Bab 1
Aku sudah tiga bulan tidak melihat suami mafiaku, Arga Pratama, dan putri kami, Dora.
Kenapa? Karena ibunya Arga, Fiona, bilang Dora harus tinggal sementara bersamanya.
Sementara Arga? Dia terlalu sibuk dengan urusan bisnis seperti biasanya.
Jadi ketika Arga akhirnya menelpon dan bilang dia akan menjemputku untuk reuni keluarga di vila, aku begitu gembira.
Aku pikir, mungkin, hanya mungkin, aku akhirnya bisa memeluk putriku lagi.
Seharian aku berlari ke sana kemari di kota, membeli boneka favoritnya, camilan, gaun merah muda baru, apa pun yang kupikir bisa membuatnya tersenyum padaku lagi.
Tapi ketika mobil itu datang, kenyataannya jauh dari bayanganku.
Sebelum aku sempat bilang hai, Dora menoleh, menatapku sebentar... lalu memeluk Maya, si pembantu, lebih erat lagi.
Dia menempelkan wajahnya ke leher Maya seolah aku tidak ada di situ.
Seolah Maya adalah ibunya.
Aku mencoba mendekatinya, tapi Dora tegas bilang dia tidak mau naik mobil bersamaku.
Dan Maya dengan senyum sopan yang palsu, terus mencoba membujukku agar memberi Dora sedikit waktu lagi.
Aku menoleh ke Arga, berharap dia turun tangan.
Sebaliknya, dia cuma terlihat kesal, seolah tidak peduli untuk mengulurkan tangan membenahi hubunganku dengan putri kami.
Jelas mereka tidak ingin aku ada di sana.
Jadi, apa gunanya aku mencoba ikut naik mobil?
Aku melangkah mundur dari SUV.
Lalu Arga menoleh padaku dan bilang, "Tunggu di sini. Aku sebentar lagi kembali."
Yang tidak akan pernah dia mengerti... aku sudah lelah menunggu dia.
Aku sudah tiga bulan tidak melihat suamiku, Arga Pratama, dan putri kami, Dora.
Kenapa? Karena ibunya Arga, Fiona, bilang Dora harus tinggal sementara bersamanya.
Sementara Arga? Dia terlalu sibuk dengan urusan bisnis seperti biasanya.
Jadi ketika Arga akhirnya menelpon dan bilang dia akan menjemputku untuk reuni keluarga di vila, aku begitu gembira.
Aku pikir, mungkin, hanya mungkin, aku akhirnya bisa memeluk putriku lagi.
Seharian aku berlari ke sana kemari di kota, membeli boneka favoritnya, camilan, gaun merah muda baru, apa pun yang kupikir bisa membuatnya tersenyum padaku lagi.
Tapi ketika mobil itu datang, kenyataannya jauh dari bayanganku.
Sebelum aku sempat bilang hai, Dora menoleh, menatapku sebentar... lalu memeluk Maya, si pembantu lebih erat lagi.
Dia menempelkan wajahnya ke leher Maya seolah aku tidak ada di situ.
Seolah Maya adalah ibunya.
Aku mencoba mendekatinya, tapi Dora tegas bilang dia tidak mau naik mobil bersamaku.
Dan Maya dengan senyum sopan yang palsu, terus mencoba membujukku agar memberi Dora sedikit waktu lagi.
Aku menoleh ke Arga, berharap dia turun tangan.
Sebaliknya, dia cuma terlihat kesal, seolah tidak peduli untuk mengulurkan tangan membenahi hubunganku dengan putri kami.
Jelas mereka tidak ingin aku ada di sana.
Jadi, apa gunanya aku mencoba ikut naik mobil?
Aku melangkah mundur dari SUV.
Lalu Arga menoleh padaku dan bilang, "Tunggu di sini. Sebentar lagi aku kembali."
Yang tidak akan pernah dia mengerti... aku sudah lelah menunggu dia.
Jujur saja, begitu melihat Maya, aku langsung tahu ada yang aneh.
Dia berdandan seperti ingin jadi pusat perhatian. Dengan gaun malam ketat berkilauan, sepatu hak tinggi yang terlalu sulit untuk dipakai berjalan, belahan dada terbuka, bibir merah menyala.
Siapa yang berdandan seperti itu untuk reuni keluarga?
Dia lebih mirip nyonya rumah daripada pembantu.
Dan aku? Aku hanya pakai jeans, sepatu, dan kaus longgar, sambil menyeret koper berat penuh boneka Dora dan semua barang kecil warna merah muda yang dulu disukainya.
Saat itu, aku bahkan tidak yakin siapa yang lebih mirip pembantu, aku atau dia.
Aku jadi tidak ingin ikut lagi. Tidak dengan keadaan seperti ini.
Tapi aku menepis pikiran itu. Aku meyakinkan diri sendiri ini tentang Dora. Hanya tentang Dora.
Jadi ketika aku melihat Arga masuk ke dalam SUV, bersiap pergi tanpaku, aku meledak.
Aku buru-buru lari dan menarik pintu mobil sebelum dia sempat menyalakan mesin.
"Tidak, aku mau ikut denganmu," kataku, setengah tubuhku sudah masuk.
Arga menoleh, jelas terkejut. Tapi sebelum dia sempat bicara, Dora yang duduk di pangkuan Maya di kursi depan langsung menangis keras.
"Tidak! Aku tidak mau pergi sama dia!" teriaknya, lengan mungilnya melingkar erat di leher Maya seperti pegangan hidup.
Maya mulai menepuk punggungnya lembut, membisikkan sesuatu untuk menenangkannya, lalu menoleh padaku dengan senyum manis yang jelas-jelas palsu.
"Nyonya Katarina," katanya lembut seakan sedang menolongku. "Bagaimana kalau begini saja? Anda bisa ikut bersama mereka, dan saya tinggal di sini menemani Dora. Atau kalau Anda lebih suka..."
"Tidak," potong Arga tajam. "Jangan harap."
Dia menoleh ke arahku, wajahnya kaku, rahangnya mengeras. Melihat kerutan di antara alisnya, aku tahu betul tanda itu. Dia bukan sekadar kesal. Dia marah.
"Katarina." Suaranya rendah dan dingin. "Jadilah ibu yang baik. Aku sudah bilang tidak akan lama. Tapi kalau kamu sebegitu tidak sabarnya, kamu bisa naik kereta api."
Aku menatapnya. "Bahkan dengan kereta api paling cepat, tetap butuh lima jam."
Dia tidak menjawab. Hanya kembali menatap kemudi, seolah pembicaraan sudah selesai.
Aku berdiri terpaku sejenak.
Lalu, tanpa sepatah kata pun, aku menarik lagi koperku keluar dari SUV, menyeretnya di atas kerikil seakan-akan beratnya seratus kilogram.
Aku berdiri di pinggir jalan, menatap mobil itu mulai melaju pergi.
Dora menoleh ke arah lain, sengaja agar tidak melihatku.
Dan Maya? Dia tersenyum, bahkan melambaikan tangan dengan ekspresi puas yang membuat darahku mendidih.
Arga sama sekali tidak menoleh padaku. Matanya lurus ke jalan, wajahnya dingin dan jauh seperti biasanya.
Sesaat aku hanya berdiri menatap tanganku, tangan yang masih memakai cincin pertunangan yang dia berikan bertahun-tahun lalu. Aku tidak pernah melepasnya. Tidak sekalipun. Tapi sekarang... aku ingin melepaskannya dan melemparnya ke seberang jalan.
Tapi aku tidak melakukannya.
Sebaliknya, aku menghela napas, lalu berjalan masuk ke dalam rumah kosong, panas, dan sunyi.
Aku menjatuhkan tubuh ke sofa, mengeluarkan ponsel, dan mulai menelusuri Instagram hanya untuk mengalihkan pikiran.
Dan saat itulah aku melihatnya.
Sebuah story dari Maya, baru satu menit yang lalu.
Arga di balik kemudi. Garis rahangnya yang tegas, kacamata hitam, dia terlihat seperti model majalah.
Seseorang sudah berkomentar, [Maya, itu pacarmu?]
Aku mendengus. 'Lebih baik dia tidak menjawab,' pikirku.
Tapi sedetik kemudian, dia menjawab.
Dengan emoji wajah tersipu.
Hanya itu.
Apa-apaan dia?
Dadaku sesak seperti ditinju keras. Napasku tercekat.
Musim kemarau ini seharusnya tidak sepanas itu, tapi saat itu, aku terbakar dari dalam.
Aku melempar ponsel ke meja, berjalan ke arah AC, dan menekan tombolnya.
Tidak ada reaksi.
Mati lampu.
Aku menatap sekeliling rumah yang panas dan senyap, lalu bergumam, "Bagus. Tidak ada AC. Tidak ada lampu. Tidak ada suami. Tidak ada anak."
Dan aku juga tidak tahu berapa lama aku akan terjebak di rumah ini.
Bab 2
Aku mondar-mandir di ruang tamu, seperti binatang terkurung di kandang.
Apa yang bisa kulakukan untuk menghapus senyum puas Maya di Instagram itu?
Mungkin aku bisa menggali foto lama Arga dan aku, sesuatu yang intim, hanya untuk mengingatkan dunia siapa yang sebenarnya dia nikahi.
Tapi kenyataannya?
Tujuh tahun menikah, aku nyaris tidak bisa menemukan satu pun foto kami yang terlihat romantis.
Arga selalu bilang, "Dalam bisnis ini, privasi yang membuat kita tetap hidup."
Lalu coba jelaskan, kalau privasi begitu penting, kenapa dia membiarkan Maya mengunggah wajahnya ke story sesering itu?
Tanganku bergetar saat meraih ponsel.
Kupikir mungkin Maya sudah menghapus postingannya, seperti yang selalu Arga perintahkan padaku.
Tapi tidak.
Sebaliknya, dia baru saja mengunggah lagi, hanya beberapa menit lalu.
Kali ini, dia ada di pantai dengan bikini, warnanya sama persis dengan gaun ketat berkilauan yang dipakainya tadi, tergantung di lengannya.
Dia menggantungkan sebelah hak tingginya dengan santai di jari kelingkingnya.
Lalu dia mencipratkan air ke arah Arga sambil berdiri di ombak.
Dan Arga... tersenyum padanya.
Tersenyum.
Aku terbelalak. 'Siapa yang merekam ini? Putriku? Dora?'
Mereka terlihat seperti keluarga sungguhan. Sempurna.
Dan aku? Aku apa?
Perempuan yang melahirkan Dora setelah kehamilan yang melelahkan, yang tetap diam dan patuh di tengah kekacauan Keluarga Pratama hanya demi menjaga nama baik keluarga?
Perempuan yang masih menunggu di rumah untuk suami yang berjanji, sebentar lagi akan kembali?
Tahu tidak, Arga? Kamu tidak kembali. Kamu hanya pergi.
Aku sudah muak. Benar-benar muak, sampai rasanya jiwa ini hancur tak bersisa.
Aku mengunci layar ponselku, pandanganku mulai buram oleh panas dan amarah.
Jari-jariku menyentuh cincin itu lagi.
Kali ini, aku melepasnya.
Itu tidak berarti apa-apa lagi.
Aku meraih ponsel dan menelpon ibunya, Fiona Laksamana. Tanpa menunggu lama, dia sudah menjawab.
"Ibu," kataku, berusaha menahan suaraku tetap stabil. "Maaf, tapi tahun ini... sepertinya aku tidak bisa hadir di reuni keluarga, karena…"
"Itu tidak bisa diterima, Katarina," potongnya dingin. "Saudara Arga saja bisa terbang dari Calvoria dengan segala urusannya. Tidak ada alasan."
Lalu dia menutup telepon.
Begitu saja. Dingin. Menyisihkan. Sama persis seperti anaknya.
Aku menatap ponsel sejenak, lalu menyelipkan cincin bernilai enam belas miliar itu ke saku.
Aku sudah muak dihancurkan dalam kesunyian.
Kalau aku pergi, aku harus membawa sesuatu bersamaku. Aku ingin pergi bersama putriku.
Mungkin salahku membiarkan Maya begitu dekat dengan Dora.
Aku tidak tahu apa yang dia bisikkan, kebohongan apa yang dia ceritakan hingga membuat anakku berbalik menentangku.
Tapi aku percaya, aku harus percaya, kalau aku bisa menghabiskan waktu bersama Dora, dia akan mengingat siapa aku sebenarnya.
Aku berganti dari pakaian santai ke setelan LV yang rapi.
Tegas. Elegan. Aku terlihat seperti seseorang yang pantas dihargai.
Rumah masih panas, gelap, listrik belum kembali.
Aku tidak peduli lagi.
Aku pergi menuju pantai. Mereka pasti di sana. Semoga saja aku belum terlambat.
Tapi hidupku memang tidak pernah berjalan mulus.
Supir pertama membatalkan karena katanya terlalu jauh.
Aku menunggu dua puluh menit lagi sampai akhirnya dapat tumpangan.
Saat aku tiba di pantai, matahari sudah terbenam.
Mereka sudah tidak ada.
Aku membuka Instagram Maya lagi.
Untung saja, sepuluh menit lalu dia mengunggah story baru, kali ini di restoran dekat pantai.
Aku buru-buru ke sana.
Dan apa yang kulihat begitu masuk?
Maya sedang menyuapi Arga dengan sup. Sendok yang sama. Sambil tersenyum. Seakan-akan dia memang pantas ada di sana.
Dan Dora? Dia duduk di samping mereka, sibuk bermain game di ponsel, seolah semuanya wajar.
Aku tidak tahan.
Aku langsung melangkah cepat, mengangkat Dora ke dalam pelukanku.
Dia terperanjat, menatapku seperti aku orang asing.
Lalu dia mendorongku.
"Jangan sentuh aku, Katarina!"
Katarina. Bukan Mama. Bukan Ibu.
Maya buru-buru berdiri berlagak prihatin. "Dora, tidak apa-apa..."
Tapi aku menghalangi langkahnya.
"Dia putriku," kataku tajam. "Kamu sebaiknya ingat itu. Artinya, kamu tidak berhak ikut campur. Kamu cuma pembantu."
Dora melepaskan diri dariku, lari ke arah Maya.
Dia menggenggam tangan Maya seolah menggenggam nyawa.
"Kamu yang tidak punya hak!" bentaknya padaku. "Maya bisa melakukan apa pun yang dia mau!"
Aku tidak bisa bicara. Rasanya hatiku patah jadi dua.
Suaraku keluar lirih. "Dora, sayang... apa salahku? Kenapa kamu menjauh dariku? Kenapa kamu membela seorang pembantu?"
Dora menyilangkan tangan. "Kamu meremehkan Maya. Tapi bagiku, Maya bukan cuma pembantu."
"Lalu siapa dia buat kamu?" Suaraku bergetar hampir hancur.
Sebelum dia sempat menjawab, Arga berdiri, suaranya sedingin es. "Cukup, Katarina. Aku sudah bilang tunggu. Apa yang kamu lakukan di sini?"
"Apa yang kulakukan di sini?" Aku tertawa getir. "Arga, aku tidak akan menunggu sampai besok seperti orang bodoh!"
Maya kembali maju, pura-pura peduli. "Maaf, Katarina. Aku tidak bermaksud membuatmu marah. Kami hanya ingin Dora merasa aman. Mungkin sebaiknya kita pergi sekarang. Orang-orang lagi lihat kita, ini bisa membahayakan Arga."
Arga melihat sekeliling, memeriksa kerumunan.
"Dia benar," gumamnya. "Katarina, hentikan dramamu. Duduk dan makan sesuatu. Atau tunggu di mobil."
Drama?
Sekarang aku disebut drama?
Aku menatap Dora sekali lagi. Dia melihatku seakan aku benar-benar orang asing.
Aku menoleh pada Arga, suaraku rendah. "Bisa kita bicara di luar? Hanya sebentar."
Dia mendesah kesal, tapi akhirnya mengangguk.
Di luar, malam sudah benar-benar menyelimuti. Lampu jalan berdengung di atas kepala.
Aku menatap lelaki yang dulu kucintai.
"Arga, bisakah kamu meminta Maya menjauh sebentar? Biarkan aku bicara dengan Dora tanpa dia di sana. Aku yakin Dora akan lebih terbuka kalau Maya tidak selalu menghalangi."
Dia menggeleng. "Katarina, ini bukan masalah Maya. Masalahnya di kamu. Kamu yang harus hadapi itu. Kita tidak punya waktu. Aku masih harus menyetir tiga jam lagi."
"Oh, jadi kamu punya waktu untuk main air di pantai, tapi sekarang tiba-tiba terburu-buru?"
Dia mengernyit. "Kamu menguntit kami sekarang?"
"Emang aku ada pilihan lain?"
"Kamu sudah berubah, Katarina."
"Kamu juga," kataku pelan.
Dia tidak menjawab. Hanya berbalik masuk ke restoran.
Dan saat itu, aku melihat Maya mengintip dari jendela.
Dia menyuruhku menunggu lagi. Tapi aku bukan perempuan itu lagi.
Aku pergi meninggalkan restoran, menghentikan taksi, dan begitu masuk, aku langsung mengetik pesan yang tidak pernah kubayangkan akan kukirim:
[Ayo cerai. Aku tidak akan datang ke reuni keluarga.]
Aku tekan kirim.
Lalu kututup ponselku.
Bab 3
Setelah mengirim pesan itu, aku menemukan sebuah toko gadai kecil di pinggiran kota. Tanpa banyak bicara, aku masuk dan menjual cincin itu.
Aku masih dapat ratusan juta rupiah, tapi rasanya hambar. Tak ada lagi rasa senang saat uang masuk ke rekeningku.
Ini bukan perang. Ini hidupku. Dan dalam hidup ini, tidak ada pemenang.
Aku lalu memesan kamar hotel kecil di jalur menuju vila Keluarga Pratama.
Aku tidak punya rencana jelas... hanya sebuah harapan.
Mungkin aku masih bisa dapat satu kesempatan terakhir untuk bertemu Dora.
Mungkin aku bisa mencegat mereka, bicara dengannya tanpa Maya di sekitar, sekali saja.
Malam itu aku tak bisa tidur.
Aku duduk di dekat jendela, menatap SUV yang melintas di jalan raya.
Setiap kali ada mobil lewat, aku bertanya-tanya, apakah itu mereka?
Apakah mereka sudah sampai?
Apakah mereka bertanya-tanya di mana aku?
Sepertinya tidak.
Aku bahkan tak ingat sudah berapa jam aku duduk begitu saja.
Sampai akhirnya tubuhku menyerah, dan aku tertidur di kursi dekat jendela, mata setengah terbuka.
Malam berikutnya, saat aku kira pesta reuni sudah berlangsung meriah, aku tak tahan lagi.
Aku menyalakan kembali ponselku.
Begitu layarnya menyala, getarannya tak berhenti, terus menerus.
Ada puluhan panggilan tak terjawab.
Arga. Maya. Nomor-nomor asing yang bahkan tak kukenal.
Kupikir aku akan tenang.
Kupikir aku sudah selesai dengan semua ini.
Tapi saat melihat semua panggilan tak terjawab itu, ada sesuatu di dadaku yang retak.
Kupikir aku sudah siap pergi. Nyatanya belum.
Dan lalu nama Arga kembali muncul.
Sebuah pesan suara masuk.
Suaranya rendah, dia marah.
"Katarina, kau mengecewakan aku. Kau mau cerai? Tidak semudah itu."
Aku menatap layar dengan linglung. Arga masih sama.
Masih saja bertingkah seolah aku perempuan naif yang akan menuruti perintahnya setiap kali ia menjentikkan jari.
Tujuh tahun lalu, dia pernah bilang hal yang hampir sama.
Waktu itu dia meninggalkan pesan setelah aku mencoba menjauh darinya, setelah tahu siapa dia sebenarnya mafia.
Dia berkata, "Kita ditakdirkan bersama. Kau pikir bisa menghindar dariku? Tidak semudah itu."
Saat itu aku justru tersentuh oleh keyakinannya. Aku menyerah. Aku bilang iya.
Dan sejak itu aku masuk ke dunianya, Keluarga Pratama.
Itu pertama kalinya aku melihat Maya.
Aku ingat, aku menatapnya bingung.
Dia mengenakan gaun krem elegan, anting berlian, dan berdiri di ruang tamu seolah itu rumahnya sendiri.
Aku mendekat ke Arga dan bertanya pelan, "Kau tak pernah bilang kau punya saudara perempuan."
Arga menatap Maya dengan senyum hangat, lalu menoleh padaku dan berkata, "Dia bukan saudariku. Dia pembantu kami... atau lebih tepatnya, anak dari pembantu. Maya."
Aku tak mengerti.
Penampilannya seperti bangsawan. Bagaimana mungkin itu seorang pembantu?
Sejak pertama kali melihatnya, aku langsung iri.
Dia begitu luwes di rumah itu, tahu setiap ruangan, setiap orang.
Keluarga menerimanya. Mempercayainya.
Bahkan Fiona, ibu Arga, sering berbisikkan kode sandi ponselnya ke Maya di depanku, seolah itu hal biasa.
Tapi cara Maya memperlakukanku selalu dingin dan penuh curiga.
Selalu banyak tanya tentang latar belakangku, orang tuaku, pendidikanku.
Setiap kata terasa penuh penilaian terselubung.
Bahkan setelah aku menikah dengan Arga, Fiona tak pernah berhenti membandingkanku dengan Maya.
Maya ini, Maya itu.
Dan Arga, dia satu-satunya yang tidak pernah menyebut nama Maya.
Sampai sekarang.
Karena sekarang, dia juga memilih Maya.
Orang yang dulu pernah memilihku... sudah tak ada lagi.
Telepon kembali berdering.
Arga.
Aku biarkan dua kali, lalu kujawab.
Tapi hening.
Sepertinya dia tak menyangka aku akan mengangkatnya.
Lalu akhirnya ia bicara, lebih pelan dari sebelumnya.
"Ayo kita bicara. Tatap muka. Bagaimana, Katarina?"
Aku tak menjawab, tapi air mata mengalir di pipiku.
Dia pasti mendengarnya dari helaan napasku, karena suaranya melembut.
"Jangan ambil keputusan gegabah. Tolong. Turunlah ke garasi. Aku tahu kau di sini. Aku sudah sampai."
Dia tidak di pesta?
Itu membuatku terkejut.
Aku sempat ragu... tapi akhirnya meraih mantel dan turun.
Garasi itu sepi, remang-remang diterangi lampu. SUVnya ada di sana.
Aku naik ke kursi penumpang.
Aku ingin marah, menuduh, menanyakan semua yang selama ini menggerogoti pikiranku.
Tapi saat melihat wajahnya, rambut berantakan, janggut tipis, mata penuh emosi yang begitu nyata, aku hancur.
Aku menangis.
Dia meraihku, menarikku ke dalam pelukan erat.
"Aku tak sanggup membayangkan bercerai darimu," bisiknya di bahuku. "Hanya memikirkannya saja rasanya sakit sekali."
Aku diam sejenak.
Lalu aku merasakannya, parfum Maya.
Lemah, tapi jelas.
Di kursi. Di kain. Di tubuhnya.
Aku menyingkir. Suaraku terdengar pelan tapi tegas
"Kau tahu kenapa aku ingin bercerai, Arga?"
Dia tak menjawab.
Aku menatapnya lurus-lurus.
"Itu karena Maya. Kau selalu bilang akulah masalahnya. Padahal sejak awal aku benci dia. Dia sudah mengambil segalanya dariku, posisiku di keluarga ini, putriku, bahkan kau. Dan sekarang kau membelanya seolah dia tak tersentuh."
Suaraku pecah, air mata makin deras.
"Aku menyerahkan segalanya untukmu. Dan yang kudapat? Tidak ada."
Wajah Arga berubah. Dia meraih tanganku.
"Maaf, Katarina. Aku benar-benar minta maaf. Aku tak pernah bermaksud mengatakan hal-hal itu padamu..."
Sepertinya dia ingin bicara lebih banyak, tapi ponselnya berdering.
Bukan nada dering biasa, ini khusus. Lebih lembut. Lebih khusus.
Aku tahu. Lebih tepatnya, aku yakin. Hanya satu kemungkinan, Maya.
Arga langsung mengangkat tangannya, memberi isyarat untuk menunda.
"Maaf, aku harus angkat. Ini penting. Boleh aku keluar sebentar? Nanti kita lanjut bicara."
Apa yang bisa kukatakan?
Aku hanya mengangguk, berusaha tenang. "Silakan. Pergilah."
Sebelum aku turun tadi, aku berniat menanyakan kenapa dia membawa Maya ke pantai, kenapa membiarkannya menyuapi di restoran, kenapa Dora sekarang mengaguminya seperti ibu kedua.
Tapi sekarang? Aku tak butuh lagi jawabannya. Karena aku sudah tahu.
Kami berdua sudah berubah.
Dan aku tak tahu, apakah masih ada yang layak dipertahankan.