui, jadi Kakak Ipar menginap di sini malam ini," jawab Kennedy dengan tegas tanpa sedikit pun perubahan ekspresi.
Winona adalah pacar kakaknya. Mereka belum sempat menikah, tapi sang kakak sudah meninggal dunia. Selama bertahun-tahun, Kennedy selalu memanggilnya "Kakak Ipar".
Saat makanan sudah siap, Kennedy memanggil Winona ke meja makan. Melihat Winona makan dengan lahap, dia ikut tersenyum senang. Dia sama sekali tidak memperhatikan aku yang hanya makan nasi putih.
Setelah makan, Winona langsung pergi tidur.
Ini adalah rumah pengantin "milikku", tapi Kennedy malah menyuruh Winona tidur di kamar utama dan mengusirku ke kamar tamu. "Kamar tamu belum dibereskan, Kakak Ipar nggak terbiasa tidur di sana. Kamu tahan sedikit, ya."
Padahal ini rumah pernikahan kami, aku bahkan belum sempat tidur di kamar utama itu. Kenapa dia mengizinkan wanita lain tidur di sana?
Aku ingin membantah. Ucapan yang ingin kukatakan sudah sampai di ujung lidah, tapi akhirnya tak ada satu pun kata yang keluar.
Kennedy berada di kamar utama sampai hampir tengah malam, baru kemudian kembali ke kamar tamu. Aku sudah kehujanan, kedinginan, dan kelaparan. Tubuhku terasa tidak nyaman dan pikiranku dipenuhi bayangan Kennedy berciuman panas dengan Winona. Aku terbaring di ranjang, tapi tak bisa tidur.
Saat dia membuka pintu dan masuk, aku benar-benar ingin mengabaikan semuanya dan bertanya, 'Kalau memang nggak suka aku, kenapa masih ingin menikah denganku? Kenapa pernikahan hanya tinggal selangkah lagi, tapi dia masih bisa mencium wanita lain?'
'Kenapa saat aku ada di rumah ini, dia masih bisa bersikap intim dengan Winona seolah aku tidak ada?'
Segudang pertanyaan mengganjal di tenggorokan, tapi pada akhirnya, yang keluar dari mulutku hanyalah kalimat getir, "Kennedy, kalau kamu menyesal dan nggak ingin menikah denganku, kamu bisa bilang."
Dia bisa saja membatalkan pernikahan. Aku bisa menerima itu. Namun, aku tidak bisa menerima jika dia memilih kabur di hari pernikahan dan meninggalkanku seperti orang bodoh di altar.
Bab 2
Aku merasa sudah mengatakannya dengan sangat halus dan tidak mengungkit aib antara Kennedy dan Winona. Kupikir dia akan merasa bersalah dan berusaha memberiku penjelasan. Atau kalau memang itu yang dia inginkan, sekalian saja batalkan pernikahan ini.
Namun, Kennedy malah terlihat kesal, lalu membentakku, "Cuma karena aku ngobrol sebentar sama Kakak Ipar, kamu langsung cemburu dan mengancamku batal nikah? Villy, kamu itu sudah 28 tahun, bukan anak kecil lagi. Jangan kekanak-kanakan dan bercanda soal pernikahan."
Aku meremas ujung selimut dan berkata pelan, "Tapi Winona berbeda. Dulu kamu pernah menyukainya, kalian berdua ...."
Kennedy langsung mengernyit dan memotong ucapanku, "Itu semua sudah lewat. Bisa nggak kamu jangan terus mengungkit masa lalu?"
Namun, apa ini salahku?
Kennedy sangat mahir dalam fotografi, tapi tidak pernah memotretku sekali pun. Alasannya, katanya dia tidak suka memotret orang. Namun di komputernya, tersimpan ribuan foto Winona. Saat aku menemukannya, kami bertengkar hebat.
Waktu itu dia bersumpah bahwa hubungannya dengan Winona sudah selesai, sekarang dia hanya menganggapnya sebagai kakak ipar. Aku percaya penjelasannya, tapi lihat bagaimana dia memperlakukanku?
Kalau aku tidak pulang hari ini dan tidak sengaja mendengar sendiri ucapannya soal ingin kabur dari pernikahan, aku tidak akan pernah tahu bahwa dia masih belum bisa melupakan Winona dan hanya menjadikanku cadangan!
Aku sedih, merasa dipermalukan, tapi akhirnya seperti biasa ... aku yang minta maaf lebih dulu. "Maaf, aku nggak seharusnya berpikiran macam-macam."
"Kali ini aku maafkan. Tapi aku nggak mau kejadian seperti ini terulang lagi. Kamu tahu 'kan, aku sangat peduli padamu dan hanya akan menikah denganmu."
Kennedy lalu masuk ke kamar mandi untuk mandi. Setelah itu, dia naik ke ranjang dan memelukku dari belakang.
Dulu, ketika orang tuanya dan kakaknya meninggal karena kecelakaan pesawat, dia harus menghadapi kenyataan pahit kehilangan keluarga. Di saat yang sama, dia juga harus menahan tekanan dari orang-orang yang berniat buruk terhadap harta warisan mereka. Bebannya begitu besar sampai dia sering susah tidur.
Waktu itu, hanya aku yang ada di sisinya.
Aku bekerja sebagai sekretarisnya dan membantunya menghadapi segala masalah internal dan eksternal perusahaan Keluarga Harath. Dia harus sering menghadiri jamuan dan minum alkohol sampai sakit lambung. Demi merawatnya, aku ikut kelas memasak, mencoba berbagai menu agar dia mau makan.
Saat malam dia susah tidur, aku membacakan cerita, mencari suara-suara white noise yang bisa membantunya tertidur. Setiap malam, aku baru tidur setelah memastikan dia sudah benar-benar terlelap.
Dulu, Kennedy sering memelukku dengan terharu dan berkata, "Keluargamu nggak menyayangimu karena mereka nggak tahu betapa berharganya dirimu. Mulai sekarang, aku adalah kekasihmu sekaligus keluargamu. Kita bisa saling menjadi sandaran terakhir, selamanya!"
Namun, begitu perusahaan Keluarga Harath mulai membaik dan Winona kembali dari luar negeri, semuanya berubah. Kennedy mengatakan bahwa Winona adalah kakak iparnya. Dengan alasan itu, dia memperlakukan Winona dengan sangat baik. Dia selalu memprioritaskan Winona sebelum aku.
Kennedy bahkan berpesan padaku agar memperlakukan Winona dengan baik, seperti menghormati anggota keluarga yang paling dekat. Namun, sejak kapan ada anggota keluarga yang bersikap mesra pada adik iparnya?
Dalam kegelapan, aku menggigit bibirku dan menyingkirkan tangan Kennedy yang melingkar di pinggangku dengan perlahan. Dia tidak mengatakan apa-apa, hanya membalikkan badan dan tidur membelakangiku. Tak seperti dulu, malam ini dia tidak insomnia.
Lihatlah, segalanya di dunia ini memang bisa berubah.
Aku menatap langit-langit kamar semalaman dan tidak tidur sama sekali. Namun, malam itu aku membuat sebuah keputusan. Aku memang tidak bisa melepaskan Kennedy begitu saja setelah mencintainya selama 10 tahun. Namun, aku juga tidak ingin mempertahankan seorang pria yang tidak mencintaiku.
Pernikahan ini, tidak ingin kulanjutkan lagi. Aku ingin membatalkan pernikahan dengan Kennedy dengan cara yang damai dan bermartabat.
Hanya saja, keesokan paginya aku tidak sempat mengatakan apa pun padanya.
Begitu terbangun, kepalaku terasa sakit luar biasa. Saat meraba dahiku, aku baru sadar bahwa aku sedang demam.
Melihatku demam sampai kesadaranku memudar, alis Kennedy mengernyit tajam dan berkata, "Obat di rumah habis. Kamu tahan sebentar ya, aku antar Kakak Ipar pulang dulu, jangan sampai kamu menularinya. Nanti setelah aku balik, aku antarkan kamu ke rumah sakit."
Kennedy mengambil kunci mobil, lalu pergi mengantar Winona pulang.
Menatap punggungnya yang menjauh, rasa sakit itu menyebar di dadaku bagaikan ditusuk ribuan jarum. Dia sudah cukup keterlaluan, tapi entah kenapa aku masih belum bisa benar-benar rela.
Aku tidak percaya, Kennedy sama sekali tidak peduli padaku setelah 10 tahun percintaan kita. Seharusnya ... dia akan kembali, 'kan?
Asalkan dia bersedia kembali dan menunjukkan sedikit saja perhatian, aku akan membuka pembicaraan soal pembatalan pernikahan ini. Setidaknya, kami bisa berpisah dengan damai dan dia bisa melanjutkan hidupnya bersama Winona.
Namun, setelah menunggu hampir seharian, Kennedy tak kunjung kembali.
Yang kudapati hanyalah unggahan Winona di media sosialnya.
[ Sedang nggak enak badan karena datang bulan, untung ada dia di sisiku. Katanya, selama aku butuh dia, dia akan selalu ada dan dia menepatinya. ]
"Dia" yang dimaksud oleh Winona itu kemungkinan hanya Kennedy seorang.
Bab 3
Pada saat itu juga, aku benar-benar kecewa pada Kennedy. Lima belas tahun saling mengenal, sepuluh tahun bersama ... bahkan kalau itu seekor anjing pun, seharusnya sudah ada ikatan emosi. Namun, dia malah memperlakukanku seperti ini!
Aku berubah pikiran. Bukan membatalkan pernikahan, aku akan kabur dari pernikahan ini.
Saat Kennedy merencanakan untuk kabur dari pernikahan, dia bahkan tidak memikirkan perasaanku sedikit pun. Kalau begitu, aku juga tidak perlu peduli padanya. Di hari pernikahan nanti, biar saja dia jadi lelucon sendiri.
Aku menahan rasa pedih di sudut mataku dan memanggil ambulans. Baru saja naik ke mobil ambulans, demamku langsung membuatku kejang dan tak lama kemudian aku jatuh koma.
Saat sadar kembali, perawat berkata, "Untung kamu sempat menelepon layanan darurat. Kalau nggak, kamu sendirian di rumah dengan demam tinggi dan kejang-kejang, akibatnya pasti sangat fatal!"
Begitu dia selesai bicara, telepon dari Kennedy masuk. "Ada urusan di kantor. Aku nggak sempat pulang jagain kamu. Kamu beli obat sendiri saja, ya."
Setelah itu, dia langsung menutup telepon. Dia bahkan tidak mengucapkan sepatah kata pun soal perhatian atau kekhawatiran. Padahal waktu dia sakit kepala atau flu, aku tidak pernah beranjak sejengkal pun darinya.
Waktu keluarganya baru saja mengalami kecelakaan, dia sering mimpi buruk. Aku bahkan bergadang setiap malam menemaninya tidur. Bukan karena aku ingin balasan atau berharap dia membalas kebaikanku. Aku tulus.
Namun sekarang, saat aku demam dan harus dirawat di rumah sakit, dia malah sibuk menemani Winona yang sedang sakit perut karena datang bulan. Hebat sekali dia!
Aku mengambil ponsel dan menghubungi musuh bebuyutan Kennedy, Maxime. "Pak Maxime, bukankah Anda sudah lama mengincar saham Keluarga Harath yang ada di tangan saya? Sekarang saya bersedia menjualnya."
Setelah dua hari di rumah sakit, aku akhirnya pulang.
Toko foto pernikahan meneleponku, "Bu Villy, kira-kira dalam lima hari ke depan, kapan Anda dan calon suami bisa datang untuk sesi foto? Hari H pernikahan Anda tinggal 20-an hari. Kalau nggak segera dipotret, nanti hasilnya nggak sempat jadi sebelum acara."
"Kutanyakan dulu sama suamiku, lalu aku kabari kembali," jawabku.
Aku menelepon Kennedy dan teleponku ditolak. Setelah kukirim pesan juga tidak dibalasnya. Akhirnya, aku memutuskan langsung datang ke kantornya.
Di kantor sekretaris, mereka berkata, "Hari ini asisten direktur bernama Winona baru masuk kerja. Pak Kennedy membawa semua staf ke hotel untuk merayakan."
Aku menanyakan nama hotelnya, lalu langsung menyusul ke sana.
Saat aku diangkat menjadi asisten khusus Kennedy dulu, perusahaan Keluarga Harath sedang berada di ujung tanduk dan dilanda masalah internal dan eksternal. Tidak pernah ada yang namanya pesta penyambutan karyawan baru.
Waktu itu, setiap hari kami sibuk sampai tidak mengenal waktu. Bisa makan dua kali sehari saja sudah syukur dan tidur lima jam semalam pun sangat langka.
Pesta penyambutan karyawan Winona sekarang bahkan lebih mewah daripada pesta pertunanganku sendiri. Aku menatap suasana penuh keceriaan dan hiruk-pikuk di aula perjamuan. Baru saja melangkah masuk, Kennedy sudah buru-buru menghampiriku dan menarikku keluar.
"Hari ini penyambutan karyawan Kakak Ipar. Jangan bikin keributan di sini, nanti ganggu suasana hatinya!"
"Dia jadi asisten khususmu nanti, lalu aku ini apa?" Aku sudah berusaha menahan diri. Namun begitu berbicara, nada bicaraku tetap terdengar isakan yang tertahan.
Saat aku sakit dan demam, Kennedy bahkan tidak datang menjengukku ke rumah sakit. Dia hanya bilang aku diberi cuti dan disuruh istirahat. Kalau aku tidak datang hari ini, aku tidak akan tahu bahwa dia sudah memberikan posisiku pada Winona.
Setiap kali aku mengira dia sudah cukup keterlaluan, ternyata dia masih bisa lebih kejam dari itu.
Kennedy menyodorkan selembar tisu padaku. "Jangan nangis. Aku cuma merasa kamu sudah capek bantu aku selama ini, jadi ingin kamu istirahat."
"Kamu cuma lulusan universitas biasa, jurusan komputer pula. Nggak seperti Kakak Ipar, dia lulusan universitas ternama dan jurusannya sesuai. Dia lebih cocok jadi asistenku. Kamu tinggal jadi Nyonya Harath dan menikmati hidup."
Sekarang dia mulai meremehkan pendidikanku. Waktu aku menemani dia ke sana kemari, ikut jamuan sampai lambungku berdarah karena alkohol, kenapa dia tidak mempermasalahkan ijazahku saat itu?
Melihatku diam dan tidak menjawab, Kennedy mungkin mengira aku akan ribut lagi. Raut wajahnya mulai menunjukkan ketidaksabaran. "Villy, kamu ...."
"Aku akan mengurus pengunduran diriku nanti." Aku mengepalkan tangan sambil menahan rasa perih dan amarah di dada.
Ekspresi Kennedy sedikit melunak. "Bagus kalau kamu bisa sebijak ini. Aku nggak akan menyusahkanmu. Kalau nggak ada yang penting, kamu bisa pergi."
Winona sedang mencarinya dan dia ingin segera kembali.
Aku menahannya. "Studio foto pernikahan menelepon. Mereka tanya, minggu ini kita ada waktu buat foto prewedding atau nggak."
"Aku harus dinas luar, nggak sempat."
"Baik."
Setelah keluar dari hotel, aku langsung menelepon pihak penyelenggara pernikahan. "Untuk foto dan video yang akan diputar di layar besar hari-H pernikahan ... aku ingin ganti semuanya."
Aku mengumpulkan semua rekaman perselingkuhan Kennedy dan Winona, lalu mengirimkannya ke pihak penyelenggara pernikahan. Mereka sudah tidak tahu malu, jadi aku juga tidak perlu segan lagi.
Kennedy bilang sedang dinas luar dan tidak punya waktu. Namun dalam seminggu itu, dia malah membawa Winona ke luar negeri untuk melihat aurora. Di bawah cahaya aurora, mereka berciuman, lalu berjanji untuk saling mencintai seumur hidup.
Seminggu kemudian, aku menelepon Kennedy, "Saatnya kita pergi mencoba gaun pengantin dan jas."
"Aku harus bertemu klien untuk bahas kerja sama. Nggak sempat pulang. Kakak Ipar lebih punya selera, dan ukuran badannya hampir sama denganmu. Aku akan minta dia pilih dan coba beberapa gaun di luar negeri, nanti dibawa pulang."
Sama seperti dulu, Kennedy tidak pernah menanyakan pendapatku. Dia langsung membuat keputusan untukku.
Hatiku sudah dingin. Tak ada gejolak sedikit pun dalam dada, aku hanya menjawab, "Oke."
Winona mencoba beberapa gaun pengantin dan sekalian berfoto prewedding bersama Kennedy, kemudian mengirimkannya kepadaku.
[ Nggak cocok rasanya kalau menikah tanpa foto prewedding. Kamu dan Kennedy terlalu sibuk untuk foto bareng, jadi aku bantu kalian. Nanti kamu tinggal pakai AI tukar wajah, gampang kok. Sama-sama, ya. ]
Aku menatap foto itu sekilas. Dulu Kennedy bilang punya misofobia saat disuruh foto ciuman denganku, tapi tidak ada masalah sama sekali dengan Winona? Mereka memang tidak benar-benar berciuman, tapi jarak wajah mereka sangat dekat. Jadi, sama saja seperti itu.
Layar ponselku padam. Aku menoleh pada petugas kebersihan yang baru masuk dan berkata, "Tolong kemas semua barang-barang wanita, selain itu biarkan saja."
Aku mengemasi semua barang milikku dan keluar dari rumah pengantin. Lalu, aku menemui musuh bebuyutan Kennedy dan menjual semua saham perusahaan Keluarga Harath yang ada padaku.
Sehari sebelum pernikahan, Kennedy akhirnya pulang dan Winona ada di sisinya.
Mereka membawakan gaun pengantin untukku. Winona bahkan menawarkan diri sebagai pendamping pengantin wanita dengan antusias, lengkap dengan gaun pendamping yang sudah dia siapkan. Dia menyemangatiku agar cepat mencoba gaun itu dan ikut mencobanya bersamaku.
Gaun yang dia pilih untukku hanyalah sepotong kain satin yang hanya menutupi bagian penting, mirip pakaian gadis bar malam. Sementara dia mengenakan gaun pengantin couture lengkap dengan mahkota berlian di kepala yang jauh lebih mirip pengantin dibanding aku.
"Pengantinnya cantik sekali." Itu yang dikatakan Kennedy, tapi senyum dan tatapannya hanya tertuju pada Winona sepanjang waktu.
Sudah sebulan kami tidak bertemu, tapi setelah hanya sepuluh menit bersamaku, dia tak sabar untuk segera pergi lagi bersama Winona.
Sebelum pergi, dia sempat berpesan, "Besok aku akan datang ke hotel untuk prosesi penjemputan. Tolong bilang ke teman dan keluargamu jangan terlalu berlebihan. Aku nggak suka permainan-permainan aneh yang menyulitkan pengantin pria."
"Baik."
Dia tak perlu khawatir sedikit pun. Karena aku sudah lebih dulu memberi tahu semua teman dan kerabat bahwa pernikahan dibatalkan. Besok tidak akan ada satu pun dari mereka yang datang.
Begitu Kennedy dan Winona pergi, aku langsung menghubungi para klien besar yang dulu kudatangkan untuk perusahaan Keluarga Harath.
"Aku sudah pindah ke perusahaan baru. Anggap saja ini sebagai bentuk perayaan, aku bisa berikan kalian penawaran kerja sama yang lebih baik. Senang sekali kalau kalian bersedia bekerja sama dengan perusahaanku yang baru."
Malam harinya, aku tidak bisa tidur sampai fajar menyingsing. Aku bertanya-tanya, bagaimana reaksi Kennedy setelah upacara pernikahan dimulai dan dia menyadari aku kabur? Bagaimana ekspresi Winona saat dia melihat video dirinya menjadi pelakor?
Keesokan paginya, aku membawa koper dan pergi ke stasiun kereta cepat. Tepat saat waktu penjemputan pengantin dimulai, aku sudah duduk nyaman di dalam kereta.
Pada detik itu juga, puluhan panggilan dan pesan masuk membanjiriku.