Bab 5
Dalam perjalanan pulang, setiap orang yang ditemui Lina menatapnya dengan pandangan aneh, sambil berbisik-bisik menunjuknya.
"Bagaimana bisa ada orang sekejam itu! Pak Sam sudah menolongnya, bukannya berterima kasih, malah berbalik melukai tunangan Pak Sam. Huh, dasar kurang ajar!"
"Menurutku dia pasti punya niat yang nggak-nggak! Mau jadi istri kepala pabrik! Kalau nggak, kenapa harus melukai Lili?"
"Nggak sadar diri, memangnya dirinya itu siapa? Pantas atau nggak! Pak Sam sudah menolong seekor ular berbisa, kalau dibiarkan tinggal di rumah, entah apa lagi yang akan dia lakukan nanti."
"Ayo kita laporkan pada Pak Sam, pabrik kendaraan ini nggak bisa menampung orang sekejam itu! Cepat usir dia pergi."
Lina tidak berkata apa-apa. Mereka pun terus mengikutinya sampai ke rumah.
Dia menggendong Alicia di dalam rumah.
Sementara orang-orang di luar terus mencibir dan menyindir dengan kata-kata pedas.
Menjelang siang barulah mereka pergi.
Tidak lama kemudian, Sam juga pulang.
Lili dan Alan berjalan mengikutinya dari belakang.
Sam melangkah cepat ke arah Lina. "Alan bilang kamu tadi sore menakut-nakuti Lili? Sepertinya membuat orang-orang di pabrik tahu kamu melukai Lili masih terlalu ringan sebagai hukuman."
Sam berkata dengan dingin, "Pergi masak. Lili mau makan kue ubi talas. Kalau nggak bisa membuatnya, keluar dari rumahku."
Di luar hari sudah gelap. Sam tahu betul bahwa Lina yang menggendong Alicia tidak punya tempat untuk pergi.
Sam juga tahu, saat umur 12 tahun Lina pernah hampir mati karena alergi parah saat mengupas ubi talas.
Seluruh tubuh Lina terasa dingin, tatapannya kosong tidak berjiwa.
Tanpa sepatah kata, dia berdiri dan menggendong Alicia masuk ke dapur.
Saat kue ubi talas dimasukkan ke dalam kukusan, kedua tangan Lina memerah dan bengkak, sementara seluruh tubuhnya gatal hingga membuatnya gemetar tidak terkendali.
Alicia ketakutan dan menangis keras.
Alan melihatnya, lalu tertawa sambil membuat wajah mengejek. "Cengeng! Pembawa sial!"
Lili berdiri di pintu dan berkata dengan manja, "Sam, aku nggak jadi mau makan kue ubi talas. Aku mau makan iga tumis kentang."
Sam langsung mengiyakan, lalu berseru ke arah dapur, "Lina, kamu dengar nggak? Lili mau makan iga tumis kentang."
Baru sekitar pukul sepuluh malam, Lili akhirnya puas, lalu duduk untuk makan.
Lina yang sudah bekerja keras berjam-jam tidak diizinkan ikut makan. Dia hanya duduk di dekat kompor, menyuapi Alicia dengan kue ubi talas yang tidak disentuh Lili.
Alicia menangis sampai cegukan. "Ibu, aku nggak mau makan. Ibu masih sakit, ya? Kita pergi ke Om Dean untuk minta obat, ya?"
Wajah Lina sudah sangat bengkak. Dengan susah payah, dia tersenyum dan menenangkan putrinya. "Ibu nggak apa-apa. Ayo makan, habiskan supaya kamu nggak lapar lagi."
Lina berusaha menenangkan putrinya agar mau makan. Namun, dirinya sendiri sudah beberapa hari tidak bisa makan dengan benar, perutnya pun mulai terasa perih.
Setelah Sam dan yang lain selesai makan di ruang tamu, mereka memerintahkan Lina untuk membersihkan rumah.
Lina menuruti perintah dengan tenang, dia menggulung lengan baju dan mulai mencuci piring.
Lili membawa Alan bermain di halaman, sesekali terdengar tawa lepas Alan.
Sam berdiri di pintu dapur dan berkata kepada Lina dengan suara berat, "Apa kamu sudah menyadari kesalahanmu?"
Lina tidak mengangkat kepala dan hanya menjawab, "Ya."
Sam mengangguk puas. "Nanti segera minta maaf ke Lili, pastikan nggak mengulanginya lagi."
Lina terdiam beberapa detik, lalu berkata dengan pelan, "Kalau aku nggak setuju?"
Sam menjawab dingin, "Kalau begitu, bawa Alicia pergi. Kembalilah saat kamu siap mengakui kesalahanmu."
Terdengar suara tetesan, air mata Lina jatuh ke air cucian piring dan langsung lenyap tanpa jejak.
Dia menarik napas dalam-dalam, lalu berkata dengan tenang, "Aku minta maaf."
Akhirnya Sam merasa puas. "Cepat selesaikan cuci piringnya, lalu ke sini."
Setelah merapikan dapur dan mendudukkan Alicia di depan kompor, Lina langsung menuju ke halaman.
Waktu itu masih sekitar jam makan, saat halaman ramai-ramainya.
Banyak orang berkumpul.
Melihat Lina keluar, semua orang menatap dengan ekspresi penasaran.
Lina tahu ini memang trik Sam, dia melangkah ke depan Lili, lalu membungkuk dalam-dalam. "Maafkan aku, aku seharusnya nggak membuatmu terluka. Aku janji nggak akan mengulanginya lagi, tolong maafkan aku."
Halaman menjadi sunyi senyap.
Sam berkata lembut kepada Lili, "Lili, dia sudah mengakui kesalahan dan mendapat hukuman. Maafkan dia, ya?"
Lili tersenyum manja. "Hanya masalah kecil, aku memang nggak pernah menyalahkan Lina."
"Pak Sam dan keluarganya memang baik hati."
"Inilah yang disebut keluarga sebenarnya."
Semua orang memuji Sam dan keluarganya. Mereka membalas dengan senyuman dan halaman pun kembali riuh.
Seperti arwah yang kesepian, Lina diam-diam kembali ke dalam rumah.
Keesokan harinya, Lina mengeluarkan semua barang yang pernah dia anggap berharga, cangkir teh, handuk, serta sarung tangan kerja. Kemudian, dia memberikannya ke warga lansia termiskin di luar kompleks perumahan.
Semua barang lama yang dibawanya dari desa pun dibuang ke tempat sampah.
Seperti halnya dia harus melepaskan perasaan yang telah bertahan hampir sepuluh tahun.
Bab 6
Hari-hari berikutnya, Lina tidak lagi memperdulikan apa pun.
Dia hanya menunggu dengan penuh harap hari keberangkatan ke ibu kota.
Apa pun yang dikatakan Sam dan Lili, dia terima saja.
Hari pernikahan mereka makin dekat. Warga kompleks perumahan mulai menyiapkan suvenir, kue, dan perlengkapan pernikahan.
Orang-orang yang terampil membuat dekorasi di halaman. Setiap kali satu dekorasi selesai dibuat, yang lain segera memasangnya.
Seluruh pabrik kendaraan dipenuhi suasana meriah.
Tiga hari sebelum pernikahan, Sam membawa Lili ke studio foto untuk memotret foto pernikahan pada siang hari.
Saat kembali di malam hari, Sam memberikan Lina sebuah syal kotak-kotak.
Dia berkata dengan nada agak canggung, "Cuaca lagi dingin, aku lihat telingamu kedinginan. Aku melihat syal ini cocok untukmu, jadi kubelikan. Terimalah."
Lina tidak ingin menimbulkan keributan dan diam-diam menerimanya.
Sam merasakan sesuatu yang aneh di hatinya. Dia menahan Lina dengan memanggilnya, "Apa kamu nggak ingin mengatakan apa-apa?"
Lina menggeleng.
Sam kembali merasa marah. "Kamu!"
Namun, dia berkata dengan nada menahan emosi, "Lina, aku tahu aku bersalah padamu, kamu pasti kecewa, tapi aku nggak punya pilihan. Menikahi Lili dan tetap menanggungmu, ini sudah yang terbaik yang bisa kulakukan. Kuharap kamu bisa mengerti."
Kesedihan melintas di mata Lina. Dia tidak menoleh dan hanya berkata dengan tenang, "Aku tahu, aku nggak menyalahkanmu."
Namun, dia memutuskan untuk tidak menginginkan pria itu lagi.
Sam tampaknya masih merasa tidak puas.
Setelah terdiam sesaat, dia berbalik dan melangkah pergi.
Keesokan harinya, setelah menikmati sarapan buatan Lina, seperti biasa, Sam pergi bekerja, sementara Alan segera keluar untuk menemui Lili.
Lina dan putrinya tetap tinggal di rumah. Dia kembali mengecek barang-barang yang akan dibawa.
Alicia ikut menghitung bersama, seperti ekor kecil yang selalu menempel.
Barang-barang mereka berdua tidak banyak, hanya beberapa pakaian lama.
Lina menyembunyikan tiket kereta, lalu membawa Alicia keluar untuk membeli bahan makan siang.
Saat kembali ke rumah, matanya langsung menangkap pintu kamar kecilnya terbuka.
Perasaan tidak enak muncul di hati Lina, dia hendak bergegas masuk untuk memeriksa.
Namun, terdengar suara Lili dari samping.
"Alan, Tante ajari kamu. Batu giok ini kualitasnya buruk dan nggak berharga. Nanti jangan sampai ditipu orang, jangan bodoh menganggap barang sampah sebagai harta."
Lina segera menoleh.
Dia melihat Lili memegang liontin giok yang sudah sangat dikenalnya dan mengayunkannya di depan Alan.
Ekspresi Lina langsung berubah, dia tidak bisa menahan amarahnya lagi. "Kembalikan padaku!"
Lina berusaha merebutnya.
Lili menghindar sambil tersenyum. "Aku sudah bilang, barang ini nggak berharga, bahkan kalau dikasih pun aku nggak mau. Alan hanya ingin menunjukkannya padaku sebentar, nanti juga dikembalikan. Kenapa buru-buru begitu?"
Lina mengepalkan tangan kuat-kuat. "Alan Houston! Kenapa diam-diam mengambil barangku?"
Alan tekejut sejenak, lalu membantah dengan keras, "Siapa yang mencuri? Ini rumahku, aku boleh mengambil apa saja yang kuinginkan!"
Alan menatap Lina dengan marah. "Aku melihat sendiri, ayah diam-diam memberikan syal padamu di belakang Tante Lili dan kamu menerimanya! Dasar nggak tahu malu!
Lina menatapnya dengan pandangan yang membuat Alan gemetar hingga bersembunyi di belakang Lili.
Lili mencemooh, "Gimana? Berani berbuat, tapi nggak berani bertanggung jawab?"
Dia mengayunkan liontin giok itu sambil mengejek, "Aku akan menikah dengan Sam besok. Kamu diam-diam menerima barangnya, wajar kalau aku marah ke kamu. Sudah untung wajahmu nggak kupukul sampai hancur. Cepatlah berterima kasih padaku!"
Lina menarik napas dalam-dalam. "Lili, aku nggak ingin berdebat denganmu. Aku akan kembalikan syal itu, kembalikan liontin giokku."
Lili tersenyum mengejek. "Berdebat denganku? Kamu punya hak apa? Menukar syal dengan liontin giok? Oke, ambillah."
Lina berbalik dan dengan cepat mengambil syal yang diberikan semalam.
Lili tersenyum sinis. "Ambil gunting, potong menjadi potongan kecil."
Lina mengambil gunting dan tanpa ragu memotong syal itu hingga hancur.
"Cukup?"
Lili mengangguk. "Oke, ini untukmu."
Belum selesai berbicara, dia melempar liontin giok itu keluar jendela.
Wajah Lina pucat pasi. Dia segera berlari keluar dan menemukan liontin giok putihnya sudah hancur berkeping-keping, hanya tali merah yang memudar yang tetap utuh.
Lina berlutut dan tangannya gemetar memandangi pecahan-pecahan itu. Air matanya jatuh satu demi satu.
Seseorang bertanya, "Apa yang pecah?"
Lina meraih pecahan-pecahan itu ke telapak tangannya, tiba-tiba dia menengadah, lalu mengambil sebuah batu bata dan menerjang Lili.
Lili menjerit, "Ada pembunuhan! Tolong!"
Namun, Lina sudah mencapai batas kesabarannya. Satu-satunya warisan kakeknya telah hancur.
Saat itu, dia hanya ingin bertarung habis-habisan. Matanya memerah, seperti orang gila.
Semua orang ketakutan.
Lina menerjang ke arah Lili, batu bata di tangannya siap menghantam Lili.
Orang-orang di sekeliling menjerit ketakutan.
Tepat satu detik sebelum batu bata menghantam Lili, tangan Lina ditahan.
Sam berkata dengan suara berat, "Lina, apa yang kamu lakukan?"
Lina mencoba melepaskan beberapa kali, tetapi cengkeraman Sam makin kuat dan hampir hampir mematahkan pergelangan tangannya.
Dia sadar kekuatannya kalah jauh dari Sam. Akhirnya, Lina terpaksa melepaskan batu bata itu.
Lina mengulurkan tangan lainnya, serpihan giok putih di telapak tangannya melukainya hingga berdarah.
Lina berkata dengan suara gemetar, "Dia menghancurkan satu-satunya warisan kakekku."
Sam terkejut dan reflek membela, "Lili pasti nggak sengaja..."
Lina menutup mata sejenak, saat membukanya, tatapannya pada Sam seperti menatap orang asing.
Dia tidak berkata sepatah kata pun, lalu berbalik pergi.
Di belakang, Sam memanggil dengan gelisah, "Lina..."
Lina pura-pura tidak mendengar dan berjalan tanpa menoleh.
Lili sudah meringkuk ke pelukan Sam. "Sam, aku kaget sekali, untung kamu datang! Aku memang nggak sengaja. Besok kita kasih dia suvenir yang banyak, dan gaji bulan ini kita tambah sepuluh ribu sebagai permintaan maaf..."
Lina mendengar Sam menjawab, "Besok kita menikah. Lili, kamu harus tidur lebih awal malam ini."
Lina menutup pintu.
Alicia memeluknya. "Ibu, jangan menangis. Di sini penuh orang jahat. Besok kita pergi dan jangan kembali lagi!"
Lina memeluk putrinya erat, sambil terisak mengangguk.
Malam itu, Sam mengetuk pintu lagi.
Lina tidak menanggapi.
Dia berdiri di pintu dan berkata dengan suara pelan, "Lina, satu-satunya warisan kakekmu hilang. Aku mengerti perasaanmu, aku juga sedih. Nanti aku akan menggantinya dengan yang lebih baik, oke? Jangan marah pada Lili, dia nggak sengaja."
"Syalmu rusak, nanti kubelikan yang baru, tanpa sepengetahuan Alan."
Itulah kompensasinya.
Lina tersenyum sinis.
Lina tidak tidur semalaman, sambil menunggu waktu tiba. Saat waktunya tiba, Lina membawa bungkusan barang dengan satu tangan dan menggendong Alicia dengan tangan lainnya. Lina meninggalkan Rumah Keluarga Houston tanpa menoleh ke belakang.
Dia berjalan cepat menuju stasiun kereta.