Bab 4

Semua orang pun menoleh ke arah Luna.

Luna terdiam di tempat, belum sempat menyadari apa yang terjadi, tiba-tiba terdengar suara teriakan kaget ibu tirinya.

“Paula!”

Paula pingsan karena ketakutan mendengar kutukan itu.

Seketika, raut wajah Rocky pun berubah. Dia langsung membungkuk dan menggendong Paula, lalu bergegas menuju ruang medis.

Otak Luna kosong, sampai sebuah tamparan keras mendarat di wajahnya, barulah dia tersadar.

“Bagaimana bisa aku melahirkan anak sekeji kamu?!” marah ayahnya, urat di pelipisnya sampai menonjol.

“Kakakmu sudah sakit parah, tapi kamu masih tega mengutuknya?!”

Luna terhuyung-huyung mundur setengah langkah, hingga tak sengaja menabrak menara sampanye di sampingnya. Airnya berceceran ke lantai.

Dia pun terjatuh di atas pecahan kaca, menahan rasa sakit sambil menjelaskan, “Bukan aku!”

“Diam!” bentak ayahnya.

“Dari awal aku sudah tahu, kamu iri karena kami memperlakukan kakakmu dengan baik. Tapi dia itu sudah sekarat, kamu sama sekali nggak punya rasa kasihan sedikit pun padanya?”

“Cepat, kurung anak durhaka ini!”

….

Luna dilempar ke sebuah ruangan gelap yang sempit.

Sejak kecil dia takut gelap, ditambah lagi dirinya menderita klaustrofobia.

Begitu pintu tertutup, napasnya langsung terengah-engah. Kegelapan seperti ombak besar yang menyerbu dari segala arah.

Dia memukul-mukul pintu dengan sekuat tenaga, darah di telapak tangannya meninggalkan bekas merah menyala di papan kayu, “Buka pintunya! Kumohon lepaskan aku!”

Namun, hanya ada kesunyian di luar sana.

Tenaganya pun habis, dirinya merosot duduk di lantai. Napasnya semakin tersengal dan pandangannya berangsur gelap.

Entah sudah berapa lama berlalu.

Saat kesadarannya hampir hilang, akhirnya pintu terbuka. Dia pun buru-buru merangkak keluar.

Namun, detik berikutnya….

“Husssh!”

Satu ember penuh darah kental yang busuk disiramkan tepat ke tubuhnya!

Disusul ember kedua dan ketiga….

Luna tersedak dan hampir tak bisa bernapas.

Dalam pandangan yang kabur, samar-samar dia melihat sosok yang sangat dikenalnya berdiri di ambang pintu.

Itu Rocky.

Pria itu berdiri di antara cahaya dan kegelapan, tatapan matanya dingin menatap bawahannya yang terus menyiramkan ember-ember darah ke arahnya, tanpa sekalipun menghentikan mereka.

Hingga ember terakhir disiramkan.

Barulah Rocky melangkah perlahan ke depan Luna, membungkuk, lalu mengusap wajahnya dengan sapu tangan sutra. Tapi, nada bicaranya sangat dingin.

“Paula sudah bangun. Dia nggak menyalahkanmu karena mengutuknya, malah memohon agar kamu dimaafkan. Katanya kamu hanya kerasukan, bukan benar-benar sekejam itu.”

“Aku yang menyuruh orang menyiapkan darah anjing hitam ini, untuk mengusir roh jahat.”

Rocky terhenti sejenak, lalu melanjutkan lagi, “Tapi kalau mau ada hasilnya, kamu harus berendam di sini tiga hari tiga malam.”

Mata Luna pun dipenuhi rasa takut. Dia meronta dan mencengkeram tangan Rocky, menjelaskan, “Benar-benar bukan aku yang mengutuknya, percayalah padaku….”

“Luna.”

Rocky melepaskan jarinya satu per satu, gerakannya pelan, tapi kejam. Dia melanjutkan, “Melakukan kesalahan itu harus menerima hukuman. Anak umur tiga tahun bahkan tahu itu.”

Merasa kehangatan di jari-jarinya semakin menghilang, Luna membuka mulutnya dan perjuangan terakhirnya pun berubah menjadi sebuah permohonan yang begitu tak berdaya.

“Kumohon jangan tinggalkan aku di sini, aku takut gelap….”

“Lalu bagaimana dengan Paula?” Tatapan Rocky dingin, melanjutkan, “Saat mengutuknya, kamu pernah berpikir dia juga takut?”

Luna terdiam.

Dia teringat pada malam hujan badai dulu, saat listrik di rumah padam, dirinya hanya bisa meringkuk di sudut ruangan dengan tubuh gemetar.

Saat itu, Rocky menyalakan lilin-lilin hingga seluruh ruangan bercahaya, lalu memeluknya erat sambil mengusap lembut punggungnya dengan telapak tangan yang hangat, “Jangan takut, Luna. Ada aku di sini.”

Namun kini, pria yang sama justru hendak mendorongnya masuk ke dalam kegelapan yang tak berujung.

Tiba-tiba, rasa sakit seperti terkoyak meledak dari perutnya.

Luna reflek memegang perutnya, merasakan cairan hangat mengalir dari bawah tubuhnya.

Saat menyadari kemungkinan dirinya keguguran, tangannya yang gemetar mencengkeram ujung celana Rocky, nada suaranya bahkan sudah berubah.

“Rocky, perutku sakit sekali. Sepertinya aku keguguran… kumohon, tolong antar aku ke rumah sakit….”

Rocky tampak menegang sesaat, lalu mengernyit dan menjawab, “Kamu nggak hamil, bagaimana mungkin keguguran?”

Luna kesakitan hingga pandangannya menggelap, “Benaran… aku mengandung anakmu….”

“Cukup!” Rocky jelas tidak percaya dan hanya meninggalkan kalimat dingin, “Aku akan menjemputmu tiga hari lagi.”

Kemudian, dia pun berbalik badan dan pergi.

Luna hanya bisa mengeluarkan erangan lirih seperti anak binatang yang terluka, ujung jarinya mencengkeram lantai sekuat tenaga. Tapi, tetap tak mampu menahan sosok pria yang semakin menjauh.

Jari-jari yang kejang mencoba menggapai udara, akhirnya hanya bisa terjatuh lemas.

Luna terkapar lemas di genangan darah.

Sebelum kesadarannya hilang, senyuman miris muncul di bibirnya.

Rocky….

Kali ini, aku benar-benar kenal siapa dirimu sebenarnya.

Bab 5

Luna tersadar kembali dan mendapati dirinya sudah terbaring di ranjang rumah sakit.

“Akhirnya kamu sadar juga,” ujar dokter menghela napas.

Lalu menatapnya dengan tatapan iba dan melanjutkan, “Kamu keguguran dan mengalami pendarahan hebat. Kalau terlambat beberapa menit saja, bahkan dewa pun tak bisa menyelamatkanmu.”

Dari mulut dokter, Luna baru tahu kalau dirinya ditemukan pingsan oleh anak buah yang mengantarkan makanan keesokan harinya, makanya nyawanya bisa terselamatkan.

“Keluargamu juga keterlaluan. Bagaimana bisa mereka memperlakukanmu seperti ini? Terutama suamimu, teleponnya nggak pernah diangkat. Tunggu dia datang ke rumah sakit, aku bakal menegurnya habis-habisan.”

“Dok,” panggil Luna memotongnya, jari-jarinya meremas erat seprai dan melanjutkan, “Jangan kasih tahu dia soal kehamilanku.”

Lagipula, dia juga tak akan percaya.

Hati Rocky sudah tidak ada padanya. Dirinya pun tak ingin lagi punya urusan apapun dengannya.

Dokter hanya terdiam, lalu akhirnya menggelengkan kepala dan pergi.

Selama Luna dirawat di rumah sakit, Rocky tidak pernah muncul sama sekali.

Sebaliknya, di postingan instagram Paula, sosoknya malah terlihat di mana-mana.

Hari pertama, unggahan semangkuk sup ayam dengan caption, [Sepuluh tahun berlalu, tetap rasa kesukaanku.]

Hari kedua, foto seorang pria tertidur di tepi ranjang dengan caption, [Tadi malam aku mimpi buruk lagi, untung saja saat membuka mata langsung melihatmu.]

Tiba-tiba Luna teringat saat dirinya sakit dulu, Rocky juga selalu memasakkan sup ayam untuknya.

Saat dirinya demam, pria itu juga pernah setia duduk di samping ranjang, menggenggam tangannya erat tanpa melepas.

Hingga sekarang, barulah dirinya mengerti.

Semua kelembutan itu memang bukan untuk dirinya sejak awal.

Rocky hanya mencintai orang lain melalui dirinya.

Di hari dirinya keluar dari rumah sakit, akhirnya Rocky menelepon.

“Ada urusan mendadak di kantor, aku sudah menyuruh sopir menjemputmu.”

Luna tidak bertanya, tidak marah, tidak histeris. Dia hanya menjawab datar, “Iya.”

Begitu telepon ditutup, tangannya pun menyentuh pelan perut yang kini kembali rata.

Baginya sekarang, Rocky hanyalah sebuah nama di kontak telepon yang akan dihapus sebentar lagi.

Luna tidak lagi punya sedikit pun harapan terhadapnya.

….

Luna pulang ke rumah.

Begitu masuk, dia melihat Paula sedang memegang papan gambar, mencoret-coret dinding ruang tamu sesuka hati.

Foto pernikahannya dengan Rocky, termasuk polaroid mereka, semua dilempar ke lantai dan terciprat cat warna-warni.

Melihat Luna, Paula tersenyum manis dan menyapa, “Luna, kamu sudah pulang?”

“Aku merasa dinding itu terlalu membosankan, jadi aku berpikir untuk mendekorasinya ulang. Kamu nggak keberatan, ‘kan?”

Luna hanya menyapu pandangan ke seluruh ruangan yang berantakan, lalu menjawab datar, “Terserahmu.”

Bagi dirinya, rumah ini sudah tak ada artinya.

Dan ke depannya, nyonya rumah di sini pun bukan dirinya lagi.

Tiba-tiba, Rocky keluar dari dapur sambil membawa sepiring buah yang sudah dipotong.

Saat melihat Luna hendak naik ke atas, Rocky langsung menghadang jalannya.

“Paula berniat baik ingin mencairkan suasana denganmu, ini sikapmu?”

“Jadi harus bagaimana?” Wajah pucat Luna terlihat sangat lelah.

“Haruskah aku berlutut, lalu berterima kasih karena dia sudah menghancurkan foto-fotoku?”

Paula segera menyela untuk melerai, “Rocky, jangan salahkan dia. Luna juga bukan sengaja….”

“Bukan sengaja? Lalu bagaimana dengan kutukan kejamnya?” usai bicara, Rocky menatap Luna dengan tatapan yang asing.

“Luna, kamu benar-benar mengecewakanku.”

Luna tak punya tenaga untuk berdebat lagi. Dia melabrak bahu pria itu dan berjalan lurus naik ke atas.

Tubuhnya masih lemah setelah menjalani operasi keguguran.

Namun, baru saja berbaring sebentar, pintu kamar langsung terbuka.

Paula berdiri di ambang pintu, wajah lembutnya sudah lenyap, berganti dengan tatapan sinis yang tak disembunyikan.

“Melihat Rocky membelaku barusan, hatimu sakit, ‘kan?”

Bibir Paula melengkung mengejek, “Sudah kubilang sejak awal, dia hanya mempermainkanmu. Nggak kusangka kamu sebodoh ini sampai benar-benar percaya.”

Luna membalikkan badan, malas menanggapinya dan menarik selimut menutupi kepala.

Namun, Paula malah mendekat dan tak berhenti menyindirnya.

“Kamu tahu apa kata orang-orang di luar sana tentangmu?”

“Mereka bilang kamu tidur dengan suami kakakmu sendiri selama empat tahun, tapi pada akhirnya tak mendapatkan apapun. Malah kalah berharga dibanding wanita murahan di klub malam yang ada tarifnya.”

“Luna, sadarlah.”

“Keluarga Gozali nggak butuh kamu, begitu juga dengan Rocky. Kamu sama saja seperti ibumu, beban yang nggak diinginkan siapapun!”

Begitu mendengar ibunya disebut, Luna tak bisa menahan diri lagi. Dia langsung mendongak dan tatapan matanya setajam pisau.

“Kamu begitu panik, apa karena takut kalau sebenarnya dia sudah jatuh cinta padaku selama empat tahun ini?”

Paula sempat terdiam, lalu tertawa pelan.

“Jatuh cinta padamu? Kalau dia benar-benar jatuh cinta padamu, bagaimana mungkin aku masih bisa berdiri di sini dan menghinamu sesuka hati?” ujarnya dengan penuh sindiran.

Sesaat kemudian, terdengar suara pintu ditutup dengan keras.

Luna menggenggam seprai erat-erat dan merasa tubuhnya semakin dingin.

Syukurlah, dirinya akan pergi sebentar lagi.

Dia tak perlu lagi melihat wajah-wajah menjijikkan itu.

Bab 6

Sehari sebelum berangkat keluar negeri, Luna pergi ke sebuah kuil yang dikelilingi pepohonan raksasa.

Sejak keguguran, setiap malam dirinya selalu bermimpi seorang bayi mungil berlumuran darah yang menangis pilu ke arahnya.

Karena itu, dia pun menghubungi seorang biksu untuk melakukan doa pelepasan arwah.

Tak disangka, baru saja tiba di kuil, dia langsung melihat seorang pria bertubuh tinggi tengah berlutut di tengah aula.

Dia sangat kenal dengan sosok itu.

“Kalian tahu nggak? Demi kekasihnya yang mengidap penyakit kritis, Pak Rocky rela datang ke sini hanya untuk meminta jimat perlindungan. Dia bersujud sepanjang jalan dari kaki gunung sampai ke sini….”

“Jalan terakhir sangat curam, dia nyaris jatuh ke jurang dan nggak akan kembali!”

Bisik-bisik orang sekitar masuk ke telinga Luna.

Langkah Luna pun terhenti.

Di hadapannya, lengan pria itu berbalut perban, lukanya masih meneteskan darah.

Luna ingat jelas, Rocky itu seorang atheis.

Dia tidak pernah masuk kuil, apalagi memuja dewa.

Pernah saat acara tahunan perusahaan, dia mendapat jimat dari kuil terkenal di Kota Valey, tapi langsung dilemparkan ke asistennya.

Bahkan saat Luna ingin bersembahyang untuk ibunya, Rocky hanya dengan dingin mematikan rokok dan berkata, “Orang mati sudah mati, mau bakar berapa banyak kertas pun, itu hanya sekadar penghibur untuk yang masih hidup.”

Namun kini, pria itu berlutut di hadapan patung dewa, kening menempel erat pada lantai yang dingin, penuh ketulusan hingga terlihat begitu merendahkan diri.

Sudut bibir Luna terangkat, rasa getir memenuhi dadanya.

Jadi, ternyata Rocky bukan tidak percaya pada dewa.

Hanya saja, dulu belum ada yang pantas membuatnya melakukan itu.

….

Saat Luna keluar dari kuil di atas gunung, hari sudah hampir senja.

Angin lembah berembus cukup dingin.

Dia merapatkan bajunya.

Baru saja hendak menuruni tangga batu, tiba-tiba sebuah bayangan hitam melesat dari balik pohon dan menghadangnya di depan.

Gerakan itu begitu cepat, Luna bahkan belum sempat berteriak, mulut dan hidungnya sudah dibekap hingga pingsan.

Saat kembali membuka mata, dia bersandar pada sebuah pohon besar. Beberapa tenaga medis tampak panik berlari sambil membawa tandu menuju tepi jurang.

“Cepat, korban ada di bawah jurang!”

Luna berusaha bangkit dengan bertumpu dengan tangan.

Belum jelas apa yang sebenarnya terjadi, sebuah sosok tinggi datang menghampirinya bersama hembusan angin dingin.

“Luna, aku kira kamu hanya mengutuk Paula untuk melampiaskan emosi. Tak kusangka, kamu benar-benar mendorongnya ke jurang!” Tangan Rocky yang kekar langsung mencekik lehernya, membanting tubuhnya ke batang pohon di belakang.

“Untung saja dia masih beruntung, terhenti di atas batu. Kalau nggak, aku pasti akan menguburmu bersamanya!”

Napas Luna tercekat.

Begitu menatap mata Rocky yang penuh amarah, dia langsung sadar.

Dengan suara serak, dia berusaha berkata, “Aku… nggak….”

“Masih mau beralasan? Kamu dan Paula muncul di tempat yang sama dan sekarang dia ada di bawah jurang. Luna, menurutmu mana mungkin ada kebetulan seperti itu?” ujar Rocky dengan nada suara yang dingin menusuk.

Luna berusaha menyingkirkan tangan yang mencekiknya, napasnya semakin sesak.

Tepat saat pandangannya mulai mengabur, asistennya datang tergesa-gesa dan melaporkan, “Pak Rocky, sudah berhasil diselamatkan!”

Mendengar itu, Rocky buru-buru melepaskan Luna dan berlari ke arah Paula.

Luna terhuyung, membungkuk sambil berbatuk keras.

Di balik air mata yang mengaburkan pandangan, dia melihat Paula yang sedang berbaring di tandu, menggenggam erat lengan Rocky dengan wajah ketakutan, “Rocky, aku takut….”

Rocky menggenggam tangannya lebih erat dan menenangkan, “Selama ada aku, nggak ada orang yang bisa menyakitiku.”

Dengan penuh kehati-hatian, Rocky mengantar Paula naik ke ambulans, kemudian membisikkan sesuatu pada asistennya.

Detik berikutnya, asisten itu berbalik mendekati Luna, mencengkeram pergelangan tangannya, lalu berkata, “Maaf, Nona Luna.”

Usai bicara, dia langsung menyeret Luna ke tepi jurang, lalu mendorongnya ke bawah!

Karena kehilangan keseimbangan, Luna terhempas keras ke sebuah batu, rasa nyeri menusuk hingga ke tulang-tulangnya.

Asisten yang berdiri di ketinggian, berkata dengan dingin,

“Pak Rocky bilang kamu sudah keterlaluan kali ini. Ini adalah hukuman untukmu, biar kamu juga merasakan penderitaan yang dialami Nona Paula.”

Suara langkah semakin lama semakin menjauh, meninggalkan Luna sendirian di tempat.

Seluruh tubuhnya sakit luar biasa, dia berulang kali mencoba bangkit dengan menahan rasa sakit, tapi tetap gagal.

Akhirnya, Luna meringkuk di antara bebatuan yang dingin, rasa putus asa menyapu dirinya seperti gelombang besar.

Dia ingin bertanya pada Rocky, Paula bahkan sudah sekarat, apa alasan dirinya harus melukainya?

Namun, yang lebih dingin dari angin gunung ini adalah jawaban yang sejak lama sudah dirinya ketahui….

Bagi Rocky, dirinya tidak akan pernah bisa dibandingkan dengan Paula.

Dan Rocky tidak akan pernah memercayai dirinya.

….

Di atas gunung tidak ada sinyal, Luna tahu dirinya tak bisa hanya pasrah menunggu mati.

Dengan sisa tenaga, dia mulai bangkit.

Kuku-kukunya mencengkeram celah batu, telapak tangannya terkelupas hingga berdarah.

Dia jatuh berkali-kali dan memanjat lagi berkali-kali.

Begitu terus tanpa henti, sampai tubuhnya penuh luka berdarah. Akhirnya, Luna berhasil naik ke atas.

Sayangnya, kereta gantung sudah berhenti beroperasi. Dia pun terpaksa berjalan menuruni gunung dengan tubuh yang terhuyung.

Saat akhirnya sampai di rumah, fajar sudah menyingsing.

Dia memaksakan diri untuk membersihkan luka, lalu meringkuk di atas ranjang dan tertidur lelap.

Dalam keadaan setengah sadar, pintu kamarnya tiba-tiba terhempas keras.

Detik berikutnya, tubuhnya langsung ditarik paksa dan dilempar ke lantai yang dingin.

Luka Yang Sisa Kenangan

Bab 4
Bab
Sesuaikan
Bab Berikutnya