Bab 2
Aku mendengus marah, "Nggak bisa dilanjutkan? Kalau begitu, apa kalian akan membayar kompensasi pelanggaran kontrak?"
Aku menatap ke seluruh aula pernikahan yang sudah hancur lebur, lalu menatap tajam ke arah Rani, dan dengan nada dingin berkata, "Lalu bagaimana dengan uang 10 miliar yang sudah kuhabiskan untuk mendekorasi aula ini? Apa kalian sanggup membayarnya?"
Rani tertawa mengejek. Dia tiba-tiba menjambak rambutku dengan kasar saat aku lengah, "Ganti rugi? Uang yang kamu pakai itu dari suamiku! Beraninya kamu minta ganti rugi padaku? Dasar perempuan nggak tahu malu!"
Dia lalu menatap tas edisi terbatas dari kulit buaya di tanganku dengan mata terbelalak penuh emosi, "Pantas saja suamiku nggak bisa membelikan tas itu untukku! Ternyata sudah lebih dulu dirampas oleh selingkuhan sepertimu!"
Dia mengulurkan tangan untuk merebutnya. Awalnya aku mencoba mempertahankan tas itu sekuat tenaga, tapi aku memutuskan untuk melepaskannya setelah berpikir sejenak. Aku tidak mau sampai melukai diriku sendiri hanya demi sebuah tas.
Setelah itu Rani memeluk tasku dan sengaja terjatuh ke belakang.
Melihat hal itu membuat kerumunan yang ada segera berlarian untuk menolongnya dan mulai menyalahkanku.
"Sejak kapan hotel ini jadi rendahan begini, sampai membiarkan perempuan sepertinya masuk ke sini?"
"Betul! Nyonya Rani, jangan cemas, kami semua sudah lihat kalau dia yang sudah mendorongmu!"
"Iya, benar! Nyonya Rani, aku ... suamiku bekerja di perusahaanmu, di departemen pemasaran. Semoga Nyonya Rani bisa lebih memerhatikannya di depan Tuan Galang."
Galang hanya seorang CEO di atas kertas, dan perusahaan itu bahkan bukan milik umum.
Tapi mereka semua terus menyebutnya Tuan Galang?
Tiba-tiba aku teringat apa yang ayahku katakan beberapa hari lalu. Katanya, dia akan secara perlahan menyerahkan sisa Grup FJ pada kami berdua setelah aku menikah dengan Galang.
Tapi sekarang aku merasa sangat lega.
Rani dibantu berdiri oleh orang-orang di sekitarnya. Dia terlihat puas sambil merapikan rambutnya. Kemudian dia menunjukku dan berteriak pada manajer hotel, "Bisa-bisanya hotel kalian menerima orang sepertinya? Apa kalian nggak takut mencoreng nama baik hotel kalian?"
Manajer hotel hanya bisa mengulas senyum terpaksa dan menunduk dengan hormat, "Iya, Nyonya Rani benar. Lain kali aku akan lebih berhati-hati."
Rani mendengus, dan mulai mengeluarkan semua barang dari tasku. Dan yang paling mencolok adalah kunci mobil Rolls Royce serta sebuah kartu hitam.
Dia menunjuk tumpukan barang mewah itu sambil berteriak, "Enak sekali hidupmu, dasar wanita murahan! Berani-beraninya menghabiskan uang suamiku!"
Usai berkata demikian, dia lalu mengambil kunci mobilku dan berjalan mendekatiku. Dia lalu menggosokkan kunci itu ke wajahku dengan kasar, "Wanita murahan sepertimu mana pantas mengendarai mobil Rolls Royce? Aku akan minta orang menghancurkan mobil itu!"
Setelah itu dia melemparkan kunci itu dengan keras ke lantai, lalu menginjaknya hingga hancur tidak berbentuk. Baru kemudian dia berhenti.
Rani sepertinya masih belum puas, dia kembali mengambil tasku yang masih tergeletak di lantai, "Selingkuhan sepertimu juga nggak pantas memakai tas seharga 4 miliar ini!"
Dia lalu berjalan ke meja resepsionis dan mengambil gunting, kemudian memotong tas itu di depanku yang tentu saja kaget.
Tapi aku tidak berusaha menghentikannya, dan hanya diam-diam menghitung sudah berapa banyak uang yang seharusnya dia bayarkan sebagai ganti rugi nantinya.
Saat itu, pemilik hotel tiba-tiba datang tergesa-gesa. Manajer hotel membisikkan sesuatu padanya, dan pemilik hotel itu langsung menggelengkan kepala. Dia menatapku dengan serius, "Nona Kiara, mulai sekarang kamu akan masuk ke dalam daftar hitam hotel kami."
Aku nyaris tidak percaya dengan apa yang baru saja kudengar. Bagaimana bisa sekumpulan orang ini dipermainkan oleh seorang selingkuhan seperti Rani?
Aku menatap pemilik hotel itu dan bertanya, "Kamu yakin?"
Pemilik hotel itu memandangiku dari atas ke bawah, lalu dengan tegas berkata, "Hotel kami selalu mengedepankan reputasi, dan orang sepertimu nggak diterima di sini."
Aku mengangguk pelan sambil membatin, 'Baiklah kalau begitu!'
Tapi, ayahku adalah salah satu pemegang saham terbesar di hotel ini!
Aku mau lihat seberapa menyesal orang ini nanti!
Bab 3
Aku membungkuk untuk mengambil ponselku, tapi tiba-tiba Rani menginjak punggungku dengan kakinya, "Aku sudah memberi tahu suamiku tadi, dia akan datang ke sini sebentar lagi. Lihat saja, apa nanti kamu masih bisa berlagak sombong!"
Aku menahan rasa sakit ini, dan segera meraih kakinya kemudian menariknya keras. Rani sampai terjatuh ke lantai. Manajer hotel yang melihat hal itu pun sontak kaget, dan bergegas membantu Rani berdiri, "Aduh, Nyonya Rani, apa kamu baik-baik saja? Apa perlu kupanggilkan ambulans?"
"Nggak usah. Tangkap saja wanita itu! Dia itu selingkuhan yang nggak tahu malu!" Rani berteriak sambil menunjuk dan mencaci makiku, "Dasar wanita murahan! Beraninya menggoda suamiku bahkan memukulku! Akan kubuat nama baikmu tercoreng!"
Pemilik hotel terlihat sangat marah, dia menunjukku dan berteriak, "Beraninya kamu memukul Nyonya Rani! Ada kamera pengawas di hotel ini, aku sudah melaporkan hal ini ke polisi!"
Orang-orang yang sebelumnya hanya menonton pun mulai sok ikut menegakkan keadilan. Mereka menunjuk ke arahku, bahkan ada yang mulai berani menjambak dan merobek bajuku.
"Berani sekali memukul Nyonya Rani! Aku akan bantu Nyonya Rani mengumpulkan bukti! Kamu itu sudah jadi selingkuhan, malah masih berani memukul orang juga!"
"Iya, benar! Sebarkan saja identitasnya di internet biar terkenal, biar viral."
Aku lalu didorong dan diseret menuju foto pranikah yang menjadi foto sambutan di aula pernikahan. Seseorang lalu merobek fotoku dan Galang menjadi dua bagian.
Aku hanya diam saja melihat foto kami hancur berkeping-keping. Daripada marah, aku justru merasa muak.
Baguslah kalau foto itu akhirnya dirobek!
"Apa wanita itu sudah difoto? Aku mau semua orang melihat wajah aslinya!" Rani memberikan perintah dengan sombong, seolah-olah dialah pemenang dalam masalah ini.
Aku menggenggam erat ponselku, layarnya terus berkedip karena ada puluhan pesan belum terbaca dari Galang.
Cih, pria itu masih berani mengirimkan pesan padaku?
Aku pun membuka pesan-pesan itu ketika mereka tidak memerhatikanku. Seperti yang sudah kuduga, semua pesan itu berisi permintaan maaf, penjelasan, dan omong kosong minta ampun.
Aku membacanya dengan cepat, lalu segera menghapus dan memblokir nomornya tanpa ragu. Kemudian aku mengirimkan pesan pada sekretarisku, "Pernikahan besok batal, minta ayahku menarik sahamnya dari Hotel Surya, dan usir Galang dari perusahaanku!"
Sebuah pesan balasan langsung masuk, dan hanya berisi satu kalimat, "Baik, Bu Kiara."
Rani melihatku menggunakan ponsel, dan segera menghampiriku sambil menatapku tajam. Dia melangkah mendekat dengan menggunakan sepatu hak tinggi setinggi sepuluh sentimeter untuk menyerangku tanpa ampun.
Aku tidak sempat menghindar ketika dia menendang perut bagian bawahku.
Aku menggeram saat terjatuh dan meringkuk kesakitan, sambil memegangi perut bagian bawahku di lantai.
Kerumunan orang-orang di sekitar juga ikut kaget, tapi kemudian mereka kembali tenang. Pemilik hotel ini menatapku yang masih tersungkur di lantai sambil berkata, "Berhenti pura-pura, Nona Kiara. Kerusakan di aula pernikahan ini karena ulahmu sendiri. Hotel kami nggak akan bertanggung jawab."
"Selain itu, kamu juga harus minta maaf pada Nyonya Rani!"
Rasa sakit yang kurasakan membuat pandanganku jadi buram, dan tidak sanggup mengucapkan sepatah kata pun. Aku menatap orang-orang di sekelilingku dengan mata berkaca-kaca.
Manajer hotel kemudian menunjuk celanaku sambil berkata dengan suara gemetar, "Darah!"
Aku menunduk dan mengikuti arah pandangnya ... aku ... keguguran?
Rani terlihat panik sekilas, tapi dia segera menormalkan ekspresi wajahnya lagi. Sambil melipat tangan di depan dada, dia berkata dengan tersenyum kejam, "Hah! Wanita murahan ini pasti mengira dirinya bisa merebut harta keluarga suamiku hanya karena mengandung anak haram suamiku, 'kan?"
"Anak itu mati karena Tuhan bahkan nggak mengizinkan hal itu terjadi! Kamu pantas menerimanya!"
Aku menggigit bibirku dengan keras, berusaha agar tidak pingsan.
Kemudian terdengar suara langkah kaki yang terburu-baru dari pintu masuk hotel. Suara itu makin dekat, lalu terdengar suara orang yang sangat kukenal, "Kiara!"
Aku mendongak dengan susah payah, dan melihat sosok Galang menghampiriku dengan cemas. Ada beberapa pengawal memakai jas di belakangnya.
Cih ... Galang!
Dia sudah berani memakai uangku untuk berselingkuh!
Lihat saja bagaimana aku akan menghancurkan kalian!