Bab 1
Orang tuaku mengadopsi seorang anak yatim piatu dan aku sangat menyayanginya, bahkan memperlakukannya layaknya anakku sendiri.
Sampai akhirnya aku sadar, wajahnya semakin mirip dengan suamiku, Yobel, bahkan diam-diam memanggil adikku dengan sebutan ‘ibu’.
Ternyata, suamiku yang begitu mencintaiku sudah lama berselingkuh.
Dia dan adikku diam-diam membangun keluarga bahagia, bahkan mendapat restu dari orang tuaku.
Saat semuanya terbongkar, adikku memohon agar aku merestui mereka dan orang tuaku menyuruhku untuk mengalah.
Anak yang begitu kusayangi selama ini, malah mengutukku dengan kejam.
Namun, mereka tak menyangka, sebenarnya Yobel yang menolak untuk bercerai.
Dia menangis memohon pengampunanku, berkata bahwa dia benar-benar mencintaiku dan anak itu hanyalah sebuah kecelakaan.
Aku berpura-pura percaya pada ketulusannya, lalu berkata, “Tujuh hari, aku kasih kamu tujuh hari. Kalau kamu bisa menunjukkan ketulusanmu, aku akan memaafkanmu.”
Yobel senang bukan main dan menuruti semua perkataanku, memperlakukanku seperti harta berharga.
Demi diriku, dia bahkan menyumbangkan seluruh tabungannya, memaksa adikku berlutut di salju untuk meminta maaf padaku.
Semua orang mengira aku akan memaafkannya, hingga hari di mana polisi datang untuk menyuruh mereka mengidentifikasi jenazah. Saat itulah, Yobel benar-benar gila.
Yobel tidak tahu, sebenarnya aku sudah mati sejak tujuh hari lalu. Hanya saja, malaikat kematian memberiku izin kembali ke dunia selama tujuh hari, untuk berpamitan dengan Yobel.
Aku sudah mati.
Mati di perjalanan saat hendak mengambil hadiah ulang tahun untuk adik angkatku, si Kelven.
Sepatu yang dia sukai baru dijual pada malam tahun baru.
Di kota kecil kami tidak ada, jadi aku meminta suamiku, Yobel untuk mengantar adik perempuanku pulang lebih dulu, agar bisa berkumpul bersama ayah dan ibu.
Tak kusangka, saat aku selesai membeli sepatu dan dalam perjalanan pulang, diriku malah mengalami kecelakaan beruntun.
Demi menyelamatkan anak-anak di dalam sebuah bus, diriku terkena hantaman mobil yang meledak dan terjatuh ke jurang. Aku pun meninggal saat itu juga.
Malaikat kematian melihat jasaku yang besar dan kematianku yang begitu tragis, aku pun diizinkan kembali ke dunia selama tujuh hari untuk mengucapkan perpisahan terakhir dengan keluargaku.
Saat aku kembali, hari sudah gelap.
Takut keluargaku menunggu terlalu lama, aku seolah ingin terbang agar bisa cepat sampai rumah.
Namun saat sampai di rumah, aku melihat pemandangan makan malam yang begitu hangat melalui jendela kaca.
Kelven duduk di samping ayah dan ibu, Yobel duduk bersebelahan dengan adik perempuanku, Bella.
Ada anggur merah dan hidangan lezat di atas meja depan mereka, semua orang berpakaian baju baru, wajahnya penuh suka cita.
Meja bundar enam kursi itu seakan tak pernah menyisakan tempat untukku, si orang keenam yang tak seharusnya ada.
Seketika, dadaku terasa nyeri, kemudian aku pun buru-buru memarahi diriku sendiri lebay.
Mereka tidak tahu sama sekali apa yang kualami, mereka juga tidak menyalahkanku yang pulang terlambat di malam tahun baru ini. Bisa-bisanya aku malah tega menyalahkan mereka?
Saat bersiap untuk melangkah masuk, aku malah melihat Bella mengambilkan sepotong daging ke piring Yobel.
Dengan tatapan penuh cinta, Bella berkata, “Kak Yobel, ini ayam bawang yang aku belajar khusus untukmu, coba diicip.”
Yobel tidak langsung makan, melainkan dia malah menggenggam tangan Bella dengan cemas, sambil memeriksanya sambil mengerutkan alis, lalu menegur lembut, “Setiap kali masuk dapur, kamu pasti melukai tanganmu. Kok masak lagi kali ini?”
Bella menjawab dengan manja, “Soalnya aku lihat kamu sangat suka dengan masakan kakak, jadi aku pikir, kalau dia bisa masak untukmu, aku pun bisa.”
Wajah Yobel tampak tidak senang, lalu menjawab dengan suara beratnya, “Omong kosong! Dia itu tahan banting, kerja keras apapun bisa. Kamu sudah dimanjakan sejak kecil, untuk apa dibandingkan dengan dia?”
Sambil bicara, Yobel bahkan menunduk dan dengan lembut mencium tangan Bella. Tatapannya penuh kasih sayang, seolah takut permata rapuh itu hancur.
Padahal aku sudah tak lagi punya detak jantung ataupun nadi, tapi seketika, dadaku terasa sakit luar biasa.
Kenangan tentang kebersamaan mereka berdua pun bermunculan di benakku.
Aku dan Yobel sama-sama lulusan Universitas Maratha.
Setelah lulus, kami pun menetap di Kota Madin.
Tiga tahun lalu, Bella datang ke Kota Madin untuk mencariku, dengan alasan peluang kerja di kota besar lebih banyak.
Orang tuaku sendiri yang membawanya ke rumahku, sambil menekan secara halus agar aku menjaganya baik-baik.
Yobel yang khawatir diriku dipersulit, akhirnya setuju membiarkannya tinggal bersama kami.
Selama ini, mereka tak pernah menunjukkan sikap berlebihan di hadapanku, bahkan sering bertengkar, seolah saling tak suka.
Aku pun selalu berusaha menengahi mereka dan karena rasa bersalahku, aku semakin baik pada Yobel.
Sekarang dipikir-pikir, kebencian dan jarak yang ditunjukkan mereka itu hanyalah tipuan belaka.
Mereka tahu aku merasa bersalah, tahu posisiku yang serba salah. Itu semua malah jadi bumbu dalam kemesraan mereka, jadi perekat yang membuat kedekatan mereka semakin kuat.
Memikirkan itu, perutku terasa mual, rasa ingin muntah naik sampai ke tenggorokan.
Aku hampir saja menerobos masuk untuk menangkap basah mereka, tapi saat itu juga, datang pukulan yang lebih besar.
Tiba-tiba, Kelven berdiri dari kursinya, mengambil seekor udang lalu menaruhnya di piring Bella, sambil berkata dengan manja, “Ibu, ini udang kesukaanmu.”
Aku masih belum pulih dari rasa sakit akibat pengkhianatan itu, telingaku kembali diguncang oleh panggilan ‘ibu’.
Aku langsung mendongak dan melihat ibuku buru-buru menutup mulut Kelven, sambil menegur, “Jangan asal panggil! Bukannya sudah kubilang, di rumah ini harus panggil kakak?”
Ayahku malah dengan santai berkata, “Takut apaan? Anak itu juga belum pulang.”
Wajah Kelven tampak puas, lalu berkata, “Perempuan jahat itu masih antri membelikan sepatu untukku, dia pasti nggak akan sempat pulang malam ini!”
“Aku bukan hanya mau panggil ayah dan ibu, tapi malam ini aku juga mau tidur bersama ayah dan ibu!”
Usai bicara, Kelven menatap Yobel dengan tatapan penuh harap, lalu bertanya, “Ayah, boleh, ‘kan?”
Belum sempat Yobel menjawab, Bella sudah menjawab dengan lembut, “Tentu saja boleh, jarang-jarang ayah bertemu denganmu, mana mungkin tega menolak permintaanmu?”
Usai bicara, Bella menatap Yobel dengan sedikit manja, lalu memohon, “Kak Yobel, setiap kali meneleponku, dia selalu bilang ingin tidur denganmu.”
“Hanya kali ini saja, jangan ditolak, ya?”
Yobel hanya terdiam sebentar, lalu mengangguk dan menjawab, “Iya.”
Kelven pun melompat kegirangan, sambil berteriak, “Hore! Aku bisa tidur bersama ayah dan ibu! Aku bisa tidur dengan ayah dan ibu!”
Bab 2
Bella menatap Kelven dengan penuh kasih sayang, lalu berkata, “Hanya karena bisa tidur dengan ayah dan ibu, kamu sebahagia ini?”
Kelven langsung mengangguk, lalu dengan sedih berkata, “Tentu saja! Ayah, ibu, kapan kalian menikah? Agar bisa membawaku tinggal di Kota Madin.”
Wajah Yobel langsung memuram.
Seolah pengertian, Bella langsung menenangkan, “Kelven, ibu sudah pernah bilang padamu, ayah dan ibu nggak bisa bersama. Kalau nggak, tantemu bisa sedih.”
“Jangan tanyakan soal hal ini lagi, ya. Itu akan membuat ayah sulit.”
Ayahku berkata dengan suara berat, “Anak kecil wajar ingin orang tuanya bersama. Menurutku, sebaiknya kalian bicara jujur saja dengan Selly.”
Kepalaku berdengung.
Setiap kata yang mereka ucapkan terdengar begitu jelas.
Dan jika digabungkan semuanya, malah menjadi kenyataan yang tak ingin kupercayai.
Aku menatap wajah kecil Kelven, wajah yang begitu mirip dengan Yobel. Aku jadi teringat, dulu aku juga pernah takjub dengan kemiripan mereka.
Saat itu, ibuku bahkan marah-marah dan berkata, “Omong kosong apaan?! Kamu mencurigai suamimu sendiri?”
“Yobel sudah begitu baik padamu, bagaimana bisa kamu meragukannya?”
Waktu itu aku bahkan merasa reaksinya berlebihan dan buru-buru berkata, “Aku bukan bermaksud begitu, hanya merasa anak ini seperti memang berjodoh dengan keluarga kita.”
Ibuku pun menghela napas lega dan menyetujui, “Iya, tandanya anak ini memang ditakdirkan jadi bagian dari keluarga kita.”
Aku pun melihat wajah adik angkatku yang mirip sekali dengan Yobel dan benar-benar percaya bahwa ini adalah takdir.
Namun saat ini, barulah aku sadar telah ditipu habis-habisan!
Suami yang kucintai, diam-diam melahirkan seorang anak dengan adik perempuanku.
Tanpa sepengetahuanku, orang tuaku ikut membesarkan anak itu.
Di belakangku, mereka sudah lebih dulu menjadi sebuah keluarga yang bahagia.
Sedangkan diriku, aku begitu bodoh dan masih menyayangi anak itu seperti permata berharga.
Namun pada akhirnya, baginya aku hanyalah perempuan jahat yang merusak rumah tangga orang tuanya.
Sepatu yang kupilihkan untuknya di malam tahun baru, malah dijadikan alasan agar aku tidak pulang ke rumah.
Konyol, sungguh konyol….
Saat masih memikirkannya, tiba-tiba Yobel berdiri untuk mengambil sesuatu dan tatapan kami bertemu melalui jendela.
Tangannya yang memegang sendok langsung terlepas, jatuh ke lantai.
Detik berikutnya, dia berlari panik keluar.
Melihatku, dia bertanya dengan takut, “Selly, kapan… kamu pulang?”
Bella juga keluar, sengaja bersandar di sisi Yobel, seakan ingin memperlihatkan kedekatan mereka padaku.
Sayangnya, Yobel tidak menanggapi, malah langsung mendorongnya menjauh.
Yobel berjalan mendekat dan menggenggam tanganku. Begitu menyadari tanganku yang begitu dingin, dia memelukku erat dan berkata dengan cemas, “Selly, kok tanganmu sedingin ini?”
Aroma bunga gardenia yang samar dari tubuhnya membuatku mual.
Itu aromanya Bella.
Aku mendongak, melihat bekas ciuman samar di lehernya, lalu dengan dingin berkata, “Sungguh menjijikkan.”
Yobel menunduk, memandangku dengan tak percaya.
Mungkin karena aku tak pernah menatapnya dengan tatapan jijik seperti itu, tatapan mata Yobel pun terlihat terluka.
Aku mendorongnya, lalu menampar wajahnya dengan sekuat tenaga. Lalu dengan dingin berkata, “Yobel, kenapa harus adikku?”
Wajah Yobel tampak pucat, lalu bertanya, “Kamu sudah dengar semuanya?”
Aku menoleh ke arah orang tuaku dan Kelven yang juga berjalan keluar. Lalu dengan dingin berkata, “Wajah anak haram itu benar-benar persis denganmu.
Wajah Yobel memerah, tapi dia masih saja membela, “Aku tahu aku bersalah padamu, tapi anak itu nggak bersalah.”
“Dia bukan anak haram, dia itu anak yang Bella lahirkan untuk kita.”
Aku tertawa getir mendengar kebejatannya, lalu bertanya, “Untuk kita?”
Dengan serius, Yobel berkata, “Iya benar, anak itu memang dilahirkan untuk kita. Saat itu… dia baru berusia delapan belas tahun. Setelah tahu kamu nggak bisa melahirkan lagi, dia takut aku meninggalkanmu, jadi dia rela menggantikanmu.”
“Awalnya… aku menolak, tapi aku terus memimpikan Joey. Aku sangat merindukannya, jadi akhirnya aku….”
Mendengar nama ‘Joey’, bayangan putri kecilku yang dulu sudah berbentuk di dalam rahimku kembali menghantui.
Andai saja Yobel tidak lalai dalam mengemudi, kami tak akan mengalami kecelakaan dan perutku tak akan tertusuk pipa besi.
Bagaimana mungkin Joey meninggal di dalam kandungan?
Bagaimana mungkin rahimku harus diangkat?
Karena dirinya, aku kehilangan kemampuan melahirkan dan kehilangan bayiku sendiri.
Namun, dia malah bilang kalau perselingkuhannya itu demi membiarkan wanita lain melahirkan anakku?
Otak sebejat apa yang bisa memikirkan kata-kata seperti itu?!
Dengan dingin, aku berkata, “Tak perlu banyak alasan lagi, kita cerai saja.”
Bab 3
Begitu aku mengajukan cerai, wajah Bella langsung muncul secercah kegembiraan.
Kelven juga bersorak riang, “Asik! Akhirnya perempuan jahat ini mau mengembalikan ayah ke ibu!”
Wajah ayahku memuram, lalu berkata dingin, “Memang dasarnya kamu yang nggak punya berkah. Sudah merebut Yobel begitu lama, sekarang waktunya melepaskannya.”
“Cepat urus perceraiannya, biarkan Yobel menikahi adikmu, agar keluarga kecil mereka bisa hidup tenang bersama.”
Ibuku tidak bicara apa-apa, hanya menghindari tatapanku dengan wajah penuh rasa bersalah.
Namun aku tahu, diamnya itu sudah cukup menjawab semuanya.
Meski aku sudah terbiasa dengan ketidakadilan orang tuaku, tetap saja saat ini, aku merasa sangat kecewa.
Mata Bella berkaca-kaca dan berkata dengan suara bergetar, “Kak, aku memang bersalah padamu, tapi Kelven benar-benar butuh ayah….”
Belum sempat dia selesai bicara, Yobel malah membentak marah, “Diam! Sejak kapan aku bilang mau menikahimu?”
Bella terkejut, wajahnya tampak malu sekaligus kecewa.
Yobel tidak mempedulikannya, dia malah menggenggam erat tanganku dan berkata, “Sayang, waktu itu Bella menjebakku dengan obat, makanya ada anak itu!”
“Sebenarnya aku ingin menyuruhnya menggugurkannya, tapi dia menolak dan bersembunyi.”
“Setelah tahu dia sudah melahirkan Kelven, aku sangat takut. Aku takut kamu meninggalkanku. Jadi, saat orang tuamu bilang mau membantuku membesarkannya, aku pun menyetujuinya.”
“Aku memang punya tanggung jawab pada Kelven, tapi aku dan adikmu benar-benar nggak ada apa-apa.”
Seketika, air mata Bella langsung menetes. Dengan penuh rasa sakit, dia berkata, “Kak Yobel, kok kamu bisa begitu kejam padaku? Jelas-jelas….”
Belum sempat dia selesai bicara, Yobel langsung menendangnya hingga jatuh ke lantai bersalju, menekannya berlutut sambil berteriak marah, “Diam! Minta maaf pada kakakmu!”
Bella gemetar ketakutan, menangis dan berkata, “Maaf, kak. Semua ini salahku. Aku yang terlalu berkhayal, tapi aku… aku hanya ingin membantumu saja.”
“Kamu nggak bisa melahirkan anak, sedangkan Kak Yobel begitu cakap, cepat atau lambat dia pasti akan meninggalkanmu.”
Ayahku buru-buru menimpali, “Benar! Kalau dipikir-pikir, kamu malah harus berterima kasih pada adikmu.”
“Tapi kalau Yobel nggak mau bercerai, kamu jadi istri pertama dan adikmu jadi yang kedua saja.”
“Bagaimanapun juga, kalian itu kakak adik kandung. Bukankah itu jalan keluar terbaik?”
Usai bicara, dia malah menatap Yobel dengan senyuman menjilat, lalu menoleh ke arah Bella yang masih berlutut di salju dengan penuh rasa iba. Dia pun berkata, “Yobel, lihat cuaca sedingin ini, Bella mana sanggup berlutut lama-lama? Cepat biarkan dia berdiri….”
Kelven menatap ayahnya dengan wajah memelas, sambil memanggil, “Ayah….”
Dadaku terasa sesak, lalu aku pun melontarkan pertanyaan yang sudah lama mengganjal, “Ayah, aku ini benar-benar putrimu, ‘kan?”
Wajah ayahku langsung memerah karena marah, dia menjawab, “Dasar anak kurang ajar! Bisa-bisanya kamu bicara begitu? Semua yang kulakukan ini demi kebaikanmu!”
“Nggak tahu terima kasih sama sekali. Dengan sifatmu seperti ini, pantas saja kamu menderita seumur hidup!”
Ibuku menghela napas berat, lalu menimpali, “Selly, kenapa harus membuat semua orang kesal di tahun baru begini? Cepat minta maaf pada ayahmu!”
Minta maaf?
Mataku berkaca-kaca, lalu bertanya balik, “Apa salahku?”
Ibuku masih ingin bicara, tapi Yobel langsung memotong tegas, “Benar kata Selly! Dia nggak salah! Untuk apa dia minta maaf? Justru kita yang harus minta maaf!”
Seketika semua orang terdiam.
Yobel berlutut di depanku, suaranya penuh kehati-hatian dan penyesalan, “Sayang, percayalah, aku benar-benar hanya mencintaimu.”
Aku menatapnya, dalam hati merasa seharusnya aku marah, memakinya dan membencinya.
Namun, apa gunanya?
Setelah aku mati nanti, mereka tetap bisa hidup nyaman dengan uang yang susah payah kuhasilkan dan menikmati hidup yang sempurna.
Pikiran itu membuat benih kebencian dalam diriku mulai tumbuh, seperti bibit hitam yang berkembang menjadi bunga jahat.
Sebuah rencana pun perlahan muncul dalam benakku.
Aku mengangkat tangan perlahan dan membelai wajah Yobel. Dia menatapku dengan penuh kasih, persis seperti saat dia masih mencintaiku dulu.
Air mataku jatuh di wajahnya dan dia pun ikut menangis, seperti seekor anjing kecil yang takut ditinggalkan tuannya.
Aku tersenyum samar, lalu berkata, “Aku percaya padamu.”
Yobel sontak memelukku erat, berkali-kali mengucapkan terima kasih.
Aku melirik ke arah Bella di samping. Dia menggertakkan gigi dan melototiku, tapi dia juga tak bisa berbuat apa-apa.
Yobel berniat membawaku kembali ke Kota Madin, tapi Kelven langsung menangis dan berkata, “Ayah, bukankah kamu sudah janji mau menemanimu melewati tahun baru?”
Wajah Yobel terlihat dilema, dia menoleh padaku dengan hati-hati dan berkata, “Sebenarnya… Kelven juga nggak bersalah. Bagaimana kalau kita menemaninya melewati tahun baru ini dulu, baru pergi?”
Aku mengangguk dengan tenang dan menjawab, “Iya.”
Yobel jelas tidak menyangka aku akan begitu mudah menyetujuinya. Dia terlihat sangat bersyukur, “Terima kasih sudah mau mengerti aku.”
Padahal dia tidak tahu, kesediaanku hanyalah karena aku sudah tidak peduli lagi.
Saat aku berdiri di luar jendela, melihat mereka menikmati kehangatan sebagai keluarga yang utuh, aku sadar… Yobel dan keluarga yang paling kucintai sudah benar-benar busuk.
Akhirnya, aku pun tetap tinggal di rumah untuk melewati tahun baru ini.
Hari-hari berikutnya, Bella pergi pagi dan pulang malam, ayah membawa ibu dan Kelven pulang ke kampung, katanya untuk bersilaturahmi dengan kerabat.
Padahal jelas-jelas ini rumahku, tapi semua orang malah menjauhiku seakan aku ini ular berbisa.