Bab 1

Pada hari anakku selesai ujian masuk universitas, aku meninggal di rumah sakit karena kanker stadium akhir.

Sementara itu, suamiku sedang memeluk mantan kekasihnya di hotel dan berkata, "Cepat atau lambat, wanita tua itu akan kasih tempat buat kamu."

Anakku berpesta semalaman di bar, mabuk-mabukan sambil mengeluh kepada temannya, "Ibuku itu maunya mengatur seluruh hidupku. Aku malah pengen jauh-jauh darinya."

Mertuaku mengobrol dengan tetangga, "Seharian dia nggak melakukan apa-apa, cuma tahu makan saja. Aku menyesal punya menantu kayak dia!"

Aku sudah tidak bisa membantah mereka lagi.

Kali ini, akhirnya mereka mendapatkan apa yang mereka inginkan.

Pada hari anakku selesai ujian masuk universitas, aku meninggal di rumah sakit karena kanker stadium akhir.

Sementara itu, suamiku sedang memeluk mantan kekasihnya di hotel dan berkata, "Cepat atau lambat, wanita tua itu akan kasih tempat buat kamu."

Anakku berpesta semalaman di bar, mabuk-mabukan sambil mengeluh kepada temannya, "Ibuku itu maunya mengatur seluruh hidupku. Aku malah pengen jauh-jauh darinya."

Mertuaku mengobrol dengan tetangga, "Seharian dia nggak melakukan apa-apa, cuma tahu makan saja. Aku menyesal punya menantu kayak dia!"

Aku sudah tidak bisa membantah mereka lagi.

Kali ini, akhirnya mereka mendapatkan apa yang mereka inginkan.

….

Pada hari aku meninggal di rumah sakit karena kanker, jiwaku melayang di atas kota.

Dokter melihat jasadku sambil menggeleng, "Sudah nggak ada harapan. Hubungi keluarganya saja."

Telepon yang berdering segera dijawab.

"Apakah ini keluarga Kamila Lesmana? Begini, Ibu Kamila telah meninggal dunia karena kanker stadium akhir. Mohon datang ke rumah sakit untuk mengurus jenazahnya."

Suara di telepon terdiam sejenak, lalu terdengar suara dingin seorang wanita, "Kalian salah sambung, jangan telepon aku lagi."

Perawat yang ada di samping dokter memeriksa kembali data pendaftaran pasien dengan heran. "Nggak mungkin salah ... nomor ini sudah terdaftar setidaknya tiga kali ...."

Dokter memandang layar telepon yang sudah terputus sambil menghela napas. "Mungkin mereka pikir ini telepon penipuan."

Mereka tetap mencoba mengatakan sesuatu untuk menghiburku, tetapi sayangnya aku sudah berbaring di sana, tak lagi bisa mendengar apa-apa.

Didorong dengan keyakinanku, aku tiba di sebuah kamar hotel. Di atas ranjang, seorang wanita berbaju tidur baru saja menutup telepon, lalu berkata dengan lega, "Akhirnya dia mati juga."

Suamiku, Satria Jatmiko, hanya mengenakan handuk dan langsung memeluk wanita itu dari belakang. "Lagi apa, Sayang?"

Wanita itu mencoba terlihat santai. "Baru saja aku tutup telepon dari istrimu yang menyeramkan. Kamu nggak marah, 'kan?"

"Kamila?" Dia mengernyit.

Kamila sudah lama pergi dari rumah, kenapa tiba-tiba dia telepon?

Namun, melihat wanita manis dan lembut di depannya, dia menahan keraguannya sambil mendekati wanita itu.

Bagaimanapun, seorang istri tua dan lusuh tidak akan sebanding dengan wanita karier yang sukses.

Tetapi, sepertinya dia lupa, dulu dia yang memohon agar aku menjadi ibu rumah tangga.

"Kamila, anak kita nggak bisa hidup tanpa ibunya. Kamu tinggal di rumah saja, ya. Aku janji, aku akan jaga kamu dan anak kita sebaik-baiknya."

Janjinya terlihat sungguh-sungguh, bahkan ibuku sampai dipengaruhinya untuk membujukku.

Sejak saat itu, aku terjebak dalam rutinitas rumah tangga selama delapan belas tahun.

Sampai akhirnya, kematian yang benar-benar membebaskanku.

Aku hanya bisa diam melihat Satria membawa selingkuhannya pulang ke rumah.

Mertuaku dengan antusias menyiapkan banyak makanan untuk menyambut wanita yang sudah mengandung cucunya itu.

Menurutnya, "Wanita yang nggak bisa punya anak, sama saja kayak kotoran nggak berguna!"

Ketika aku mengalami pendarahan hebat saat melahirkan dan akhirnya kehilangan kemampuan untuk hamil lagi, Satria menghapus air mataku sambil berkata, "Kita sudah punya satu anak, itu sudah cukup. Nggak masalah."

Sementara mertuaku mengejek, "Cuma bisa melahirkan satu anak, kenapa sampai dirawat di rumah sakit mahal begini. Buang-buang uang saja!"

Kalau saja aku masih punya tenaga untuk bicara, mereka pasti bisa mendengarku.

Melahirkan itu sakit sekali, benar-benar sakit. Saat operasi, aku sangat ketakutan. Aku takut mati. Aku ingin tetap hidup.

Bab 2

Ketika aku berjuang melawan rasa sakit di ranjang rumah sakit, Satria masih ragu apakah akan memberikan pompa pereda nyeri seharga 2 juta lebih padaku.

Ibu mertuaku menghalangi pandangan perawat sambil menggelengkan kepala ke arah Satria. Akhirnya, dia mengabaikan penderitaanku demi menghemat 2 juta.

Pandanganku mulai kabur, tetapi seluruh tubuhku seolah-olah berteriak.

"Berikan aku pompa pereda nyeri itu! Aku bisa membayarnya sendiri!"

Namun, tenagaku hampir tak tersisa, hanya bisa mendengar dengan lemah Satria yang merasa bersalah tetapi tetap memilih tidak mendampingiku melahirkan.

Anakku masih ada di dalam kandungan, suamiku di luar ruang bersalin, dan ibuku ada di rumah yang jaraknya kurang dari tiga kilometer dari rumah sakit.

Dari awal sampai akhir, tidak ada satu pun yang peduli apakah aku hidup atau mati.

Bahkan ibuku sendiri beralasan sibuk menjaga anak kakakku dan menolak untuk menjengukku.

Selama lebih dari sebulan aku dirawat setelah melahirkan, dia tidak pernah datang menjenguk sekalipun.

Sepanjang makan malam itu, selingkuhan Satria sama sekali tidak menyentuh makanan dengan tangannya sendiri.

Melihat Satria menyajikan makanan untuknya dengan sigap, kehangatan yang semula ditunjukkan ibu mertuaku perlahan memudar.

"Lulu, ikut ke dapur cuci piring, ya," katanya.

"Aku nggak mau."

Ekspresi kaget ibu mertuaku membuat wanita penggoda itu merasa senang.

Dia berdiri sambil bersandar pada bahu Satria, senyumnya terlihat menantang. "Tante, aku sedang hamil. Kalau sampai kena air dingin dan sesuatu terjadi pada bayinya, bisa jadi masalah."

Ibu mertuaku marah hingga wajahnya memerah. "Hanya karena hamil, kok kamu jadi manja seperti ini? Mana ada menantu yang nggak mau cuci piring!"

"Kamu hamil, tapi nggak mau menikah dengan anakku. Lihat saja siapa yang mau menerimamu!"

Mendengar itu, Lulu tersenyum dingin.

"Aku nggak peduli dengan bayi ini. Aku bisa menggugurkannya kapan saja."

"Satria, katanya kamu sungguh-sungguh mencintaiku. Kenapa kamu biarkan ibumu bersikap begini padaku?"

Mendengar itu, Satria langsung merasa kasihan. Dia segera memeluk Lulu. "Ibu, kamu terlalu berlebihan. Lulu ini sedang hamil anakku. Ibu saja yang cuci piring, jangan merepotkan Lulu lagi."

Lulu bersandar manja di pelukan Satria, sementara ibu mertuaku masuk ke dapur dengan kesal. Setelah mereka berdua pergi, ibu mertuaku sangat marah.

Ponselnya bergetar. Baru saja Lulu pergi, dia sudah mengirim pesan kepada ibu mertuaku.

"Kalau nanti kami menikah, kami nggak mungkin tinggal bersamamu. Sebaiknya kamu segera mencari tempat lain, jangan sampai mengganggu pernikahan kami."

Setelah dipaksa mendengar keluhan ibu mertuaku selama dua jam, seorang nenek, teman dansanya tidak habis pikir. "Suamimu juga dulu nggak menyuruh kamu cuci piring waktu hamil. Kenapa kamu memaksa menantumu?"

"Cuci piring saja, apa sih yang bisa terjadi? Dulu waktu si jelek Kamila hamil juga dia tetap mencuci, memasak, dan mengurus semuanya ...."

Di tengah ucapannya, ibu mertuaku sadar ada yang tidak beres.

Melihat pertengkaran sengit kedua orang itu, aku hanya menirukan ekspresi Lulu dan tersenyum dingin.

Jadi, hanya karena Lulu keras kepala dan sulit dilawan, aku boleh diperlakukan semena-mena?

Ibu mertuaku mulai merindukan kebaikanku yang selalu menuruti semua keinginannya.

"Tapi," dia langsung mengubah nada suaranya, "Wanita murahan itu makan dan minum di rumahku, nggak mau kerja sedikit pun. Dia jelas terlalu dimanja."

Aku terbiasa berpura-pura tidak mendengar.

Dia memang selalu begitu. Lupa bagaimana dia dulu memohon-mohon agar aku menikah dengan anaknya. Lupa bagaimana dia terus menyiksaku setelah menikah. Dia hanya ingat aku adalah ibu rumah tangga yang tinggal di rumah untuk mengurus anak.

Mereka memaksaku melupakan pekerjaan bergaji tinggi dan pencapaian gemilang yang pernah aku punya. Lalu dengan kejam menindas dan merendahkanku, hingga aku jatuh ke titik paling rendah. Setelah itu, dengan ringan dia berkata.

"Hidup seorang wanita memang begini."

Jadi, semua penyiksaan yang makin parah setelah menikah itu, dianggap wajar dan pantas.

Bab 3

Satria dan Lulu berciuman sepanjang jalan, dari tangga menuju pintu rumah. Saat membuka pintu sambil terburu-buru ingin melanjutkan, Satria melihat Dion berdiri di ruang tamu dengan ekspresi datar, memegang segelas air dan menatapnya.

Dia merasa canggung dan melepaskan Lulu, yang memukul dadanya dengan marah. Namun, dengan lembut dia menangkupkan tinju Lulu dengan telapak tangannya.

"Saranku, sebaiknya kamu sembunyikan kekasihmu itu, agar ibu nggak marah lagi ketika pulang."

Melihat dua orang yang jelas-jelas berselingkuh tanpa rasa malu, Dion menyindir dengan tenang.

Satria jelas mengira ini masalah uang. Dia mengeluarkan ponselnya dan mentransfer uang ke Dion. "Nenekmu sedang pulang ke desa, kamu bisa santai beberapa hari ini. Masalah uang nggak perlu dikhawatirkan."

Setelah menerima transferan uang, Dion memberi isyarat "OK" dengan tangan dan berbalik menuju kamar. Sementara itu, Lulu mengomel tidak puas di belakangnya, "Kamu terlalu memanjakan anakmu, ya ...."

Langkah Dion langsung terhenti, "Bu Lulu, sebaiknya kamu menjaga mulutmu."

"Bagaimanapun juga, kalau bukan karena aku, mana mungkin kamu bisa kenal ayahku, bukan?"

Kamu juga sadar kalau itu kesalahanmu, 'kan?

Jiwaku mengumpul menjadi bentuk nyata, tanganku berusaha memberinya tamparan keras, namun saat bersentuhan, semuanya langsung hancur.

Dion bertanya dengan lembut, "Ke mana ibuku?"

Mendengar Dion berbicara, Satria yang sedang menghibur kekasih mudanya, menoleh ke atas dengan bingung.

"Kamu tanya apa tadi, Nak? Aku nggak dengar dengan jelas."

Dion menutup pintu kamar dengan keras, suaranya terdengar agak berat, "Nggak ada apa-apa."

"Ibuku pergi berlibur, Ayah langsung memboyong selingkuhannya ke rumah, lucu sekali, 'kan?"

Dia mengirim pesan kepada seorang gadis bernama Tania, dan foto profil gadis itu segera muncul. "Ya, begitulah. Siapa suruh ibumu nggak suka sama aku."

"Benar juga, dia selalu ingin mengatur hidupku. Sekarang dia pergi sementara waktu, aku jadi lebih tenang."

Dion mengetikkan kalimat itu, tetapi merasa ragu saat hendak mengirimnya. Akhirnya dia menghapusnya satu per satu dan membalas kembali.

"Setelah ujian, dia nggak akan menghalangi kita lagi."

Pada hari pengumuman nilai ujian, Satria mengadakan pesta kelulusan untuk anaknya. Banyak kerabat yang diundang, bahkan beberapa guru dari sekolah.

Lulu juga duduk di antara para tamu undangan. Saat pembawa acara membacakan kalimat penuh semangat tentang meraih keberhasilan, dia menatap Dion sambil tersenyum mendukung.

Tubuhku menghalangi pandangan mereka, aku juga tidak melewatkan ekspresi kesal di wajah Dion.

Ibu mertuaku berbicara panjang lebar di meja, sementara Satria cepat-cepat meneleponku dari belakang panggung.

Teleponku tidak diangkat, emosinya yang tertahan beberapa hari mulai meledak. Dia membuka pesanku dan mulai mengeluarkan kemarahannya.

"Kenapa kamu menghilang? Di mana kamu sekarang?"

"Apa kamu sudah terbiasa bebas di luar? Pesta kelulusan anakmu saja kamu nggak datang."

"Percaya atau nggak, aku akan matikan kartumu."

"Kartu yang kamu pegang itu kartu gajiku. Setelah aku blokir, lihat saja bagaimana kamu bisa hidup bebas di luar sana."

"Kenapa nggak balas pesanku? Takut ya?"

"Meninggalkan suami dan anak, bagaimana bisa ada wanita seperti kamu?"

"Apa kamu pantas disebut ibu dari anak ini?"

Satria melepaskan emosinya dengan leluasa, tapi makin merasa cemas.

Dia tidak tahu kalau aku sudah meninggal, tidak ada yang bisa membalas pesannya.

Saat ibu mertuaku memanggilnya kembali, wajahnya masih penuh dengan kemarahan. Para kerabat di meja merasa heran. "Hari bahagia seperti ini, kenapa Ibu nggak ada, Dion?"

Ekspresi kecewa terlihat di wajah Dion, tetapi dengan tegar dia menjawab, "Aku baru saja selesai ujian, jadi ibuku pasti pergi bersenang-senang sebentar, berkeliling ke berbagai tempat."

Ibu mertuaku mendengus, "Wanita yang nggak tahu diuntung. Sudah dua bulan dia pergi dan belum pulang."

Satria menjawab dengan kesal, "Dasar wanita boros, matikan saja kartunya, lihat apa dia masih bisa senang-senang."

Seorang kerabat kemudian berbisik, "Sudah dua bulan nggak bisa dihubungi, kenapa nggak ditanya dulu apakah ibu dari anak itu nggak ada masalah?"

Saat itu juga, telepon Satria berbunyi. Tanpa melihat lagi, dia menjawab, "Oh, sekarang baru kamu mau telepon, yang lain pasti berpikir kamu sudah mati di luar sana!"

Baca Cerita Lengkapnya Sekarang
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk menghadirkan lebih banyak cerita luar biasa Goodnovel
Buka Semua Bab
Cari "B14793" di goodnovel para membaca buku selengkapnya.
Salin kode dan cari di aplikasi NovelShort untuk melanjutkan membaca.
B14793
Salin

Mati Untuk Hidup

Bab 1
Bab
Sesuaikan
Bab Berikutnya