Bab 3
Lina berkata bahwa dia akan membawa Alicia pergi bersamanya.
Anak itu sama sekali tidak merasa sedih, dia hanya menghitung dengan jarinya berharap hari keberangkatan itu segera tiba.
Lina menenangkannya. "Alicia, kalau kamu sudah melihat matahari terbenam dua belas kali lagi, kita bisa pergi."
"Kalau begitu aku mau lihat matahari!"
Alicia berlari dua langkah ke depan, lalu tiba-tiba berhenti.
Lina mengangkat kepalanya, dia melihat Sam dan Lili berjalan mendekat, masing-masing menggenggam tangan Alan dari sisi kiri dan kanan.
Wajah Alan memerah karena terlalu gembira.
Orang-orang di kompleks perumahan tersenyum sambil berkomentar, "Wah, lihat betapa harmonisnya keluarga kecil ini!"
"Banyak orang khawatir kalau jadi ibu tiri itu sulit, tapi Lili bisa begitu akrab dengan Alan, jadi nggak perlu khawatir."
Sam menatap Lina, lalu berkata dengan nada memerintah, "Lili ingin makan kue kurma, jangan keluyuran di luar. Cepat pulang dan kukus satu loyang."
Lina tertegun dan memandangnya dalam diam.
Semasa hidup, kakeknya paling menyukai kue kurma, sehingga Lina paling mahir membuatnya.
Saat kakeknya meninggal, Lina menangis sampai rasanya hampir mau mati.
Ketika itu, Sam sangat iba padanya dan sejak saat itu Sam tidak pernah membiarkan Lina membuat kue kurma lagi.
Ibu mertuanya juga suka memakannya, tetapi Sam dengan tegas memaksanya mengubah kesukaannya.
Sam pernah berkata, seumur hidupnya dia tidak akan membiarkan Lina bersedih.
Namun, sekarang, dia justru memintanya membuat kue kurma untuk wanita lain.
Sam berkata dengan nada tidak sabar, "Lina! Kenapa melamun? Cepat kembali masak. Apa hal sepele seperti ini saja nggak bisa kamu lakukan?"
Lina mengiyakan pelan, lalu menggandeng tangan Alicia menuju rumah.
Lina segera mengeluarkan kue kurma yang harum dari kukusan dengan cekatan.
Alicia menatapnya dengan penuh harap, tetapi dengan pengertian dia tidak meminta.
Lina merasa iba lalu berkata, "Ibu mengukus agak banyak, nanti Alicia juga bisa makan."
Ketika Lina hendak membawa piring itu keluar, begitu berbalik dia melihat Lili berdiri di ambang pintu dapur.
Di wajahnya tersungging senyum mengejek. "Kamu nggak benar-benar mengira aku mau makan masakanmu, 'kan?"
Dia meludah dengan jijik. "Bau amis tanah."
Saat Lina lengah, dia segera merebut piring itu lalu melemparkannya ke lantai. Dengan sengaja, Lili menjatuhkan diri ke belakang hingga membentur pintu dengan keras.
Lili menjerit sambil menutup tangannya dengan kesakitan, "Ah!"
Detik berikutnya, Sam dan Alan bergegas masuk.
Lili menahan napas sambil berkata dengan susah payah, "Lina nggak sengaja..."
Sam menatap Lina dingin. "Kalau nggak mau melakukannya bilang saja. Kenapa harus merusak barang! Kita baru bisa makan kenyang beberapa tahun belakangan ini, kamu malah mendorong Lili. Lina, jangan paksa aku sampai harus memukul wanita."
Alan juga ikut mendorongnya. "Wanita jahat! Kamu menyakiti Tante Lili, keluar dari rumahku!"
Lina menatap Sam dengan wajah kosong.
Tanpa bertanya sepatah kata pun, dia sudah langsung menjatuhkan vonis bersalah pada Lina.
Lili memasang wajah penuh penderitaan. "Sam, tanganku sakit sekali..."
"Aku antar kamu ke klinik."
Sam menggendong Lili keluar, tetapi dia masih sempat melontarkan ancaman kepada Lina. "Kalau tangan Lili benar-benar cedera, tunggu saja akibatnya!"
Alan menendang Lina dengan keras. "Dasar sampah masyarakat! Wanita jahat! Enyahlah dari rumahku!"
Alicia berlari keluar dan mendorong Alan sekuat tenaga. "Nggak boleh memukul Ibu! Dasar anak nakal!"
Alan mengangkat tangannya dan hendak menampar Alicia, tapi Lina dengan cepat menahannya.
Lina menatap dingin pada anak yang lahir dari rahimnya sendiri, yang telah dia besarkan dengan susah payah hingga berusia lima tahun itu.
Alan sempat menciut sesaat, lalu melompat sambil memaki, "Kalian berdua sampah masyarakat, nggak tahu malu! Aku akan suruh ayah mengusir kalian!"
Sambil berteriak, dia segera berlari mengejar Sam dan Lili.
"Tante Lili, aku kasih semua permenku untukmu. Kalau makan permen, sakitnya akan hilang!"
Lina mendekap erat putrinya dan menenangkan. "Alicia, jangan takut. Kita sebentar lagi pergi. Kita naik kereta ke ibu kota. Mereka nggak akan bisa menyakiti kita lagi."
Alicia terisak dan bertanya, "Ibu, kenapa ayah sama kakak membela orang lain?"
Lina terdiam sejenak, lalu menjawab pelan, "Karena mereka sudah bukan ayah dan kakakmu lagi."
Dia dan Alicia tidak lagi menginginkan mereka.
Dalam dua belas hari lagi, mereka berdua akan lenyap sepenuhnya dari dunia mereka.
Bab 4
Sam dan mereka pergi, lalu tidak kembali.
Setelah menenangkan Alicia, Lina makan siang bersama putrinya.
Kemudian, dia membawa putrinya pergi ke klinik pabrik kendaraan untuk mengurus pengunduran dirinya
Lina pernah belajar ilmu pengobatan dari kakeknya.
Sejak dia menyadari Sam telah berubah, Lina langsung melamar kerja di klinik.
Awalnya, pihak klinik tidak mau menerimanya.
Namun, karena dia setiap hari datang membantu, bekerja cekatan, dan memang bisa mengobati orang.
Klinik akhirnya mengizinkan Lina bekerja sebagai tenaga lepas.
Dokter Dean yang bekerja di klinik itu pernah terang-terangan berkata, selama Lina bisa memperoleh sertifikat pengobatan tradisional dan izin praktik.
Dia bisa mengajukan Lina untuk diangkat sebagai karyawan tetap pabrik.
Lina sudah memperoleh sertifikat pengobatan tradisional.
Namun, karena dia hendak pergi, tentu tidak mungkin melanjutkan pekerjaan itu.
Sesampainya di klinik, Lina menunggu Dokter Dean selesai bekerja baru berbicara, "Dokter Dean, mulai sekarang aku nggak akan datang..."
Ucapannya belum selesai, tiba-tiba terdengar suara Sam dari pintu. "Dokter Dean, hari ini juga kamu berhentikan Lina. Dia nggak punya ijazah maupun izin praktik. Bekerja di klinik pabrik kita jelas melanggar aturan. Kalau sampai terjadi masalah dalam mengobati pasien, siapa yang akan bertanggung jawab?"
Lina menoleh dan melihat tangan kanan Lili terbalut perban, sementara Sam dan Alan berdiri rapat di sisinya.
Dokter Dean berkata dengan ragu, "Tapi klinik memang kekurangan tenaga, dan kemampuan pengobatan Lina cukup baik..."
Sam berwajah muram. "Kalau memang kekurangan tenaga, aku akan cari cara melaporkannya ke pimpinan di kota agar segera menugaskan seseorang ke sini. Urusan mengobati orang nggak bisa diserahkan pada orang yang nggak jelas asal-usulnya. Kalau terjadi masalah, kita semua nggak akan sanggup menanggung akibatnya."
Lina menundukkan kepala, berusaha keras mengabaikan rasa sakit di hatinya.
Dulu, Sebelum Sam pergi menjadi tentara, setiap kali demam atau pusing dia selalu minta diobati oleh Lina.
Sekarang, di mata Sam, Lina sudah dianggap orang yang tidak benar.
Dokter Dean menoleh kepada Lina.
Lina tersenyum dan berkata, "Dokter nggak perlu merasa serba salah, mulai sekarang, aku memang nggak akan datang lagi."
Setelah keluar dari klinik, Sam mendengus dingin. "Tangan Lili terluka, beberapa hari ke depan pasti masih akan terasa sakit! Orang berhati kejam sepertimu, mana pantas mengobati dan menolong orang."
Sam masih hendak melanjutkan kata-katanya ketika seseorang datang dengan tergesa-gesa.
"Pak Sam, ada orang menunggu Anda di kantor, dia utusan dari kota."
Sam menjawab singkat, lalu menasihati Lili dengan nada lembut, "Beberapa hari ini kamu istirahat saja di rumah. Semua pekerjaan biar Lina yang kerjakan. Jangan bersikap lunak, dia sudah melukaimu. Membiarkannya menggantikan pekerjaanmu saja sudah terlalu baik untuknya!"
Setelah Sam pergi.
Lina menggendong Alicia keluar.
Lili menggandeng Alan menyusul di belakang.
Sesampainya di tempat sepi, Lili menghadang Lina dan berkata dengan penuh kemenangan, "Selama aku mau, kamu nggak akan bisa dapat pekerjaan. Lina, mulai sekarang, kamu hanya bisa berharap belas kasihan dari Sam dan aku, untuk menghidupi dirimu dan anakmu."
Mata Lili yang dingin menatap Alicia. "Jangan salahkan aku bersikap kejam. Siapa suruh kamu datang membawa anakmu untuk mengganggu kami. Hari-hari yang menanti kalian berdua masih panjang."
Alicia gemetar ketakutan.
Lina menatap Lili dengan tenang dan berkata, "Kalau kamu berani menyakiti Alicia, aku nggak akan melepaskanmu."
Lili mundur sedikit, lalu dengan sengaja berkata, "Alan, dia menakut-nakuti aku."
Seperti peluru kecil, Alan berlari ke depan dan menendang Lina dengan keras. "Kalau kamu berani menyakiti Tante Lili, aku nggak akan melepaskanmu!"
Rasa sakit menjalar di betis Lina, tetapi rasa sakit itu tidak sebanding dengan nyeri yang menusuk di dadanya.
Saat pertama kali datang, Lina sangat ingin tahu apa yang sebenarnya telah dilakukan Sam...
Hingga membuat Alan yang dia besarkan dengan tangannya sendiri bisa berubah seperti ini.
Namun, kini, Lina sudah tidak ingin tahu lagi.
Bab 5
Dalam perjalanan pulang, setiap orang yang ditemui Lina menatapnya dengan pandangan aneh, sambil berbisik-bisik menunjuknya.
"Bagaimana bisa ada orang sekejam itu! Pak Sam sudah menolongnya, bukannya berterima kasih, malah berbalik melukai tunangan Pak Sam. Huh, dasar kurang ajar!"
"Menurutku dia pasti punya niat yang nggak-nggak! Mau jadi istri kepala pabrik! Kalau nggak, kenapa harus melukai Lili?"
"Nggak sadar diri, memangnya dirinya itu siapa? Pantas atau nggak! Pak Sam sudah menolong seekor ular berbisa, kalau dibiarkan tinggal di rumah, entah apa lagi yang akan dia lakukan nanti."
"Ayo kita laporkan pada Pak Sam, pabrik kendaraan ini nggak bisa menampung orang sekejam itu! Cepat usir dia pergi."
Lina tidak berkata apa-apa. Mereka pun terus mengikutinya sampai ke rumah.
Dia menggendong Alicia di dalam rumah.
Sementara orang-orang di luar terus mencibir dan menyindir dengan kata-kata pedas.
Menjelang siang barulah mereka pergi.
Tidak lama kemudian, Sam juga pulang.
Lili dan Alan berjalan mengikutinya dari belakang.
Sam melangkah cepat ke arah Lina. "Alan bilang kamu tadi sore menakut-nakuti Lili? Sepertinya membuat orang-orang di pabrik tahu kamu melukai Lili masih terlalu ringan sebagai hukuman."
Sam berkata dengan dingin, "Pergi masak. Lili mau makan kue ubi talas. Kalau nggak bisa membuatnya, keluar dari rumahku."
Di luar hari sudah gelap. Sam tahu betul bahwa Lina yang menggendong Alicia tidak punya tempat untuk pergi.
Sam juga tahu, saat umur 12 tahun Lina pernah hampir mati karena alergi parah saat mengupas ubi talas.
Seluruh tubuh Lina terasa dingin, tatapannya kosong tidak berjiwa.
Tanpa sepatah kata, dia berdiri dan menggendong Alicia masuk ke dapur.
Saat kue ubi talas dimasukkan ke dalam kukusan, kedua tangan Lina memerah dan bengkak, sementara seluruh tubuhnya gatal hingga membuatnya gemetar tidak terkendali.
Alicia ketakutan dan menangis keras.
Alan melihatnya, lalu tertawa sambil membuat wajah mengejek. "Cengeng! Pembawa sial!"
Lili berdiri di pintu dan berkata dengan manja, "Sam, aku nggak jadi mau makan kue ubi talas. Aku mau makan iga tumis kentang."
Sam langsung mengiyakan, lalu berseru ke arah dapur, "Lina, kamu dengar nggak? Lili mau makan iga tumis kentang."
Baru sekitar pukul sepuluh malam, Lili akhirnya puas, lalu duduk untuk makan.
Lina yang sudah bekerja keras berjam-jam tidak diizinkan ikut makan. Dia hanya duduk di dekat kompor, menyuapi Alicia dengan kue ubi talas yang tidak disentuh Lili.
Alicia menangis sampai cegukan. "Ibu, aku nggak mau makan. Ibu masih sakit, ya? Kita pergi ke Om Dean untuk minta obat, ya?"
Wajah Lina sudah sangat bengkak. Dengan susah payah, dia tersenyum dan menenangkan putrinya. "Ibu nggak apa-apa. Ayo makan, habiskan supaya kamu nggak lapar lagi."
Lina berusaha menenangkan putrinya agar mau makan. Namun, dirinya sendiri sudah beberapa hari tidak bisa makan dengan benar, perutnya pun mulai terasa perih.
Setelah Sam dan yang lain selesai makan di ruang tamu, mereka memerintahkan Lina untuk membersihkan rumah.
Lina menuruti perintah dengan tenang, dia menggulung lengan baju dan mulai mencuci piring.
Lili membawa Alan bermain di halaman, sesekali terdengar tawa lepas Alan.
Sam berdiri di pintu dapur dan berkata kepada Lina dengan suara berat, "Apa kamu sudah menyadari kesalahanmu?"
Lina tidak mengangkat kepala dan hanya menjawab, "Ya."
Sam mengangguk puas. "Nanti segera minta maaf ke Lili, pastikan nggak mengulanginya lagi."
Lina terdiam beberapa detik, lalu berkata dengan pelan, "Kalau aku nggak setuju?"
Sam menjawab dingin, "Kalau begitu, bawa Alicia pergi. Kembalilah saat kamu siap mengakui kesalahanmu."
Terdengar suara tetesan, air mata Lina jatuh ke air cucian piring dan langsung lenyap tanpa jejak.
Dia menarik napas dalam-dalam, lalu berkata dengan tenang, "Aku minta maaf."
Akhirnya Sam merasa puas. "Cepat selesaikan cuci piringnya, lalu ke sini."
Setelah merapikan dapur dan mendudukkan Alicia di depan kompor, Lina langsung menuju ke halaman.
Waktu itu masih sekitar jam makan, saat halaman ramai-ramainya.
Banyak orang berkumpul.
Melihat Lina keluar, semua orang menatap dengan ekspresi penasaran.
Lina tahu ini memang trik Sam, dia melangkah ke depan Lili, lalu membungkuk dalam-dalam. "Maafkan aku, aku seharusnya nggak membuatmu terluka. Aku janji nggak akan mengulanginya lagi, tolong maafkan aku."
Halaman menjadi sunyi senyap.
Sam berkata lembut kepada Lili, "Lili, dia sudah mengakui kesalahan dan mendapat hukuman. Maafkan dia, ya?"
Lili tersenyum manja. "Hanya masalah kecil, aku memang nggak pernah menyalahkan Lina."
"Pak Sam dan keluarganya memang baik hati."
"Inilah yang disebut keluarga sebenarnya."
Semua orang memuji Sam dan keluarganya. Mereka membalas dengan senyuman dan halaman pun kembali riuh.
Seperti arwah yang kesepian, Lina diam-diam kembali ke dalam rumah.
Keesokan harinya, Lina mengeluarkan semua barang yang pernah dia anggap berharga, cangkir teh, handuk, serta sarung tangan kerja. Kemudian, dia memberikannya ke warga lansia termiskin di luar kompleks perumahan.
Semua barang lama yang dibawanya dari desa pun dibuang ke tempat sampah.
Seperti halnya dia harus melepaskan perasaan yang telah bertahan hampir sepuluh tahun.