Logo
Mahasiswi Simpanan Dosen Liar
Mahasiswi Simpanan Dosen Liar

Mahasiswi Simpanan Dosen Liar

41 Bab
Tamat
Dalam Mahasiswi Simpanan Dosen Liar, Zeya terjebak bimbingan tambahan penuh rahasia bersama Delson Weather. Romance novel ini mengungkap konsekuensi hubungan terlarang di dunia modern novel yang menguji batasan antara ambisi dan keinginan. Baca kisah lengkapnya di webnovel ini.
Bab 1 dari Mahasiswi Simpanan Dosen Liar

Lampu-lampu temaram memantulkan cahaya keemasan di sepanjang dinding marmer klub malam itu. Aroma parfum mahal dan dentuman musik bass rendah mengisi ruangan, menambah kesan mewah sekaligus sedikit menyesakkan. Di tengah gemerlap itu, Zeya berdiri, mengenakan pakaian sederhana, tampak kontras dengan lingkungan sekitarnya yang berkilau.

Manajer klub malam itu, seorang pria dengan jas rapi dan rambut disisir ke belakang, menatapnya dari balik meja kaca. Sorot matanya tajam, penuh penilaian, seperti seorang pedagang yang sedang menilai barang dagangan bernilai tinggi.

"Tentu saja, tidak ada lowongan bartender, Nona," katanya, suaranya tenang tapi tidak menyisakan ruang untuk basa-basi. "Namun... ada posisi lain yang mungkin menarik minat Anda." Ia menyandarkan tubuhnya ke kursi, tangan terlipat di depan dada, dan senyum tipis mengembang di bibirnya. "Semacam... model wanita. Anda akan mengantar minuman ke setiap ruangan privat. Selain tip yang lumayan, Anda juga berkesempatan bertemu dengan tamu-tamu kami-semuanya miliarder atau triliuner. Dengan kecantikan Anda... mungkin saja, Anda bisa menggaet aktor atau pengusaha kaya raya." Ia menatap Zeya lekat-lekat. "Bagaimana? Tertarik?"

Zeya tidak langsung menjawab. Matanya mengamati sekeliling, mencerna kemewahan yang belum pernah ia jamah. Ruangan ini terlalu asing-terlalu berkilau untuk seseorang yang hidupnya selalu dibangun dari kesunyian dan perjuangan.

Dua puluh dua tahun, dan hampir semuanya ia lewati sendiri. Dari meja kasir kecil di toko kelontong, hingga menjadi pelayan paruh waktu di kafe mahasiswa-Zeya bekerja sambil menyelesaikan pendidikannya tanpa pernah menggantungkan diri pada orang tua. Ia tahu betul, bantuan apa pun dari keluarganya hanyalah untuk Larin, adik perempuannya yang selalu menjadi pusat segalanya. Ayah dan ibunya hanya mengenal kata "berkorban" jika itu untuk Larin. Sedangkan dirinya? Ia harus belajar menguatkan diri sejak lama.

Perlahan, ia menghela napas panjang, mencoba menelan segala keberatannya yang menumpuk di dada. "Baiklah," ucapnya akhirnya. Suaranya datar, hampir hampa. Tapi di balik nada itu, tekadnya menggema dengan jelas: ia akan bertahan. Dengan caranya sendiri.

Senyum manajer mengembang lebar, seolah ia baru saja memenangkan sebuah taruhan mahal. Dengan cepat, ia menarik sebuah setelan minim dari laci dan menyerahkannya. Kain hitam berkilau dengan potongan yang lebih banyak memperlihatkan daripada menutupi.

"Bagus! Anda bisa mulai malam ini."

Zeya mengangguk pelan, lalu berbalik menuju ruang ganti. Langkahnya terasa berat namun mantap. Ia tak punya banyak pilihan, namun ia punya satu senjata yang tak akan ia lepaskan: harga dirinya.

Manajer klub memperhatikan kepergiannya dengan senyum semakin lebar, mata memicing penuh perhitungan.

"Sempurna," gumamnya pelan. "Paras dan tubuh seperti itu... dia akan menghasilkan banyak uang untukku."

Dengan puas, ia kembali ke ruangannya, membiarkan pintu menutup pelan di belakangnya, sementara dentuman musik kembali menyatu dengan keriuhan malam.

Di dalam ruang VIP yang mewah dan tertutup rapat dari hiruk pikuk lantai utama klub, aroma mahal dari cerutu Kuba dan minuman beralkohol mengambang samar di udara. Lampu gantung kristal memantulkan cahaya lembut ke sofa beludru yang diduduki oleh sekelompok pria muda dewasa yang tengah larut dalam euforia malam itu.

Musik jazz lembut mengalun dari speaker tersembunyi, memberi kesan eksklusif, hampir intim.

"Malam ini kita pesta sampai pagi!" seru Philip dengan semangat, mengangkat gelasnya tinggi-tinggi. Tawa riuh mengisi ruangan saat yang lain menyambut seruannya. Suara gelas bersentuhan menciptakan denting yang menggema pelan.

Delson, yang duduk di ujung sofa panjang dengan kaki bersilang santai, hanya tersenyum kecil. Ia mengangkat gelas kristalnya-berisi minuman dingin berwarna keemasan-dan menyesap perlahan, tak terburu-buru. Di balik tatapan tenangnya, ada kilatan rasa lega dan kepuasan. Washington kembali menyambutnya, dan untuk malam ini, ia ingin menikmati kebebasan itu tanpa gangguan apa pun.

"Ayo bersulang!" seru Hans dengan suara nyaring, tapi setelah satu tegukan, alisnya bertaut kecewa. "Alkohol saja kurang! Kita butuh wiski atau sampanye! Yang premium!"

Colin, duduk di sebelahnya sambil memegang kartu di tangan, hanya terkekeh, "Sabar, sudah ku pesan tadi. Tunggu saja." Ia kembali fokus ke permainannya, meletakkan kartu dengan gaya percaya diri.

Tawa dan candaan kembali mengisi ruangan, sementara meja di hadapan mereka mulai dipenuhi botol minuman, sisa camilan eksklusif, dan kartu-kartu yang berserakan. Namun, di tengah keramaian itu, Delson tetap tenang. Matanya mengamati sekeliling, mengamati teman-teman lamanya yang tak banyak berubah, dan suasana yang sudah sangat ia kenal sejak muda.

Tapi baginya, malam ini berbeda. Kepulangannya bukan sekadar reuni, ini adalah awal dari sesuatu yang lebih besar. Dan meskipun ia tampak tenang di luar, pikirannya terus berputar... hingga akhirnya, suara ketukan pelan di pintu dan suara engsel berdecit lembut mengalihkan perhatian semua orang di ruangan.

Suara ketukan lembut terdengar dari arah pintu, diikuti bunyi engsel berderit pelan saat daun pintu terbuka. Seorang wanita muda melangkah masuk, mendorong rak besi berisi minuman yang tampak tertata rapi. Gaunnya sederhana namun elegan, rambutnya tersisir rapi, dan wajahnya yang bersih tanpa banyak polesan tampak begitu menenangkan. Ia tersenyum sopan sebelum berkata, "Permisi."

Suasana ruangan yang semula ramai oleh suara tawa dan diskusi kartu mendadak mereda. Beberapa pasang mata menoleh, namun hanya satu pasang yang tak mampu berpaling kembali-mata Delson.

Zeya, begitu nama yang tertera di papan kecil di dadanya, mulai meletakkan minuman satu per satu di atas meja dengan gerakan anggun dan terlatih. Tidak ada yang berlebihan. Tidak ada sorot mata genit. Tidak ada sapaan yang dibuat-buat. Ia hanya menjalankan tugasnya dengan sopan dan tenang.

Delson terdiam. Untuk pertama kalinya dalam hidupnya, ia terpesona hingga tak bisa berkata-kata. Bukan hanya karena parasnya yang cantik, namun karena caranya membawa diri-begitu anggun, tenang, dan tidak terusik oleh keberadaannya.

Di London, ia telah terbiasa menjadi pusat perhatian. Di Washington, wanita-wanita mendekatinya tanpa ragu, menawarkan diri tanpa malu. Namun wanita ini... dia bahkan tak menoleh. Hanya menunduk, seolah tak menyadari siapa yang sedang menatapnya begitu lekat.

Delson mengernyit samar, dalam hati bergumam, "Apa dia sungguh tak tahu siapa aku? Atau... dia tak peduli?" Ada keheningan aneh yang merayap di dadanya, bukan karena penolakan, tapi karena keunikan sikap wanita itu yang terasa... menyegarkan.

Setelah menyelesaikan tugasnya, Zeya menundukkan kepala sedikit dan berkata pelan, "Selamat menikmati," sebelum mendorong raknya perlahan keluar dari ruangan.

Pintu tertutup kembali. Tapi Delson masih terpaku, tatapannya tertinggal di pintu yang kini sudah menutup rapat, sementara pikirannya masih penuh dengan bayangan wajah wanita yang bahkan tak sempat menatap balik ke arahnya.

"Siapa wanita barusan? Apa dia malaikat atau bidadari? Dia sungguh sempurna... sangat sopan dan elegan," gumam Philip nyaris tak percaya, tatapannya masih tertuju ke arah pintu yang tadi sempat terbuka.

"Kurasa dia anak baru. Siapa tadi namanya?" timpal Colin, masih mengernyitkan dahi, mencoba mengingat detail wajah dan nama gadis muda yang baru saja masuk membawakan minuman mereka.

Hans mengangguk pelan, suaranya terdengar mantap, "Kurasa kita harus mendapatkan nomor teleponnya." Colin menoleh dan mengangguk sependapat, senyum geli menghiasi wajah keduanya.

Namun hanya satu orang yang tetap diam. Delson.

Ia menatap kosong ke dalam gelasnya sebelum akhirnya membuka suara dengan nada yang tak terbantahkan.

"Dapatkan wanita itu untukku."

Tiga pasang mata langsung beralih menatapnya. Terkejut. Tak percaya. Bahkan nyaris tak yakin dengan apa yang baru saja mereka dengar.

Dengan gerakan serempak, ketiganya bergeser duduk lebih dekat ke arah Delson, seperti ditarik oleh gravitasi dari kata-kata yang baru saja dilontarkannya.

"Jangan gila, kau lupa apa tujuanmu kembali ke Washington?" ujar Philip, berusaha mengembalikan Delson ke jalur rasional. "Perjodohan, ingat? Orang tuamu sudah mengatur semuanya."

Delson berdecak pelan, meletakkan gelas kristalnya di atas meja dengan tenang. Tatapannya tajam menembus bayangan cahaya lampu gantung di atas mereka.

"Itu hanya perjodohan," ucapnya datar namun penuh makna. "Pernikahan di atas kertas, tanpa rasa, tanpa gairah. Untuk apa kupikirkan? Aku membutuhkan wanita yang bisa membuatku bertahan hidup. Yang membuatku ingin pulang. Yang membuat jantungku berdetak lebih cepat... dan sepertinya, aku telah menemukannya."

Kata-kata itu meluncur dari bibir Delson dengan keyakinan yang tak biasa, membuat ketiga temannya terdiam dalam keterpanaan.

"Gila... kau sungguh gila," olok Hans, menatapnya dengan tatapan setengah heran, setengah kagum.

Colin mencondongkan tubuh, suaranya terdengar tajam namun jujur. "Ini pertama kalinya aku melihatmu sejatuh ini hanya karena seorang wanita. Tapi... apa dia akan sama saja seperti wanita-wanita sebelumnya? Setelah kau mendapatkan yang kau mau... apakah kau akan membuangnya begitu saja? Kita sudah berteman lebih dari sepuluh tahun, Del. Kita tahu siapa dirimu. Kau pria paling playboy yang pernah kami kenal. Dalam sebulan kau bisa berganti wanita seperti mengganti jam tangan."

Ia menatap Delson lurus, seolah ingin menggali kepastian dari mata sahabatnya.

"Karena itulah Om Weather mengusulkan perjodohan. Agar kau berhenti-"

Delson hanya tersenyum kecil, bukan karena setuju, tapi karena tahu betapa sedikit yang mereka pahami tentang apa yang baru saja terjadi di hatinya.

Ia bangkit perlahan dari sofa, membenahi lipatan jas dan kancing kemejanya yang sedikit terbuka. Sorot matanya tajam, dingin, namun di baliknya menyala sebuah hasrat yang tak biasa.

"Untuk kali ini," ujarnya dengan suara rendah namun penuh ketegasan, "sepertinya aku serius. Aku akan mendapatkannya... apa pun caranya."

Tiga sahabatnya hanya bisa terdiam menatap punggung Delson yang perlahan menjauh, membawa serta aura tekad dan obsesi yang belum pernah mereka lihat sebelumnya.

Untuk pertama kalinya... sang raja playboy jatuh cinta. Dan saat Delson menginginkan sesuatu, dunia tahu-ia akan melakukannya dengan cara apa pun.

Lanjutkan Membaca
Pilih Bab
CH. 1CH. 2CH. 3
CH. 4
CH. 5
CH. 6
CH. 7
Semua
Baca Novel Selengkapnya di
moboreader
Kini Tersedia Membaca Gratis

Kamu Mungkin Juga Suka

CEO My Husband
CEO My Husband
Dalam CEO My Husband, Tasya harus menghadapi gangguan konstan dari Revan, bos barunya yang ambisius. Sebagai pewaris takhta perusahaan, Revan mengubah hidup Tasya menjadi penuh tantangan. Simak kisah billionaire romance novels ini di webnovel, pilihan tepat bagi pembaca modern novel.
Dosa Di Lautan
Dosa Di Lautan
Dalam novel romantis misteri Dosa Di Lautan, kebosanan seorang istri membawanya ikut melaut bersama sang suami. Namun, kecelakaan kapal memaksa dirinya bersembunyi di ruang aman, di mana sentuhan rahasia seorang pelaut memicu gairah tak terduga. Baca novel online menegangkan ini sekarang.
Istri Sah Hanya Dianggap Pembantu
Istri Sah Hanya Dianggap Pembantu
Pasca cerai dari suami dingin, Aluna di Istri Sah Hanya Dianggap Pembantu memulai hidup baru. Ia bertemu Dion, seorang duda dalam billionaire romance novels ini. Aluna harus melindungi putra Dion dari masa lalu kelam sambil membangun keluarga di web novel bertema modern novel ini.
Kakakku Menjadi Gila Setelah Kematianku
Kakakku Menjadi Gila Setelah Kematianku
Dalam novel misteri Kakakku Menjadi Gila Setelah Kematianku, seorang adik tewas ditabrak mobil setelah ditolak oleh kakaknya sendiri. Kematian tragis ini justru membuat sang kakak kehilangan akal sehatnya. Temukan kebenarannya dalam baca novel online gratis bergenre romantis modern ini.
KENIKMATAN SELINGKUH
KENIKMATAN SELINGKUH
Dalam KENIKMATAN SELINGKUH, Arsyla dan Edi berjuang menjaga keharmonisan rumah tangga di tengah keterbatasan ekonomi. Sebagai romance novel modern, kisah ini menyoroti pilihan sulit saat tuntutan hidup menguji kesetiaan. Simak perjalanan mereka di webnovel yang penuh realita ini.
Love Escape
Love Escape
Dalam modern novel Love Escape, Ghena membangun hidup baru di Singapura demi melupakan Bastian. Namun, pertemuan tak terduga dengan mantan kekasihnya itu memicu dilema besar. Baca romance stories ini untuk melihat perjuangan Ghena antara logika dan perasaan di web novel yang emosional ini.

Rilis WebNovel Terbaru

Populer di MiniShort

Bangkit Lagi!  Mama Petinju Mengguncang Dunia
Bangkit Lagi! Mama Petinju Mengguncang Dunia
Setelah hidup kembali, Jessica kembali ke dunia tinju untuk meraih kembali kehormatannya yang hilang. Setelah bercerai dengan Yohan, dia mengetahui bahwa pacar barunya, Fani, berpura-pura menjadi dirinya. Dalam pertandingan, Jessica mengalahkan Yohan, membuktikan bahwa dialah juara sejati, dan mulai mengejar kebahagiaannya sendiri.
Kaisar Pulang ke Desa (Sulih Suara)
Kaisar Pulang ke Desa (Sulih Suara)
Sebelum meninggalkan kampung halamannya, Alingga berjanji pada tunangannya, Rinjani, bahwa ketika dia menjadi kaisar, dia akan kembali dan menjadikan Rinjani sebagai permaisuri. Bertahun-tahun kemudian, dia naik takhta sebagai kaisar. Untuk menepati janjinya, dia memutuskan untuk menyamar dan kembali ke kampung halamannya. Namun, saat memasuki gerbang kota, dia mendapati tunangannya, Rinjani, telah berubah hati dan akan menikah dengan putra Bupati...
Kali Ini Kupilih Tuan Mafia
Kali Ini Kupilih Tuan Mafia
Setelah hidupnya hancur akibat dikhianati oleh pria yang ia cintai dan selingkuhannya, Stella mendapat kesempatan memutar waktu. Dalam acara pemilihan suami, ia mengejutkan semua orang dengan menolak mantannya dan memilih Adrian, bos mafia kejam yang tak tersentuh. Adrian memberikannya kekuasaan, perlindungan, dan gairah, hingga Stella akhirnya mengungkap rahasia bahwa Adrian selama ini bukan hanya alat balas dendamnya, melainkan pelindungnya.
Pembantu Musuhku
Pembantu Musuhku
Ketua kelas yang teliti ​​menyimpan rahasia besar: Dia adalah gadis termiskin di sekolah swasta yang kaya raya. Ketika saingannya si bocah nakal yang sangat kaya memecatnya dari pekerjaan paruh waktu, dia menebusnya dengan mempekerjakannya sebagai pembantu pribadinya bahkan setuju untuk merahasiakan hubungan mereka... asalkan wanita itu memenuhi semua kebutuhannya.
Suami Rahasiaku adalah Bosku
Suami Rahasiaku adalah Bosku
Katya menikah dengan orang asing untuk mendapatkan uang tanpa pernah bertemu dengan suaminya. Setelah dua tahun di luar negeri, dia kembali untuk bercerai dengan suaminya tanpa mengetahui bahwa bos miliardernya yang tampan, Jaka Tanoko, adalah suami rahasianya.
Astaga, Apakah Aku Tidur dengan Bosku?
Astaga, Apakah Aku Tidur dengan Bosku?
Alicia mabuk dan secara tidak sengaja tersandung ke presidential suite hotel, di mana dia secara tidak sengaja memiliki hubungan satu malam dengan bosnya, Ryan. Takut akan konsekuensinya, dia menyembunyikan kebenaran untuk menghindari mempertaruhkan pekerjaannya. Temannya, Jessie, menemukan kalung Alicia di suite dan secara keliru mengklaim dirinya sendiri sebagai pasangan hubungan satu malam Ryan. Seiring waktu, Alicia berangsur-angsur jatuh cinta pada Ryan. Akhirnya, kebohongan Jessie terungkap. Alicia dan Ryan melewati semua kesalahpahaman, akhirnya bersatu sebagai pasangan.