Bab 3

[Kak Morin, kenapa kamu belum turun juga?]

[Aku sudah nggak tahan lagi. Kalau kamu nggak turun membantuku, aku akan naik mencarimu!]

Jari-jari Morin bergerak sangat cepat, gerakannya begitu terbiasa. Sama sekali tidak tampak terganggu, walau satu tangannya tertimpa diriku yang setengah berbaring di atas ranjang.

[Mia mau tidur siang, kamu nggak boleh naik mengganggunya. Jangan menantang batas kesabaranku. Kalau kamu membuat dia merasa nggak senang, maka jangan harap bisa masuk rumah ini lagi.]

Di seberang segera terdiam, jelas tahu bahwa Morin benar-benar serius.

'Tetapi Morin, jika kamu sungguh tidak ingin dia menggangguku, jika aku benar-benar adalah garis batasmu ....'

'Kenapa kamu membawanya ke rumah kita, kenapa kamu membiarkan dia hadir dalam hubungan kita?'

Mana yang benar, mana yang palsu, aku sepertinya tidak bisa membedakannya.

Aku pun tidak berani percaya lagi.

Lima menit kemudian, Morin dengan lembut mencubit pipiku.

"Mia, waktunya tidur siang, aku juga harus ke ruang kerja di lantai tiga untuk bekerja."

Aku menundukkan wajah dan mengangguk pelan.

Berpura-pura tidak melihat pesan terbaru yang baru saja dia kirimkan kepada Rosa di ponselnya.

[Kamu tunggu aku di ruang kerja lantai tiga, jangan menimbulkan banyak suara.]

Morin menolongku berbaring, menjaga agar aku tidak terbentur kepala ranjang. Telapak tangannya diletakkan ke atas kepalaku sebagai perlindungan.

Sebelum pergi, dia menyelimutiku rapat-rapat, lalu menjatuhkan sebuah kecupan ringan di dahiku.

"Selamat tidur siang, Mia."

Serangkaian gerakan mengalir dengan begitu alami, sempurna sesuai dengan citra dirinya sebagai pacar lembut yang penuh perhatian.

Aku membalikkan badan dan membelakanginya. Setelah mendengar pintu kamar benar-benar tertutup, aku akhirnya tidak bisa membendungi air mataku lagi.

Dalam tiga tahun terakhir, setiap kali menemaniku tidur siang, dia meluangkan sebagian besar waktunya di ruang kerja lantai tiga di rumah, bukannya pergi ke kantor.

Aku pernah mengira itu karena dia ingin lebih banyak menemaniku.

Namun sekarang, aku berhenti di depan pintu ruang kerja lantai tiga, yang terdengar justru suara napas manja dan menggoda dari balik pintu.

Bab 4

"Kak Morin, apa aku nggak boleh mengandung anak kita sendiri? Kenapa justru harus menaruh embrio milikmu dan Mia ke dalam rahimku."

Suara pria itu terdengar agak terengah, tetapi nadanya sangat tegas.

"Anakku hanya bisa milik Mia, jangan tanyakan hal semacam itu lagi."

"Asal kamu bisa melahirkan anak dengan selamat, kamu selamanya adalah wanitaku. Bagaimanapun, aku juga nggak ingin anakku dilahirkan oleh seorang buta."

Aku tertawa sinis. Tiba-tiba aku teringat, sebelum aku kehilangan penglihatan, demi karier Morin, kami memutuskan untuk sementara tidak memiliki anak.

Maka aku pergi ke rumah sakit untuk membekukan sel telur.

Jadi sekarang yang ada di rahim Rosa, adalah anakku sebelum aku buta.

Perutku segera terasa bergolak hebat.

Tadinya aku tidak banyak makan. Namun setelah kembali ke kamar, aku tetap berpengangan pada kloset dan muntah habis-habisan.

Seolah-olah hanya dengan membuat tubuhku sakit, hatiku bisa terasa sedikit lega.

'Morin, kamu menipuku dengan terlalu kejam.'

"Mia, Mia?"

Pintu kamar mandi didobrak dengan paksa. Di luar sana, terdengar suara Morin yang entah sejak kapan turun ke bawah.

"Kamu kenapa? Nggak apa-apa, 'kan?"

Suaranya terdengar sangat cemas.

Namun, aku tiba-tiba teringat di depan pintu ruang kerja tadi, dia memanggil nama wanita lain dengan suara penuh hasrat.

Rasa mualku tak tertahan. Tepat ketika Morin berjongkok hendak menggendongku, aku kembali muntah.

Cairan kuning dari lambungku berbau amis menusuk, membasahi kemeja putih bersih Morin hingga penuh noda.

Walau begitu, dia seolah-olah tidak melihatnya, tetap saja memelukku sambil menepuk-nepuk punggungku.

Melalui pantulan kaca, aku melihat tangan satunya malah mengeluarkan ponsel, memotret selfie dirinya yang rapi dengan diriku yang berantakan.

Setelah sekadar membersihkan, dia kembali menggendongku ke ranjang. Dengan hati-hati dia duduk di tepi ranjang, meniupkan obat yang baru saja diseduh untukku agar agak dingin.

"Mia, obatnya sudah hangat, minumlah sedikit ya."

Morin menyodorkan sendok kecil ke bibirku.

Tanpa segera membuka mulut, aku menatap kosong ke arahnya. Aku tiba-tiba tersenyum ....

"Morin, kalau aku bilang, aku tiba-tiba bisa melihat lagi, kamu senang nggak?"

Bab 5

Sendok yang digenggamnya tiba-tiba bergetar, menumpahkan cairan obat ke seprai berwarna merah muda.

Wajah Morin sempat terlihat panik sesaat. Namun dirinya segera mengendalikan ekspresinya, menampilkan raut gembira.

"Benarkah? Mia?"

"Aku bohong."

Sambil melontarkan kedua kata itu, aku menatapnya dengan mata yang kosong.

Tiga tahun aku buta, setidaknya aku telah belajar bagaimana berpura-pura tak bisa melihat.

Morin menatap mataku dengan tegang, seolah-olah ingin memastikan sesuatu.

Lama sekali, barulah dia seakan menghela napas lega, lalu berbicara dengan lembut, "Mia jangan khawatir, aku pasti akan mencari dokter terbaik untuk menyembuhkanmu."

Dia masih ingin melanjutkan menyuapiku obat, tetapi getaran ponselnya berbunyi berkali-kali menandakan pesan masuk.

Morin tetap tidak menghindar dariku.

Rupanya itu pesan dari salah satunya dari asistennya.

[Pak Morin, paman Anda tiba-tiba mengumumkan malam ini akan mengadakan pernikahan.]

Sisanya semua dari Rosa.

[Kak Morin, kamu nggak akan membawa Mia ke pernikahan, 'kan? Dia buta, bagaimana kalau dia mempermalukan Keluarga Giani nanti?]

[Bagaimana kalau aku yang menemani kamu pergi? Aku dan bayi di dalam perutku pasti nggak akan mempermalukanmu.]

Morin yang sedang menggenggam gelas tertegun sesaat, akhirnya meletakkan gelasnya ke meja samping ranjang.

"Mia, perusahaan tiba-tiba ada urusan, malam ini mungkin aku nggak bisa pulang."

"Nanti saat aku kembali, aku akan membawakan hadiah untukmu. Aku juga akan menyuruh Bi Shinta datang menjagamu, jangan khawatir."

Ponselnya masih terus bergetar, gerakannya pun makin cepat. Bahkan lupa menunggu jawabanku, lalu benar-benar meninggalkan kamar.

Begitu dia pergi, aku pun mengeluarkan ponsel yang kusimpan di bawah selimut.

Di layar muncul satu pesan baru yang baru saja terkirim.

[Acara pernikahan ditetapkan malam ini, aku akan menjemputmu sekarang.]

Cepat sekali Yuvan tiba.

Sampai-sampai ketika aku sudah duduk di kursi penumpang depan, tepat berpapasan dengan mobil Morin dari arah berlawanan.

Wajahnya masih dihiasi senyum, sama sekali tidak menoleh ke arahku. Di kursi penumpang sampingnya, duduk Rosa yang memeluk seikat besar bunga mawar.

Malam Panas, Hati yang Membeku

Bab 3
Bab
Sesuaikan
Bab Berikutnya