Bab 1

Setelah kehamilan tak terduga, Andika Senjaya yang selama ini menghindari pembicaraan tentang pernikahan tiba-tiba melamarku. Aku merasa sangat gembira dan tentu saja menyetujuinya. Namun, di hari pernikahan kami, aku tanpa sengaja mendengar percakapannya dengan teman-temannya. 

“Demi anakmu dan Nancy, kamu benar-benar mau nikah sama Cathy?”

Andika menjawab dengan tampang kesal, “Ini semua gara-gara ibuku. Dia selalu bilang latar belakang Nancy kurang bagus. Kalau bukan demi anakku dengan Nancy bisa hidup di keluarga yang baik, mana mungkin aku menikahinya? Kamu nggak tahu seberapa membosankan wanita itu di ranjang. Baru tidur 2 kali dengannya, aku sudah bosan.”

Air mata yang menetes di punggung tanganku tiba-tiba menarikku kembali ke dunia nyata. Aku menatap kamera yang kupegang. Ini seharusnya adalah momen paling bahagia dalam hidupku, tetapi momen ini malah menjadi sebuah ironi.

Aku membuka pintu kamar. Begitu melihatku, Andika langsung terlihat panik.

“Cathy, kok kamu ada di sini? Kenapa kamu nangis? Ka ... kamu terlalu gembira karena akan segera menikahiku?”

Saat menyadari Andika sedang menguji dan curiga padaku, aku benar-benar merasa muak.

“Andika, aku cuma mau tanya, kamu benar-benar tulus mau menikahiku?”

Andika tertegun sejenak, lalu menunjukkan ekspresi kesal yang familier.

“Pernikahan kita sudah mau dimulai. Buat apa kamu tanya pertanyaan seperti ini lagi? Cathy, bisa nggak kamu ubah sifat manja ala anak orang kayamu? Kalau kamu masih lanjut buat onar, batalkan saja pernikahan ini.”

Kata-katanya itu sangat menusuk hatiku. Aku pun tertawa. Lihatlah, bahkan sampai hari ini, dia sama sekali tidak bersedia bersikap baik terhadapku. Apa di hati Andika, aku ini wanita yang begitu murahan?

“Oke.” Aku langsung melepas cadar di kepalaku dan membuangnya ke lantai. Kemudian, aku melepas cincin pertunanganku dan melemparnya ke wajah Andika.

“Andika, pernikahannya dibatalkan!”

Tanpa menunggu respons dari Andika, aku berlari ke luar dan menghentikan sebuah taksi. Begitu masuk ke taksi, air mataku tak terbendung lagi.

Aku tahu siapa Nancy yang dibicarakan Andika. Nancy adalah cinta pertama Andika. Demi Nancy, Andika pernah ikut tawuran dan bolos sekolah. Bahkan demi mengejar Nancy yang hendak pergi ke luar negeri, dia hampir tewas dalam kecelakaan.

Selama 7 tahun berpacaran, aku tidak pernah mendengarnya menyebut nama Nancy sekali pun. Aku mengira dia sudah melupakan Nancy. Tak disangka, mereka malah diam-diam kembali bersama dan bahkan memiliki anak.

Demi membiarkan anak itu hidup di keluarga yang baik, Andika bahkan berpikiran untuk menikahiku, lalu menukar anak kami. Ini hanyalah sebuah tipuan, tetapi aku malah mengira aku sudah mendapat balasan dari semua pengorbananku selama ini.

Andika jelas-jelas tahu betapa aku menantikan pernikahan ini dan memiliki anak. Namun, dia tetap begitu kejam dan hendak menjebakku.

Ponselku tidak berhenti berdering. Ternyata semua orang sedang meneleponku. Ayah, Ibu, sahabatku ... dan Andika. Aku langsung menolak telepon dari Andika dan memblokirnya. Kebetulan, pesan dari ibuku juga masuk.

[ Cathy, Ayah dan Ibu percaya kamu bukan orang yang keras kepala. Kami akan tangani masalah di sini. Untuk masalah lainnya, kamu boleh kasih tahu kami setelah kamu tenang. Ibu cuma minta satu hal padamu. Jangan lakukan hal bodoh. ]

Setelah membaca pesan itu, air mata yang sudah kutahan mengalir lagi.

Bab 2

Aku kembali ke rumahku dengan Andika. Di semua sudut rumah ini, terdapat jejak hidup kami. Bingkai foto di dinding, karpet custom, vas bunga yang kami buat bersama ....

Rumah ini pernah memberiku kebahagiaan. Setelah sadar sekarang, aku baru menyadari betapa konyolnya diriku. Meskipun semua bingkai itu adalah fotoku dengan Andika, ekspresi Andika di setiap foto sangat dingin. Hanya aku sendiri yang tersenyum gembira.

Andika mengatakan dia tidak suka tersenyum. Namun, aku jelas-jelas pernah melihat tampangnya saat menatap Nancy. Begitu melihat Nancy, dia tanpa sadar langsung tersenyum dan merasa gembira dari dalam hati. Tidak seperti saat bersamaku, dia selalu terkesan tidak sabar.

Ada banyak barang di rumah ini. Barang milikku, milik Andika, dan milik kami. Setelah melihat semuanya saksama, aku baru menyadari bahwa hampir semua barang ini adalah pilihanku. Selain kebutuhan sehari-harinya, tidak ada satu pun barang yang dipilihnya. Kenapa aku bisa merasa rumah ini merupakan simbol kebahagiaanku dengan Andika?

Rasa sedih dan benci tidak berhenti menumpuk dalam hatiku. Aku pun kehilangan kendali dan membanting semua barang-barang di rumah ini. Vas, bingkai foto, cangkir .... Aku mencari semua barang yang dulunya sangat berarti bagiku dan membuangnya ke halaman.

Aku berdiri di depan tumpukan barang itu tanpa ekspresi. Sebuah laptop tiba-tiba jatuh dari tumpukan barang itu. Aku membukanya dan melihat sebaris kalimat yang kutulis di layar.

[ Seratus hal yang ingin kulakukan bersama Andika. ]

Bermain ski, menyelam, melihat matahari terbenam ....

Satu demi satu hal itu kutulis dengan sangat serius, rinci, dan penuh harapan. Sayangnya, tidak ada satu pun hal yang terwujud dari 100 hal itu.

Aku menaruh laptop itu ke samping, lalu menyalakan mancis. Api yang berkobar makin besar melenyapkan semua bukti kami pernah bersama. Masa lalu selama 7 tahun ini juga seolah-olah berubah menjadi gelembung dan sirna sedikit demi sedikit.

Perutku terasa agak sakit. Aku melirik rumah yang berantakan ini, lalu menelepon Paman Andy.

“Paman Andy, tolong suruh orang bersihkan rumah di Vila Indah Lestari, lalu jual secepatnya.”

Setelah mengemas beberapa potong pakaian, aku pun membeli tiket pesawat dan membawa koperku meninggalkan ibu kota. Sebelum naik ke pesawat, aku menerima pesan dari sebuah nomor tak dikenal.

[ Cathy, kamu gila ya? Jangan kira aku akan mengalah padamu karena kita sudah mau nikah! Nanti, jangan sampai kamu nangis-nangis minta aku nikahi kamu lagi! Aku nggak akan peduli padamu! ]

Aku tidak membalas pesan itu dan langsung memblokir nomornya. Kemudian, aku membuka sosial media dan kebetulan melihat postingan teman Andika.

[ Waktu sudah berlalu begitu lama, tapi cinta seseorang masih belum berkurang sedikit pun. ]

Foto yang dipostingnya itu adalah foto Andika dengan Nancy. Mereka sepertinya sedang bermain sebuah permainan. Wajah Andika dipenuhi dengan notes tempel yang berwarna warni, tetapi dia hanya menatap Nancy sambil tersenyum penuh kasih sayang.

Aku teringat insiden di mana aku pernah tidak hati-hati menciprati wajah Andika dengan krim kocok. Dia langsung murka dan mendorongku hingga aku jatuh ke lantai. Sekarang, dia malah sibuk menyenangkan wanita yang dicintainya sambil mengancamku.

Aku memberi komentar di postingan itu.

[ Semoga langgeng. ]

Setelah itu, aku langsung memblokir dan menghapus semua kontak maupun akun sosial media orang yang memiliki hubungan dengan Andika.

Aku mewujudkan 100 hal yang ingin kulakukan bersama Andika seorang diri. Hanya dalam waktu sebulan, aku berhasil melakukan semua yang tidak pernah kami lakukan selama 7 tahun.

Perhentian terakhir dalam perjalanan ini adalah melihat matahari terbit di gunung es. Aku menahan rasa dingin dan haus sambil mendaki selangkah demi selangkah ke tempat yang tidak pernah kudatangi. Aku sempat berpikir untuk menyerah beberapa kali, tetapi entah kenapa aku tetap bertahan.

Begitu tiba di puncak gunung es ini, cahaya keemasan yang cemerlang muncul di langit. Ketika melihat matahari terbit yang begitu memesona dan mendengar seruan gembira orang lain di sekitarku, rasa sakit itu seolah-olah juga sudah mencair sedikit demi sedikit.

Pada saat turun gunung, aku membuang laptop itu ke tong sampah. Saat aku kembali ke ibu kota, Ayah, Ibu, dan kakak laki-lakiku yang sudah menungguku sekian lama langsung memelukku dengan erat.

“Dasar kamu ini! Akhirnya kamu pulang juga.”

“Syukurlah kamu sudah pulang,”

Bab 3

Luna, sahabatku itu memukul pundakku, lalu berkata menyeka air matanya, “Untung kamu tetap ada kasih kabar ke kami. Kalau nggak, kami benar-benar bisa mati saking khawatirnya.”

Tidak ada orang yang bertanya kenapa aku tiba-tiba melarikan diri dari resepsi pernikahan, atau kenapa aku berlibur seorang diri selama sebulan. Mereka semua bersikap seolah-olah semua itu tidak penting.

Dalam perjalanan pulang, kakakku berujar, “Cathy, kami itu pendukung terbesarmu. Kamu pasti akan lakukan kesalahan selama hidup, tapi kami akan selalu menoleransi semua kesalahan itu.”

Aku menahan air mataku dan tidak berhenti mengangguk.

...

Baru saja aku tiba di gerbang rumah, Paman Andy, pengurus rumah kami buru-buru berjalan keluar dan berbisik, “Tuan, Nyonya, Andika bawa orang datang kemari.”

Begitu mendengar ucapan itu, ekspresi Ibu langsung berubah.

“Dia masih berani datang? Siapa yang biarkan dia masuk?” Melihat kakakku yang hendak turun dari mobil dan sepertinya ingin menghajar Andika, aku buru-buru menghentikannya.

“Nggak usah begitu. Biar aku saja yang tangani hal ini. Kalian nggak usah khawatir.” Saat melihat tatapan mereka yang penuh kekhawatiran, aku menepuk-nepuk tangan mereka sambil menghibur, “Aku benar-benar baik-baik saja. Pikiranku sudah terbuka.”

Setelah menenangkan keluargaku, aku melirik ke arah Andika dan Nancy yang ada di sisinya. Keningku pun berkerut. “Ini bukan hal yang patut dibanggakan. Kita ganti tempat bicara saja.”

Sebelum mereka sempat merespons, aku sudah langsung berjalan ke arah paviliun di samping.

Andika buru-buru mengejarku dan bertanya dengan kesal, “Cathy, sudah cukup kamu buat onarnya? Kamu benar-benar nggak mau nikah lagi, ‘kan?”

Aku menatap Andika dengan agak lucu, lalu bertanya balik sambil memiringkan kepalaku, “Andika, seingatku, aku sudah ngomong semuanya dengan jelas. Hubungan kita sudah berakhir. Bukannya kamu bilang kamu nggak akan setuju meski ke depannya aku nangis-nangis dan minta kamu nikahi aku? Kenapa? Sekarang, kamu yang mau bersujud dan mohon padaku?”

Ucapanku jelas sudah memicu amarah Andika. Dia mencengkeram tanganku dan berseru, “Cathy, jangan keterlaluan! Jangan lupa anak dalam kandunganmu itu anakku! Apa kamu mau goda pria lain dan jebak dia jadi ayah anak ini?”

Begitu mendengar penghinaannya, aku langsung menamparnya dengan kuat. Suara tamparan yang nyaring langsung mengejutkan Nancy yang berdiri di samping.

Nancy buru-buru memeriksa wajah Andika, lalu berkata dengan sedih, “Cathy, aku tahu kamu nggak suka sama aku. Tapi, postingan itu cuma salah paham. Masih ada orang lain di samping kami. Kami bukan cuma berduaan.”

“Kalau kamu salah paham, kamu boleh pukul atau maki aku. Tapi, kamu nggak boleh pukul Andika! Kalian sudah pacaran 7 tahun. Kamu yang duluan kabur dari resepsi pernikahan kalian dan buat Andika malu. Kenapa kamu malah bersikap kayak dia yang salah?”

Setelah mendengar kata-kata munafik itu, aku langsung menampar Nancy.

“Nancy, kamu ucapkan kata-kata munafik itu pakai status apa? Mantan pacarnya atau simpanannya?”

Andika tidak menyangka aku akan tiba-tiba main tangan. Dia buru-buru memeriksa wajah Nancy, lalu mengancamku, “Cathy, sebaiknya kamu sadar diri! Kalau masalah ini bertambah besar, kamu sendiri akan malu!”

Begitu mendengar ucapan itu, aku pun merasa sangat lucu.

“Aku ini putri Keluarga Suryadi. Kelak, setengah aset Keluarga Suryadi akan jadi milikku. Kamu kira aku akan takut pada ancamanmu? Kalian mau sandiwara sampai kapan? Kalian kira orang luar nggak akan tahu hubungan kalian dari sikap kalian yang mesra? Kalian anggap aku bodoh?”

Begitu memikirkan hal ini, aku merasa hal ini makin ironi. “Asal kamu tahu, aku nggak mungkin nikah sama kamu! Mau kamu cari Nancy atau wanita lain, terserah! Itu nggak ada kaitannya denganku!”

Seusai berbicara, aku langsung berbalik dan hendak pergi. Namun, Andika malah ingin mencengkeram tanganku. Melihat hal ini, Nancy memanfaatkan kesempatan untuk menabrak Andika. Gerakan Andika yang semula hendak mencengkeram tanganku secara refleks berubah menjadi mendorongku.

Aku yang lengah pun jatuh dari tangga. Kemudian, darah mulai mengalir keluar dari bagian bawah tubuhku.

Baca Cerita Lengkapnya Sekarang
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk menghadirkan lebih banyak cerita luar biasa Goodnovel
Buka Semua Bab
Cari "B74301" di goodnovel para membaca buku selengkapnya.
Salin kode dan cari di aplikasi NovelShort untuk melanjutkan membaca.
B74301
Salin

Melarikan Diri dari Pernikahan

Bab 1
Bab
Sesuaikan
Bab Berikutnya