Bab 1
Kami sudah menikah selama lima tahun. Suamiku, Derrick, pergi dinas selama setengah tahun, lalu membawa pulang cinta pertamanya, Syifa.
Syifa sudah hamil lebih dari tiga bulan dan Derrick bilang hidupnya tidak mudah, jadi akan tinggal di rumahku untuk sementara waktu.
Aku menolak, tetapi Derrick malah memintaku untuk jangan bersikap tidak tahu diri. Nada bicaranya penuh rasa jijik, seolah-olah dia lupa vila ini adalah bagian dari mas kawinku.
Selama ini, mereka sekeluarga menggunakan uangku. Kali ini, aku memutuskan untuk menghentikan semua sokongan hidup itu.
Sambil tersenyum, aku menelepon asisten. "Segera buatkan aku surat perjanjian cerai. Seorang menantu pecundang saja berani terang-terangan membawa selingkuhan pulang ke rumah."
Mendengar bahwa Derrick akan kembali ke tanah air hari ini, sejak pagi-pagi sekali aku sudah menata berbagai benda kecil yang kukumpulkan dari berbagai tempat selama setengah tahun terakhir untuknya. Aku juga menyuruh Nabila, pembantu di rumah, untuk menyiapkan semeja penuh makanan kesukaannya.
Tepat saat itu, pintu depan terbuka. Derrick muncul di hadapanku sambil merangkul mantan pacar pertamanya.
Aku tertegun. Syifa melangkah ke arahku sambil tersenyum, tangan lembutnya menyentuh perut yang mulai membuncit.
"Kak Olivia, lama nggak bertemu," sapanya ramah.
Aku menatap perutnya yang membesar dan amarah langsung membuncah dalam dadaku.
Syifa tampaknya menyadari perubahan ekspresiku. Dia segera mendekat, lalu menggenggam pergelangan tanganku dengan manja dan berkata lembut, "Kak Olivia, tolong jangan marah. Ini semua salahku. Kalau kamu ingin menyalahkan seseorang, salahkan aku saja. Jangan sampai Kak Derrick yang jadi korban."
Hanya satu kalimat sederhana darinya, tapi bagai petir menyambar kepalaku. Aku belum sempat mengatakan apa-apa, tapi Syifa sudah mengungkapkan segalanya.
Derrick hanya berdiri di samping dan memperhatikanku dengan saksama. Sikapnya seperti siap melindungi Syifa kapan saja. Aku mengepalkan tangan erat-erat, menatap Derrick tajam dan bertanya, "Kamu nggak berniat menjelaskan?"
Namun, dia hanya menghela napas, lalu menggandeng Syifa dan berkata pelan, "Aku antar kamu pilih kamar dulu. Urusan ini biar aku yang selesaikan."
Nada bicaranya lembut, nyaris tak bisa dipercaya. Selama lima tahun menikah, Derrick belum pernah bicara padaku dengan nada seperti itu sekali pun.
Aku hanya bisa mematung, menyaksikan dia membantu Syifa naik ke lantai atas.
Tak lama kemudian, sopir datang mengantar tiga koper besar. Sepertinya Syifa membawa setengah isi rumahnya kemari. Padahal wajah Syifa tampak lebih segar dan cerah dariku, tapi Derrick memperlakukannya seolah boneka porselen yang rapuh.
Aku terduduk lemas di sofa, menunggu Derrick selesai mengurus Syifa dan memberiku penjelasan.
Namun, belum sempat aku naik ke lantai atas setelah mendengar suara tawa yang menyakitkan dari lantai dua, bel pintu rumah kembali berbunyi. Orang tua Derrick masuk dengan wajah masam. Tanpa menoleh padaku, mereka langsung naik ke atas.
Aku pun mengikuti mereka. Di atas sana, kulihat Derrick sedang memegangi tangan kedua orang tuanya sambil berkata dengan tulus, "Aku bukannya sengaja menyembunyikan ini dari kalian. Kehamilan Syifa sempat tidak stabil di awal, aku takut terjadi apa-apa."
"Aku harap kalian bisa mengerti. Aku dan Syifa saling mencintai, dan bagaimanapun juga, anak dalam kandungannya adalah cucu kandung kalian. Tolong jangan salahkan dia," ucap Derrick.
Aku teringat lima tahun pernikahanku dengan Derrick. Setiap kali aku berselisih pendapat dengan ibunya, Derrick selalu berkata bahwa ibunya sudah tua, lalu memintaku untuk lebih bersabar dan mengalah. Tidak sekali pun dia pernah membela atau berdiri di pihakku.
Dulu aku pikir memang begitulah wataknya. Sampai hari ini, ketika aku melihat bagaimana dia melindungi Syifa dalam segala hal. Baru kusadari, selama ini aku hanyalah sebuah lelucon.
Syifa menggenggam tangan ibu Derrick dan ikut berkata, "Sebenarnya aku nggak pernah berniat menghancurkan pernikahan Kak Derrick. Kami benar-benar saling mencintai. Aku harap Om dan Tante bisa memahami."
Wajah ibu Derrick perlahan melunak, pandangannya beralih ke arahku yang berdiri terpaku di ambang pintu.
Aku tahu dia sedang bimbang. Lima tahun terakhir, aku selalu mengirim uang bulanan tepat waktu untuk memenuhi kebutuhannya. Siapa pun bisa melihat bahwa kemampuan ekonomiku jauh di atas Syifa.
Namun, hatiku terasa membeku. Sebagai suamiku, Derrick bukannya terlebih dahulu bicara padaku soal kejadian ini, tapi malah mempermalukanku di depan semua orang.
Apa dia benar-benar mengira aku ini tidak punya emosi? Tidak punya harga diri?
Melihat semua orang diam membisu, mata Syifa tiba-tiba memerah dan mulai terisak.
"Anak dalam kandunganku ngak bersalah. Bagaimanapun juga, aku akan tetap melahirkannya," katanya sambil tersedu.
"Aku bisa menerima semua caci maki yang ditujukan padaku, tapi aku harap anakku tidak ikut terluka."
Air mata mengalir deras di pipinya, memperlihatkan ekspresi memilukan yang mampu meluluhkan hati semua orang.
Dengan wajah penuh iba, Derrick menghapus air mata di sudut matanya. Suaranya penuh keluhan saat berkata, "Bu, jawab dia, dong. Ibu tahu sendiri, wanita hamil harus menjaga kestabilan emosinya."
Setelah kami menikah, orang tua Derrick langsung mendesak agar kami segera punya anak. Lima tahun berlalu dan aku tak kunjung hamil. Aku tahu mereka pernah mengatakan banyak hal buruk di belakangku dan aku mendengarnya semua.
Mempertimbangkan soal garis keturunan, ayah Derrick yang sedari tadi diam akhirnya buka suara.
"Bagaimanapun juga, Syifa sedang mengandung anak dari keluarga kita. Untuk beberapa bulan ke depan, semua orang sebaiknya bisa menahan emosi masing-masing."
Begitu kalimat itu dilontarkan, semua tatapan langsung tertuju padaku. Mereka berdiri bersama, terlihat begitu serasi. Untuk sesaat, aku justru merasa akulah orang asing di rumah ini.
Aku tak kuasa menahan diri dan tertawa sinis. "Nggak ada satu pun yang mau tanya pendapatku?"
Melihat wajahku yang dipenuhi kekesalan, Derrick langsung marah dan berdiri di depan Syifa untuk melindunginya, lalu membentakku, "Olivia, kamu nggak dengar tadi mereka sudah jelaskan semuanya?"
"Sudah disampaikan di depan matamu, kamu masih mau tahu apa lagi?"
Aku kembali tertawa sinis. Suamiku pergi dinas setengah tahun, lalu pulang dan membawakan kejutan besar seperti ini. Bukan hanya tidak memberi penjelasan langsung, dia malah bersikap seakan-akan akulah pihak yang bersalah.
Melihatku diam saja, Syifa kembali menangis. Dia menarik pergelangan tangan Derrick sambil terisak, "Kak Derrick, kalau Kak Olivia benar-benar marah, bagaimana kalau aku pergi saja?"
Ibu Derrick langsung tidak terima dan menyela, "Kamu sedang mengandung cucu keluarga kami, mana bisa kami biarkan kamu pergi?"
Usai bicara, Derrick menatapku tajam dan berkata, "Kamu bilang sesuatu, dong. Lihat, Syifa sampai ketakutan!"
"Bagaimanapun juga, anak yang dikandungnya adalah anakku. Kalau kamu memang marah, silakan lampiaskan padaku secara pribadi. Tapi aku nggak akan membiarkan kamu menyakitinya."
Syifa segera menarik tangan Derrick dengan cemas dan berkata, "Nggak boleh, Kak. Aku juga nggak mau kamu jadi sasaran. Aku pasti sedih."
Kalimat pendek dari Syifa itu membuat mata Derrick berkaca-kaca. Orang tua Derrick pun tersenyum dan mengangguk pelan. Jelas sekali mereka sangat menyukai Syifa.
Aku tak sanggup lagi mendengar kelanjutan sandiwara ini. Tanpa berkata apa-apa, aku berbalik dan pergi.
Bab 2
Aku mengurung diri di kamar utama sepanjang siang tanpa keluar sama sekali. Suara tawa dari ruang tamu terdengar begitu menyakitkan di telinga.
Menjelang sore, Nabila mengetuk pintu dan masuk ke kamar. Dia memberitahuku bahwa Syifa awalnya berniat menempati kamar utamaku, tetapi dicegah oleh ibu Derrick.
"Nyonya bilang, bagaimanapun juga kamu punya dukungan dari Keluarga Sanjaya, jadi urusan-urusan besar maupun kecil di rumah masih butuh bantuanmu. Nggak boleh benar-benar membuatmu marah. Dia juga bilang ...."
Nabila adalah pengasuh yang sudah merawatku sejak kecil, dia tahu betul sifatku. Maka dari itu, saat berkata sampai di sana, dia menoleh memandang ekspresiku terlebih dulu.
Melihat aku tidak menyela, dia melanjutkan, "Dia juga bilang, semua biaya selama masa kehamilan akan ditanggung olehmu saja. Lagian kamu nggak bisa punya anak, sekalian saja kamu ikut terlibat dan merasakan pengalaman itu."
Wajahku langsung menjadi kaku dan napasku terasa sesak. Aku merapikan lengan bajuku dan bertanya datar, "Masih ada lagi?"
Nabila pun menambahkan, "Dia bilang, karena kamu nggak punya anak, semua hartamu nanti akan diwariskan ke anak ini juga ...."
Aku tak bisa menahan diri dan tertawa sinis. Sekeluarga ini benar-benar pintar sekali membuat perhitungan. Meski amarahku sudah membuncah di dada, aku tetap tidak menunjukkannya. Aku tahu, saat ini bukan waktu yang tepat.
Nabila bertanya padaku apa yang harus dilakukan selanjutnya. Aku hanya tersenyum dan berkata agar semuanya berjalan seperti biasa.
Dia membawakan makan siangku. Setelah makan, aku duduk di jendela kamar dan menatap ke bawah. Dari atas, kulihat Derrick sedang membawa Syifa keluar rumah.
Kenangan pun datang menghantam. Lima tahun lalu, di siang hari seperti ini, aku pulang ke rumah orang tuaku sambil menangis dan memohon agar mereka mengizinkanku menikah dengan Derrick.
Padahal, waktu itu orangtuaku sudah punya pilihan sendiri untuk calon menantu. Mereka menginginkan aku menikah dengan anak semata wayang Keluarga Hamdani, yaitu Nixon.
Keluarga Hamdani adalah salah satu yang paling berpengaruh di Kota Jeremo. Aku dan Nixon sudah bertetangga sejak kecil, orangtuaku sangat menyukainya. Bahkan mereka sering mengundang Nixon makan bersama di rumah.
Namun, aku tidak pernah punya perasaan apa pun terhadap Nixon. Sejak mengenal Derrick, seluruh hatiku hanya tertuju padanya. Tentu saja aku menolak perjodohan dengan Keluarga Hamdani.
Aku sering mengatakan pada orangtuaku bahwa pernikahan generasi kami seharusnya ditentukan oleh kami sendiri. Lagi pula, Nixon pasti juga tidak menyukaiku.
Namun, orangtuaku bersikeras bahwa kalau memang tidak ada perasaan, Nixon tidak mungkin begitu sering menjemputku sepulang bermain dan mengantarku pulang ke rumah.
Akan tetapi waktu itu, aku sama sekali tidak peduli apakah Nixon menyukaiku atau tidak.
Pertama kali aku bertemu dengan Derrick adalah saat hari pertama kuliah, tepatnya di acara rekrutmen anggota BEM. Kami nyaris bersamaan mengambil formulir pendaftaran.
Saat itu, dia sangat sopan dan berkata, "Maaf," sambil menyerahkan formulir itu padaku dengan ramah.
Hari itu dia mengenakan setelan olahraga abu-abu, penampilannya tampak bersih dan segar dengan sorot mata yang jernih. Posturnya tinggi dan senyumnya begitu cerah seperti sinar matahari.
Tangannya juga sangat bagus. Sebagai orang yang punya kelemahan pada tangan yang indah, aku langsung tak kuasa terpikat padanya. Pertemuan yang mendadak itu membuatku secara spontan menghafal nomor ponselnya.
Setelah berpisah, aku menambahkan kontaknya. Begitu aku menyebutkan namaku, dia langsung menjawab tanpa ragu, "Putri Keluarga Sanjaya, sudah lama aku dengar namamu."
Sejak hari itu, tanpa sadar aku sering berharap bisa "kebetulan" bertemu dengannya di jalan. Bahkan, aku berjuang mati-matian untuk masuk BEM demi bisa lebih dekat dengannya.
Cinta pada pandangan pertama membuatku rela mengikutinya ke mana pun.
Setelah menikah, Derrick mengusulkan diri untuk membantuku mengelola perusahaan, agar aku bisa menjadi ibu rumah tangga yang santai.
Aku tidak menolak. Bagiku, suami istri seharusnya sehati. Apalagi, latar belakang keluarga Derrick sebenarnya sangat sederhana. Kupikir, kalau dia ingin meniti karier dan membuktikan diri, sudah sepatutnya aku mendukungnya.
Orangtuaku dan sahabat-sahabatku sempat memperingatkanku agar mempertimbangkannya dengan matang.
Sejak sebelum menikah, orangtuaku sudah bilang bahwa Derrick menikahiku bukan hanya karena cinta, tapi juga karena tertarik pada status Keluarga Sanjaya di belakangku.
Namun, aku menjawab bahwa aku tidak peduli pada semua itu. Asal dia benar-benar mencintaiku, itu sudah cukup.
Setelah menikah denganku, orangtua Derrick langsung menjalani kehidupan yang nyaman. Mereka berhenti bekerja di pabrik, lalu hidup dari uang bulanan yang ditransfer Derrick setiap bulan.
Bahkan mereka mulai membanggakan ke mana-mana bahwa sekarang Derrick adalah seorang bos besar. Akibatnya, banyak kerabat dari keluarga Derrick mulai berdatangan untuk meminta bantuan. Kehidupan mereka juga sangat nyaman dan sejahtera.
Beberapa kerabat dari keluarga Derrick bahkan sampai menyerahkan urusan jodoh anak-anak mereka padanya, berharap dia bisa mencarikan pasangan dari kalangan terpandang di Kota Jeremo.
Menghadapi situasi seperti ini dari pihak keluarga Derrick, aku sama sekali tidak merasa resah. Aku berpikir, 'Lagi pula aku berasal dari keluarga berada, membantu mereka sedikit nggak akan membuatku rugi.'
Tanpa sepengetahuan Derrick, malam sebelum pertunanganku, Nixon pernah datang menemuiku dan memberiku sebuah kontrak peralihan saham.
Nixon bilang, dia berharap aku mau menandatanganinya. Jika suatu hari pernikahanku tidak bahagia, dia ingin aku punya cukup kekuatan untuk berbalik dan meninggalkan Derrick.
Waktu itu, dia mengepalkan tangannya dengan serius dan berkata, "Di belakangmu bukan hanya Keluarga Sanjaya, tapi juga ada aku. Kalau suatu hari dia menyakitimu, aku nggak akan membiarkannya hidup tenang."
Aku malah mentertawakannya dan bilang dia terlalu berlebihan. Sejak kecil aku percaya bahwa instingku dalam menilai orang tidak akan salah. Aku percaya Derrick tidak akan mengecewakanku.
Namun, mengingat semua itu sekarang, semua peringatan dari orangtuaku dan sahabat-sahabatku ternyata benar. Sayangnya, saat itu aku sedang dimabuk cinta, hingga tidak mau mendengarkan siapa pun.
Setelah menikah, meski aku selalu berusaha menuruti semua keinginannya, Derrick tetap suka mencari-cari kesalahan. Katanya aku tidak pandai mengurus rumah tangga, terlalu emosional, tidak sebaik istri-istri temannya yang anggun dan penurut.
Padahal saat itu aku mencurahkan seluruh perhatianku padanya, bahkan mengubah banyak kebiasaanku demi dia.
Dia suka melihatku menyambutnya di rumah setiap kali pulang kerja, aku pun selalu berusaha ada di rumah saat dia tiba. Aku juga mulai belajar resep-resep masakan baru agar bisa menyajikan hidangan berbeda setiap hari untuknya.
Sahabatku, Michelle, bahkan pernah bilang aku sudah berubah. Seorang putri kaya yang dulunya suka belanja dan foto-foto, kini rela berubah hanya demi seorang pria.
Orang tua Derrick sangat menyukaiku. Setiap kali ada jamuan keluarga, para kerabatnya selalu memujiku sebagai wanita cantik yang berhati baik. Mungkin satu-satunya orang di keluarga itu yang bisa menyebutkan kekuranganku hanyalah Derrick sendiri.
Dulu aku selalu mengira bahwa aku belum cukup baik. Namun sekarang aku sadar, baginya aku hanyalah batu loncatan. Mana mungkin dia bisa menghargaiku jika dalam hatinya tidak pernah ada cinta?
Bab 3
Begitulah, sama sekali tidak ada yang menanyakan pendapatku, mereka langsung menempatkan Syifa di rumahku.
Malamnya, Syifa sendiri mengetuk pintu memanggilku makan. Setelah aku menolak tiga kali, dia malah mulai menangis manja di luar pintu.
Tangisannya makin lama makin keras, sampai menarik Derrick datang. Dia langsung berkata sambil memanfaatkan situasi, "Kak Olivia sepertinya sangat nggak suka padaku. Aku sudah mengajaknya makan, tapi dia malah memarahiku."
Dengan wajah penuh kekesalan, aku membuka pintu, menatap Syifa yang menangis dengan ekspresi penuh kesedihan.
Derrick maju dengan wajah penuh rasa kasihan. Dia menggenggam lengan Syifa dan menenangkan, "Jangan nangis, serahkan saja kepadaku."
Syifa lalu mengeluarkan sebuah tusuk konde dari sakunya dan menyerahkannya padaku. "Kak Olivia, ini aku buat sendiri. Terimalah, mulai sekarang kita bisa berhubungan baik ya?"
Belum sempat kata-katanya selesai, aku langsung menyela, "Jangan mimpi. Akting pura-pura baik ini mau kamu tunjukkan ke siapa?"
Begitu aku selesai berbicara, Syifa melemparkan diri ke pelukan Derrick dengan ekspresi sedih.
Derrick marah dan langsung menamparku. "Olivia, aku sudah mengingatkanmu, Syifa itu sedang hamil. Dia harus menjaga emosinya tetap stabil. Kamu ini kejam sekali, mau bikin dia mati karena marah atau gimana?"
Ekspresinya terlihat seperti sedang memandang seorang penjahat besar. Tamparan itu pun menghancurkan sisa-sisa hubungan terakhir di antara kami.
Aku menatap pasangan berengsek di depanku, lalu melangkah maju dan membalas dengan dua tamparan keras di wajah Derrick.
Hampir seluruh tenagaku kukerahkan, pipi Derrick langsung memerah dan membengkak. Wajahnya pun penuh keterkejutan. "Olivia, kamu gila? Berani-beraninya menamparku!"
Aku menatap tanganku yang memerah, lalu terkekeh-kekeh. "Jelas-jelas kamu yang mulai duluan, kok malah marah-marah? Aku ini Nona Besar Keluarga Sanjaya, kamu kira kamu bisa seenaknya menindasku?"
Ibu Derrick mendengar keributan dan segera datang menengahi. "Olivia, Derrick itu cuma terbawa emosi sesaat, jangan kamu ambil hati."
Melihat wajahku tetap dingin tanpa sedikit pun melunak, dia buru-buru menarik lengan baju Derrick, terus-menerus memberi isyarat dengan matanya.
Ini memang pertama kalinya Derrick menamparku, aku bisa melihat dia juga agak tegang. Namun, mungkin karena ada Syifa atau mungkin karena harga diri, Derrick malah memalingkan wajah dan tidak mau meminta maaf.
"Derrick!" Ibu Derrick membentak keras. Dia tahu kalau kami terus bertahan seperti ini, yang rugi pasti Derrick.
"Memang tadi aku terlalu emosional. Tapi kalau kamu mau ikut Syifa makan malam sejak awal, semua ini nggak akan terjadi."
Kalimatnya sama sekali bukan permintaan maaf. Setiap kata justru menyalahkanku karena dianggap tidak dewasa. Hati ini seperti jatuh ke dasar jurang, aku bahkan tidak turun makan malam.
Semalam penuh aku tidak berinteraksi lagi dengan keluarga mereka, hanya Nabila yang merasa kasihan padaku dan mengantarkan makan malam ke kamarku.
Keesokan harinya aku tidur sampai siang. Saat melihat mereka sedang bersiap makan siang, aku langsung keluar rumah tanpa menoleh.
Asisten perusahaan memberitahuku, entah dari mana orang-orang mendapat kabar bahwa Derrick membawa pulang seorang wanita hamil setelah pulang dari dinas setengah tahun. Kantor pun mulai dipenuhi gosip tentangku.
Baru keluar rumah setengah jam, Derrick sudah mengirim pesan, memintaku membelikan dua kotak sarang burung untuk Syifa saat aku pulang.
Dia bahkan menambahkan supaya aku membelikan Syifa perhiasan sebagai hadiah untuk menebus kesalahanku kemarin. Nada memerintahnya membuatku ingin tertawa.
Aku hanya membalas dengan tidak acuh.
[ Kalau mau makan, kamu urus saja sendiri. ]
Begitu pesan itu terkirim, Nabila memberitahuku bahwa Syifa langsung mengambil semua suplemen kesehatan yang baru saja dikirim ibuku, dengan alasan itu baik untuk janin di kandungannya.
Aku pun bertanya, "Mereka bilang apa?"
Nabila menjawab dengan kesal, "Mereka senangnya bukan main. Katanya kalau wanita itu mau apa pun, silakan minta saja."
Ibuku mengirimkan suplemen khusus untukku setiap tiga bulan, supaya aku lebih memperhatikan kesehatan. Tak kusangka, niat baik ibuku malah dimanfaatkan mereka.
Bahkan ibu Derrick yang biasanya tahu batas pun membiarkannya, jadi aku tak perlu lagi menjaga harga diri mereka. Kalau mereka memperlakukanku seperti ini, kenapa aku harus menjaga harga diri mereka?
Aku langsung pergi ke kantor, mengadakan rapat tingkat tinggi, memeriksa perkembangan terbaru perusahaan, lalu menyusun ulang rencana kerja dan mengumumkannya ke seluruh karyawan.
"Mulai hari ini, aku akan kembali ke Grup Sanjaya. Untuk Derrick, dia nggak boleh lagi menginjakkan kaki di Grup Sanjaya!"