Bab 3
Tak lama setelah aku berbaring di ranjang, tiba-tiba sepasang tangan besar memelukku dari belakang. Aku kaget dan langsung berusaha melepaskan diri, tapi orang di belakangku justru memeluk semakin erat. Orang itu Willy.
Tubuhnya dipenuhi bau alkohol dan aroma parfum yang menyengat. Bau ini pernah kucium di tubuh Anna, baunya menjijikkan. Dia menggunakan bahasa isyarat dan berkata padaku,
[Joice, hari ini pesta ulang tahunmu, kok kamu pergi sebelum potong kue? Kamu lagi nggak senang? Besok aku ajak kamu pergi lihat rumah baru kita, ya? Aku sudah beli dan renovasi. Setelah menikah, kita bisa tinggal di sana.]
Usai mengatakannya, dia mencoba mendekat untuk menciumku, tapi aku menoleh ke arah lain.
[Kamu yang atur saja, aku nggak mau pergi.]
Willy tampak kaget dengan sikapku, dia kembali bertanya dengan isyarat tangannya,
[Joice, kamu nggak mau menikah denganku?]
Melihat ekspresi prihatinnya, sosok yang jauh dari kesan direktur dingin seperti biasanya. Kalau saja aku belum mendengar dengan telinga sendiri bahwa dia yang membuatku tetap cacat seperti ini, aku pasti sudah luluh. Tapi sekarang, aku benar-benar ingin menjawabnya,
‘Iya, aku nggak mau menikah denganmu lagi. Kamu yang berselingkuh duluan, menikmati kebahagiaan dengan selingkuhanmu, membuatku kehilangan seluruh harapan pada pernikahan ini. Sekarang, kamu masih berani mempertanyakannya padaku?’
Namun, aku tidak ingin langsung menantangnya sekarang. Dengan kekuasaan yang dimilikinya di Kota A, kalau aku terang-terangan sekarang, mungkin aku tak akan bisa keluar dari sini.
Di bawah tatapannya yang penuh perhatian, aku hanya menarik napas dan menjawab dengan isyarat,
[Kakiku agak sakit, besok saja.]
Rumah barunya terletak di kawasan paling elit di dekat pusat Kota A. Desain interiornya dikerjakan oleh arsitek asal luar negeri.
Setiap sudut dibuat melengkung tanpa sudut tajam, supaya aku tidak terbentur. Semua meja dan kursi dibuat lebih rendah dari standar, agar mudah kugunakan dari kursi roda.
Willy sudah memikirkan semua kebutuhanku sebagai pengguna kursi roda, kecuali satu hal, yaitu keinginanku untuk bisa berdiri kembali.
Saat desainer menjelaskan konsep rumahnya, Willy berdiri di sampingku, menerjemahkan penjelasan itu lewat bahasa isyarat.
Di tengah tatapan iri dari orang-orang sekitar, Willy menepuk bahuku sambil tersenyum.
[Sayang, kamu suka?]
Aku memandangi ruangan itu. Harus kuakui, rumah ini benar-benar sesuai dengan impianku dulu.
Saat masih pacaran, aku pernah bilang kalau aku ingin rumah dengan jendela kaca yang besar, supaya aku bisa melihat bunga tulip di taman saat berdiri di sana.
Willy mengingat semua itu dan mewujudkannya.
Namun, Willy lupa. Tanpa cinta darinya, rumah sebagus apapun, hanyalah bangunan kosong, bukanlah rumah.
[Joice, aku sengaja kosongkan tembok ini untuk memasang foto kita. Setiap natal, kita bakal foto bersama di sini dan menggantung foto itu di dinding ini sampai kita tua nanti.]
Tanpa sadar, aku menatap mata Willy dan melihat tatapan penuh cintanya. Hatiku sempat bergetar, aku hampir menanyakan langsung kenapa dia berselingkuh. Tapi pada akhirnya, aku menahan diri dan berkata lewat isyarat,
[Kamu benar-benar bisa mencintaiku selamanya?]
Willy langsung menjawab cepat, seolah aku takut salah paham,
[Kamu itu wanita yang sudah kupilih, aku akan mencintaimu seumur hidupku.]
Aku membuang muka. Tak sanggup lagi melihat wajah penuh kepalsuan itu. Dia sudah melanggar janji kami, tapi masih bisa berbohong dengan wajah setulus itu.
Tak lama kemudian, sebuah telepon masuk dan memotong kata-kata manisnya. Dia tersenyum manis di depanmu, tapi tatapannya berbinar penuh hasrat dan berkata,
“Sabar ya, sebentar lagi aku datang dan memuaskan kelinci manisku.”
Setelah menutup telepon, dia pura-pura santai dan berkata bahwa ada urusan kantor yang harus dia tangani. Dia bilang, kalau merasa ada yang kurang dari rumah ini, aku bisa bilang ke desainer langsung.
Dia pikir aku masih tuli, jadi dia bisa semudah itu berselingkuh, bahkan di depan mataku sendiri.
Aku hanya tersenyum miris. Saat desainer bertanya apalah aku ingin mengubah sesuatu dari desainnya, aku menggeleng pelan dan meminta sopir mengantarku pulang.
Aku tahu, aku tidak akan sempat melihat bunga tulip bermekaran di halaman itu.
Di hari pernikahan nanti, yang akan hadir hanyalah jasadku, bukanlah aku. Aku tak akan pernah tinggal di rumah ini, jadi seperti apapun rumah ini didesain, sudah tak ada hubungannya denganku.
Bab 4
Sesampainya di rumah, tak ada siapapun. Aku pun berdiri dan menggerakkan kaki-kakiku yang sudah lama tidak digunakan. Rasanya masih kaku.
Tiba-tiba, ponselku berdering. Sebuah foto masuk.
Dalam foto itu, seorang perempuan mengenakan kostum kelinci sexy sedang menumpu tangannya di jendela besar. Bagian belakang bajunya terbuka, memperlihatkan lekuk pinggangnya yang indah.
Rambutnya terurai, matanya terlihat sayu. Di belakangnya, Willy berdiri telanjang, ototnya menegang, tangannya memegang pinggang perempuan itu, posisinya begitu intim.
Tak lama kemudian, sebuah rekaman suara menyusul. Dalam audio itu terdengar suara desahan perempuan dan erangan berat laki-laki, serta suara hentakan yang berirama.
Dengan napas terengah-engah, Anna berkata,
“Pak Willy, rumahnya baru saja direnovasi, jendelanya bisa kotor dibuat kita.”
Willy terkekeh pelan, suaranya terdengar rendah dan serak,
“Bukannya kamu yang suruh desainer pasang jendela besar ini? Biar aku bisa memuaskanmu di depan jendela.”
Rekaman berhenti di sana. Tak lama kemudian, sebuah pesan masuk.
“Maaf, aku salah kirim. Tapi, nggak masalah juga, Bu Joice juga nggak bisa dengar. Kalau kamu penasaran, aku bisa kirimkan versi subtitle untukmu.”
Aku pikir perasaanku pada Willy sudah mati. Tapi, melihat semua ini secara langsung tetap membuat air mataku mengalir deras, dadaku terasa nyeri seperti diremas.
Jadi, inikah rumah yang katanya akan kutinggali bersama dia seumur hidup? Aku bahkan belum sempat tinggal di sana, dia sudah membawa selingkuhannya masuk dan meninggalkan aroma mereka seolah menandai kepemilikan.
Aku kira semua detail desain rumah itu dibuat khusus demi kenyamananku. Ternyata, semua itu hanya untuk tempat mereka bersenang-senang.
Dengan mengatur napas, aku berusaha menahan rasa sakit di dada. Tanganku terangkat, menyeka air mata.
Telapak tanganku terasa dingin saat menyentuh wajah. Mataku tertuju pada cincin tunangan di jari manisku, cincin berlian dua karat.
Sejak Willy menyematkannya di jariku, aku tidak pernah melepaskannya. Dulu, aku bangga bisa menikah dengannya, sekarang semua itu terasa begitu menyakitkan.
Kulepaskan cincin itu dan melemparnya ke tempat sampah.
Dari sudut mata, aku melihat foto pernikahan kami tergantung di dinding. Kami berdua tersenyum penuh cinta. Semuanya palsu….
Aku mengambil gunting, memotong bagianku dalam foto itu, lalu merobeknya dan membuangnya ke toilet.
Malamnya, Willy tidak pulang. Dia hanya mengirim pesan mengajakku menghadiri acara bisnis keesokan malamnya.
Seperti biasa, dia mendorong kursi rodaku memasuki ruangan pesta, menuai pujian dari orang-orang yang mengaguminya karena kesetiaan pada tunangannya yang cacat.
Kini aku sadar, alasan dia membawaku ke acara-acara itu bukan karena tak ingin aku sendirian di rumah, tapi karena aku adalah alat pendukung citra pria sejati yang dia bangun.
Tak heran, setelah menempatkanku di meja makan, dia pun menghilang. Dari kejauhan, kulihat dia ditarik masuk ke kamar mandi oleh Anna.
Tak lama kemudian, sebuah audio kembali masuk ke ponselku. Kali ini terdengar suara desahan mereka di kamar mandi, disertai subtitle dari Anna.
“Pak Willy, tunanganmu di luar. Bisa repot kalau ketahuan.”
“Tunanganku memang di luar, tapi kesayanganku sedang ada di bawahku sekarang.”
Disusul dengan desahan yang lebih intens.
Beberapa saat kemudian, Willy dan Anna keluar dari kamar mandi dengan pakaian yang sedikit berantakan. Willy langsung bergabung dengan rekan bisnisnya, sementara Anna membawa segelas anggur ke arahku, dengan sengaja memperlihatkan bekas ciuman di lehernya.
Dia berdiri di depanku, lalu mengetik pesan di ponselnya dan menunjukkan padaku.
[Kali ini sudah ada subtitlenya, menarik ,‘kan? Bu Joice, Pak Willy itu mencintaiku. Kalau kamu masih punya harga diri, sebaiknya kamu mundur saja.]
Aku memalingkan wajah dan tak menghiraukannya. Diam-diam, aku menyimpan foto dan audio itu, lalu menginstruksikan seseorang untuk memasang kamera pengawas di rumah.
Anna, kalau kamu begitu suka berbagi rekamanmu, aku akan membantumu menyebarkannya.
Sejujurnya, acara pesta ini sangat membosankan. Melihat Willy masih terlihat ingin lanjut, aku pun bilang aku lelah dan ingin pulang.
Willy tampak mengernyit, tapi Anna segera menawarkan diri,
“Biar aku saja yang mengantar Joice pulang, sekalian aku mau mencari udara segar.”
Anna pun mendorong kursi rodaku keluar. Baru sampai di tengah jalan, sebuah mobil melaju ke arah kami.
Anna mundur selangkah. Mobil itu menghantam kursi rodaku, membuatku terjatuh. Kulit lenganku terseret di aspal dan terluka parah.
Mobil itu langsung kabur. Anna melangkah mendekat, menepuk-nepuk wajahku dan berbisik,
“Dasar nggak berguna.”
Tangannya menekan luka di bahuku, lalu mengoleskan darahnya ke wajah dan kakinya sendiri. Dia pun berbaring di dekatku.
Kepalaku terasa pening. Tak lama, Willy pun berlari menghampiri.
Dia panik melihat darah di tubuh Anna, segera menggendong dan membawanya ke mobil. Tak sekalipun dia menoleh ke arahku yang tergeletak pucat di lantai.
Aku melihat sosok Willy yang semakin jauh, Anna yang digendongnya sempat menoleh dan tersenyum mengejek.
Dia tak perlu berkata apa-apa, tapi aku sudah tahu maksudnya.
Willy sudah memilih dia, jadi dia menang.
Akhirnya, aku diantar sopir ke rumah sakit. Bahu dan pipiku luka parah karena terseret aspal. Butuh waktu lama untuk sembuh.
Saat membuka Tiktok, aku melihat postingan berupa foto Anna. Jari telunjuknya dibalut plester kecil. Captionnya berisi,
[Syukurlah kamu nggak apa-apa, aku janji nggak akan biarkan kamu terluka lagi.]
Aku sudah tak bisa menangis. Saat Willy mengkhawatirkan luka kecil di jari Anna, dia lupa bahwa wajah calon istri yang akan dia nikahi beberapa hari lagi hampir cacat.
Pesan dari Willy pun langsung masuk,
[Anna terluka. Dia karyawanku, jadi aku akan menemaninya di rumah sakit beberapa hari. Kamu istirahat di rumah saja. Kita bertemu di hari pernikahan nanti. Aku sayang kamu.]
Aku mengelus dada, rasanya sudah tidak terlalu sakit, hanya mati rasa. Aku pun membalas pesannya dengan datar,
[Iya, aku siapkan kejutan untukmu di pernikahan kita nanti.]
Willy tampak menantikan kejutan itu, tapi aku tak membalasnya lagi.
Mobil dari lembaga pemalsuan kematian sudah menunggu di depan rumah.
Aku menyerahkan satu USB berisi semua foto dan rekaman Willy dan Anna kepada mereka, dengan pesan untuk memutarnya di hari pernikahan.
Lalu, aku menyerahkan ponselku pada mereka, meminta mereka mengirimnya ke lokasi pernikahan bersama jasadku. Di dalamnya ada rekaman pesan terakhir yang kurekam sendiri.
Aku ingin Willy tahu, sebelum mati, aku mendengar jelas erangan dan bisikan mereka di luar.
Aku ingin dia menyesal seumur hidup.
Staf itu mengangguk, lalu menyerahkan KTP baru dan tiket pesawat padaku.
“Baik, Nona Ella. Kami akan menghapus semua jejak keberangkatanmu. Semoga hidup barumu akan bersinar.”
Aku mengenakan kacamata hitam, mobil pun melaju menuju bandara.
Vila milik Willy tampak semakin mengecil di kaca belakang. Di saat itulah, aku benar-benar merasa telah mengucapkan selamat tinggal pada masa lalu.
Joice yang cacat itu sudah mati.
Kini, namaku Ella Kohl dan aku sedang memulai perjalanan hidupku yang baru.