Bab 1
Ketika kapal pesiar tenggelam dan hanya tersisa satu tempat di perahu penyelamat, Zayden memilih untuk menyelamatkanku. Aku berhasil diselamatkan, tetapi Caitlyn tidak sempat menunggu perahu penyelamat kedua dan akhirnya meninggal karena tenggelam.
Zayden berpura-pura tidak peduli dan tetap memilih untuk mengadakan pernikahan denganku. Lima tahun setelah pernikahan kami, dia membuat hidupku sengsara dan menyalahkanku atas kematian Caitlyn. Ketika aku sudah tidak tahan dan ingin bercerai, dia malah memilih mati bersamaku.
Saat membuka mata lagi, aku sudah kembali ke hari terjadinya kecelakaan kapal pesiar. Kali ini, aku memutuskan untuk memberikan kesempatan hidup kepada orang yang paling dia cintai.
“Raina, naik dulu.”
Saat menyadari diriku terlahir kembali, kapal pesiar yang kami tumpangi sudah mulai terendam air. Sementara itu, hanya tersisa 2 tempat di perahu penyelamat. Di antara kami bertiga, hanya Zayden yang bisa mengemudikan kapal. Jadi, dia harus menjadi salah satu orang yang naik ke perahu penyelamat itu.
Setelah berpikir keras, Zayden akhirnya mengulurkan tangannya padaku. Namun, aku malah mundur selangkah, lalu menolak permintaan Zayden dengan tegas.
“Zayden, kamu tolong saja dulu Caitlyn.”
Di kehidupan ini, aku tidak mau menanggung tuduhan ada orang yang mati karena diriku.
Setelah mendengar ucapanku, Zayden sepertinya merasa sangat lega. Selain menarik napas lega, kerutan di keningnya juga menghilang. Kemudian, dia langsung menggenggam tangan Citlyn dan naik ke perahu penyelamat.
“Raina, kamu itu tunanganku. Aku seharusnya menolongmu dulu. Berhubung kamu menyuruhku menolong Caitlyn dulu, kamu tunggu saja. Aku pasti akan kembali untuk menolongmu. Tunggu aku.”
Seusai berbicara, Zayden pun pergi bersama Caitlyn. Dia bahkan tidak melirikku karena takut aku berubah pikiran. Konyol sekali. Dia mengira semua orang mirip dengannya?
Di kehidupan sebelumnya, Zayden juga melakukan hal yang sama. Dia terlebih dahulu membawaku meninggalkan perairan dan meninggalkan Caitlyn di atas kapal pesiar. Meskipun kami segera menghubungi penjaga pantai untuk melakukan penyelamatan, Caitlyn tetap meninggal karena tenggelam.
Awalnya, Zayden tidak menunjukkan keanehan begitu mendengar berita ini. Dia hanya menangani pemakaman Caitlyn dengan tenang, lalu memberikan keluarganya Caitlyn sejumlah uang untuk menenangkan mereka.
Satu-satunya permintaan yang diajukan Zayden hanyalah memilihkan makam dengan lokasi terbaik untuk Caitlyn. Aku tentu saja tidak menolak, bahkan bertanya padanya apakah pernikahan kami perlu diundur dengan penuh pengertian.
Namun, Zayden malah menolak. Aku masih ingat pada saat itu, dia menggenggam tanganku dan berkata, “Raina, aku pasti akan menikahimu!”
Setelahnya, aku baru tahu apa arti sebenarnya dari ucapannya itu. Zayden menikahiku hanya karena ingin menyiksaku supaya aku bisa menebus dosa atas kematian Caitlyn. Namun, apa hubungannya kematian Caitlyn denganku?
Melihat sosok mereka yang menjauh, aku segera memikirkan cara untuk menyelamatkan diri. Bagaimanapun juga, aku tidak berani menjamin Zayden akan membawa pengawas pantai untuk datang menolongku.
Di kehidupan sebelumnya, teman masa kecil yang disukainya masih berada di kapal pesiar. Oleh karena itu, dia baru segera melapor polisi begitu tiba di tempat yang memiliki sinyal. Namun, kali ini teman masa kecilnya berada di sisinya. Apa dia masih mungkin mengingatku?
Bagaimanapun juga, orang yang ingin ditolongnya dalam 2 kehidupan ini hanyalah teman masa kecilnya, Caitlyn.
Jika dipikir-pikir, Zayden dan Caitlyn tumbuh besar bersama. Waktu yang mereka lalui bersama tentu saja tidak bisa dibandingkan dengan siapa pun. Dia memilih untuk terlebih dahulu menolongku juga karena dia khawatir dicemooh orang lain apabila dia terlebih dahulu menolong Caitlyn daripada tunangannya.
Jadi, meskipun mencintai Caitlyn, Zayden akan tetap memilihku. Hanya saja, dia sangat menyesal karena pilihannya ini di kehidupan sebelumnya. Sekarang, aku akan menggantikannya untuk menebus penyesalan ini. Dia seharusnya berterima kasih kepadaku.
Bab 2
Sampai sosok Zayden dan Caitlyn sepenuhnya hilang, aku baru buru-buru memikirkan cara untuk menyelamatkan diri. Meskipun kapal pesiar ini sudah terendam air, masih ada banyak barang dalam kapal yang masih bisa digunakan.
Melihat genangan air yang makin dalam, aku buru-buru berjalan ke dalam kapal pesiar dan mencari ban pelampung serta baju pelampung. Di kehidupan sebelumnya, aku tidak bisa berenang tetapi ingin bermain di tepi pantai. Oleh karena itu, aku sudah terlebih dahulu menyiapkan beberapa ban pelampung. Sekarang, ban pelampung itu akhirnya terpakai juga.
Setelah menemukan semua ban pelampung itu, aku mengenakan baju pelampung dengan tergesa-gesa, lalu mengisi udara di ban pelampung dan memakainya. Aku juga mengambil beberapa bungkus cokelat dan air mineral yang tersisa.
Pada saat kapal sepenuhnya tenggelam, aku menarik napas dalam-dalam dan mulai berenang ke arah tepi pantai. Meskipun ini adalah kawasan laut dalam, ada banyak nelayan yang sering mengunjungi tempat ini. Jadi, tempat ini tidak sepenuhnya terpencil. Asalkan bisa menemukan kapal nelayan, aku pasti tertolong.
Sayangnya, ini adalah tengah malam. Walaupun ada kapal nelayan yang berlayar di sekitar, suara mesin kapal terlalu besar sehingga jarang ada yang mendengar suara teriakanku. Untungnya, aku tidak menyerah, melainkan tetap berusaha berenang ke arah tepi pantai.
Hanya saja, cuaca tidak bisa ditebak. Siang ini, langit memang tidak berawan. Sekarang, langit malah dipenuhi awan hitam. Di kehidupan sebelumnya, cuacanya juga seperti ini. Berhubung tiba-tiba turun hujan deras, misi penyelamatan pun menjadi makin sulit untuk dilakukan. Hal ini pula yang menyebabkan Caitlyn akhirnya tidak tertolong.
Namun, di kehidupan ini, aku menatap lautan yang tidak berujung dan berusaha makin keras untuk berenang. Setelah berenang sekitar sejam, aku akhirnya melihat sebuah kapal pesiar yang sedang bergerak ke depan.
Aku buru-buru melambaikan tangan dan berteriak ke arah kapal, “Tolong! Ada orang? Tolong aku! Tolong ....”
Aku berusaha berteriak sekencang mungkin. Pada saat ini, hujan juga mulai turun. Awalnya, itu masih hanyalah gerimis. Beberapa menit kemudian, hujan itu perlahan-lahan menjadi deras.
Melihat kapal yang makin menjauh, hatiku tiba-tiba diliputi rasa putus asa. Namun, aku tetap berseru kencang, “Tolong! Siapa saja! Tolong aku!”
Tepat pada saat harapanku hampir sirna, tiba-tiba terlihat seseorang yang muncul di atas kapal pesiar. Dia menyalakan senter dan menyinari area laut. Dia sudah mendengar seruanku! Aku pasti tertolong!
Dalam sekejap, rasa gembira langsung memenuhi hatiku. Aku buru-buru melambaikan tanganku ke arah senter sambil berteriak, “Tolong! Tolong! Tolong aku!”
Aku menggunakan sedikit tenagaku yang terakhir untuk berenang ke arah kapal. Pada saat aku hampir mencapai pinggir kapal, tangga kapal juga segera diturunkan. Aku pun memanjat tangga dan hampir kehabisan tenaga beberapa kali.
Begitu naik ke kapal, kakiku langsung terasa lemas. Pada saat aku hampir jatuh berlutut di dek, sepasang tangan yang kuat dan kokoh segera menopangku.
“Kamu nggak apa-apa, ‘kan?”
Aku menghela napas lega dan menjawab, “Aku baik-baik saja. Terima kasih.”
Aku yang bersandar dalam pelukannya mencoba untuk berdiri, tetapi tenagaku sudah terkuras habis.
Begitu mendengar ucapanku, pria itu hanya melirikku dengan kening berkerut, lalu langsung menggendongku masuk ke kamar di dalam kapal. Kemudian, dia mengeluarkan pakaian bersih untukku dan berkata, “Tubuhmu sudah basah kuyup. Ganti saja dulu bajumu.”
“Oke.”
Setelah dia keluar, aku buru-buru melepaskan piamaku yang basah kuyup. Berhubung insiden ini terjadi begitu mendadak, aku bahkan tidak sempat mengganti pakaian. Seusai aku mengganti pakaian, pintu kamar diketuk seseorang. Aku pun berjalan ke arah pintu dan membukanya.
Pria itu membawakan semangkuk mie dan menaruhnya di atas meja, lalu mengisyaratkanku untuk mencicipinya. Saat ini, aku baru melihat jelas rupa pria itu. Dia memiliki fitur wajah yang tampan dan sepertinya adalah seorang tentara. Tubuhnya memancarkan aura penuh keadilan dan wibawa.
Namun, aku sudah terlalu lapar. Setelah menghabiskan semangkuk mie itu, aku baru berkata, “Halo, namaku Raina. Terima kasih banyak sudah menolongku.”
Christian melirik rambutku yang masih basah kuyup dan beberapa luka ringan di tanganku.
“Aku keringkan dulu rambutmu, sekalian tangani lukamu.”
Aku pun kebingungan. “Hmm?”
“Laut banyak bakteri. Lukamu bisa infeksi kalau nggak didisinfeksi tepat waktu.”
“Emm, oke. Terima kasih.”
Kemudian, Christian mengeringkan rambutku dengan handuk secara lembut dan membersihkan lukaku dengan hati-hati. Aku menggigit bibir sambil menatapnya yang mengeringkan rambutku. Hatiku tiba-tiba terasa hangat.
Bab 3
Aku mengingat sebuah memori dari kehidupan sebelumnya. Ketika aku baru menikah dengan Zayden, dia pernah mabuk. Aku memapahnya ke kamar dan menasihatinya untuk mengurangi konsumsi alkohol. Namun, dia malah langsung murka dan mendorongku hingga aku terjatuh ke lantai.
Kepalaku langsung terbentur keramik dan berdarah. Aku pun berseru kesakitan ketika melihat darah yang melumuri tanganku.
Setelah melihat keadaanku, Zayden hanya menatapku dalam dingin dan berkata, “Sakit? Baguslah kalau begitu. Waktu meninggal, Caitlyn pasti jauh lebih menderita dari kamu. Dia sudah meninggal! Kalau bukan karena menyelamatkanmu, mana mungkin dia tenggelam! Raina, ini semua gara-gara kamu!”
Aku sangat tercengang dan menatapnya dengan ekspresi tidak percaya. Hatiku juga berangsur-angsur mendingin. Aku tidak percaya kata-kata itu bisa keluar dari mulutnya.
Setelah sekian lama, aku baru berujar, “Zayden, yang tenggelamkan kapal pesiar itu musuhmu! Yang suruh aku naik ke perahu penyelamat itu juga kamu! Sekarang, kamu malah salahkan aku? Apa kamu nggak rasa itu sangat lucu?”
Begitu mendengar ucapanku, ekspresi Zayden menjadi makin dingin.
“Raina, aku nggak pernah setujui pernikahan ini dari awal. Kalau bukan karena kamu bilang ke Nenek bahwa kamu menyukaiku, mana mungkin aku dipaksa menikahimu!”
“Hahaha!” Aku pun tertawa sambil menatap Zayden, lalu melanjutkan, “Jadi, maksudmu, ini semua gara-gara aku? Zayden, kamu bukannya salahkan musuhmu atau keluargamu yang kasih kamu tekanan, malah salahkan aku? Otakmu benar-benar bermasalah!”
Seusai berbicara, aku pun keluar dari kamar dan naik taksi ke rumah sakit untuk menangani lukaku. Sejak saat itu, hubungan kami pun menjadi sangat dingin. Sejak saat itu pula, aku tidak lagi mengalah padanya.
Sekarang, orang asing di hadapanku malah khawatir aku kesakitan dan memperlakukanku dengan lembut. Mataku tiba-tiba berkaca-kaca. Aku pun buru-buru memalingkan wajah dan menarik napas dalam-dalam untuk menekan rasa ingin menangis.
“Terima kasih.”
Christian menatapku dan menjawab sambil tersenyum cerah, “Sama-sama.”
“Pak Christian, apa kamu ada di dalam?”
Tiba-tiba, terdengar suara seseorang dari luar pintu. Kemudian, terlihat seorang pria berkacamata berbingkai hitam dan mengenakan piama berdiri di pintu. Dia menatapku dan bertanya, “Tadi, kamu telepon bilang ada yang jatuh ke air. Apa itu nona ini?”
Christian mengangguk, lalu menoleh ke arahku. “Dia ini dokter kapal ini. Biarkan saja dia periksa kamu dulu.”
Aku pun mengangguk.
Kemudian, Christian menyingkir ke samping dan membiarkan Anthony masuk. Anthony berjalan ke sisiku dan memeriksaku secara sederhana. Dia juga menanyakan beberapa pertanyaan dan mengetahui bahwa aku tidak terluka, hanya berenang terlalu lama.
Setelah itu, Anthony pun berdiri dan berkata pada Christian, “Nona Rania baik-baik saja. Hanya saja, dia terombang-ambing kelamaan di laut, makanya tenaganya terkuras habis. Dia akan pulih setelah beristirahat dengan baik.”
Christian mengangguk, lalu mengantar Anthony keluar. Saat tiba di depan pintu, kedua orang itu juga membisikkan sesuatu. Aku memanfaatkan kesempatan saat mereka berbicara untuk melirik ke luar. Seiring dengan hujan yang turun makin deras, yang terlihat di permukaan laut hanyalah kegelapan yang tak berujung.
Aku merasa lumayan bersyukur.
Saat mengalihkan kembali pandanganku ke pintu, Christian sudah kembali dan berkata dengan lembut, "Sebentar lagi, kapal akan menepi. Kamu tinggal di mana? Aku antar kamu pulang, ya?”
Mungkin karena merasa egois, aku tiba-tiba tidak ingin pulang. Lagi pula, orang tuaku juga lebih sering tidak ada di rumah. Meskipun pulang, aku belum tentu bertemu mereka. Selain itu, dinilai dari tingkat kepedulian mereka terhadapku, mereka juga tidak akan menanyakan apa-apa walaupun aku tidak pulang selama sebulan.
Mengenai Zayden, kami mati bersama di kehidupan sebelumnya. Sekarang, aku sudah terlahir kembali. Dia seharusnya juga sudah terlahir kembali dan hanya sibuk memikirkan cara untuk bersama Caitlyn.
Di kehidupan sebelumnya, selama 5 tahun pernikahan kami, dia tidak pernah membawaku ke acara apa pun dan tidak pernah tidur sekamar denganku. Dia bahkan mengambil alih perusahaan keluargaku dan mengurangi biaya hidupku. Setiap kali orang bertanya tentang aku, dia hanya akan menghinaku sehingga aku menjadi lelucon di komunitas kelas atas.
Di kehidupan ini, biarkan saja Zayden dan Caitlyn hidup bersama selamanya.
Oleh karena itu, aku menatap Christian dan memohon, “Aku nggak punya tempat tujuan. Bisa nggak kamu tampung aku beberapa hari?”
Berhubung Christian tidak menunjukkan reaksi apa pun, aku hanya bisa menarik ujung pakaiannya dan menatapnya dengan tampang memelas.
Jika aku tidak salah ingat, Christian seharusnya adalah putra Keluarga Kurniadi. Di kehidupan sebelumnya, dia adalah satu-satunya orang yang pernah membantuku ketika aku hendak bercerai. Dalam 2 kehidupan ini, Christian sudah menyelamatkanku. Dia seharusnya bukanlah orang jahat.
Melihat tampang memelasku, dia tiba-tiba menunduk, lalu menatapku dengan tatapan yang membara?
“Aku bukan orang baik. Kalau mau ikut aku, kamu harus bayar harganya.”
Mungkin karena jarak kami yang tiba-tiba terlalu dekat, aku bahkan bisa mencium aroma mint dari tubuhnya. Aroma itu sangat harum sampai aku merasa agak mabuk.
“Oke, kamu boleh minta apa pun.”
“Serius?
“Tentu saja!”
Aku menatapnya dengan tegas, sedangkan dia malah tiba-tiba tertawa. Namun, kapal ini akhirnya menepi. Berhubung terombang-ambing terlalu lama di dalam laut, aku sudah mulai demam ringan. Ketika Christian menggendongku keluar dari kapal, tiba-tiba terdengar suara familier seseorang.
“Raina? Itu benar-benar kamu?”
Itu adalah suara Zayden. Dia sedang membentuk tim penyelamatan bersama polisi. Begitu melihat kemunculanku, dia tiba-tiba berlari ke arahku dan menatapku dengan penuh perhatian.
“Raina, kamu baik-baik saja?”
Aku menyuruh Christian menurunkan aku, lalu menatapnya dan bertanya balik, “Menurutmu, aku kelihatan baik-baik saja?”