Bab 1
Setelah pergi ke luar negeri untuk kuliah, karena biaya hidup yang tidak mencukupi, aku bekerja paruh waktu di tempat hiburan di Aurelion.
Sejak malam itu, setiap kali terbangun di tengah malam, aku selalu teringat betapa mengerikannya pengalaman yang aku alami malam itu.
Setelah pergi ke luar negeri untuk kuliah, karena biaya hidup yang tidak mencukupi, aku bekerja paruh waktu di tempat hiburan di Aurelion.
Sejak malam itu, setiap kali terbangun di tengah malam, aku selalu teringat betapa mengerikannya pengalaman yang aku alami malam itu.
....
Namaku Mirna Jayadi, baru saja merayakan ulang tahun ke-21.
Sebagai mahasiswi pascasarjana dari keluarga sederhana, tingkat pengeluaran di luar negeri sangat tinggi. Biaya hidup yang sebelumnya cukup di negara asal saya, tiba-tiba menjadi tidak mencukupi. Aku sempat berpikir untuk bekerja sebagai pelayan restoran.
Namun, karena masalah visa, mahasiswi asing sepertiku hanya bisa bekerja di restoran ilegal. Hal ini membuatku agak ragu.
Teman sekamarku, Winda Basuki, mengetahui dilemaku, lalu menarikku dan berbicara dengan nada misterius.
"Kerja di restoran itu melelahkan, harus angkat piring dan cuci piring. Aku punya pekerjaan yang gampang dan bayarannya besar. Mau aku kenalkan?"
Dia berkata sambil menatapku dari atas ke bawah, seperti sedang menilai barang di meja.
"Bentuk tubuhmu lumayan. Kalau melamar seharusnya diterima. Siapa tahu kamu bisa dapat banyak uang!"
Setelah menilaiku, dia bahkan menjulurkan tangannya untuk meremas tubuhku di bagian depan dan belakang, membuatku merasa tidak nyaman hingga mundur dua langkah.
Aku tidak terbiasa dengan sikapnya yang terlalu berlebihan, tetapi karena aku benar-benar butuh uang, mau tak mau aku mendengarkan penjelasannya.
Saat baru tiba di luar negeri untuk studi pascasarjana, Winda, seperti aku, juga berasal dari keluarga biasa. Kalau tidak, kami tidak akan tinggal bersama di daerah yang hampir mirip kawasan kumuh ini
Rumah kami kecil dan reyot, sering mati air dan listrik, dengan perabotan yang kotor.
Namun, baru setengah tahun, Winda mulai sering keluar pagi-pagi dan pulang larut malam. Dia mengganti semua perabotan di kamarnya dengan barang baru.
Tidak hanya itu, pakaian dan aksesori yang dikenakannya makin mewah dan terlihat mahal.
Melihat perubahan ini, aku tidak akan percaya kalau dia berkata bahwa dia tidak menghasilkan uang. Jadi, saat dia ingin memperkenalkan pekerjaan ini, aku merasa gugup, tetapi juga tertarik.
"Aku juga mau bekerja. Kalau nggak segera punya uang, aku nggak bisa makan. Kapan kamu bisa menjelaskan lebih lanjut tentang pekerjaan ini?"
Winda tersenyum misterius, kembali menatapku dari atas ke bawah, terutama pada bagian tertentu untuk waktu yang lama.
"Coba pakai bajuku, biar aku lihat."
Aku terkejut melihat gaun yang dikenakannya. Gaun itu hampir tidak menutupi tubuhnya, sangat terbuka di depan dan belakang.
Dan ... aku lebih tinggi darinya. Kalau aku memakainya, pakaian dalamku mungkin akan terlihat separuhnya.
Aku tidak tahu harus bagaimana.
Awalnya tidak disebutkan kalau pekerjaan paruh waktu ini mengharuskan memakai pakaian seperti itu. Sekarang aku merasa serba salah.
Winda menyadari keraguanku, tetapi dia tidak memaksa. Dia hanya bertanya apakah aku masih ingin mendapatkan uang atau kembali ke negara asal dengan tangan kosong.
Dengan ragu-ragu, aku menggigit bibir, menerima gaun yang dilepasnya dan berjalan cepat ke kamar mandi.
Hasilnya, aku mengalami masalah saat melihat pakaian itu di kamar mandi. Lingkar dadaku benar-benar ... terlalu besar untuk pakaian Winda.
Setelah lama mencoba, aku ingin memakai kembali pakaianku sendiri. Aku selalu malu untuk telanjang.
Namun, Winda tiba-tiba membuka pintu dan matanya berbinar melihat tubuhku.
Dia berputar mengelilingiku dua kali, lalu menarik bra-ku untuk melihat dadaku.
Setelah tahu bahwa gaun itu tidak muat padaku, dia tertawa dengan santai dan berkata bahwa dia baru bisa memakainya jika tidak mengenakan pakaian dalam.
"Nggak disangka, penampilanmu biasa saja, tapi tubuhmu luar biasa. Kenapa kamu sembunyikan? Pasti menyenangkan untuk dipamerkan!"
"Kenapa bengong? Cepat lepas bajumu, coba pakai gaun ini. Hasilnya pasti memukau!"
Dia tetap berdiri di sana, dengan semangat menungguku mencoba gaun itu. Dia terus berkata bahwa aku pasti bisa mendapatkan harga yang bagus.
Aku merasa malu, tetapi pakaianku dipegang erat oleh Winda. Aku tidak punya pilihan selain melepas bra-ku dan mencoba gaun yang ukurannya lebih kecil itu.
Namun, ketika menunduk, wajahku langsung merah seperti terbakar.
Winda tidak mengatakan bahwa gaun itu setengah transparan. Bagian dadaku yang tidak memakai bra terlihat samar-samar, membuat orang bisa membayangkan hal-hal tertentu.
Rasanya lebih memalukan daripada tidak memakai apa-apa!
Aku berjalan ke arahnya untuk meminta pakaianku kembali. Namun, saat melangkah, aku merasa bagian belakangku dingin.
Ketika menoleh, aku melihat setengah bokongku terungkap dari gaun itu!
Aku merasa sangat malu hingga ingin menyembunyikan diri di pojok, tidak tahu harus menutupi bagian depan atau belakang.
Winda tidak peduli, malah mengambil ponsel dan memotretku.
Aku langsung merampas ponselnya, "Kamu ngapain!"
Nadaku terdengar tergesa-gesa dan marah.
Namun, Winda dengan santai menarikku, menepuk bahuku untuk menenangkanku.
"Aku tahu kamu malu, tapi pikirkan betapa sulitnya hidup tanpa uang. Toh cuma dilihat orang, nggak akan rugi, tapi kamu bisa hidup nyaman ...."
Hatiku yang awalnya sudah ragu, makin goyah setelah mendengar perkataannya, tanpa sadar melonggarkan cengkeraman tanganku.
Bab 2
Ya, apa aku harus kembali ke negaraku jika tidak bisa menghasilkan cukup uang untuk membayar biaya kuliahku?
Begitu pikiran mengerikan itu muncul, pikiran itu terus menghantui benakku. Aku menggelengkan kepala dengan ketakutan, mencoba mengusir bayangan suram tersebut.
Saat itu, Winda mengomporiku, menunjukkan layar percakapan WhatsApp-nya kepadaku.
Ada seseorang bernama Kak Lody yang mengirimkan stiker "menarik," diikuti dua transfer sebesar 100 juta masing-masing, dengan pesan "untuk Adik beli tas."
"Lihat, cuma difoto beberapa kali, kalau bos suka, langsung transfer 100 juta. Uang sebanyak itu nggak akan kamu dapatkan meski cuci piring selama setahun."
"Aku sudah bilang kerjaan ini banyak duitnya. Aku juga melakukannya. Apa aku bakal mencelakakan kamu? Banyak orang lain yang berebutan ingin masuk, tapi aku nggak kenalin mereka. Kamu itu spesial, soalnya kamu teman serumahku."
Kata-kata ini seperti suntikan keberanian bagiku.
Winda benar, tidak ada orang yang mengumbar hal-hal seperti ini. Semua diam-diam cari untung besar.
Dia dengan baik hati memperkenalkannya padaku. Bagaimana mungkin aku membuatnya kecewa?
Selain itu ... melihat uang 200 juta itu, aku tak bisa menahan diri menelan ludah.
Sudah lama aku tidak makan kenyang.
Bos Winda, di sisi lain, bisa dengan santai mentransfer 200 juta untuk adik yang bahkan tidak dikenalnya. Dia benar-benar kaya.
"Winda, bisa nggak kamu bawa aku ke sana? Aku juga mau jadi kaya."
Tanpa menunggu, Winda langsung mengajakku ke tempat yang dia sebut sebagai tempat kerja.
Tempat itu adalah sebuah klub mewah yang cukup jauh dari kawasan kumuh. Katanya, klub ini khusus untuk mahasiswa internasional kaya dari negara asal. Semua pekerja di sini berbicara dalam bahasa ibu kami.
Aku melihat dekorasi interiornya dan tak bisa menahan diri berdecak kagum. Segalanya terlihat sangat mahal.
Winda, yang sudah terbiasa, sama sekali tidak tampak kaget seperti aku. Dia dengan santai menarikku melewati bagian depan dan langsung menuju area staf.
Bagian dalamnya bahkan lebih mencengangkan, lebih mewah daripada dekorasi luar, mengingatkanku pada adegan pesta liar di novel.
Ada seorang pria bertubuh kekar berenang di kolam renang dalam ruangan, hanya mengenakan celana renang. Tubuhnya bergerak naik turun seiring gerakannya.
Otot dadanya penuh, dan otot lengannya terlihat kuat.
Begitu Winda melihatnya, dia langsung tersenyum lebar. Ketika pria itu keluar dari kolam, Winda tanpa ragu mendekat, menempelkan dirinya meski tubuh pria itu masih basah. Dadanya bergesekan dengan lengan pria tersebut.
Pakaian Winda yang ketat langsung menonjolkan lekuk tubuhnya saat basah, membuat suasana makin memanas.
Pria itu tersenyum, lalu dengan santai menggesek-gesekkan lengannya ke dada Winda beberapa kali, membuat Winda hampir terjatuh ke pelukannya.
Mata Winda penuh godaan, dan dia berkata dengan nada lembut dan manja,
"Setelah berenang lama, bagaimana kalau malam ini kita lakukan sesuatu yang lain?"
Pria itu tidak menjawab, hanya tersenyum. Tangan yang memeluk pinggang Winda mulai turun, meremas bokongnya.
Winda memberinya isyarat, menunjuk ke arahku yang berdiri tak jauh.
Melihat interaksi mereka, aku ingin menunduk mencari lubang untuk bersembunyi. Kukira pria itu akan berhenti, dan aku agak lega. Kakiku yang tegang mulai santai kembali.
Namun, dia hanya mengangguk ke arahku dan berkata, "Foto adik ini kalah jauh dari aslinya. Melihat langsung lebih terasa."
Lalu, dia melanjutkan, bahkan lebih berani dari sebelumnya, tanpa ragu memegang sana-sini.
Satu tangannya masuk ke bawah rok Winda, sedangkan tangan lainnya menarik turun baju Winda hingga bagian dadanya terbuka.
Winda mengeluarkan suara manja, suara yang belum pernah kudengar, lembut dan penuh godaan.
Pria itu kemudian mengangkat Winda dan meletakkannya di kursi pantai terdekat, membuatnya berlutut membelakangi dirinya.
Aku bingung dan tak tahu harus bagaimana. Bahkan napasku tak sengaja menjadi lebih pelan.
Pria itu melihatku dan berkata, "Pergi cari manajer, minta dia ajarkan aturan tempat ini. Hafalkan semuanya sebelum besok malam, lalu datang temui aku."
Winda tiba-tiba menoleh, bertanya dengan nada bingung, "Kak Lody, teman serumahku ini punya tubuh bagus. Bukannya sayang banget kalau hanya dijadikan pelayan? Kenapa dia nggak langsung kerja yang itu saja?"
Ternyata pria itu adalah Kak Lody, orang yang mengirim 200 juta untuk beli tas.
Kak Lody menepuk bokong Winda dengan keras, membuatnya bergetar. Winda mengeluarkan suara yang lebih keras lagi.
"Jadi pelayan dulu. Kalau dia ingin uang besar, baru kita bicarakan."
Winda memberiku isyarat, "Dia bilang mau pekerjaan paling menghasilkan itu, aku sudah ceritakan semuanya padanya."
Di perjalanan, Winda sudah menjelaskan bahwa pekerjaan terendah adalah pelayan dengan gaji sekitar 20 juta, sedangkan yang tertinggi adalah model dengan pendapatan 200 juta lebih, belum termasuk tip besar dari tamu.
Aku langsung mengangguk, "Ya, aku ingin jadi model!"
Winda tampak lega dan memandang Kak Lody, "Dia pasti bisa. Bagaimana kalau malam ini Kak Lody coba dulu dia ...."
Kak Lody tidak menjawab, tangannya malah bergerak cepat di bawah rok Winda.
Ucapan Winda berubah menjadi terputus-putus, dengan suara lembut dan manja yang keluar tanpa dia sadari.
Beberapa saat kemudian, diiringi suara Winda yang melenguh antara sakit dan nikmat, Kak Lody berhenti bergerak, lalu memandangku lagi.
"Kamu pergi belajar aturan dari manajer dulu. Besok malam langsung datang."
Setelah itu, dia mulai melepas celana renangnya.
Aku langsung tahu apa yang mereka lakukan tadi. Wajahku memerah, dan aku segera menunduk, berbalik keluar.
Setelah pulang, aku terus memikirkan aturan yang diajarkan manajer dan apa yang kulihat di kolam tadi. Untuk waktu yang lama, aku tidak bisa tidur.
Hingga pagi hampir tiba, aku baru merasa mengantuk, tetapi aku sadar Winda belum pulang. Dia masih di tempat Kak Lody.
Gambaran yang tadi sulit kuhapus dari benakku mulai muncul lagi.
Kak Lody yang kekar memeluk pinggang Winda, jarinya yang panjang masuk dan keluar, dan sesuatu yang menonjol di balik celana renangnya ....
Winda terlihat kesakitan, tetapi juga seperti sangat menikmati.
Tanpa sadar, aku merapatkan kedua kakiku, merasa tidak tenang ....
Bab 3
Kalau Kak Lody setuju untuk mencoba dulu ... apa malam ini aku bisa merasakan apa yang dirasakan Winda?
Bukan hanya bisa menghasilkan uang dengan mudah, tetapi juga menikmati sensasi seperti itu .... Tidak bisa kubayangkan betapa menyenangkannya.
Sampai pagi tiba, aku masih terjebak dalam lamunan, baru bisa tertidur dengan pikiran kacau.
Saat bangun, hari sudah sore. Untuk pertama kalinya, aku berdandan dengan serius, melihat ke cermin kiri-kanan dan merasa cukup puas. Dengan penuh semangat, aku pergi ke klub.
Dari kawasan kumuh naik kereta bawah tanah ke daerah kaya, perjalanan memakan waktu lebih dari dua jam. Saat tiba, langit sudah gelap, dan banyak mobil sport yang namanya tak kuketahui diparkir di luar klub.
Aku berdecak kagum, menarik napas dalam-dalam, lalu melangkah ke tempat yang bisa mengubah takdirku ini.
Kali ini, karena sudah lebih familiar, aku langsung menuju area dalam. Masih di kolam renang yang sama, Kak Lody dan Winda duduk di pinggir kolam dengan pakaian renang minim.
Setelah memikirkannya semalaman, aku langsung bisa melihat perubahan pada Winda.
Setelah semalaman bersama Kak Lody, wajahnya justru terlihat lebih cerah. Bahkan setiap senyum dan ekspresinya terasa menggoda. Seluruh tubuhnya memancarkan aura kebahagiaan.
Aku menatapnya tanpa berkedip, tetapi Winda tetap tenang dan santai.
"Kak Lody hebat banget di bidang itu. Sayang kamu nggak tinggal semalam, kalau nggak kamu juga bisa mencobanya ...."
Kak Lody meremas dada Winda dengan tangannya yang besar, tersenyum tipis.
"Nggak usah buru-buru, malam ini dia sudah bisa menemani tamu."
Winda tiba-tiba teringat sesuatu dan mengingatkan Kak Lody, "Mirna ini masih pertama kali, lho. Apa nggak dicoba dulu?"
Mendengar itu, Kak Lody tampak lebih tertarik. Dia menatapku dengan serius untuk beberapa saat sebelum berkata, "Tubuh sebagus ini ternyata masih perawan? Jangan-jangan kamu lagi bercanda sama aku?"
Meskipun dia berbicara dengan Winda, matanya terus tertuju padaku, jelas menunggu jawabanku.
Aku segera mengangguk, "Sebelumnya aku sibuk belajar, jadi nggak pernah punya pacar."
Kak Lody melambaikan tangan, dan sebelum aku sempat bereaksi, Winda dengan bersemangat menghampiriku, menarikku ke kamar mandi.
Dia langsung melepas pakaianku. Dengan pengalaman sebelumnya, aku hanya agak canggung, tetapi tidak menolak.
"Mandi yang bersih, lalu cukur bulu di bawah sana. Kak Lody mau menjual keperawananmu dengan harga bagus!"
"Dengan kondisi tubuhmu seperti ini, selama kamu memuaskan tamu malam ini, pekerjaan ini bisa dianggap sukses!"
Aku tertegun. Meskipun aku tahu keperawananku akan diberikan kepada tamu, aku tidak menyangka itu terjadi secepat ini. Apakah malam ini benar-benar akan terjadi ....
"Melakukannya dengan pria asing … apa akan terasa nggak nyaman? Kudengar pertama kali itu sakit."
Winda tertawa, mencubit dadaku, "Bagaimana? Tangan orang lain terasa beda dengan tanganmu sendiri, 'kan? Pria itu lebih memuaskan!"
Dia memang berpengalaman. Aku menjadi lemas karena tindakannya, bahkan suaraku berubah menjadi tidak wajar.
"Aku mengerti ...."
Dengan perasaan tegang sekaligus penuh antisipasi, aku selesai mandi dan mengenakan gaun mini motif macan tutul yang sangat terbuka.
Aku ditempatkan di sebuah ruangan mewah, duduk dengan kaki terlipat, menunggu apa yang akan terjadi.
Namun, bukan Kak Lody yang datang, melainkan lima atau enam pria bertubuh besar. Mereka baru saja keluar dari kolam renang, hanya mengenakan celana renang basah yang menonjol di bawahnya.
"Wah, barang kali ini luar biasa!"
Mereka mengelilingiku. Aku yang ketakutan bertanya pada Winda.
"Yang mana tamu yang harus aku temani?"
Pria-pria itu tertawa, begitu juga Winda. Mereka semua menatapku dengan ekspresi aneh.
Aku mulai panik. Suasana menjadi tegang.
Winda akhirnya berbicara, "Mereka semua tamu yang harus kamu temani. Pertama kali memang lebih seru kalau banyak orang. Nikmati saja!"
Setelah itu, dia merobek pakaianku dan mendorongku ke pelukan para pria itu, sementara dia sendiri duduk di sofa dengan penuh semangat menonton.
Mereka makin mendekat. Aku yang ketakutan mencoba berdiri, tetapi tidak bisa. Aku bergerak mundur.
"Jangan .... Aku nggak mau .... Jangan mendekat!"
"Aku nggak mau uang ini .... Aku benar-benar nggak mau ...."
Namun, permohonanku seperti tetesan air di lautan. Mereka hanya tertawa penuh nafsu, sama sekali tidak peduli pada penolakanku.
Aku memohon bantuan kepada Winda, tetapi dia mengabaikan tatapanku dan malah menyuruh pria-pria itu untuk segera melakukannya.
"Dia nggak bisa berdiri! Pegang kakinya, jangan sampai dia lari!"
Pria-pria itu menjadi makin bersemangat. Dua dari mereka mendekat untuk memegang kakiku, sementara yang lain mencoba menahan lenganku agar aku tidak bisa bergerak.