Bab 1

"Nggak, jangan .... Empat orang terlalu banyak, aku nggak sanggup."

Di dalam bus malam itu, empat rekan kerja suamiku menekanku ke kursi dan merenggangkan kedua kakiku dengan paksa.

Salah satu pria yang berdiri di depanku melepas ikat pinggangnya, lalu menyabetkannya dengan keras ke pantatku.

"Buka kakimu! Perempuan kayak kamu memang pantas puasin kami."

Kemudian, dia merobek paksa celana dalamku yang sudah basah kuyup ....

Namaku Devi, seorang istri yang punya daya tarik seksual tinggi.

Sejak kecil aku menyadari bahwa nafsuku sangat besar, aku bahkan sulit menahan diri saat melihat pria.

Namun, karena berpendidikan, aku tidak pernah sembarangan mencari pria.

Aku hanya memberikan kesucianku kepada suamiku. Sejak mencicipi kenikmatan pria saat itu, aku menjadi ketagihan.

Setiap hari aku memohon agar suamiku memuaskanku dengan kuat.

Namun, beberapa waktu ini suamiku bekerja di proyek, berbulan-bulan tidak pulang.

Tanpa belaian pria, aku merasa hampir gila karena menahan hasrat.

Aku sudah mencoba segala cara di rumah, tapi tidak ada yang berhasil. Rasa gatal ini benar-benar tidak tertahankan.

Hari ini aku menelepon suamiku. Aku mengatakan ingin menginap di asrama proyeknya selama beberapa hari, sekalian menemaninya agar tidak kesepian.

Demi memberikan kejutan untuk suamiku, aku sengaja mengenakan gaun seksi dengan kerah belah V.

Sepasang dadaku yang putih terlihat menonjol, sementara kakiku terbalut sepasang stoking hitam panjang yang menggoda.

Aku pun naik bus menuju lokasi proyeknya.

Bus itu penuh sesak dengan penumpang. Para pria tidak bisa berhenti mencuri pandang ke arah dada serta bagian bawah rokku.

Di bawah tatapan mesum mereka, aku mulai merasa gatal dan menyadari bagian bawahku sudah basah.

Dalam hati aku terus merapal doa, cepatlah sampai ke lokasi proyek, biar suamiku bisa memuaskanku.

Saat itu aku menyadari ada empat pria yang duduk agak menyerong di depanku, sepertinya mereka rekan kerja suamiku yang pernah kulihat di rumah.

Bau tubuh mereka mirip dengan suamiku, kulit mereka hitam terbakar matahari. Tubuh mereka sangat berotot karena sering bekerja kasar.

Sekilas saja sudah terlihat garang, kalau sampai mereka menekanku ke lantai ....

Pada saat itu mereka juga menyadari keberadaanku dan menyapaku.

"Kamu istrinya Rendy, 'kan? Mau samperin Rendy ya?"

Mereka berempat menatapku dari atas sampai bawah, membuat seluruh tubuhku terasa agak gerah.

Aku mengangguk. "Iya, kebetulan banget ya ketemu kalian di sini."

"Perjalanannya lumayan jauh, nanti setelah turun masih harus jalan kaki lagi. Kamu bareng kami aja."

"Boleh, terima kasih."

Selesai bicara, aku menggeser posisi dudukku. Tubuhku benar-benar terasa gatal dan tidak nyaman, ditambah lagi udara di dalam bus yang pengap membuat bagian bawahku mulai mengeluarkan cairan.

Saat itu, salah satu rekan kerjanya berkata dengan nada kesal, "Panas banget bus ini, nggak tahan aku."

Sambil menggerutu, dia melepas kaosnya dan memamerkan otot perut delapan kotak yang kekar.

Aku seketika kehilangan kendali, rasanya seperti ada semut yang merayap di bagian bawahku.

Dia menatapku lalu tersenyum. "Busnya pengap banget. Aku buka baju begini, kamu nggak keberatan, 'kan?"

"Ah, nggak apa-apa. Kalian 'kan teman kerjanya Rendy, nggak masalah kok," sahutku sambil melambaikan tangan dan tersenyum.

"Bagus kalau gitu."

Tak lama kemudian, rekan kerja yang lainnya juga ikut melepas kaos mereka. Tubuh mereka masing-masing terlihat lebih perkasa satu sama lain.

Aku terus-menerus menelan ludah, berusaha keras mengencangkan saraf demi melawan rasa gatal di dalam tubuhku.

Bus itu berguncang-guncang. Setiap kali ada gundukan, aku merasa seluruh tubuhku menegang.

Kalau terus begini, rasanya aku benar-benar tidak akan tahan.

Aku mengambil sebuah mainan kecil berwarna ungu dari dalam tas.

Selagi tidak ada yang memperhatikan, aku menyelinapkannya ke balik rok secara sembunyi-sembunyi.

"Huuuh ...." Aku pun menyandarkan tubuh ke sandaran kursi dengan nyaman sambil sedikit merenggangkan kedua kakiku.

Begitu aku menyalakan tombol getarnya, akhirnya aku merasa sedikit lega.

Pergi jauh begini memang nggak bisa kalau nggak bawa mainan.

Aku sedikit memejamkan mata. Hasrat di dalam tubuhku terlalu kuat, mainan kecil ini hanya bisa bertahan sebentar saja.

Aku pun hanya bisa berdoa semoga bus ini melaju lebih cepat.

Bab 2

Malam mulai larut, para penumpang di dalam bus turun satu per satu.

Lokasi proyek adalah tujuan terakhir, jadi di dalam bus hanya tersisa aku dan empat rekan kerja suamiku.

Mereka pun tampak kelelahan karena perjalanan jauh, lalu bersandar di kursi dan mulai mendengkur halus.

Aku juga memejamkan mata untuk menghemat tenaga, supaya nanti saat sampai di asrama, aku bisa menguras habis semua "simpanan bibit" suamiku selama beberapa hari ini.

Entah sudah berapa lama berlalu, dalam keadaan setengah sadar aku mendengar para rekan kerja itu berbicara.

Suaranya terdengar sangat pelan. "Sst! Dia sudah tidur belum?"

"Nggak tahu, coba Arga kamu cek ke sana," sahut salah satu temannya sambil mendorong.

Aku merasakan sebuah tangan perlahan mendekat ke arah dadaku.

Namun, rekan kerja ketiga segera menghalanginya. "Kamu bodoh, ya? Kalau perempuan ini belum tidur dan kamu ketahuan, habis kamu."

"Sialan, aku benar-benar ingin menyikat perempuan gatal ini. Waktu main ke rumah Rendy dulu, aku sempat mencuri stokingnya, aromanya bikin nagih." Arga terus berdecak lidah.

Pantas saja waktu itu aku merasa kehilangan sepasang stoking, ternyata dia yang mencurinya.

Tiba-tiba Arga berseru kaget, "Waduh, Steve, Leon, Yanto, kalian lihat apa yang ada di paha dia?"

"Itu celana dalam, 'kan? Gatal banget ya, masa tidur saja celana dalamnya dilepas?"

"Makanya, barusan waktu kita lepas baju, cewek ini melototin kita terus, pasti dalam hatinya pengen."

Sambil bicara, mereka mendekat ke arah bawahku dan perlahan mengaitkan celana dalamku hingga merosot.

"Lihat, celana dalamnya basah kuyup. Perempuan ini pasti sudah nggak tahan makanya nekat mencari suaminya."

Dibicarakan oleh mereka berempat seperti itu justru membuatku merasa sangat bergairah.

Aku sengaja pura-pura tidur. Aku ingin melihat apa sebenarnya yang akan mereka lakukan.

Saat ini mainan di bawah sana masih bergetar, gawat kalau sampai ketahuan.

Arga berkata, "Dia nggak bereaksi sama sekali, pasti sudah tidur lelap. Aku coba raba dulu sedikit."

Sambil berkata begitu, dia menjulurkan tangan dan meraba bagian lembut di dadaku.

Telapak tangannya yang lebar dan kasar seketika membuat bulu kudukku berdiri.

Seumur hidup, bagian itu belum pernah disentuh pria selain suamiku. Ternyata rasanya begitu nikmat.

Arga berkata dengan nada bersemangat, "Beneran sudah tidur, nggak ada reaksi sama sekali. Rasanya enak banget, lembut dan mulus."

Setelah itu, tiga orang lainnya ikut penasaran dan mengulurkan tangan ke arahku.

Tubuhku disentuh oleh empat tangan sekaligus, sensasinya benar-benar menggairahkan.

Aku berusaha keras menahan diri agar tidak mengeluarkan suara dari tenggorokan, meski rasanya kerongkonganku sudah sangat gatal.

"Perempuan ini benar-benar kualitas super, diraba saja sudah enak banget. Sial, aku nggak tahan lagi."

Keempat orang itu menatapku dengan saksama.

"Kira-kira keberuntungan apa yang didapat Rendy sampai bisa punya istri secantik ini? Ukurannya pasti 36D, kulitnya juga mulus dan kenyal."

"Dengan badan Rendy yang kayak gitu, dia pasti nggak bakal kuat ngadepin perempuan seistimewa ini. Begitu sampai di asrama, bisa-bisa dia mati kering diperas. Gimana kalau kita bantu si Rendy sedikit?"

Apa mereka benar-benar berani melakukan hal semacam itu di dalam bus? Ini kan masyarakat beradab, bukan di negara rendahan.

Tapi, memang benar kalau Rendy agak kewalahan menghadapiku. Selama beberapa tahun pernikahan kami, dia jarang sekali bisa memuaskanku.

Aku bahkan curiga dia sengaja menghindariku dengan cara bekerja di lokasi proyek.

Arga lalu berkata, "Perempuan ini lepas celana dalam waktu tidur dan cuma pakai rok, jangan-jangan di dalamnya kosong melompong!"

Selesai bicara, dia perlahan menyingkap rok pendekku.

Begitu melihat apa yang ada di baliknya, matanya langsung terbelalak dan dia tidak bisa menahan diri untuk berseru, "Gila, parah banget ini!"

Temannya yang di samping segera mengingatkan, "Sst! Kecilkan suaramu, berengsek! Gimana kalau dia bangun?"

Arga yang sudah tidak tahan lagi berkata dengan penuh gairah, "Dia ini benar-benar perempuan gatal, di dalamnya malah disumbat mainan kecil."

Begitu kata-kata itu terucap, rekan kerja yang lain tidak bisa menahan rasa penasaran mereka dan beramai-ramai mengintip ke balik rokku.

"Ternyata beneran ada. Dia sehaus ini, sepertinya kita memang harus turun tangan buat bantuin dia."

Bab 3

Selesai bicara, Arga menjulurkan tangan dan mengambil mainan kecil itu.

"Kalian lihat, masih basah begini, cairannya sampai lengket."

Aku refleks merapatkan kedua kakiku. Saat benda itu ditarik keluar tadi, rasanya seperti ada aliran listrik yang menyambar tubuhku. Aku hampir saja tidak kuat menahan teriakan.

Namun, gerakan itu tertangkap mata Arga. Dia langsung menunjuk ke arahku.

"Gawat, perempuan ini pura-pura tidur, kakinya barusan gerak!"

"Serius? Jangan nakut-nakutin kita." Tiga rekan kerja lainnya tampak panik, takut aksi bejat mereka ketahuan.

"Pasti benar, tadi waktu diraba dia nggak bereaksi sama sekali, itu pasti akting. Jangan-jangan dia malah menikmatinya."

......

Mendengar mereka sibuk berdebat, jantungku berdegup kencang karena merasa sangat tegang.

Mereka semua adalah rekan kerja suamiku. Kalau sampai terjadi sesuatu, bagaimana aku bisa mempertanggungjawabkannya pada suamiku?

Akhirnya Arga mengertakkan gigi dan menghasut yang lain.

"Nggak usah peduli dia akting atau nggak. Kalau dia pura-pura, berarti dalam hatinya setuju. Kalau dia beneran tidur, kita pakai pun dia nggak bakal tahu."

Setelah hasutan itu, tiga orang lainnya langsung dikuasai nafsu buas.

Mereka menyikap rok pendekku dengan kasar, membuat area pribadiku terlihat jelas tanpa penghalang.

Seluruh tubuhku bergetar, aku langsung membuka mata.

Dengan tatapan yang tampak lemah, aku melihat ke arah mereka. "Ka ... kalian mau apa?"

Mereka sempat terpaku sejenak begitu melihatku membuka mata. Namun, kemudian mereka tersenyum licik seolah baru menyadari sesuatu.

"Ternyata kamu memang pura-pura tidur ya. Tadi waktu kami raba, kamu pasti merasa enak banget, 'kan?"

Sensasi itu memang sangat menggairahkan, tapi aku tidak boleh biarkan mereka tahu. Aku pun berakting seolah tidak tahu apa-apa.

"A ... apa? Aku tadi ketiduran. Kalian ngomong apa sih?"

"Nggak usah akting lagi, mana ada orang tidur tapi sengaja nyelipin mainan."

"Waktu tubuhmu diraba tadi, badanmu gemetaran semua. Kamu pikir kami nggak lihat?"

"Kamu sekarang pasti lagi gatal banget, 'kan? Lihat celana dalammu sampai basah kuyup begini. Tenang saja, kami bakal puasin kamu."

Selesai bicara, mereka berempat langsung menerjang ke arahku.

Mereka membagi tugas di sisi kiri dan kanan, lalu mengangkat kedua kakiku tinggi-tinggi sampai bagian itu terekspos sepenuhnya.

Aku tidak menyangka mereka sebegitu beraninya, sampai melakukan hal seperti ini di dalam bus!

Aku berteriak panik, "Kalian ini melakukan kejahatan! Nggak takut apa kalau sopirnya lihat?"

Sopir di depan tetap fokus menyetir, sama sekali tidak memedulikan apa yang terjadi di belakang.

Arga meraba pahaku dengan ekspresi penuh kenikmatan.

"Teriak aja. Sopir itu orang kami. Sekencang apa pun kamu teriak, nggak bakal ada yang nolong."

Aku benar-benar putus asa, mataku mulai berkaca-kaca menatap mereka.

Rekan kerjanya yang lain menatap bagian pribadiku dengan liar, sementara empat pasang tangan mereka nyaris meraba seluruh tubuhku tanpa sisa.

Bahkan mereka membukanya untuk melihat lebih jelas.

"Cantik banget, masih merah muda dan kenyal. Lihatnya saja sudah bikin pengen."

"Aku beneran mau coba rasanya, pasti sempit dan licin banget."

Dipermainkan secara kasar oleh mereka membuat tubuhku terasa gatal sekaligus linu, hingga tanpa sadar ada cairan hangat yang mengalir pelan dari sana.

Semuanya terlihat jelas oleh mereka, rasanya benar-benar memalukan.

Arga berkata kepada teman di sampingnya, "Begini aja udah basah banget. Kita nggak usah nahan diri lagi, ayo sikat bareng-bareng!"

"Ayo!"

Sambil berseru, mereka merobek celana dalamku hingga hancur dan menarik kedua kaki mulusku sekuat tenaga sampai terbuka maksimal.

Aku sangat panik dan hampir menangis, mulutku terus meracau.

"Nggak, jangan! Empat orang terlalu banyak, nanti bisa rusak!"

Arga melepas ikat pinggangnya, lalu menyabetkan benda itu dengan keras ke pantatku yang sedang terangkat.

Rasa pedas dan sakit itu merangsang sarafku. Anehnya malah memunculkan sebuah dambaan di dalam hati.

"Perempuan segatal kamu masih takut rusak? Jangan-jangan malah kamu yang bikin kami habis."

"Angkat pantatmu lebih tinggi! Biar aku bisa memuaskanmu dengan benar." Dia menyabetkan ikat pinggangnya sekali lagi.

Entah kenapa tubuhku seperti lepas kendali. Pantatku terangkat, kedua kakiku terbuka lebar, sepenuhnya memperlihatkan bagian itu.

Arga antusias melepas celananya, lalu mengeluarkan miliknya yang berukuran sangat besar.

Ukuran itu ... pasti bakal membuatku hancur!

"Tahan ya, awalnya bakal agak sakit."

Dia mencengkeram kakiku untuk mencari tumpuan, mengarahkannya tepat ke lubang itu, lalu menyentakkan pinggangnya ke depan dengan kuat ....

Baca Cerita Lengkapnya Sekarang
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk menghadirkan lebih banyak cerita luar biasa Goodnovel
Buka Semua Bab
Cari "B81276" di goodnovel para membaca buku selengkapnya.
Salin kode dan cari di aplikasi NovelShort untuk melanjutkan membaca.
B81276
Salin

Malam Panjang di Bus Terakhir

Bab 1
Bab
Sesuaikan
Bab Berikutnya