Bab 1

Di malam sebelum pernikahan, istriku pulang dalam keadaan mabuk berat. Dia diantar pulang oleh mantannya dengan pakaian yang acak-acakan. Sambil setengah sadar, dia memanggil-manggil nama sang mantan, Dylan Wiguna. Dia berujar, "Dylan, aku menikah dengan dia cuma karena kamu suka wanita yang sudah menikah. Aku menikah dengannya cuma demi memenuhi keinginanmu. Hmph! Aku nggak mau pulang. Aku mohon, temani aku sekali lagi, ya?"

Di malam sebelum pernikahan, istriku pulang dalam keadaan mabuk berat. Dia diantar pulang oleh mantannya dengan pakaian yang acak-acakan. Sambil setengah sadar, dia memanggil-manggil nama sang mantan, Dylan Wiguna. Dia berujar, "Dylan, aku menikah dengan dia cuma karena kamu suka wanita yang sudah menikah. Aku menikah dengannya cuma demi memenuhi keinginanmu. Hmph! Aku nggak mau pulang. Aku mohon, temani aku sekali lagi, ya?"

...

Di malam sebelum pernikahan, aku mendapati istriku, Yasmin Sanjaya, dalam keadaan kacau. Dia berdiri dekat mantan pacarnya, bibirnya agak maju seperti mengharapkan ciuman.

Sialan, apa Yasmin sadar dia meminta cium pada siapa?

Amarahku memuncak. Aku langsung menarik Yasmin ke dalam pelukanku. Gaunnya kusut dan acak-acakan, sementara stoking hitamnya robek di sana-sini. Seluruh penampilannya terlihat liar dan menggoda.

"Apa yang sudah kamu lakukan padanya? Jangan pikir aku nggak berani menghajarmu!"

Dylan mendorong kacamatanya dan dengan ekspresi tenang, mencoba menjelaskan, "Bima, kamu salah paham. Kami nggak melakukan apa-apa. Aku cuma datang untuk memberi selamat karena dia akan menikah."

"Dia mungkin terlalu senang sampai-sampai minum terlalu banyak."

Wajah pura-pura polos Dylan itu langsung membuatku kesal setengah mati.

Dua tahun lalu, si bajingan ini mencampakkan Yasmin begitu saja, membuatnya patah hati untuk waktu yang lama. Aku butuh waktu dan usaha lebih dari setahun untuk membuat Yasmin percaya lagi pada cinta.

Besok adalah hari bahagia kami, tetapi Dylan muncul hari ini untuk memancing emosi.

Di situasi seperti ini, siapa yang tidak akan naik darah?

Aku berniat menghajar Dylan di tempat, tetapi ayah dan ibu mertuaku langsung muncul. Ayah mertuaku menenangkan dan mencegahku melakukan hal bodoh.

Ibu mertuaku juga berkata bahwa mereka yakin Dylan bukan orang yang suka mengambil kesempatan dalam kesempitan. Jika tidak, mana mungkin Dylan akan terang-terangan mengantar seseorang pulang ke rumah?

Jadi, yang barusan aku lihat itu maksudnya apa?

Saat ini, Yasmin yang setengah mabuk tampaknya menyadari bahwa dia sudah sampai di rumah. Dengan langkah terhuyung, dia langsung memeluk ibunya.

Sementara kedua orang tua itu sibuk membantu Yasmin masuk ke kamar, Dylan tiba-tiba memegang bahuku erat-erat. Dia berbicara dengan nada rendah, sangat bangga.

"Jujur saja, malam ini dia yang mulai lebih dulu, bahkan bersikeras mengejarku! Apa boleh buat, aku adalah pria pertamanya, baik secara emosional maupun fisik. Seumur hidup, dia nggak akan bisa melupakanku."

"Oh, ya, kamu tahu dia suka memakai rok tanpa pakaian dalam? Itu aku yang mengajarkannya, biar aku lebih mudah masuk ...."

Saat itu juga, emosiku meledak.

Aku menerjang ke arahnya, menghujani wajahnya dengan pukulan bertubi-tubi. Sekali pukul, kacamatanya langsung hancur.

Si berengsek berkedok santun ini, kali ini aku harus menghajarnya habis-habisan!

Dylan menutup matanya sambil berkata, "Bima, besok itu hari pernikahanmu. Apa kamu mau masuk penjara? Apa kamu nggak takut Yasmin akan kecewa padamu?"

Dia tahu aku menikah besok? Anak ini jelas sengaja memancing emosiku!

"Kecewa pantatmu!"

Aku memukulnya lagi hingga dia jatuh ke tanah.

Saat aku naik ke atas tubuhnya dan hampir ingin menghabisinya, mertuaku buru-buru menghentikanku.

"Bima, ini cuma masalah kecil, kenapa harus sampai seperti ini? Dylan itu jelas bukan tipe orang seperti yang kamu pikirkan. Kamu ‘kan sudah dewasa, apa nggak bisa lebih toleran sedikit?"

Mereka berusaha keras mencegahku, sambil membantu Dylan berdiri dengan hati-hati. Mereka bahkan menenangkan Dylan dengan suara lembut. Bahkan Yasmin, yang sebelumnya mabuk, langsung sempoyongan berlari dan berdiri melindungi Dylan.

"Bima, kamu gila, ya? Kalau kamu macam-macam lagi, jangan salahkan aku karena bersikap kasar!"

Saat ini, aku hanya bisa tertawa karena marah.

Bagi mereka, Dylan yang sudah mencampakkan Yasmin itu masih dianggap sempurna dengan emosi yang stabil, kepribadian yang baik, matang, dan sangat pengertian.

Sebaliknya, aku yang rela memberi anak perempuan mereka maskawin ratusan juta dan membantu anak laki-laki mereka membayar uang muka malah menjadi pihak yang dirugikan! Aku menoleh ke arah Dylan. Meskipun dia sudah babak belur dipukul olehku, ekspresinya masih saja sombong dan sangat senang.

Ekspresi wajahnya yang tersenyum kecil itu penuh dengan ejekan yang menusuk.

Saat semua orang keluar, Dylan langsung memulai aktingnya lagi. Dengan pura-pura baik, dia berkata, "Bima cuma salah paham denganku. Aku cuma ingin menjelaskan, tapi aku nggak menyangka dia ...."

Yasmin langsung mendongakkan kepalanya dengan angkuh, lalu berkata, "Apa yang perlu dijelaskan? Orang yang benar nggak perlu membela diri!"

Kemudian, dia berbalik menghadapku sambil menunjuk ke arah wajahku. "Bima, aku nggak menyangka pikiranmu serendah itu! Memangnya setelah putus, kami nggak boleh tetap berteman?"

"Kalau memang aku punya hubungan dengan dia, mana mungkin aku bersamamu?"

Aku menatap Yasmin. Dari sejak keluar rumah, dia bahkan tidak bertanya sekali pun kenapa aku sampai berbuat kasar.

Kami sudah berbincang begitu lama, tetapi sebenarnya apa aku ada di hatinya? Bukan hanya pasang badan untuk Dylan, bahkan sekarang dia mempermalukanku dan membiarkan Dylan merendahkanku begitu saja!

Bab 2

Sekejap, hatiku merasa sakit.

Dylan yang sedang menahan Yasmin, berkata dengan nada agak canggung, "Maaf, kejadian hari ini salahku. Seharusnya aku mencegah Yasmin untuk minum terlalu banyak."

"Aku akan pergi dulu. Jangan sampai kalian bertengkar karena aku dan mengganggu persiapan pernikahan kalian besok."

Dengan nada yang datar, dia meminta maaf, lalu beranjak pergi.

Ibu mertuaku memandangku dengan tatapan kecewa, jelas tidak senang dengan caraku bersikap. Kemudian, mereka mengantar orang itu pergi dengan sangat sopan.

Yasmin berjalan dengan ekspresi masam. Dia mengeluh pusing dan terhuyung-huyung menuju kamar tidur.

Ibu mertuaku yang melihatku hanya berdiri tanpa bergerak, langsung merasa panik dan berkata, "Bima, kenapa diam saja? Cepat bantu dia!"

"Besok kita akan jadi satu keluarga, kenapa harus ribut-ribut seperti ini?"

Saat Yasmin hampir terjatuh, ibu mertuaku kesulitan menahan tubuh Yasmin. Aku pun menarik napas dalam-dalam, memeluk Yasmin lalu membaringkannya di kasur.

Setelah itu, ibu mertuaku menepuk pundakku dan berkata, "Yang berlalu biarlah berlalu, jangan terlalu dipikirkan. Yang penting sekarang jalani hidup dengan lebih baik."

Aku hanya bisa menganggukkan kepala dalam diam, dengan perasaan yang begitu campur aduk.

Yasmin benar-benar dalam kondisi mabuk. Ketika aku kembali dengan air hangat, dia sudah terlelap dan mendengkur.

Aku memeras handuk dan mulai membersihkan wajahnya yang masih tercium bau alkohol.

Tiba-tiba, dia memeluk lenganku, dadanya menyentuh lenganku.

"Jangan marah, aku cuma mencintaimu. Aku akan mendengarkan apa pun yang kamu katakan. Aku nggak menyukainya. Aku pasti nggak akan membiarkannya menyentuhku."

Ucapan Yasmin ini membuatku merasa lebih tenang dan sedikit lebih lega.

Dia masih ada rasa untukku!

"Yasmin, berjanjilah padaku. Jangan lagi berhubungan dengan pria itu! Aku bisa menerima masa lalumu, tapi kedepannya ...."

Belum sempat aku selesai berbicara, Yasmin sudah memelukku lagi dan menggosokkan tubuhnya padaku.

Aku merasakan kelembutannya. Melihat wajahnya yang memerah, tubuhku pun bereaksi tanpa bisa aku kendalikan.

Namun, detik berikutnya.

"Dylan, aku nggak bohong. Cuma kamu orang yang aku cintai! Aku nikah sama Bima itu karena kamu suka wanita yang sudah berkeluarga, ‘kan?"

Yasmin yang sedang mabuk menatapku dengan pandangan sayu. "Jangan khawatir, aku nggak akan membiarkan dia menyentuhku. Hati dan tubuhku cuma untukmu. Aku sangat merindukanmu, cepat, ambil aku ...."

Dia memelukku dengan erat seperti gurita, napas berbau alkoholnya menyerang kulit leherku.

Aku sangat marah!

Aku mendadak teringat kata-kata Dylan di lorong tadi. Aku segera membuka rok Yasmin dan menemukan bahwa dia tidak memakai apa-apa di bawah!

Pasangan selingkuh ini benar-benar membuatku merasa terkhianati!

Tubuhku gemetaran karena marah. Aku langsung mencekik leher Yasmin. "Kamu wanita murahan!"

Wajah Yasmin berubah dari pucat menjadi merah, kakinya terus bergerak-gerak.

"Lepaskan ... Tolong."

Perjuangannya membuatku sadar kembali.

Apa aku harus mengorbankan seluruh hidupku untuk wanita seperti ini? Tanpa pikir panjang, aku berdiri dan melepaskan tanganku, membuatnya jatuh ke lantai dari tempat tidur.

Mendengar suara itu, ayah dan ibu mertuaku buru-buru masuk dan langsung melihat adegan itu.

"Bima, kenapa kamu lakukan itu? Bagaimana bisa kamu menjatuhkan Yasmin ke lantai?"

"Ini nggak benar, kamu ‘kan pria dewasa, jangan terlalu cemburuan seperti itu. Dia sudah lama putus dengan Dylan, mereka sekarang cuma teman biasa."

"Kalau sikapmu seperti ini, bagaimana kami bisa memercayakan Yasmin untuk menikah denganmu?"

Aku benar-benar kesal, hampir meledak. "Ya, sudah, batalkan saja pernikahan ini!"

Setelah mendengar ucapanku, mereka langsung makin marah. Mereka menunjuk-nunjuk ke arahku dan menyalahkanku, bahkan berniat menghubungi orang tuaku.

Jika itu dulu, aku pasti langsung menundukkan kepala dan minta maaf saat melihat mereka marah seperti itu.

Melihat Yasmin terjatuh, aku seharusnya merasa kasihan dan ingin memukul diriku sendiri karena merasa bersalah.

Namun, saat ini aku hanya merasakan kebencian yang sangat mendalam terhadapnya.

"Kalian nggak perlu menelepon. Aku akan langsung memberi tahu orang tuaku. Pernikahan resmi dibatalkan, biarkan dia bersama Dylan saja."

Yasmin terlihat kebingungan setelah jatuh. Ketika ibunya membantunya bangun, dia langsung marah besar.

"Bima, maksudmu apa? Aku sudah jelaskan dengan jelas, aku nggak ada hubungan apa-apa dengan Dylan. Kenapa kamu masih terus mempersoalkan ini?"

Tidak ada hubungan apa-apa?

Sebenarnya, aku ingin memberikan sedikit rasa hormatku terakhir kepada Yasmin dan tidak ingin masalah tentang aku yang dikhianati diketahui oleh semua orang, apalagi membuat orang tuaku turut merasa malu.

Namun, sekarang, aku sudah tidak bisa bersabar lagi.

Segera, aku langsung maju dan mengangkat rok Yasmin tanpa ragu.

Baca Cerita Lengkapnya Sekarang
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk menghadirkan lebih banyak cerita luar biasa Goodnovel
Buka Semua Bab
Cari "B36710" di goodnovel para membaca buku selengkapnya.
Salin kode dan cari di aplikasi NovelShort untuk melanjutkan membaca.
B36710
Salin

Mantan Yang Sempurna

Bab 1
Bab
Sesuaikan
Bab Berikutnya