Bab 1

Aku bersama teman kecil kakakku selama sembilan tahun, juga sudah mau tunangan.

Hidup kami seperti biasa.

Setelah dia reuni dengan temannya, aku akan menjemputnya karena dia minum bir.

Saat aku sudah sampai depan, aku yang baru mau menyapa mendengar temannya berkata, “Rehan, cinta pertamamu sudah kembali, penggantimu itu mau dibuang atau satu orang layani dua wanita?”

Wajah Rehan ada tawa sinis.

Saat ini, orang yang di samping tertawa.

“Rehan, kamu memang buat orang iri. Setelah cinta pertamamu pergi, kamu bersama adik kandung teman kecilmu hanya karena kesepian. Tapi kamu setiap hari bilang sudah bosan karena sudah bersama sembilan tahun, kebetulan cinta pertamamu kembali.”

Rehan berkata dengan nada tidak senang, “Siapa suruh waktu itu Celine bilang aku hanya mencintainya! Tentu saja aku perlu mencari pengganti murah untuk membuat kepercayaan dirinya hilang!”

Keesokan harinya, pesta penyambutan untuk Celine Wisana diadakan dengan meriah. Rehan Atmadja menghadiri pesta itu sambil menggandeng tanganku. Di sepanjang acara, dia selalu perhatian padaku, memastikan bahwa aku baik-baik saja. Sikapnya ini membuat orang-orang di sekitar tak henti membicarakan betapa dia menyayangi adiknya.

Namun, saat Celine tiba-tiba meninggalkan aula pesta dengan wajah kecewa, Rehan langsung mendorongku hingga aku jatuh dari anak tangga dan berlari mengejarnya dengan cemas.

Pergelangan kakiku terkilir parah hingga tulangnya retak. Pecahan botol kaca menancap dalam di dagingku. Di aula sebesar itu, tak seorang pun menoleh padaku. Saat aku menyeret kakiku yang bertetesan darah sambil merangkak menuju pintu keluar, hanya satpam yang berbaik hati memanggilkan ambulan untukku.

Setelah keluar dari rumah sakit dan kembali ke rumah, aku membuka kotak di dalam rak buku Rehan yang selama ini tak pernah dia izinkan aku menyentuhnya.

Di dalam kotak itu berisi tumpukan tebal foto-foto mesra dia dengan Celine.

Aku segera menelepon kakakku, Asya Pramata, yang di luar negeri.

“Kak, aku setuju dengan perjodohan yang kalian siapkan. Tolong kalian atur semuanya, ya!” ucapku.

“Kamu kenapa, Alia? Ada yang jahat padamu?” tanya Asya.

Suara Asya terdengar cemas. Dia baru saja tidur, tetapi langsung terbangun karena panggilan telepon dariku

Rasa sakit di pergelangan kaki bercampur aduk dengan rasa perih di hatiku. Namun, aku menghela napas lega lalu terkekeh dan berusaha terdengar santai, “Aku cuma baru sadar bahwa selama ini kakak benar. Keluarga nggak mungkin akan menyakitiku. Calon suami yang kalian pilih untukku pasti yang terbaik!”

Asya menghela napas lega lalu tertawa pelan, “Akhirnya adikku yang bodoh ini sadar juga. Nanti setelah kamu pulang, ketemu dulu sama calon suamimu, baru kita bicarakan soal tunangan ....”

Aku buru-buru menyelanya, “Nggak usah. Langsung tunangan saja, aku mau langsung nikah. Kalian atur saja. Aku akan pulang minggu depan.”

Asya terdengar sangat senang, dia berkata, “Baiklah, kakak akan atur semuanya dengan baik. Oh iya, apa kamu ada ketemu Kak Rehan belakangan ini? Dia pasti senang sekarang karena cinta lamanya sudah pulang. Kalau kamu ketemu dia, sekalian undang dia ke acara tunanganmu saja. Siapa tahu bawa nasib baik juga buat mereka berdua.”

Aku terdiam.

Ternyata ... Asya juga tahu soal cinta lama Rehan. Pantas saja dia selalu minta agar aku jangan bilang apa pun ke Asya soal hubungan kami.

Waktu itu Rehan hanya bercanda, “Nggak enak ah, aku pacarin adik dari sahabatku sendiri. Aku takut kakakmu bunuh aku.”

Setelah dipikir-pikir sekarang, rasanya seperti ada belati yang menancap di dadaku dan meneteskan darah.

“Kak ... nggak usah repotin dia. Aku jarang bicara sama dia. Kami nggak akrab juga,” ucapku.

Baru saja aku meletakkan ponsel, pintu kamar didorong terbuka dari luar. Rehan langsung memelukku dari belakang.

Seperti biasanya, dia berbisik di telingaku, “Kamu nggak akrab dengan siapa?”

Bab 2

“Kak Rehan.”

Rehan tertegun sejenak saat aku tiba-tiba memanggilnya begitu.

Aku terus terang padanya. Namun, Rehan langsung menindihku dan membekapku di bawah tubuhnya.

“Sayang, cuma gara-gara semalam aku nggak tidur sama kamu, kamu jadi nggak akrab denganku?” tanya Rehan.

Dia masih suka menggodaku seperti biasanya.

“Sayang, maafkan aku. Mulai sekarang aku akan memberimu pelayanan penuh di ranjang setiap hari, sampai kita bener-bener akrab, ya,” lanjutnya.

Kata-kata yang dulu terdengar manis, malam ini justru membuatku merasa jijik.

Saat dia mulai membuka baju, aku melihat bekas ciuman di dadanya.

Selama ini, setiap kami bermesraan, Rehan tak pernah mengizinkan aku meninggalkan bekas di tubuhnya. Katanya, “Kita udah dewasa, nggak usah main-main tanda.” Ironisnya, baru malam ini aku sadar bahwa larangan ini tidak berlaku untuk semua orang.

Sesaat kemudian, tangannya menyentuh pergelangan kakiku.

Aku merasakan rasa sakit seperti disobek. Aku refleks mendorongnya keras, air mataku langsung menetes. Aku sendiri pun tidak tahu, apakah aku menangis karena rasa sakit atau rasa jijik.

“Lepaskan aku!” bentakku.

Rehan yang belum sempat merapikan bajunya, tampak panik saat melihatku menangis. Dia bertanya dengan cemas, “Sayang, apa kamu nggak enak badan?”

“Kakiku,” ucapku.

Gips di kakiku terlihat sangat jelas sejak tadi, tetapi Rehan baru menyadarinya sekarang.

Ekspresinya langsung berubah.

“Kakimu kenapa?! Kenapa kamu nggak bilang sama aku kalau kamu terluka?” tanya Rehan.

Dia sepertinya sudah lupa bahwa akulah yang dia dorong dari tangga hingga patah kaki demi mengejar Celine, si cinta lamanya.

Kepeduliannya sekarang terasa seperti lelucon. Aku bahkan tidak ingin mengingatkannya.

“Sayang, aku cuma ninggalin kamu satu malam saja, kamu sudah terluka seperti ini. Gimana coba kalau nggak ada aku?” ucap Rehan.

Dia berkata sambil menghapus air mataku penuh kasih sayang, lalu beranjak menuangkan segelas air.

“Sayangku yang malang. Tangismu bikin hatiku ikut hancur,” lanjutnya.

Aku menatap punggungnya, lalu kembali menunduk, merasakan denyutan nyeri di pergelangan kaki. Sekilas, aku tersenyum kecut.

Selama sembilan tahun ini, dia selalu menjagaku dengan baik dalam setiap hal. Aku bahkan tidak pernah membayangkan hidup tanpanya.

Namun dalam sembilan tahun itu, berapa detik sebenarnya Rehan benar-benar peduli padaku dan bukan menjagaku hanya karena bayang-bayang Celine?

Hubungan ini rasanya menjijikan seperti menelan lalat hidup-hidup.

Malam itu, aku berkata bahwa kakiku sakit dan memilih tidur di kamar tamu. Namun, Rehan menyusul dan memelukku di dalam selimut.

Aku mendorongnya. Saat dia hendak kembali mendekat, ponselnya tiba-tiba menyala.

“Sayang, temanku lagi sedih. Aku harus temani dia mengobrol sebentar,” ucap Rehan.

Setelah itu, dia pergi ke ruang kerja.

Saat aku membuka media sosial, aku melihat salah satu teman Rehan mengunggah status seperti ini.

[Memang cuma Kak Celine yang bisa nyeret orang keluar dari pelukan surga.]

Aku menekan tombol suka pada status itu, lalu mematikan lampu dan tidur.

Bab 3

Keesokan paginya, saat aku membuka mata, Rehan juga baru masuk ke kamar. Tubuhnya seperti biasa langsung menindihku.

Aku buru-buru menghindar, rasa jijik yang timbul dari dalam membuat ekspresiku langsung berubah.

Rehan mengira aku tidak enak badan. Tatapannya melirik kakiku dengan cemas, lalu mengambilkan jaket dari sisi ranjang sambil berkata, “Sayang, ayo pakai jaket.”

“Mau ke mana?” tanyaku.

Rehan menghela napas dan menjawab, “Sayang, kamu dari dulu kayak anak kecil. Begitu nggak enak badan langsung kelihatan dari wajahmu. Kita ke rumah sakit untuk periksa lagi, ya.”

Aku pun ikut dibawa Rehan ke rumah sakit.

Baru masuk lobi, kami langsung bertemu dengan Celine.

Dia berdiri sendirian dengan wajah pucat pasi, tangannya menekan bagian bawah perut.

Tanpa pikir panjang, Rehan langsung melepaskan genggaman tanganku. Kakiku terbentur tembok, nyerinya sampai membuatku keringat dingin.

Namun, aku seolah menghilang di mata Rehan. Dia langsung menghampiri Celine, memeluknya erat dan bertanya, “Kamu sakit apa? Kenapa nggak hubungi aku untuk menemanimu?”

Celine tersenyum tipis dan menggeleng, tetapi pandangannya melihatku dari atas ke bawah.

Jaket yang kupakai persis sama dengan jaket yang dia pakai.

“Cuma nyeri perut sedikit. Kenapa kalian berdua ada di sini?” tanya Celine.

Rehan mengusap hidungnya, dia jelas gugup, tetapi dia langsung merangkai alasan tanpa ragu.

“Kaki adikku sakit. Dia minta aku menemaninya buat periksa,” jawab Rehan.

Aku sudah terbiasa dengan alasan itu.

Sejak Rehan menyembunyikan hubungan kami, setiap kali kami bertemu teman-temannya, dia selalu berkata, “Tya lagi di luar negeri, jadi aku minta aku jagain adiknya.”

Hanya sahabat dekatnya yang tahu bahwa aku sebenarnya pacarnya.

Celine hanya mengangguk kecil, kemudian berkata, “Kalau begitu, cepat temani adikmu pergi periksa. Aku ....”

Sebelum Celine selesai bicara, wajahnya kembali berkerut menahan nyeri. Tangannya kembali menekan bagian bawah perut.

Sesaat kemudian, Rehan sudah menggendongnya dalam pelukan.

“Alia, kamu tunggu sebentar, ya. Dia kesakitan, aku antar dia dulu ke dalam,” ucap Rehan.

Aku menunduk.

Darah dari pergelangan kakiku sudah merembes keluar dari perban. Rasa sakitnya menembus hingga ke tulang.

Sosok Rehan dari ujung rambut sampai ujung kakinya, tampak penuh dengan kecemasan.

Aku mendengus dingin.

Ternyata aktor hebat seperti dia pun bisa kehilangan kemampuan aktingnya jika sudah berurusan dengan orang yang dia cintai.

“Waduh! Kakimu berdarah banyak sekali!” seru perawat yang langsung menarikku masuk untuk penanganan darurat.

Aku ikut melangkah sambil menunduk melihat kakiku. Darah yang menodai lantai tampak mencolok dan baunya tajam. Sayangnya, Rehan tak melihat semua itu.

Perawat bertanya sambil membersihkan lukaku, “Kamu terluka karena jatuh terkena pecahan kaca dan tulangmu juga patah, ya?”

Hari itu, dorongan Rehan benar-benar kuat.

Saat aku jatuh, aku juga menabrak botol-botol alkohol. Kacanya pecah dan serpihannya menusuk masuk ke pergelangan kakiku sehingga tulangku ikut remuk. Padahal, sejak kecil aku selalu hidup nyaman. Luka gores sedikit saja, orang tuaku pasti langsung panik dan menyuruhku dirawat di rumah sakit. Namun, sekarang... aku hanya bisa mengepalkan tangan dan tak mampu menjawab sepatah kata pun.

Setelah lukaku selesai ditangani, seluruh tubuhku sudah basah oleh keringat dingin.

Perawat berkata, “Sudah selesai. Sekarang kamu tinggal istirahat yang baik. Suruh pacarmu jemput kamu, ya. Jangan sampai jalan sendiri. Takutnya lukanya terbuka lagi.”

Tanganku refleks hendak mengirim pesan ke Rehan. Ini sudah menjadi memori otot tanpa sadar.

Mantanku Minta Aku Jangan Tinggalkan Dia

Bab 1
Bab
Sesuaikan
Bab Berikutnya