Bab 3

Mendengar kata-kata ini, wajah Kelly sontak memucat.

Gavin menolak dengan tegas, "Aku nggak setuju!"

"Plak!"

Tuan Besar Otto memukul punggungnya dengan tongkat sambil menegur dengan kesal, "Bocah tengik! Dulu, kamu bersikeras mau pacaran dengan Lisa, kamu bahkan berjanji akan membahagiakannya di depan makam orang tuamu, ini hasilnya?"

"Kamu terus menundanya, sudah lima tahun, berapa lama lagi kamu ingin menyia-nyiakan waktu Lisa?"

Lisa menundukkan kepalanya.

Tiba-tiba, dia teringat akan kenangan indahnya dengan Gavin.

Gavin yang begitu tegas dan kejam pernah mengkhawatirkannya.

Hanya karena dia mengatakan bahwa dirinya takut, Gavin mengurungkan niatnya untuk membunuh musuh. Sejak saat itu, semua orang tahu kelemahan Gavin.

Di malam ketiga dia demam tinggi, Gavin yang biasanya sangat rasional mendoakannya sepanjang malam.

Karena dia pernah mengungkapkan bahwa dirinya menyukai bunga sakura, Gavin menanam sederet pohon sakura di sekitar vila.

Namun kemudian, semua pohon sakura itu dinamai Kelly.

Seperti saat ini, begitu mata Kelly memerah, Gavin siap untuk melawan seluruh dunia.

"Aku nggak akan menikahi Lisa, dia nggak pantas untukku."

Dia bahkan menggenggam tangan Kelly, tatapannya sangat kukuh. "Hanya Kelly yang kucintai, seumur hidup aku hanya akan menikahinya."

"Aku berjanji akan mengumumkan Lisa sebagai tunanganku, tapi kalau Kakek menyuruhku menikahinya, aku nggak bisa."

Setelah berkata demikian, dia berlutut.

Kemudian, Kelly pun mengikutinya berlutut di hadapan Tuan Besar Otto sambil berkata dengan mata berkaca-kaca, "Kakek, kumohon restui hubunganku dan Gavin!"

Napas Tuan Besar Otto menjadi tidak beraturan, dadanya berfluktuasi hebat. "Pergi! Berlutut di aula leluhur!"

Di bawah tatapan kaget banyak orang, Gavin dan Lisa pergi ke aula leluhur dengan bergandengan tangan.

Lisa menyaksikan seluruh kejadian ini dengan ekspresi datar, dia hanya merasa konyol.

Dia mengeluarkan sebuah kotak kayu dari tasnya, terlihat sebuah gelang giok berharga yang merupakan pusaka Keluarga Sanjaya.

Tuan Besar Otto tertegun. "Lisa, apa maksudmu ...."

Lisa mundur dua langkah, lalu membungkuk dengan penuh hormat.

"Kakek, terima kasih sudah merawatku selama lima tahun ini, tapi aku nggak bisa menemani Gavin lagi."

Tuan Besar Otto berusaha untuk membujuknya, tetapi Lisa sudah membulatkan tekadnya. Setelah meninggalkan gelang itu, dia langsung pergi.

Saat melewati kamar tamu, terdengar suara ciuman mesra.

Melalui celah pintu, dia bisa melihat Gavin dan Kelly sedang berciuman dengan penuh gairah.

Lisa tidak menghentikan langkahnya, dia langsung meninggalkan rumah Keluarga Sanjaya.

Dia pergi ke bank untuk mentransfer 5 miliar itu ke rekening Gavin.

Kemudian, dia pergi ke Grup Sanjaya untuk mengundurkan diri sebagai sekretaris Gavin.

Manajer Departemen SDM adalah satu-satunya teman dekat Lisa, dia berkata dengan emosional, "Lisa, selamat kamu sudah terbebas dari penderitaan."

Lisa pun merasa lega.

Dia tidak berutang pada Gavin.

Malam hari, sesampai di vila, sebuah gelas dilemparkan ke hadapan Lisa. Pecahan kaca yang beterbangan menggores betisnya.

Gavin melangkah ke arahnya sambil mencengkeram lehernya. "Lisa! Kakek memperlakukanmu seperti cucu kandungnya, kamu malah mendorongnya dari tangga, kamu ingin membunuhnya?"

Lisa dicekik hingga wajahnya memerah dan urat-urat di lehernya pun mengembang.

Di bawah dorong alam bawah sadar, dia memukul tangan Gavin. "Nggak ... bukan aku!"

Terdengar suara memelas dari lantai atas. "Nona Lisa, kepala pelayan bilang kamu yang mendorong Kakek. Sudah ketahuan, kamu masih ingin berbohong?"

"Gavin, inilah wanita yang kamu sukai? Berani berbuat, nggak berani bertanggung jawab. Dasar pengecut!"

Lisa dihempaskan ke sudut ruangan, dia terbatuk hebat. Dari sudut matanya, dia melihat Kelly menatapnya dengan bangga.

Seketika, kulit kepalanya berkedut.

Tanpa perlu dipikirkan pun, Lisa tahu bahwa Kelly yang mendorong Tuan Besar Otto.

Ponsel berdering, kepala pelayan berkata, "Tuan Muda, tadi Tuan Besar tiba-tiba pendarahan hebat, tapi persediaan darah di rumah sakit terbatas ...."

Kepala pelayan masih mengatakan sesuatu, tetapi Lisa tidak mendengarnya.

Karena Kelly langsung mengusulkan, "Gavin, seingatku golongan darah Nona Lisa sama dengan Kakek, 'kan?"

Suatu rasa takut pun menjalar dari telapak kaki ke hati Lisa.

Detik berikutnya, dia dibawa paksa ke rumah sakit dan diikat di ruang gawat darurat.

"Ambil darahnya. Selama bisa selamatkan Kakek, dia mati pun nggak masalah!"

Tubuhnya diikat dengan tali tebal dan jarum ditusukkan ke pembuluh darahnya.

Mata Lisa dipenuhi dengan kekecewaan dan ketidakberdayaan. "Gavin, sekalipun kamu nggak minta, aku juga bersedia mendonorkan darah pada Kakek."

"Tapi, aku nggak dorong Kakek! Kamu nggak boleh memfitnahku!"

Gavin mendengus dingin. "Masih saja berbohong! Kakek begitu baik padamu, ini balasanmu?"

"Sebaiknya kamu doakan Kakek baik-baik saja. Kalau nggak, kupastikan kamu bayar dengan nyawamu!"

Marah, sedih, tertekan, putus asa, segala emosi bercampur aduk. Lisa dapat merasakan darahnya terkuras dan suhu tubuhnya menurun drastis, seolah-olah hidupnya akan segera berakhir.

Apakah ini yang dirasakan oleh Ibu ketika tidak ada yang menolongnya di saat-saat terakhir?

Di tengah keadaan linglung, Lisa yang semula nangis tiba-tiba tersenyum. Dia seolah-olah mendengar ibunya memanggilnya.

Ibu ....

Ibu datang menjemputku?

Bab 4

Lisa bermimpi panjang.

Dalam mimpinya, Kelly belum pulang, dia dan Gavin masih adalah sepasang kekasih muda yang sedang dimabuk cinta.

Gavin mengajaknya bertemu dengan teman-teman, memamerkan keberadaannya, seolah-olah dia adalah segalanya bagi Gavin.

Bahkan menemaninya pergi ke rumah sakit untuk mengunjungi ibunya, berusaha untuk menyenangkan ibunya dan memantaskan diri sebagai seorang menantu.

Melalui begitu banyak hal yang dilakukan oleh Gavin, dia pun hanyut dalam cinta.

Lisa mengira hubungan mereka akan membuahkan hasil.

Hingga sebaskom air es mengguyurnya dan membasahi pakaian tipisnya, rasa dingin menjalar ke sekujur tubuhnya dan membuatnya merinding.

Dia terbangun dari mimpi.

Gavin duduk di kursi sambil menatapnya dengan tajam. "Kamu harus bersyukur Kakek sudah terbebas dari bahaya. Kalau nggak, nyawamu sudah melayang di meja operasi."

"Tapi, sebelum Kakek sadar, renungkan kesalahanmu di sini dan siap-siap untuk donor darah kapan saja."

Kepalanya berdengung dan bulu kuduknya berdiri.

Ruang isolasi ini adalah tempat di mana Gavin menangani musuh-musuhnya. Banyak nyawa yang terkubur di sini, tidak terlihat sedikit pun paparan sinar matahari, bahkan udara dipenuhi dengan bau darah.

Lisa pernah bercanda dengan Gavin. "Kalau suatu hari kita bermusuhan, kamu akan mengurungku dan menyiksaku di sini?"

Saat itu, Gavin menjawab dengan tegas, "Nggak akan, kita nggak akan bermusuhan."

Namun sekarang, hanya karena sebuah kebohongan konyol, Gavin memasukkannya ke tempat yang penuh dengan siksaan ini!

Lisa kecewa. Hatinya seolah-olah disayat dengan pisau.

Dia mengangkat wajah mungilnya sambil berkata, "Bukan aku yang dorong Kakek. Aku nggak pernah melakukannya, aku nggak salah, juga nggak perlu renungkan kesalahan di sini."

Lisa berusaha untuk bangkit, tetapi tubuhnya sangat lemas dan dia tidak sanggup bangun.

Gavin mendengus dingin. "Lisa, lempar batu sembunyi tangan, kamu memang hebat dalam hal ini. Tapi, aku nggak akan percaya pada omonganmu lagi!"

Setelah berkata demikian, dia berbalik pergi.

Lampu dimatikan, Lisa terperangkap dalam ruangan gelap yang dipenuhi dengan bau darah.

Rasa takut yang luar biasa memenuhi hatinya, Lisa berteriak dengan putus asa.

Saat tenggorokannya kering dan tidak sanggup berteriak lagi, pintu ruang isolasi dibuka dengan kuat.

Kelly menatap Lisa sambil berkata dengan nada menghina, "Wanita sialan!"

"Kalau bukan karena wajah kita mirip, Gavin bahkan nggak akan melirikmu!"

"Tapi, nggak apa-apa. Kalau aku menghancurkan wajahmu, kamu nggak akan bisa menggoda Gavin lagi!"

Kelly menggenggam erat pisau di tangannya, matanya dipenuhi dengan kecemburuan dan kebencian atas cinta yang tidak direstui. Dia mengayunkan pisau ke wajah Lisa.

Keinginan untuk bertahan hidup membuat mata Lisa memerah. Dia mengangkat tangannya untuk menangkis pisau itu, tetapi dia malah merasakan rasa sakit yang luar biasa.

"Lisa!"

Terdengar teriakan marah dari pintu.

Detik berikutnya, Lisa didorong ke tanah dengan kuat dan keningnya terbentur ke sudut dinding.

Hal yang lebih menakutkan adalah dia menimpa sesosok tengkorak. Suara tulang yang hancur membuat kulit kepalanya kesemutan, dia langsung berteriak ketakutan.

Namun, hal yang sulit dipercaya adalah Kelly menusukkan pisau ke bahu kirinya dan berbaring di genangan darah.

"Lisa, aku datang selamatkan kamu, kamu malah ingin membunuhku ...."

Lisa tercengang.

Dia ingin menjelaskan pada Gavin bahwa dia tidak menyakiti Kelly.

Namun, Gavin lebih panik darinya. Gavin langsung membawa Kelly yang berlumuran darah ke rumah sakit dan memanggil dokter-dokter ternama untuk mengoperasi Kelly.

Kemeja putihnya terkena noda darah, lengannya berdarah karena bergesekan dengan pintu besi yang berkarat dan matanya memerah.

Dia panik, lemas dan tidak bertenaga ....

Dia bahkan mengusir sahabatnya yang datang untuk menghiburnya. "Pergi!"

Dia berlutut di dekat jendela sambil berdoa dengan tulus, "Kalau Kelly mati, aku nggak mau hidup lagi!"

Inilah Gavin yang belum pernah dilihat oleh Lisa.

Pintu ruang operasi tiba-tiba terbuka, perawat bergegas keluar. "Pasien mengalami pendarahan hebat, tapi persediaan darah di rumah sakit terbatas ...."

Gavin langsung menyisingkan lengan bajunya. "Ambil darahku! Golongan darah kami sama, aku bisa meyelamatkannya!"

"Kak Gavin, kamu gila?" Sahabatnya menghentikannya dengan kaget. "Cuma seorang wanita. Sekalipun kamu sangat mencintainya, pantaskah kamu berkorban untuknya?"

Tatapan Gavin sangat dingin dan menakutkan. "Kelly adalah orang yang paling kucintai, dia adalah nyawaku! Aku nggak bisa hidup tanpa dia!"

Operasi berlangsung selama satu hari satu malam, akhirnya Kelly berhasil diselamatkan.

Meski Gavin kehilangan banyak darah, dia sangat lega.

Dia mengosongkan seluruh rumah sakit dan meminta semua dokter untuk melayani Kelly seorang. Selain itu, dia juga terus berada di sisi Kelly.

Semuanya terharu melihat betapa mulianya cinta mereka.

Namun, Lisa malah teringat akan kematian ibunya yang tragis.

Ternyata Gavin dapat menentukan hidup dan mati seseorang.

Ironis sekali!

Bab 5

Kelly dirawat di rumah sakit selama setengah bulan, Gavin pun menjaganya selama setengah bulan.

Selama setengah bulan ini, Lisa mengemasi barang-barangnya dan pindah dari vila yang mengurungnya selama lima tahun itu.

Dia menggunakan sisa tabungannya untuk menyewa apartemen kecil, lalu kembali bekerja paruh waktu di bar.

Dia harus melalui setengah bulan ini sebelum kembali ke Badan Riset dan Inovasi Nasional.

Namun tak disangka, dia akan begitu cepat bertemu dengan Gavin lagi.

Untuk merayakan Kelly keluar dari rumah sakit, Gavin menyewa seluruh bar dan mengundang para anak sultan Kota Tarna untuk berpesta semalaman.

Lampu remang-remang dan musik yang nyaring.

Gavin memberikan perhatian penuh pada Kelly.

Sekelompok sahabatnya pun duduk mengitari Kelly dan terus menanyakan keadaannya.

Lisa tidak ingin berurusan dengan mereka, jadi dia mengirimkan pesan pada bosnya untuk meminta cuti.

Ketika dia hendak pergi, Kelly memanggilnya, "Lisa."

"Kamu melakukan hal sekejam itu padaku, kamu bahkan nggak minta maaf dan mau melarikan diri?"

Sepasang mata Kelly yang berkaca-kaca tampak sangat menyedihkan hingga membuat orang-orang mengasihaninya.

Namun, Lisa hanya meliriknya dengan dingin. "Kukatakan sekali lagi, aku nggak menusukmu. Kalau kamu terus memfitnahku, aku akan menuntutmu atas pencemaran nama baik."

Setelah itu, Lisa berbalik pergi, tetapi Gavin menyuruh pengawal untuk menghentikannya.

Minuman keras disiram ke kepalanya, Lisa merasakan penghinaan yang luar biasa.

Musik yang nyaring tiba-tiba berhenti, sekelompok orang yang sedang berpesta pora sontak terdiam dan menatapnya dengan penasaran.

"Kamu ingin melarikan diri setelah berbuat salah? Lisa, kenapa dulu aku nggak menyadari kamu begitu jahat?"

"Awalnya Kakek, sekarang kamu bahkan berani menyakiti Kelly. Selanjutnya, kamu ingin menjadikanku boneka agar aku bisa berada di sisimu selamanya?"

Setelah melalui hari-hari yang sulit, Gavin tampak agak pucat, tetapi tatapannya bagaikan pisau tajam yang menancap ke hati Lisa.

Lisa agak lelah. "Sudah kubilang aku nggak menyakiti Kakek, apalagi Kelly."

Setelah berkata demikian, dia pun merasa pasrah dan tidak berdaya.

Kamera pengawas rusak, saksi disuap dan Gavin dibutakan oleh cinta ....

"Aku berani bersumpah bukan aku yang menusuknya. Kalau aku bohong, aku bersedia hidup sengsara selamanya."

"Tapi Kelly, apa kamu berani? Kamu berani bersumpah semua ini bukan rekayasamu?"

"Cukup!" Gavin menyela Lisa dengan nada dingin, lalu melindungi Kelly di belakangnya. "Lisa, sampai sekarang kamu masih belum merasa bersalah! Jangan salahkan aku kejam dan menghukummu dengan aturan keluarga!"

Lutut Lisa melemas, beberapa pengawal memaksanya untuk berlutut di depan semua orang.

Dia berusaha untuk melawan, tetapi situasi ini membuatnya ketakutan.

Gavin mengambil cambuk dari salah satu pengawal, lalu berjalan menghampirinya. "Sekarang sudah takut? Pernahkah kamu berpikir betapa takutnya Kakek dan Kelly waktu dicelakai olehmu?"

Setelah berkata demikian, terdengar suara sentakan. Cambuk itu mendarat di punggung Lisa!

Tubuh Lisa bergetar hebat, seolah-olah tersengat listrik. Saking sakitnya, dia tidak bisa berbicara.

"Jawab!" Suara Gavin dipenuhi dengan amarah yang membara. "Kamu sudah mengaku salah?"

"Nggak ..." jawab Lisa dengan lemah dan kukuh.

Gavin tertawa dengan marah dan kembali mengangkat cambuk di tangannya. "Nggak mau mengaku? Kamu kira selama kamu nggak mengaku, kamu nggak bersalah? Kamu memang jahat!"

Suara cambukan yang dibaluti dengan suara tawa di sekeliling membuatnya sesak napas. Walaupun demikian, Lisa makin menunjukkan perlawanan. Dia bahkan tertawa terbahak-bahak hingga mengeluarkan air mata.

"Aku nggak salah! Kenapa aku harus mengaku salah?"

"Kesalahan terbesar dalam hidupku adalah bertemu dengan bajingan sepertimu!"

"Gavin, kamulah bajingan yang paling keji itu!"

Kelly mengerutkan keningnya. "Lisa, kamu nggak boleh mengatai Gavin seperti itu ...."

"Memangnya kamu siapa! Kamu kira kamu lebih baik darinya?" Lisa menyelanya dengan nada dingin, lalu mengumpatnya dengan kesal, "Kamu hanya pecundang yang memanfaatkan kekuasaan orang lain, kamu nggak berhak memerintahku!"

"Plak! Plak! Plak!"

Amarah Gavin membara, dia terus mencambuk tubuh Lisa.

Cambukan pertama.

"Ini untuk Kakek."

Cambukan kedua.

"Ini adalah hukuman karena kamu mencoba untuk membunuh Kelly."

Cambukan ketiga.

"Ini adalah peringatan agar kamu nggak bermimpi menjadi nyonya Keluarga Sanjaya!"

...

Total 64 cambukan, setiap pukulan seolah-olah mengenai hati Lisa.

Bau amis tiba-tiba memenuhi tenggorokannya, dia memuntahkan seteguk darah dan pingsan.

Ketika dia terbangun, dia berada di bangsal rumah sakit.

Adegan dia dicambuk ditayangkan di televisi.

Jeritannya yang memilukan dijadikan sebagai hiburan. Punggungnya yang berlumuran darah disiram berkali-kali dengan minuman keras.

Dia bagaikan sampah yang dibuang di sudut ruangan.

Ketika pemilik bar datang untuk memeriksa bar, dia menemukan Lisa yang sekarat. Dengan begitu, Lisa pun selamat.

Hal ini begitu menyedihkan, tetapi Lisa tidak bisa meneteskan setetes air mata pun.

"Sudah bangun?"

Melepas Masa Lalu

Bab 3
Bab
Sesuaikan
Bab Berikutnya