Bab 3

Dadaku naik-turun menahan amarah, bahkan jemariku ikut bergetar.

“Kamu nggak takut kalau aku beritahu Devan?” suaraku terdengar tajam.

Keira tak mundur sedikit pun. Sepasang matanya justru menatapku penuh tantangan.

“Kamu pikir dia masih percaya sama kamu? Setelah kejadian barusan, apa pun yang kamu katakan, dia hanya akan menganggapmu memfitnahku!”

“Aku nggak percaya! Delapan tahun hubungan kami, masa bisa hancur hanya karena ucapanmu?”

“Benarkah? Silakan buktikan. Lihat sendiri nanti, siapa yang dia percayai, aku… atau kamu!”

Selesai mengatakannya, dia tiba-tiba menangis terisak.

“Kak Viona… sebenarnya aku juga nggak mau anak ini. Tapi kalau menggugurkannya, aku nggak akan bisa hamil lagi seumur hidup. Tolong… kasihanilah aku…”

Dia mencoba bangkit dari ranjang, pura-pura goyah. Dan tepat saat itu, Devan muncul di ambang pintu.

Begitu melihat Keira yang menangis tersedu, wajahnya langsung berubah. Dia bergegas menghampiri, meraih Keira dalam pelukannya.

“Mau ngapain? Dokter bilang kamu harus bed rest, jangan bergerak sembarangan!”

Keira menggeleng lemah, air mata membasahi sudut matanya, menciptakan sosok yang begitu menyedihkan.

“Devan, aku… aku baiknya pergi saja. Kak Viona sepertinya nggak suka sama anak ini. Dia bilang hal-hal yang menyakitkan, bahkan menyuruhku menggugurkannya…”

Devan mendongak, menatapku dengan amarah yang membara.

“Viona, masalah apa lagi yang kamu buat?”

Aku menggeleng sekuat tenaga, menunjuk Keira.

“Devan, jangan percaya dia! Anak yang dia kandung… bukan anakmu!”

“Kak Devan! Lebih baik bunuh saja aku! Setelah mendengar tuduhan seperti itu, gimana aku bisa hidup? Lagipula secara hukum aku adalah istrimu. Dia berkata begitu hanya untuk menghinaku…”

Keira menangis semakin keras, lalu pura-pura hendak membenturkan kepala ke dinding.

Devan panik, langsung menarik dan memeluknya erat.

“Tenang… aku percaya padamu. Jangan emosi, nanti bahaya untuk kandunganmu.”

Sambil menenangkan Keira, dia melirikku penuh kekecewaan.

“Cukup, Viona! Jangan terus menyalahkan Keira. Semua ini memang salahku padamu, tapi soal dia diberi obat atau kehamilannya, itu murni kecelakaan. Setelah dia melahirkan, aku akan mengirim mereka pergi. Lalu aku akan menikah denganmu.”

Keira sempat terkejut mendengarnya, tapi cepat-cepat kembali menampilkan ekspresi lemah dan memelas.

“Kak Viona, setelah melahirkan aku akan pergi. Aku nggak akan merebut status nyonya darimu. Tolong… lepaskan aku. Aku nggak mengancam posisimu sedikit pun.”

Devan mengerutkan kening.

“Viona, tolong perlakukan Keira dengan baik untuk sementara. Dia sedang hamil, nggak boleh terlalu banyak tekanan. Jangan lagi mengucapkan hal-hal yang nggak pantas.”

Aku tertegun menatapnya. Rasanya seperti ada pisau tumpul yang menusuk dadaku, perih hingga sulit bernapas.

Dia… tak percaya padaku.

Dulu, apa pun yang kukatakan, dia tak pernah meragukanku.

Wajahku pasti sangat pucat, karena Devan berusaha melunakkan nada suaranya.

“Aku akan selalu menepati janjiku padamu. Bahkan… aku sudah menyiapkan pernikahan kita. Besok kita pergi ke butik pengantin untuk memilih gaun, ya? Aku ingin kamu jadi pengantin tercantik.”

“…Baiklah.”

Aku menunduk, jemariku yang bergetar perlahan menghapus air mata di sudut mata.

Beberapa hari lagi aku akan pergi.

Pernikahan yang dia siapkan… aku takkan pernah menunggunya.

Jika dia lebih memilih percaya pada kebohongan wanita itu daripada kebenaranku…

Biarlah dia tenggelam dalam indahnya kebohongan yang dia pilih sendiri!

Bab 4

Keesokan harinya, tepat pada waktu yang dijanjikan, aku berdiri di depan pintu vila.

Devan keluar sambil menuntun Keira dengan hati-hati.

Melihatku, ekspresinya sempat goyah canggung.

“Viona, Keira seumur hidup belum pernah mengenakan gaun pengantin. Dia cuma ingin ikut melihat. Tenang, kehadirannya nggak akan mengganggu kita.”

Aku hanya mengangguk pelan, tak mengatakan apa-apa.

Sepanjang jalan menuju mobil, satu tangannya selalu melingkari pinggang Keira, melindungi wanita itu seperti harta tak ternilai.

“Hati-hati, ada tangga.”

“Matahari terik, pakai topinya.”

“Jalan pelan-pelan, jangan sampai capek.”

Setiap ucapannya bagai pisau tumpul yang mengiris hatiku sedikit demi sedikit——tak mematikan, tapi menyiksa.

Bahkan di dalam mobil, dia tak hentinya menjejali Keira dengan perhatian lembut.

“Nanti di butik jangan keluyuran, ikuti saja apa yang aku bilang.”

Sesampainya di butik, Devan memerintahka pegawai mengeluarkan gaun-gaun pengantin untukku, tapi dirinya justru sibuk menempel di sisi Keira.

“Gaun pengantin itu berat, lihat-lihat saja, ya. Jangan dicoba, nanti kamu capek,” ujarnya penuh kekhawatiran.

“Nggak! Aku mau coba. Waktu menikah, aku nggak sempat pakai gaun pengantin. Masa sekarang sekali saja nggak boleh?” Keira mengerucutkan bibirnya, manja.

Tatapannya lalu jatuh pada gaun yang baru saja kupilih.

“Yang di tangan Viona itu cantik, apa aku boleh mencobanya?” imbuhnya manja sambil menunjuk ke arah gaunku.

Wajah Devan tampak tak berdaya menatapku.

“Viona, kasih saja padanya. Biarkan dia mencoba sebentar,” ujar Devan.

Tanpa membantah, aku menyerahkan gaun itu.

Awalnya, aku berencana mengenakan gaun yang kusuka di momen terakhirku bersama Devan. Namun, dia sendiri yang menghancurkan kesempatan itu.

Devan, semoga setelah aku pergi… kamu takkan menyesali keputusan yang kamu buat hari ini.

Dia bahkan memintaku menemani Keira ke ruang ganti, sambil berulang kali mengingatkan, “Keira sedang hamil besar. Jangan biarkan dia membungkuk. Pegangi ujung gaunnya, jangan sampai dia terjatuh.”

Aku mendengar setiap kata, menelan getir yang menyesaki tenggorokanku.

Keira benar, Devan memang akan jadi ayah yang baik… untuk anaknya.

Dengan susah payah, aku membantu Keira mengenakan gaun. Namun, tatapannya penuh kemenangan padaku, lalu…

Tiba-tiba dia menarik hingga roboh satu deretan manekin setinggi hampir dua meter di depannya.

“Tolooong! Anakku…!”

Dia berteriak dramatis, pura-pura nyaris tertimpa, lalu dengan lihai menghindari manekin pertama.

Devan langsung melesat, meraih Keira, membawanya menjauh dengan pelukan erat.

Sementara aku… manekin pertama menghantam kakiku, membuatku kehilangan keseimbangan. Deretan berikutnya menyusul, menimpa tubuhku tanpa ampun.

“Devan! Tolong aku!” teriakku putus asa.

Namun suaraku tenggelam, kalah oleh suara benda-benda berat yang berjatuhan.

Aku hanya sempat melihat punggung Devan… menjauh… memeluk Keira erat-erat tanpa menoleh sedikit pun.

Separuh tubuhku terjepit, rasa nyeri menjalar dari lengan hingga rusuk.

Namun rasa sakit itu… tak sebanding dengan hancurnya hatiku saat ini.

Aku meringkuk di lantai, memejamkan mata. Air mata mengalir tanpa henti, membasahi wajahku…

Bab 5

Saat membuka mata, aku mendapati diriku sudah berada di rumah sakit.

Kamar rawat inap ini sunyi, tak ada seorang pun.

Dari arah kamar sebelah, samar-samar terdengar suara yang kukenal—— Devan.

Aku menahan nyeri di perut, melangkah tertatih mengikuti sumber suara itu. Hingga langkahku terhenti di depan pintu yang hanya terbuka setengah.

Di sana… Keira terbaring pucat di atas ranjang pasien. Pergelangan tangannya dibalut perban tebal.

Devan memanggil hampir semua dokter rumah sakit untuk memeriksanya. Mereka berdiri mengelilinginya, sibuk memeriksa kondisinya.

Sementara itu, Devan duduk di tepi ranjangnya, jemari mereka saling bertaut erat. Tatapan Devan… lembut. Terlalu lembut.

“Jangan takut. Semuanya sudah baik-baik saja. Bayi kita juga aman,” ucapnya dengan nada hangat yang menusuk telingaku seperti belati.

Tangannya tak melepaskan tangan Keira. Terlalu dekat. Terlalu mesra. Hingga aku merasa… dunia ini memang tidak menyisakan ruang untuk orang ketiga sepertiku.

Dadaku sesak. Nafasku tercekat. Aku tak sanggup melihatnya lagi.

Ternyata, ketika hati benar-benar hancur, rasa sakitnya mampu membuat tubuh seperti kehilangan udara.

Menahan perih yang menjalar, aku tak peduli pada perawat yang mencoba menghentikanku. Aku langsung mengurus kepulangan.

Setibanya di vila, aku lanjut mengemasi barang.

Barang-barang yang tak kubutuhkan, kubuang begitu saja.

Yang kubawa hanya paspor, dokumen penting, dan beberapa potong pakaian.

Hadiah-hadiah dari Devan? Kubiarkan utuh di temptnya.

Di meja samping ranjang, ada foto kami berdua.

Aku menatapnya sejenak… lalu merobek bagian diriku, meremasnya, dan melemparkan sisa setengahnya ke tempat sampah..

Selesai berkemas, aku menyeret koper keluar dari vila tanpa menoleh sedikit pun.

Kebetulan, hari ini visa ke Negara Nusavara milikku resmi terbit.

Akhirnya… aku bisa meninggalkan tempat penuh luka ini.

Petugas imigrasi menyerahkan visa itu sambil tersenyum.

“Selamat, Kak Viona. Semoga perjalanan Anda menyenangkan.”

“Terima kasih.”

Menatap visa itu, anehnya… hatiku tenang, bahkan tanpa gejolak.

Sebelum pergi, aku menutup semua data pribadiku dan membeli tiket sekali jalan.

Masih teringat jelas, delapan tahun lalu, Devan menggenggam tanganku erat-erat sambil berkata, “Viona, kamu milikku. Seumur hidup ini, kamu harus di sisiku.”

Devan… kamu salah.

Mulai hari ini, di sisa hidupku… tak akan ada lagi namamu.

Sementara itu, usai menenangkan Keira agar mau minum obat hingga akhirnya tertidur, Devan baru teringat padaku.

Dia melangkah ke kamar sebelah, tapi hanya mendapati seorang perawat sedang merapikan ranjang yang kosong.

Ranjang tempatku berbaring kini kosong, tak ada sisa kehadiranku.

Hatinya mendadak diliputi kegelisahan.

Dia menghentikan perawat itu lalu bertanya, “Pasien di sini ke mana?”

“Anda keluarga pasien? Pagi tadi sudah pulang,” jawab perawat dengan tatapan heran.

“Apa?”

Gelisahnya kian menjadi. Dia segera merogoh ponselnya, mencoba menghubungiku. Nada sibuk.

Dia mengirim pesan—tapi sudah diblokir.

Ekspresinya mengeras, rahangnya menegang.

Butuh waktu cukup lama sebelum dia teringat menelepon kepala pelayan di vila.

“Di mana nyonya? Di vila? Suruh dia angkat telepon!”

Tak lama kemudian, suara di seberang justru terdengar panik.

“Pak Devan… nyonya sudah pergi. Pelayan melihat nyonya membawa koper dan naik taksi meninggalkan vila!”

Baca Cerita Lengkapnya Sekarang
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk menghadirkan lebih banyak cerita luar biasa Goodnovel
Buka Semua Bab
Cari "B68185" di goodnovel para membaca buku selengkapnya.
Salin kode dan cari di aplikasi NovelShort untuk melanjutkan membaca.
B68185
Salin

Manis di Bibir, Pahit di Takdir

Bab 3
Bab
Sesuaikan
Bab Berikutnya