Bab 4
Keesokan harinya, tepat pada waktu yang dijanjikan, aku berdiri di depan pintu vila.
Devan keluar sambil menuntun Keira dengan hati-hati.
Melihatku, ekspresinya sempat goyah canggung.
“Viona, Keira seumur hidup belum pernah mengenakan gaun pengantin. Dia cuma ingin ikut melihat. Tenang, kehadirannya nggak akan mengganggu kita.”
Aku hanya mengangguk pelan, tak mengatakan apa-apa.
Sepanjang jalan menuju mobil, satu tangannya selalu melingkari pinggang Keira, melindungi wanita itu seperti harta tak ternilai.
“Hati-hati, ada tangga.”
“Matahari terik, pakai topinya.”
“Jalan pelan-pelan, jangan sampai capek.”
Setiap ucapannya bagai pisau tumpul yang mengiris hatiku sedikit demi sedikit——tak mematikan, tapi menyiksa.
Bahkan di dalam mobil, dia tak hentinya menjejali Keira dengan perhatian lembut.
“Nanti di butik jangan keluyuran, ikuti saja apa yang aku bilang.”
Sesampainya di butik, Devan memerintahka pegawai mengeluarkan gaun-gaun pengantin untukku, tapi dirinya justru sibuk menempel di sisi Keira.
“Gaun pengantin itu berat, lihat-lihat saja, ya. Jangan dicoba, nanti kamu capek,” ujarnya penuh kekhawatiran.
“Nggak! Aku mau coba. Waktu menikah, aku nggak sempat pakai gaun pengantin. Masa sekarang sekali saja nggak boleh?” Keira mengerucutkan bibirnya, manja.
Tatapannya lalu jatuh pada gaun yang baru saja kupilih.
“Yang di tangan Viona itu cantik, apa aku boleh mencobanya?” imbuhnya manja sambil menunjuk ke arah gaunku.
Wajah Devan tampak tak berdaya menatapku.
“Viona, kasih saja padanya. Biarkan dia mencoba sebentar,” ujar Devan.
Tanpa membantah, aku menyerahkan gaun itu.
Awalnya, aku berencana mengenakan gaun yang kusuka di momen terakhirku bersama Devan. Namun, dia sendiri yang menghancurkan kesempatan itu.
Devan, semoga setelah aku pergi… kamu takkan menyesali keputusan yang kamu buat hari ini.
Dia bahkan memintaku menemani Keira ke ruang ganti, sambil berulang kali mengingatkan, “Keira sedang hamil besar. Jangan biarkan dia membungkuk. Pegangi ujung gaunnya, jangan sampai dia terjatuh.”
Aku mendengar setiap kata, menelan getir yang menyesaki tenggorokanku.
Keira benar, Devan memang akan jadi ayah yang baik… untuk anaknya.
Dengan susah payah, aku membantu Keira mengenakan gaun. Namun, tatapannya penuh kemenangan padaku, lalu…
Tiba-tiba dia menarik hingga roboh satu deretan manekin setinggi hampir dua meter di depannya.
“Tolooong! Anakku…!”
Dia berteriak dramatis, pura-pura nyaris tertimpa, lalu dengan lihai menghindari manekin pertama.
Devan langsung melesat, meraih Keira, membawanya menjauh dengan pelukan erat.
Sementara aku… manekin pertama menghantam kakiku, membuatku kehilangan keseimbangan. Deretan berikutnya menyusul, menimpa tubuhku tanpa ampun.
“Devan! Tolong aku!” teriakku putus asa.
Namun suaraku tenggelam, kalah oleh suara benda-benda berat yang berjatuhan.
Aku hanya sempat melihat punggung Devan… menjauh… memeluk Keira erat-erat tanpa menoleh sedikit pun.
Separuh tubuhku terjepit, rasa nyeri menjalar dari lengan hingga rusuk.
Namun rasa sakit itu… tak sebanding dengan hancurnya hatiku saat ini.
Aku meringkuk di lantai, memejamkan mata. Air mata mengalir tanpa henti, membasahi wajahku…
Bab 5
Saat membuka mata, aku mendapati diriku sudah berada di rumah sakit.
Kamar rawat inap ini sunyi, tak ada seorang pun.
Dari arah kamar sebelah, samar-samar terdengar suara yang kukenal—— Devan.
Aku menahan nyeri di perut, melangkah tertatih mengikuti sumber suara itu. Hingga langkahku terhenti di depan pintu yang hanya terbuka setengah.
Di sana… Keira terbaring pucat di atas ranjang pasien. Pergelangan tangannya dibalut perban tebal.
Devan memanggil hampir semua dokter rumah sakit untuk memeriksanya. Mereka berdiri mengelilinginya, sibuk memeriksa kondisinya.
Sementara itu, Devan duduk di tepi ranjangnya, jemari mereka saling bertaut erat. Tatapan Devan… lembut. Terlalu lembut.
“Jangan takut. Semuanya sudah baik-baik saja. Bayi kita juga aman,” ucapnya dengan nada hangat yang menusuk telingaku seperti belati.
Tangannya tak melepaskan tangan Keira. Terlalu dekat. Terlalu mesra. Hingga aku merasa… dunia ini memang tidak menyisakan ruang untuk orang ketiga sepertiku.
Dadaku sesak. Nafasku tercekat. Aku tak sanggup melihatnya lagi.
Ternyata, ketika hati benar-benar hancur, rasa sakitnya mampu membuat tubuh seperti kehilangan udara.
Menahan perih yang menjalar, aku tak peduli pada perawat yang mencoba menghentikanku. Aku langsung mengurus kepulangan.
Setibanya di vila, aku lanjut mengemasi barang.
Barang-barang yang tak kubutuhkan, kubuang begitu saja.
Yang kubawa hanya paspor, dokumen penting, dan beberapa potong pakaian.
Hadiah-hadiah dari Devan? Kubiarkan utuh di temptnya.
Di meja samping ranjang, ada foto kami berdua.
Aku menatapnya sejenak… lalu merobek bagian diriku, meremasnya, dan melemparkan sisa setengahnya ke tempat sampah..
Selesai berkemas, aku menyeret koper keluar dari vila tanpa menoleh sedikit pun.
Kebetulan, hari ini visa ke Negara Nusavara milikku resmi terbit.
Akhirnya… aku bisa meninggalkan tempat penuh luka ini.
Petugas imigrasi menyerahkan visa itu sambil tersenyum.
“Selamat, Kak Viona. Semoga perjalanan Anda menyenangkan.”
“Terima kasih.”
Menatap visa itu, anehnya… hatiku tenang, bahkan tanpa gejolak.
Sebelum pergi, aku menutup semua data pribadiku dan membeli tiket sekali jalan.
Masih teringat jelas, delapan tahun lalu, Devan menggenggam tanganku erat-erat sambil berkata, “Viona, kamu milikku. Seumur hidup ini, kamu harus di sisiku.”
Devan… kamu salah.
Mulai hari ini, di sisa hidupku… tak akan ada lagi namamu.
…
Sementara itu, usai menenangkan Keira agar mau minum obat hingga akhirnya tertidur, Devan baru teringat padaku.
Dia melangkah ke kamar sebelah, tapi hanya mendapati seorang perawat sedang merapikan ranjang yang kosong.
Ranjang tempatku berbaring kini kosong, tak ada sisa kehadiranku.
Hatinya mendadak diliputi kegelisahan.
Dia menghentikan perawat itu lalu bertanya, “Pasien di sini ke mana?”
“Anda keluarga pasien? Pagi tadi sudah pulang,” jawab perawat dengan tatapan heran.
“Apa?”
Gelisahnya kian menjadi. Dia segera merogoh ponselnya, mencoba menghubungiku. Nada sibuk.
Dia mengirim pesan—tapi sudah diblokir.
Ekspresinya mengeras, rahangnya menegang.
Butuh waktu cukup lama sebelum dia teringat menelepon kepala pelayan di vila.
“Di mana nyonya? Di vila? Suruh dia angkat telepon!”
Tak lama kemudian, suara di seberang justru terdengar panik.
“Pak Devan… nyonya sudah pergi. Pelayan melihat nyonya membawa koper dan naik taksi meninggalkan vila!”