Bab 3
Pernikahan kami dipersiapkan dengan sangat meriah.
Karena persiapan ini cukup menguras tenaga dan sumber daya, kami pun merekrut banyak orang baru.
Di antara mereka, ada Yolanda. Saat Ridho melihatnya, dia tampak sangat terkejut.
Aku berdiri di lorong lantai dua, menyaksikan adegan yang terjadi di aula.
Yolanda mengenakan gaun putih sederhana, rambut panjang terurai dan sedang menunduk mengisi formulir pendaftaran kerja.
Ketika Ridho berjalan melewatinya, langkahnya terlihat jelas terhenti sejenak.
“Ini asisten perencana pernikahan yang baru,” ujar manajer personalia sambil memperkenalkannya, “Namanya Yolanda.”
Yolanda mengangkat kepalanya dan bertatapan dengan Ridho.
Aku melihat jari-jari Ridho bergetar sedikit, itu kebiasaannya saat sedang emosional.
“Selamat bergabung,” ujar Ridho dengan suara seraknya, lalu dia buru-buru pergi.
Aku diam-diam mengikutinya dan melihat dia masuk ke gudang.
Tak lama kemudian, Yolanda juga menyusul masuk.
Aku berdiri di depan pintu dan bisa mendengar suara isak tangis dari dalam.
“Kenapa … kenapa kamu harus melakukan ini padaku?” terdengar suara Yolanda.
“Yolanda, aku ….” ujar Ridho dengan suara yang penuh rasa sakit, “Maaf ….”
Aku mendorong sedikit pintu yang tak tertutup rapat dan melihat Ridho sedang memeluk Yolanda erat-erat.
Bibir mereka merah menyala, jelas baru saja berciuman dengan sangat gairah.
Adegan itu seperti sebilah pisau yang menusuk hatiku dengan kejam.
Kupikir aku sudah mati rasa, tapi ternyata rasa sakitnya masih sangat nyata.
Keesokan harinya, Yolanda yang ceroboh malah menghilangkan liontin jimat kesayanganku.
Itu adalah sebuah liontin jimat yang terbuat dari batu giok yang halus, jimat pelindung yang Ridho dapatkan untukku saat aku sakit parah dulu.
Aku ingat waktu itu, dia berangkat jam empat pagi dari rumah.
Aku demam dan terbaring lemah, samar-samar mendengar dia pergi dengan gerakan hati-hati agar tak membangunkanku.
Aku tertidur seharian penuh, barulah tengah malam aku mendengar pintu dibuka.
Ridho pulang dalam keadaan penuh keringat, celana di bagian lututnya juga sobek.
“Lovina,” panggilnya sambil berlutut di samping ranjang, mengeluarkan sebuah kotak kayu cendana dari pelukannya, dia melanjutkan, “Aku minta liontin jimat ini untukmu.”
Aku membuka mata dengan lemah, melihat senyuman di wajah pucatnya.
Tangannya penuh goresan luka, lututnya juga berdarah.
“Katanya kuil itu sangat manjur, jadi aku berlutut dan naik perlahan. Semakin tulus, katanya semakin dikabulkan,” ujarnya sambil mengusap keringat di dahinya.
Aku melihat tatapan matanya yang lelah tapi penuh kelembutan, air mataku pun jatuh begitu saja.
“Jangan menangis,” katanya lembut sambil mengusap air mataku, “Kamu bakalan sembuh. Aku sudah berdoa untuk menukar kesehatanku demi keselamatanmu.”
Aku menggenggam jimat itu erat-erat, merasakan kehangatan dari batu giok itu.
Saat itu, aku benar-benar percaya jimat ini bakal melindungiku.
Dan nyatanya, aku memang sembuh.
Namun setelah itu, Ridho malah sering masuk angin. Meski begitu, dia selalu tersenyum dan berkata, “Sepertinya jimat itu benar-benar mendengar doaku.”
Aku memejamkan mata dan seolah melihat lagi sosok anak muda yang berlutut menaiki anak tangga kuil satu per satu.
Lututnya terluka, telapak tangannya lecet, tapi dia tetap naik dengan penuh ketulusan.
Saat itu, dia benar-benar mencintaiku.
Dan sekarang, jimat yang menyimpan kenangan paling indah kami hilang karena kecerobohan Yolanda.
“Nona Lovina, maaf!” ujar Yolanda dengan panik, matanya berkaca-kaca, “Ak … aku cari sekarang juga!”
Aku menatap akting buruknya dan hanya bisa tersenyum sinis.
Aku tahu dia sengaja. Sejak hari pertama dia datang melamar kerja, aku sudah melihat tatapan iri di matanya saat melihat jimat itu.
Ridho berdiri di samping, alisnya mengerut dan menegur, “Kok kamu bisa seceroboh itu?” Nadanya terdengar sangat tegas, tapi aku tahu dia sebenarnya tidak peduli dengan liontin itu.
“Sudahlah, biarkan saja,” kataku pelan.
Ridho tertegun, tampaknya tidak menyangka aku bakal setenang ini.
Dia sempat membuka mulut, ingin mengatakan sesuatu, tapi akhirnya hanya berkata, “Aku bakal minta lagi yang baru buat kamu.”
Aku menatapnya, tak ada amarah dan kesedihan dalam tatapanku. Hanya rasa lelah dan keikhlasan yang dalam.
Saat ini, aku harus mengakui anak muda yang dulu berlutut menaiki ribuan anak tangga untukku, yang tak tidur semalaman karena mengkhawatirkan aku yang sakit, yang rela keliling kota demi mencari jepit rambut kesukaanku, dia sudah tak dapat kembali lagi.
“Nggak perlu, terkadang sesuatu yang hilang harus diikhlaskan saja,” ujarku, kemudian berbalik badan dan pergi.
Di belakangku terdengar isak tangis Yolanda. Ridho seolah ingin mengatakan sesuatu, tapi akhirnya malah mengejar Yolanda keluar.
Aku berdiri di depan jendela, melihat mereka berdua berlari keluar dari vila.
Matahari bersinar terang, tapi tak sedikit pun menghangatkan hatiku.
Bab 4
Ingatan Ridho perlahan mulai pulih. Efek pengobatan mulai terlihat sedikit demi sedikit.
Sehari sebelum pernikahan, tiba-tiba dia menghentikan pekerjaannya, lalu menatapku lama sekali tanpa mengalihkan pandangan.
“Lovina,” panggilnya pelan, suaranya terdengar agak ragu, “Belakangan ini … sepertinya aku mulai mengingat beberapa hal.”
Nada suaranya mendadak menjadi serius, “Kotak musik yang pernah kukasih ke kamu, masih ada? Yang ada foto kita berdua di dalamnya.”
Aku mendongak dan melihat harapan di matanya. Rasanya seperti ada yang menusuk hatiku.
Kotak musik itu sudah lama menjadi abu, ikut terbakar bersama semua kenangan yang dulu pernah kusimpan.
Aku memaksakan senyum, lalu menjawab pelan, “Nggak sengaja hilang.”
Harapan dalam tatapannya langsung redup, tapi dia segera menenangkan diri, “Nggak apa-apa, kubelikan lagi untukmu nanti.”
Aku tak menjawab, hanya menatapnya diam-diam.
Tatapannya sudah tak lagi dingin seperti dulu, kini ada kelembutan dan juga rasa bersalah.
Namun aku tahu, kelembutan itu bukan sepenuhnya untukku.
Sudah ada orang lain yang mengisi hatinya.
Dia berjalan ke arah jendela, menatap ke halaman belakang yang kosong. Keningnya sedikit berkerut dan bertanya, “Di mana pohon sakuranya? Aku ingat dulu ada pohon sakura di sana.”
Aku ikut berdiri dan menjawab dengan tenang, “Waktu renovasi, pohonnya nggak sengaja ditebang tukang.”
Jari-jarinya mengetuk-ngetuk jendela tanpa sadar. Sorot matanya tampak panik, tapi segera kembali tenang, dia pun berkata, “Kalau begitu, kita tanam lagi saja. Sekarang juga musim yang pas untuk menanam.”
Aku mengangguk, tidak menolak.
Dia menggandeng tanganku dan buru-buru ke halaman belakang, mencari cangkul, lalu mulai menggali tanah.
“Lovina, kamu masih ingat, nggak? Waktu umur enam belas tahun, aku menanam pohon sakura di sini.”
Sambil menggali, dia terus berbicara, “Kamu pernah bilang, saat kita menikah nanti, mau adakan acaranya di bawah pohon ini. Aku juga berjanji bakal menemanimu melihat bunganya setiap kali sakuranya mekar.”
Aku memandangnya. Seketika, rasanya seperti melihat kembali sosok anak muda itu.
Dulu, dia memang mencintaiku, tapi sekarang, dia juga benar mencintai orang lain.
Dia meletakkan bibit pohon sakura ke dalam lubang yang sudah digali, lalu mendongak menatapku, tatapannya penuh kelembutan.
“Pohon bisa kita tanam lagi, cinta kita juga bisa, ‘kan?”
Aku membuka mulut, tapi tak tahu harus menjawab apa.
Tiba-tiba, ponselnya berdering.
Dia melirik layar, lalu mengernyit dan menolak panggilan itu.
Namun belum sampai beberapa detik, ponselnya berdering lagi.
Dia menolak lagi, wajahnya mulai terlihat kesal.
“Angkat saja, siapa tahu penting,” kataku pelan.
Dia sempat ragu, tapi akhirnya mengangkat telepon itu juga.
Dari seberang sana, terdengar suara tangisan Yolanda. Aku tak bisa mendengar jelas apa yang dia ucapkan, tapi aku bisa melihat wajah Ridho yang langsung berubah.
Dia buru-buru menutup telepon, lalu menoleh melihatku dan berkata, “Lovina, aku ada urusan penting, harus pergi dulu. Tenang saja, aku janji bakal tanam pohon ini besok.”
Aku mengangguk, memperhatikan dia yang bergegas pergi dan melihat sosoknya yang menghilang dalam senja.
Aku tahu, dia pergi menemui Yolanda.
Aku tetap berdiri di tempat, menatap bibit pohon sakura yang belum selesai ditanam. Hatiku cukup tenang.
Ridho, sudah tidak ada masa depan di antara kita.
Besok adalah hari pernikahan, tapi aku sudah membeli tiket pesawat untuk pergi.
Kali ini, aku tidak akan menoleh ke belakang lagi.