Bab 1

Setelah mengumumkan pengunduran diri, banyak orang bersorak dan sangat setuju.

Hanya pacarku yang terlibat gosip dengan seorang pria bernama Sherwin, seorang musisi jenius yang tidak setuju.

Di depan banyak wartawan, pria itu berpura-pura peduli.

“Semua ini salah paham. Kak Yonatan adalah musisi berbakat yang tak tergantikan di dunia musik. Aku berharap dia bisa kembali berkarya.”

Aku mematikan ponsel dan mengabaikannya.

Di kehidupan sebelumnya, karya dan laguku sama persis dengannya.

Netizen menyebutku plagiat, bahkan mengutuk seluruh keluargaku.

Aku tidak terima dan membuktikan proses pembuatan laguku, tapi tetap saja kalah dengan waktu rilis lagunya.

Lagu barunya dirilis sepuluh menit lebih cepat dariku.

Hanya karena sepuluh menit itu, netizen mengirimkan karangan bunga dan foto pemakamanku, bahkan ada yang datang ke rumahku untuk menyiram cat.

Selama beberapa tahun, perundungan media yang terus-menerus membuatku mengalami depresi.

Orang tuaku menghabiskan semua harta mereka untuk membersihkan namaku, tetapi akhirnya mereka dibakar hidup-hidup oleh penggemar fanatik.

Pada hari Sherwin memenangkan Golden Melody Awards untuk ciptaan lagunya, aku melompat dari gedung tinggi.

Tak kusangka, saat membuka mata lagi, aku terlahir kembali.

“Tepat jam 12 siang ini, lagu barumu akan dirilis.”

“Jangan gugup. Dengan kualitas lagu ini, gelar penulis lagu terbaik di Golden Melody Awards tahun ini pasti jadi milikmu!”

Ujar Felix sambil menepuk pundakku. Aku menarik napas dalam-dalam, seperti baru tersadar dari mimpi buruk.

Melihat ruang tamu yang familiar dan Felix yang tampak kebingungan di depanku, akhirnya aku sadar bahwa aku telah terlahir kembali pada hari perilisan lagu baruku.

“Kamu sudah kerja keras bergadang untuk menulis lagu ini. Jadi, aku nggak akan menjadwalkan kegiatan apapun dulu untukmu. Istirahatlah dengan baik.”

“Tunggu sebentar!”

Aku memanggil Felix yang sudah sampai di depan pintu, tatapan mataku terpaku pada jam dinding.

Jarum detik berdetak pelan, jarum menit menunjukkan angka sepuluh. Aku membuka ponsel dan langsung mencari akun Instagram milik Sherwin.

Sama seperti di kehidupan sebelumnya, Sherwin mengunggah tautan lagu di sebuah situs musik dengan catatan, “Lagu ciptaanku [Cahaya Reruntuhan] menantimu.”

Aku membuka tautan itu dan terdengar suara nyanyian pria mulai mengalun dari ponsel.

“Apa-apaan ini? Bukankah ini lagu barumu!”

Felix mendekat dan merebut ponselku. Lalu melanjutkan, “Nada, lirik, semuanya sama persis! Ini jelas lagu buatanmu, kenapa Sherwin bisa merilisnya duluan?!”

“Mungkin ada yang membocorkan lagumu di studio rekaman. Tunggu, aku akan segera cari tahu!”

Namun, aku mencegah Felix, “Batalkan saja perilisan lagu baruku!”

Di kehidupan sebelumnya, gara-gara merilis lagu yang sama persis dengan Sherwin, aku langsung diberi julukan plagiat.

Aku mencoba membersihkan namaku dengan membuktikan proses pembuatan laguku, tapi tak seorang pun yang peduli.

“Plagiat tetap plagiat, nggak berani mengaku lagi!”

“Buat bukti palsu demi membela diri? Niat sekali!”

“Plagiat pantas mati! Dukung Sherwin untuk menuntutnya, bikin dia bangkrut sekalian!”

Felix, manajerku dan juga senior dari studio rekaman maju untuk membelaku, tetapi mereka juga kena maki habis-habisan oleh para netizen.

Pada saat yang sama, pacarku yang seorang aktris terkenal malah membuka sesi siaran langsung.

Di dalam siaran, dia bukan hanya terang-terangan menunjukkan rasa sukanya pada Sherwin, tapi juga mengecamku atas tuduhan plagiat.

Hanya dalam sekejap, aku merasa seluruh dunia runtuh.

Padahal, lagu itu sudah kuperdengarkan terlebih dulu padanya. Tapi demi membela Sherwin, dia malah mengkhianatiku, pacarnya sendiri!

Atas seruannya, para penggemarnya menjadi semakin murka dan membanjiri media sosialku dengan hinaan tanpa henti.

Penyanyi dan aktor yang dulu pernah bekerja sama denganku menghindariku seperti menghindari wabah penyakit. Mereka buru-buru menjauhkan diri dariku.

Bila ada yang tidak menyuarakan kecaman terbuka terhadapku, mereka akan langsung diserang oleh gerombolan penggemar.

Seperti keinginan orang-orang, aku diboikot dari industri, dikeluarkan dari perkumpulan penulis lagu, bahkan penghargaan yang kuterima dulu dicabut.

Perusahaan juga memutuskan kontrak karena tekanan publik.

Sejak saat itu, setiap kali Sherwin merilis lagu baru, namaku akan terseret lagi untuk dihina dan dimaki.

Netizen membuatkan karangan bunga duka untukku, mengedit foto kematianku, bahkan ada yang datang ke rumah dan menyiramkan cat ke tembok.

Perundungan di media sosial selama bertahun-tahun membuatku terpuruk dalam depresi.

Orang tuaku menghabiskan semua harta mereka untuk membersihkan namaku, tetapi akhirnya mereka dibakar hidup-hidup oleh penggemar fanatik.

Pada hari Sherwin memenangkan Golden Melody Awards untuk ciptaan lagunya, aku melompat dari gedung tinggi.

Tak kusangka, saat membuka mata lagi, aku terlahir kembali.

Tuhan telah memberiku kesempatan kedua dan kali ini aku akan mencari tahu kebenaran di balik semua ini.

Bab 2

“Perusahaan sudah menghabiskan banyak dana untuk perilisan lagu kali ini. Kamu minta dibatalkan begitu saja? Aku jadi sulit menjelaskan ke atasan!”

“Begini saja, aku akan coba selidiki dulu soal kebocoran lagumu. Sementara itu, kamu usahakan secepat mungkin buat lagu baru untuk menggantinya.”

Setelah Felix pergi, aku duduk sendirian di sofa dan termenung lama.

Sherwin adalah teman masa kecil pacarku yang seorang aktris terkenal. Mereka sudah kenal sejak kecil dan memiliki hubungan yang sangat dekat.

Sejak Sherwin lulus dari sekolah musik di luar negeri, Elaina mengenalkannya ke dunia hiburan.

Dengan Elaina sebagai dukungan utamanya, Sherwin langsung menandatangani kontrak dengan GY Entertainment, perusahaan hiburan terbesar di negeri ini.

Begitu terjun, dirinya langsung menyanyikan lagu tema untuk film karya sutradara internasional.

Semua kemudahan ini adalah sesuatu yang tidak pernah kunikmati sebagai pacarnya.

Karena Elaina terlalu baik padanya, aku sering cemburu dan kesal sendiri.

Namun, Elaina selalu bilang kalau keluarganya dan Sherwin punya hubungan baik sejak lama. Jika tidak membantunya, orang-orang pasti akan membicarakannya.

Untuk tidak menyusahkannya, aku pun akhirnya menahan diri dan membiarkan semuanya.

Siapa sangka, Sherwin ternyata adalah kekasih lama yang telah disukai Elaina sejak lama.

Sambil berpikir, aku terus mencari petunjuk di akun Instagram milik Sherwin dan akhirnya menemukan sesuatu yang mencurigakan di sebuah unggahan sebulan yang lalu.

Pada 26 agustus, Sherwin memposting sebuah foto dengan catatan, aliran inspirasi.

Aku memperbesar foto itu dan mengamatinya dengan seksama.

Lalu tiba-tiba, kepalaku terasa berdenyut!

Kertas di depan mejanya tertulis ide lirik yang persis sama denganku.

Bahkan lirik yang sudah kucoret juga tertulis sama persis!

Lirik ini kubuat berdasarkan pengalaman pribadi, jadi tidak mungkin ada unsur plagiasi atau inspirasi dari karya orang lain.

Apa mungkin, Sherwin juga pernah mengalami gempa sepertiku?

Tidak, tidak mungkin!

Sherwin dan Elaina berasal dari Kota Mitra, mana mungkin mereka pernah tinggal di pulau kecil di daerah Landia?

Namun, bagaimana mungkin dia bisa memiliki draf yang sama denganku?

Saat aku sedang pusing memikirkan apa yang sebenarnya terjadi, tiba-tiba Felix menelepon lagi.

Sudah bisa ditebak, tak ada petunjuk apapun soal kebocoran laguku.

Aku benar-benar dalam posisi sulit sekarang.

Benar yang dikatakan Felix, perusahaan sudah mengeluarkan banyak dana untuk promosi perilisan lagu ini. Dimulai dari topik viral di Instagram sampai iklan LED di mal. Dana yang dihabiskan untuk semuanya pasti mencapai miliaran.

Agar perusahaan tidak terlalu rugi, aku tak punya pilihan selain segera membuat lagu baru.

Aku masuk ke studio, mengambil gitar yang sudah lama tak kugunakan, tanganku gemetar tak tertahankan.

Kali ini, biarkan aku menjelma menjadi Nemesis, mencurahkan semua rasa sakit dan ketidakadilan di masa laluku dalam bentuk lagu.

Aku tidak percaya kalau Sherwin bisa mengalami kejadian reinkarnasi yang sama denganku!

Setelah bergadang terus-menerus, akhirnya lirik dan musik untuk lagu baru ini selesai dalam dua hari.

Aku merekam demo kasar dengan ponsel yang jarang kupakai, lalu langsung mengirimkannya ke Felix.

Felix mendengarkan lagu itu, lalu mengirimiku lima emoji berurutan dengan penuh semangat.

“Rock? Yonatan, kamu benar-benar musisi jenius! Apa lagi kejutan yang belum kuketahui tentangmu?”

Belum sempat aku membalas, Felix mengirimkan pesan suara, “Studio rekaman sudah dipesan, aku akan menjemputmu dalam satu jam.”

Saat keluar dari studio, langit sudah mulai terang.

Felix menarik napas panjang dan berkata, “Hari libur kemerdekaan hampir tiba, perusahaan juga berpikir ini waktu yang cukup sensitif. Jadi, lagu ini mungkin baru akan dirilis tanggal 3 oktober, bagaimana menurutmu?”

Aku tidak buru-buru menjawab, melainkan bertanya tentang kabar Sherwin.

“Aku punya teman di GY Entertainment, katanya Sherwin nggak pernah datang ke kantor belakangan ini, nggak ada yang sedang disibukkan.”

Seharusnya setelah merilis lagu, dia bakal sibuk promosi keliling negeri, tetapi dia malah menghilang tanpa jejak.

Sangat mencurigakan.

Untuk menghindari kejadian yang tidak diinginkan, mungkin menunggu dan memantau situasi adalah keputusan yang baik.

Aku pun menghela napas panjang dan setuju dengan rencana perusahaan untuk menunda perilisan.

Saat tiba di rumah, aku akhirnya bisa tidur dengan tenang untuk pertama kalinya sejak reinkarnasi ini.

Namun, tidurku terganggu oleh ketukan pintu Felix yang keras.

“Yonatan, gawat!”

“Felix mengeluarkan lagu baru lagi dan … sama persis dengan lagu yang kamu rekam subuh ini!”

Bab 3

Kata-kata Felix bagaikan pukulan keras yang menghancurkan semua keberanianku sejak terlahir kembali.

Kenapa setelah diberi kesempatan kedua, aku tetap tidak bisa mengubah semua ini?!

Apakah aku tidak akan pernah bisa berkarya dalam dunia musik lagi? Haruskah aku terus hidup di bawah bayang-bayang Sherwin?

Untuk menghindari masalah, kali ini aku menyimpan ponsel yang sering kupakai di balkon dan tidak menggunakan komputer sama sekali untuk menyusun lagu.

Bagaimana Sherwin bisa tahu lagu-lagu yang kutulis?!

Di Instagram, dua lagu yang dirilis Sherwin langsung menjadi topik viral selama tiga hari berturut-turut.

Dua lagunya menguasai peringkat teratas di berbagai tangga musik.

Kepopulerannya bahkan membuat berita tentang pernikahan rahasia seorang artis pop jadi tenggelam.

Beberapa penggemarnya bertanya kenapa dia tiba-tiba mengubah gaya musiknya.

“Lagu baruku sebelumnya ditiru orang lain. Untung saja aku merilisnya lebih awal. Kalau nggak, aku mungkin akan dituduh. Lagu baru ini adalah peringatan bagi mereka yang meniru karyaku. Bakat adalah modal utama seorang musisi sejati dan aku adalah orang yang nggak akan pernah bisa kamu kejar!”

Pernyataan itu sontak membuat kehebohan di media sosial.

Beberapa orang yang mengikuti video singkat lagu baruku melalui akun perusahaan langsung datang membanjiri komentarku.

“Jangan-jangan plagiat yang disebut Sherwin itu kamu? Bukannya mau merilis lagu? Di mana lagunya? Kami sudah menunggu lama.”

“Katanya musisi berbakat, jangan-jangan albumnya juga dikerjakan orang lain?”

Kali ini, aku memang belum sempat merilis lagi, tapi tetap saja dijuluki sebagai plagiat.

Namun, tanpa bukti nyata, penggemar setiaku juga tak tinggal diam.

Mereka langsung menyerang balik di kolom komentar.

Sherwin yang baru saja debut tidak memiliki banyak penggemar setia. Kebanyakan adalah penggemar musiman.

Alhasil, citranya justru semakin merosot dalam situasi ini.

Di tengah keramaian ini, pacarku Elaina mulai tidak tahan.

“Ada pesta kemenangan untuk Sherwin besok, kamu harus datang!”

Ujar Elaina dengan nada memaksa. Aku tertawa sinis dan bertanya, “Kenapa aku harus datang?!”

“Masih berani tanya kenapa?! Penggemarmu menyerang Sherwin, dia terus minum alkohol beberapa hari ini!”

“Kalau kamu masih mau menjadi pacarku, kamu wajib datang ke pestanya besok untuk meredakan gosip!”

Sherwin yang meniru laguku malah mengundangku ke pestanya. Meski merasa muak, aku tetap mengiyakannya.

Karena aku masih harus mencari tahu rahasia Sherwin.

Di pesta kemenangannya, Elaina menggandeng tangan Sherwin dan dikelilingi banyak orang.

“Kedua lagu ciptaan Sherwin telah memecahkan rekor di Musik KK dan sudah menduduki puncak tangga lagu selama seminggu!”

“Lagu Sherwin benar-benar menyentuh hati. Tak disangka, dia juga bisa membawakan lagu rock yang begitu menggugah jiwa. Dia memang layak dijuluki musisi jenius!”

Ujar seorang staf di belakangnya, sambil melirik sinis ke arahku.

“Nggak seperti orang yang memakai gelar musisi, tetapi malah mencuri karya orang lain.”

Aku tersenyum tipis, “Sherwin memang musisi berbakat. Kalau begitu, bolehkah menjelaskan mengapa kamu menggunakan nada minor di lagu pertamamu?”

Sherwin tidak langsung menjawab, sebaliknya dia bertukar pandang dengan Elaina.

“Cukup, Yonatan! Sherwin bukan mengundangmu datang untuk membuat keributan!”

Ujar Elaina membela Sherwin. Seketika aku sadar, Elaina pasti tahu kebenarannya.

“Bukannya dia musisi berbakat? Tapi kenapa nggak bisa menjawab pertanyaan sederhana ini?”

Sherwin menyingkirkan Elaina di depannya dan menjawab, “Nggak ada yang tak bisa dijawab. Nada mayor terdengar ceria, sedangkan nada minor lebih menyentuh hati. Lagu [Cahaya Reruntuhan] kalau diperlambat menjadi 0.75 kali kecepatan, baru terasa kalau itu bukan lagu yang ceria. Jadi, nada minor lebih pas dengan inti lagunya.”

Jantungku berdebar kencang. Pemikiran Sherwin dalam menciptakan lagu itu sama persis denganku.

Terutama soal memperlambat lagu hingga 0.75 kali, yang sengaja kusembunyikan sebagai elemen tersembunyi di lagu itu. Bagaimana dia bisa tahu hal itu juga?

Penglihatanku mulai gelap.

“Terima kasih atas penjelasannya. Maaf, aku masih ada urusan, harus pergi sekarang.”

Begitu aku keluar dari ruangan, Elaina menyusulku.

“Apa maksudmu tadi? Kenapa harus mempermalukan Sherwin di depan orang banyak?”

Aku sudah benar-benar kecewa pada Elaina dan tidak mau membuang waktu dengannya lagi.

“Kita putus saja.”

“Aku akan mengundurkan diri dari industri musik dan kembali ke kampung halaman. Semoga kamu dan Sherwin bisa cepat bersama!”

“Kamu cemburu lagi?! Memangnya kamu mau menjadi apa di kampung halaman? Menjadi kuli bangunan seperti ayahmu?”

Elaina mencemooh, “Apa ayahmu mampu membayar denda kontrakmu?”

Aku tertawa ringan dan langsung pergi tanpa menoleh lagi.

Elaina tidak tahu kalau sebenarnya aku adalah anak konglomerat.

Ayahku memang pernah menjadi kuli bangunan belasan tahun lalu, tetapi dia memanfaatkan kesempatan besar hingga kini menjadi kontraktor properti terkenal di negeri ini.

Denda tinggi untuk kontrak hanya berarti ayahku perlu menjual beberapa rumah saja.

Jika tidak berkarya di dunia musik, aku masih bisa meneruskan bisnis keluarga.

Sebaliknya aku ingin melihat, selama aku tidak menuliskan lagu, aku ingin melihat bagaimana Sherwin bisa terus menjadi musisi berbakat!

Baca Cerita Lengkapnya Sekarang
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk menghadirkan lebih banyak cerita luar biasa Goodnovel
Buka Semua Bab
Cari "B99487" di goodnovel para membaca buku selengkapnya.
Salin kode dan cari di aplikasi NovelShort untuk melanjutkan membaca.
B99487
Salin

Mantanku Panik Setelah Pengunduran Diriku

Bab 1
Bab
Sesuaikan
Bab Berikutnya