Bab 1
Setelah terlahir kembali, aku memutuskan untuk tidak terobsesi pada teman sejak kecilku, Jacky Halim.
Di pesta ulang tahunnya, dia memasang plakat di pintu masuk. Dia menulis namaku di samping logo anjing, dilarang masuk. Jadi, aku sengaja pergi ke Hawai untuk menghindar jauh-jauh darinya.
Dia bilang mual dan jijik saat mencium bauku di rumah, jadi aku pun memilih pindah rumah dengan patuh.
Setelah itu, dia bilang setelah tamat nanti, dia tidak ingin menghirup udara kota yang sama denganku. Jadi aku cepat-cepat angkat kaki pergi dan tidak pernah kembali lagi.
Terakhir, dia bilang keberadaanku gampang membuat wanita idamannya salah paham.
Aku menggangguk kepala. Tak lama kemudian, aku pun menemukan pria lain dan mengumumkan hubungan kami.
Di kehidupan kali ini, aku selalu membuat keputusan yang berbeda dengan kehidupan sebelumnya.
Semua ini hanya karena di kehidupan yang sebelumnya, saat impianku menikah dengan Jacky terwujud, wanita idaman Jacky bunuh diri dengan loncat dari tebing.
Dia menuduhku sebagai dalang pembunuhnya. Dia pun mulai menyiksaku, sampai akhirnya aku mati dan mayatku menjadi santapan ikan.
Di kehidupan kali ini, aku hanya ingin hidup tenang.
Kemudian, saat aku merangkul tangan pacar baruku.
Jacky malah mengadang di tengah jalan dengan mata merah padam.
“Vivi, kalau kamu ikut denganku sekarang, aku akan memaafkan semua lelucon yang kamu buat.”
”Vivi Kumala dan hewan peliharaan, dilarang masuk”
Melihat plakat yang tidak asing ini dipasang di depan pintu, aku menangis terharu.
Vivi Kumala adalah namaku. Seseorang membuat penghinaan seperti ini dengan menyamakan derajatku dengan hewan peliharaan.
Namun tidak ada yang tahu betapa senangnya aku saat ini, karena aku telah terlahir kembali.
Aku kembali di hari ulang tahun tunanganku, Jacky Halim.
Di mata banyak orang, aku dinilai tidak pantas bersanding dengan Jacky.
Baik dari segi derajat keluargaku maupun dari sisi penampilanku, kami berdua memang memiliki kesenjangan yang cukup besar.
Dia anak orang kaya, putra keluarga Halim di Kota Martapluno, sedangkan aku sendiri hanyalah seorang anak yatim piatu yang sudah tidak punya ayah dan ibu.
Hanya karena sebuah lelucon saat kanak-kanak, telah mengikat hubungan kami selama lebih dari dua puluh tahun.
Semua orang merasa kalau hubungan kami ini tidak adil bagi Jacky.
Termasuk dia sendiri juga.
Jadi dia memasang plakat di pintu untuk menahan aku di luar. Padahal aku datang ke pesta ini dengan dandanan formal dan gaun pesta yang indah.
“Vivi, bukan kami tidak ingin membiarkan kamu masuk, ini adalah permintaan Kak Jacky.”
“Kamu harus berpikir dewasa. Jangan mempersulit kami, nanti kamu sendiri yang akan kehilangan muka.”
Sahabat baik Jacky berdiri di depan pintu, dia menyampaikan pesan dengan wajah yang dingin.
Ada dua satpam yang berdiri di sisinya, sambil memegang tongkat penyetrum listrik.
Suasana pun terasa mencekam, seperti bakal terjadi pertempuran hebat saja. Semua ini dipersiapkan untuk menghadapi aku.
Semua orang tahu kalau Jacky sangat muak dan membenciku.
Di kehidupan yang lalu, aku juga tidak pernah menghadiri pesta ini.
Aku diperlakukan seperti seekor hewan peliharaan yang menunggu di pintu dari siang sampai malam.
Sampai akhirnya, aku pingsan karena kedinginan dan demam tinggi.
Saat kedua orang tua Jacky mengetahui hal ini, mereka langsung memarahi Jacky dan mempercepat jadwal pernikahan kami.
Di hari pernikahan kami, wanita idaman Jacky bunuh diri dengan melompat dari tebing.
Di mata Jacky dan gengnya itu, akulah dalang pembunuhnya.
Demi membalas dendam atas kematian wanita idamannya itu...
Selama bertahun-tahun Jacky menyiksaku secara batin!
Berkali-kali aku meminta cerai, tetapi dia selalu menolaknya.
Dengan ketus, Jacky bilang dia akan bertahan sampai mati.
Namun dia tetap mengabaikan perasaanku, menganggap keberadaanku ini bagaikan sebuah objek tembus pandang yang tidak kasat mata.
Aku telah mengalami siksaan batin seperti ini selama 20 tahun!
Akhirnya, aku mengalami masalah kejiwaan dan melompat ke laut, menjadi santapan ikan.
Ironisnya, di saat-saat terakhir jiwaku melayang di dunia...
Aku melihat Yuni Sanjaya, wanita idaman Jacky kembali ke tanah air dengan meriah. Dia dan Jacky pun bersua kembali.
Dia tidak mati, bahkan hidup dengan baik. Dia menjadi seorang desainer terkenal kelas internasional.
Cinta yang terlambat antara dia dan Jacky pun mendapat restu dunia.
Dari awal sampai akhir, hanya aku saja yang menjadi korban.
Terlahir kembali sekali lagi...
Aku ingin hidup dengan baik kali ini. Aku ingin menjauhkan diriku dari Jacky.
Bab 2
Di kelilingi tatapan mata orang-orang yang terlihat heran, aku berbalik dan langsung meninggalkan lokasi acara itu tanpa ragu-ragu sedikit pun.
Sampai di kediaman Keluarga Halim, aku langsung menanggalkan gaun pesta yang berat dan merepotkan.
Selama ini, semua orang tahu kalau aku ini penjilat Jacky.
Semua hal yang berhubungan dengan Jacky, aku selalu berpikir jauh ke depan untuknya.
Lalu membantu dia mengatur segala sesuatu dengan baik.
Tidak hanya sekali, Jacky sering mengatakan kalau pekerjaannya terlalu melelahkan, dia ingin bersantai.
Jadi aku mengatur perjalanan ke Hawaii dengan menyesuaikan jadwal kerjanya.
Karena dia sering bilang kalau dia merindukan suasana pantai dan laut Hawaii.
Namun di kehidupan sebelumnya, Jacky memang tidak pernah setuju liburan ke Hawaii.
Sebaliknya, dia malah memilih pergi berkemah dan mendaki gunung bersama Yuni.
Aku diperintahkan untuk ikut pergi.
Di tengah hujan lebat, Jacky meminta aku pergi memunggut kembali gelang tangannya Yuni.
Akibatnya, aku pun terguling dari tebing dan mengalami patah tulang kaki.
Kejadian ini membuat aku harus terbaring di rumah sakit selama dua bulan.
Aku merasa frustasi, memikirkan saat-saat di mana nyawaku seperti berada di ujung tanduk. Aku benar-benar tidak ingin mengalami kejadian yang sama seperti itu lagi.
Menjauh dari Jacky adalah langkah pertama yang harus aku lakukan.
Aku segera kemas koperku dan turun ke lantai bawah dengan dokumen perjalanan di tanganku.
Kebetulan sekali, aku berpapasan muka dengan Jacky yang baru saja berjalan masuk. Dia mengenakan setelan formal.
Melihatku, dia tiba-tiba mencibir dan menyambar koperku, lalu membuangnya.
Aku mengerutkan kening dan bertanya, "Apa yang kamu lakukan?"
"Vivi, seharusnya aku yang bertanya, apa yang kamu lakukan?"
"Kenapa bersikap seperti kanak-kanak, sih? Masih main kabur dari rumah?"
"Lain kali, apa yang ingin kamu lakukan? Apakah kamu mau meninggalkan surat dan bunuh diri?"
Napas Jacky terengah-engah. Dengan wajah marah, dia menudingku.
"Vivi, apa kamu nggak merasa kamu terlalu naif, mengunakan bunuh diri buat mengancamku?"
Aku menepuk-nepuk koperku yang kotor dan bertanya kembali sepatah kata demi kata.
"Siapa bilang aku mau bunuh diri?"
Jacky dan orang seperti Yuni, yang satu berhati kejam bak serigala, sedangkan yang satu lagi jahat. Mereka berdua juga bisa hidup dengan baik.
Sedangkan aku, setelah bersusah payah bisa hidup kembali, kenapa aku harus bunuh diri?
Jacky mencibir, dia tidak berbicara. Matanya penuh dengan penghinaan.
Yuni yang mengikutinya pulang, buka suara perlahan-lahan.
"Vivi, jika kamu ingin ikut menghadiri pesta ulang tahun, kamu bisa memberi tahu Jacky secara baik-baik. Apalagi kalian adalah saudara yang tumbuh dewasa bersama. Bagaimana mungkin dia tidak mengizinkanmu masuk?"
"Trik bunuh diri hanya bisa dipakai sekali, tapi kalau dipakai dua kali, orang lain pasti menganggap itu tipu muslihat."
Ucapan Yuni mengandung maksud tertentu.
Tatapan Jacky terhadapku semakin terkesan menyebalkan.
Pikiranku seperti benang kusut.
Tiba-tiba aku teringat sesuatu.
Saat SMA, setelah Jacky dan Yuni pacaran.
Sikap Jacky terhadapku berubah.
Dengan marah, aku meninggalkan pesan dan mengatakan kalau aku akan mencari tempat untuk melompat ke sungai.
Hal ini sempat membuat Paman Johny dan Bibi Ida ketakutan.
Mereka memerintahkan Jacky untuk putus dengan Yuni.
Sejak itu, Jacky mulai membenciku, mengabaikanku bahkan menolak untuk berkomunikasi denganku.
Geng Yuni mengisolasiku dan menindasku, tetapi Jacky menutup sebelah mata.
Aku menatap Jacky lurus dan menjelaskan, "Kamu berpikir terlalu jauh. Aku nggak pernah berpikir untuk bunuh diri. Aku kemas barang-barangku untuk mengejar pesawat ke Hawaii."
Jacky mencibir, dia menertawakan aku menggunakan alasan yang buruk untuk menyelamatkan mukaku.
Yuni menarik lengan baju Jacky. "Jacky, kenapa kamu tidak membiarkan Vivi bergabung dengan kita? Dia yang seperti ini sangat menyedihkan."
Jacky mengerutkan kening dan hendak menyerah.
Aku menolak lagi, "Nggak usah, aku akan pergi ke Hawaii."
Wajah tampan Jacky sedikit berubah, dia mencibir, "Kau dengar, ‘kan? Dia mau pergi ke Hawaii!"
"Vivi, sekarang bukan waktunya kamu bersikap kekanak-kanakan."
Vivi menghela napas dan melangkah maju untuk menarik tanganku.
Kuku-kukunya yang tajam itu menancap masuk ke dalam dagingku, tepat di tempat yang tidak diketahui siapa pun.
Aku kesakitan sekali dan menghempas tangan Yuni.
Yuni langsung jatuh ke lantai, dia terlihat seakan-akan tidak berdaya dan menahan telapak tangannya. Dengan tatapan tidak percaya, bibirnya bergetar, "Vivi, kamu...”
Bab 3
"Vivi, kamu cari mati!"
Jacky sangat emosi, dia mendorongku sampai jatuh dengan kekuatan yang lebih besar.
Bagian belakang kepalaku membentur anak tangga. Kepalaku terasa sangat sakit, penglihatanku juga menjadi kabur.
Aku mendengarkan Jacky berteriak marah.
"Vivi, kamu kecanduan dalam menindas orang, ya?!"
"Tinggal bersama manusia yang nggak tahu terima kasih sepertimu, membuat udara di rumah ini menjadi kotor. Benar-benar menjijikan!"
Aku menahan rasa sakit dan membuka mulutku untuk menghentikan kata-katanya yang semakin lama semakin tidak enak didengar.
"Aku akan pindah, jangan khawatir."
"Sebaiknya kamu bisa lakukan sesuai apa yang kamu bilang itu."
Semua amarah Jacky tertahan di tenggorokannya.
Dia melototiku, hingga akhirnya dia merangkul Yuni, berbalik dan pergi.
Aku menyentuh darah yang terasa lengket di belakang kepalaku, entah kenapa aku tiba-tiba teringat sesuatu.
Saat berusia lima belas tahun, hubunganku dengan Jacky masih jauh lebih baik, tidak seperti sekarang.
Semua itu karena aku sudah mengetahui rencana pernikahan kami sejak dini, aku juga tahu kalau cepat atau lambat kami akan menjadi sebuah keluarga yang sebenarnya.
Jadi aku selalu menempel padanya.
Saat dia memberontak dan diam-diam pergi ke warnet untuk main game, aku juga ikut dia pergi ke sana.
Kemudian karena main game, Jacky berkelahi dengan orang lain.
Aku mencoba melalaikan mereka, tetapi malah aku yang terluka. Secara tidak sengaja, jariku teriris.
Pada saat itu, Jacky bagaikan binatang buas.
Dia memukul pria yang badannya jauh lebih besar darinya, sampai pria itu babak belur dan meminta ampun.
Dulu aku yang tidak sengaja terluka, bisa membuat dia panik bukan main.
Namun sekarang, tanpa pandang bulu, dia malah menyakitiku demi orang lain. Dia bahkan memarahiku “cari mati!”
Namun semua itu sudah bukan masalah lagi.
Tunggu Paman Johny dan Bibi Ida pulang, aku akan mengakhiri pertunanganku dengan Jacky.
Aku melihat pelayan di sampingku. Dengan susah payah aku menarik sudut bibirku.
"Bisakah kamu mengantarku ke rumah sakit? Aku bisa memberimu uang.”
Pelayan muda yang baru datang itu baru hendak bergerak, tetapi sebelum dia mendekat, dia sudah ditarik mundur oleh pelayan lama.
Suara bisikan mereka yang sengaja direndahkan itu terdengar sampai ke telingaku juga.
"Cari mati!"
"Kamu nggak tahu kalau Tuan Jacky paling benci Nona Vivi?"
"Kalau sampai terlihat dia, kamu pasti akan dipecat!"
Pelayan muda itu ketakutan, melirikku untuk terakhir kalinya dan kabur.
Aku menggelengkan kepala dan tersenyum kecut, merangkak ke sudut dan memunggut ponsel yang layarnya sudah rusak.
Paman Johny dan Bibi Ida jarang berada di rumah.
Dalam sebulan, hanya tiga atau empat hari di rumah.
Jacky adalah satu-satunya tuan rumah di sini. Tidak hanya sekali, Jacky sudah sering mengatakannya...
Aku bukan anggota keluarga Halim, aku harus lakukan sendiri semua hal yang menyangkut diriku.
Jadi tidak ada orang yang berani mendekatiku.
Setiap kali aku pulang, sisa makanan pasti sudah dibuang ke tong sampah dan diikat dengan baik.
Piring yang ada di atas meja sudah kosong melompong.
Untungnya, aku sudah terbiasa.
Aku berusaha memaksakan diriku sendiri sampai ke rumah sakit.
Dokter mengatakan aku mengalami gegar otak.
Aku harus menjalani rawat inap selama dua hari untuk pengamatan.
Setelah keluar dari rumah sakit, aku kembali ke kediaman Keluarga Halim untuk mengemas barang-barangku.
Para pelayan memperhatikannya dengan tatapan dingin saat aku mengemasi barang-barangku sendirian.
Sore itu, aku mengemas semuanya dan mengirim barang-barang itu ke rumah sewaan yang aku sewa agak tergesa-gesa.
Ini hanyalah tempat tinggal sementara.
Aku harus menunggu sementara waktu sampai aku mendapatkan ijazahku, mendapat tawaran kerja dan mengakhiri pertunanganku dengan Jacky.
Saat itu, aku bisa pergi meninggalkan semua ini.
Hari ketiga setelah meninggalkan kediaman Keluarga Halim...
Jacky menelepon, suaranya terdengar agak mabuk.
"Kamu ke mana?"
"Ruang A12, cepatlah kemari."
Aku sedang sibuk menulis resume, ketika jalan pikiranku terinterupsi, aku merasa sedikit bete.
"Jacky, ada apa?"
Orang di ujung telepon terdiam.
Bahkan suara desas-desus di sekitar mereka pun menjadi jauh lebih tenang.
Aku bilang “halo” lagi, tapi tidak ada suara, jadi aku hendak menutup telepon.
Jacky tiba-tiba berbicara.
"Vivi, kamu ke mana?"
Aku sambil mengetik, menaruh ponselku di samping dan berkata dengan santai.
"Bukankah kamu bilang tinggal seatap denganku, membuat udara terasa menjijikkan, jadi aku pindah."
"Jangan khawatir, kelak aku tidak akan kembali lagi."
Napas pria itu semakin berat, dia tiba-tiba mencibir.
"Vivi, sejak kapan kamu menjadi begitu patuh?"
"Jangan-jangan dulu yang suka ikuti aku itu, bukan kamu?"
"Karena kamu begitu patuh, aku minta kamu keluar dari kota ini, menjauh dari pandanganku, bisakah kamu pergi!?"
"Vivi, aku nggak peduli trik apa yang kamu mainkan. Kalau kamu mengusik Yuni terus, awas kamu!"
Mouse di tanganku sepertinya agak sulit bergerak. Aku menatapi layar komputer.
Setelah beberapa saat, aku menyadari apa yang Jacky katakan.
Suara sarkastik Jacky terdengar.
"Kenapa, tidak bisa bilang apa-apa lagi?"
"Apa kamu nggak bosan memainkan trik setiap hari?"
"Kalau kamu minta maaf pada Yuni, aku akan mengizinkanmu balik kembali."
Aku berkata perlahan, "Baiklah, aku berjanji padamu, aku akan pergi."
Setelah mengatakan itu, aku tidak menunggu respon Jacky, aku langsung menutup telepon.