Bab 6

Pintu bangsal tiba-tiba terbuka, Kelly berjalan masuk dengan santai.

Dia tampak sangat energik, tidak terlihat seperti orang yang baru pulih dari sakit parah.

Lisa tersenyum sinis. "Dirawat di rumah sakit setengah bulan, kamu pura-pura sakit, 'kan?"

"Memangnya kenapa?" Dia berkata dengan bangga, "Selama aku pura-pura sakit, Gavin siap melakukan apa pun untukku. Nggak lama lagi, aku akan berdiri di sampingnya dengan terang-terangan."

Setelah berkata demikian, Kelly melemparkan kantong plastik berisikan guci abu ibu Lisa.

Lisa merasa sekujur tubuhnya membeku. Dia membuka guci itu dengan gemetaran, tetapi isinya kosong.

"Kamu ... apa yang kamu lakukan? Di mana abu ibuku?"

Kelly menikmati ekspresi putus asa Lisa dengan gembira.

"Lupa kukasih tahu, akulah yang mengusulkan Gavin untuk menghentikan pengobatan ibumu."

"Lihatlah, selama aku angkat suara, Gavin tega membunuh orang yang paling kamu sayangi. Kamu sanggup bersaing denganku?"

Kelly seolah-olah ingin memamerkan bahwa Gavin lebih menyayanginya. Dia mengangkat tangan kirinya, terlihat cincin berlian berwarna merah muda di jari manisnya.

Lisa mengenali cincin itu.

Enam bulan yang lalu di sebuah acara lelang, Gavin membeli berlian berwarna merah muda dengan harga 200 miliar.

Saat itu, semua orang mengira dia dan Gavin akan segera menikah. Seluruh tempat dipenuhi dengan sorakan "menikahlah dengannya".

Namun, Gavin membantah dengan nada dingin, "Bukan untuknya."

"Gavin bilang aku pantas mendapatkan segala sesuatu yang terbaik di dunia ini, termasuk dia. Cuma aku yang pantas untuknya!" kata Kelly denga bangga.

Lisa tidak bisa menahan diri lagi, dia langsung menampar Kelly.

Dia mencekik leher Kelly sambil berkata, "Kamu bunuh ibuku! Kamu pantas mati! Kamu pantas mati!"

Dendam atas kematian ibunya membuat sepasang matanya memerah, sangat kontras dengan senyuman bangga yang mewarnai wajah Kelly.

"Buk!"

Sebuah vas menghantam kepalanya, darah menetes dari dahinya ke lantai.

Gavin mendorong Lisa dan langsung menamparnya. "Dasar gila!"

Hati Lisa seolah-olah dicengkeram oleh tangan yang tidak terlihat, rasanya sangat sakit.

Gila?

Dia bisa lebih gila lagi!

Dia mengambil pecahan vas di lantai dengan penuh amarah dan hendak memotong arteri di leher Kelly, tetapi Gavin tiba-tiba meraih pergelangan tangannya.

"Kalian bunuh ibuku! Kalian pantas mati!"

Mata Lisa memerah.

Gavin menyadari ada yang aneh dengan Lisa. Tatapannya tertuju pada guci di pelukan Lisa, dia bertanya dengan kaget, "Apa maksudmu? Ibumu ...."

Serangkaian ingatan melintas di benaknya, pada akhirnya dia teringat pada ucapannya bulan lalu. "Bukannya dia baru dioperasi minggu lalu? Cuma melewatkan satu operasi, dia nggak akan mati."

Melihat Gavin agak gugup, Kelly langsung menyelanya, "Gavin, jangan percaya dengan omongannya!"

"Dua hari yang lalu, aku melihat ibunya berjalan-jalan di halaman rumah sakit, bagaimana mungkin tiba-tiba meninggal?"

"Lisa, demi meluluhkan hati Gavin, bisa-bisanya kamu bohong ibumu sudah meninggal?"

Mendengar ucapan ini, secercah rasa bersalah yang muncul di mata Gavin pun lenyap dan digantikan dengan tatapan sinis.

Dia memerintahkan orang untuk memasukkan Lisa ke rumah sakit jiwa dan menyuruh staf di sana untuk memberinya "perawatan khusus".

Pada hari pertama dirawat di rumah sakit jiwa, Lisa mencoba untuk melarikan diri lewat jendela, tetapi dia malah ditangkap dan dipukul habis-habisan.

Pada hari kedua, dia diikat secara paksa di meja operasi dan salah satu ginjalnya diambil tanpa anestesi.

Pada hari ketiga, akhirnya dia menyerah dan berteriak ingin bertemu dengan Gavin, tetapi malah didatangi oleh sekelompok pengemis yang berpakaian lusuh.

Begitu mereka masuk, mereka langsung menatap Lisa sambil tertawa mesum.

"Pak Gavin nggak bohong, gadis ini cantik sekali!"

Lisa mendelik mereka dengan galak. "Gavin yang menyuruh kalian datang?"

"Siapa lagi kalau bukan dia?" Para pengemis itu mendekatinya. "Pak Gavin suruh kami melayanimu, hahaha ...."

Lisa ketakutan hingga mundur beberapa langkah, tetapi mereka bagaikan serigala kelaparan yang ingin menerkamnya.

Dia melawan dengan tangan dan kakinya, tetapi jeritannya justru membangkitkan hasrat mereka.

Beberapa tamparan mendarat di wajahnya, para pengemis itu menekannya dan merobek pakaiannya dengan kasar.

"Jangan sok suci! Video kamu berhubungan badan dengan Pak Gavin sudah viral. Desahanmu sangat mantap! Sekarang malah sok suci, kamu kira kami percaya?"

Kepalanya berdengung hebat, Lisa merasa langit akan segera runtuh.

Gavin mempunyai kebiasaan unik yang tidak diketahui oleh orang luar.

Setiap mereka berhubungan, Gavin akan merekamnya.

Saat pertama kali direkam, Lisa bertanya dengan malu, "Bolehkah nggak direkam?"

Gavin tersenyum santai sambil membujuknya, "Patuh, ini adalah kenangan kita yang paling berharga."

Kamera terpasang di kamar tidur, ruang kerja, kamar mandi, bahkan kantornya ....

Mereka melakukan aktivitas seksual dengan penuh gairah.

Namun, dia tidak menyangka bahwa suatu hari "kenangan yang berharga ini" akan dijadikan senjata untuk membunuhnya!

Ketika dia hendak menggigit lidahnya untuk bunuh diri, pintu kamar didobrak dengan keras.

Gavin bergegas masuk dengan garang, tatapannya sangat menakutkan.

Gavin mencengkeram kerah seorang pengemis dan meninjunya dengan kuat.

Jeritan pilu memecah keheningan malam, seisi ruangan dipenuhi dengan bau darah.

Setelah bertahun-tahun, Lisa kembali merasakan kehangatan tubuh Gavin.

Sekujur tubuhnya gemetaran dan pandangannya berubah gelap, dia pingsan di pelukan Gavin.

Bab 7

Ketika terbangun lagi, Lisa menemukan dirinya berbaring di vila.

Terdengar jeritan pilu dari ruang tamu, dia berusaha untuk turun dari kasur dan membuka sedikit celah pintu. Dia melihat Gavin duduk di sofa dengan ekspresi datar dan sekelompok pengemis itu berlutut di hadapan Gavin.

Mereka dipukuli hingga memar dan sekujur tubuh mereka gemetaran. Seorang pengemis memohon dengan mulut yang berlumuran darah, "Lepaskan aku!"

Namun, Gavin bagaikan Malaikat Maut yang mematikan.

Dia memerintahkan pengawalnya untuk menebas tangan mereka, lalu memotong lidah mereka untuk dijadikan makanan anjing.

"Kalian nggak pantas sentuh dia!"

Gavin mengisyaratkan pengawalnya, lalu sekelompok pengemis itu diseret keluar.

Lisa merasa semua ini tidak nyata, seolah-olah segala sesuatu yang terjadi belakangan ini hanyalah mimpi.

Namun, rasa sakit yang menusuk membuatnya terhuyung-huyung dan bekas luka di punggungnya robek. Dia meringis kesakitan.

Mendengar suara ini, Gavin berjalan ke arah kamar. Tatapan dan ekspresinya menjadi lebih lembut, tetapi ucapannya masih sangat dingin dan kejam.

"Kelly nggak sengaja sebarkan video-video itu, aku sudah suruh orang menghapusnya. Lagian kamu baik-baik saja, jangan buat perhitungan dengan Kelly."

Dia menyerahkan selembar surat permintaan maaf pada Lisa dan memerintahkan Lisa, "Tanda tangani surat ini dan bersumpah kamu nggak akan mengancam Kelly dengan hal ini. Kamu nggak perlu bayar utang 4,16 miliar itu lagi, aku juga akan meminta dokter untuk memberikan pengobatan terbaik untuk ibumu."

Gavin tidak ingin menimbulkan kesalahpahaman, dia menambahkan, "Jangan salah paham, aku cuma mencintai Kelly seorang. Tapi, mengingat hubungan kita selama lima tahun ini, aku akan menafkahimu seumur hidup."

Dia mengucapkan kata-kata ini dengan angkuh, sikapnya sama seperti saat Lisa meminta uang padanya di bar.

Jadi, Gavin menganggapnya sebagai pengemis di jalanan?

Selama Gavin memberikannya sedikit bantuan, dia akan terharu dan berterima kasih?

Mungkin dulu memang seperti itu, dia akan bersabar demi ibunya.

Namun sekarang, dia sudah tidak memiliki kelemahan lagi.

Melihatnya tidak menanggapi, Gavin melemparkan surat permintaan maaf itu dan bangun. "Kirimkan ke kantorku setelah tanda tangan."

Hati Lisa hancur berkeping-keping, dia terkekeh sambil merobek surat permintaan maaf itu.

Tanpa ragu-ragu, dia langsung menelepon polisi untuk melaporkan perbuatan Kelly.

Pukul 12 malam, suara lonceng berdentang. Lisa menatap kalender di dinding dan jam di sudut ruangan.

Sepuluh jam lagi, dia akan meninggalkan tempat ini untuk selamanya.

Lisa mengemas barang-barangnya dan mandi air hangat. Sebelum pergi, dia singgah ke makam.

Dia mengubur guci abu itu, lalu berlutut di depan batu nisan ibunya dan bersujud sebanyak tiga kali. Emosi yang sudah lama terpendam meluap, bahkan suaranya pun menjadi serak.

"Ibu, aku akan mengejar kebebasan yang sesungguhnya."

"Kalau Ibu melihatku dari Surga, Ibu pasti ikut bahagia, 'kan?"

Seekor kunang-kunang hinggap di ujung jari Lisa dan mengepakkan sayapnya. Suatu cahaya redup menerangi foto di batu nisan.

Senyuman ibunya masih begitu lembut dan anggun, dia hampir tidak bisa menahan air matanya.

Dia berbaring di batu nisan dan menatap bayangannya yang terpantul di bantu nisan.

Dia seolah-olah kembali ke masa lalu, ibunya sering mengejeknya, "Lisa sudah dewasa, kenapa masih begitu cengeng?"

Malam ini, Lisa tidur dengan nyenyak.

Ketika dia bangun, sinar matahari menyinari lantai.

Masa depannya akan segera dimulai.

Ponselnya bergetar, Kelly mengirimkan undangan pernikahannya.

Selain itu, dia juga menerima pesan dari Biro Keamanan Publik.

[Nona Lisa, laporan Anda sudah diterima dan sedang diselidiki.]

Lisa tersenyum lebar, dia diam-diam menghapus undangan pernikahan digital itu.

Kemudian, dia memblokir semua kontak Kelly dan Gavin.

Setengah jam kemudian, Lisa naik pesawat.

Saat berada di atas awan, akhirnya dia merasa lebih lega.

Selamat tinggal, Gavin.

Mulai sekarang, aku akan memulai hidupku, aku sudah bebas.

Baca Cerita Lengkapnya Sekarang
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk menghadirkan lebih banyak cerita luar biasa Goodnovel
Buka Semua Bab
Cari "B97572" di goodnovel para membaca buku selengkapnya.
Salin kode dan cari di aplikasi NovelShort untuk melanjutkan membaca.
B97572
Salin

Melepas Masa Lalu

Bab 6
Bab
Sesuaikan
Bab Berikutnya