Bab 3

Dalam lima tahun terakhir, Andy sudah memberinya banyak perhiasan. Shanon bisa langsung membedakan bahwa gelang ini seharusnya satu set dengan kalung yang dihadiahka padannya tadi malam.

Shanon mencibir tipis, "Nona Rainie, sepertinya keluargamu sangat menyayangimu." Andy dan Shane memecah satu set perhiasaan itu menjadi dua bagian, separuh untuknya, separuh untuk Rainie. Seperti hati mereka, yang juga bisa dibelah menjadi dua. Rainie tersenyum dengan bahagia. "Iya, mereka selalu bilang paling sayang padaku, memperlakukan aku seperti anak kecil yang dimanja."

Mungkin khawatir dia curiga, sepanjang jalan Andy dan Shane terus memperhatikan keadaannya. Saat dia sedikit batuk, Andy langsung melepas jaketnya untuk menyampirkan di bahunya dengan penuh iba, lalu menuangkan air hangat dari termos dan menyuguhkan sampai ke bibirnya dengan penuh perhatian. Shane juga melepaskan syal dan memakaikan pada lehernya seperti orang dewasa dan menasihati agar dia tetap hangat. Tapi Shanon tidak mau mengotori dirinya dengan barang-barang yang beraroma parfum itu. Dia hanya bilang ingin kembali ke hotel untuk istirahat lalu langsung pergi. Andy dan Shane saling bertukar pandang, serentak memutuskan untuk ikut menemaninya pulang ke hotel. Hingga sore hari, ponsel Andy berdering. Dengan cepat dia mematikan nada dering, lalu menoleh ke arah tempat tidur, untungnya Shanon tidak bergeming, barulah dia lega. Nama Rainie terus muncul di layar, dan Shane menarik lengan Andy, berkata dengan suara kecil. "Papa, aku ingin ketemu Kak Rainie."

Andy buru-buru memberi isyarat untuk tenang, keduanya saling berpandangan, lalu keluar kamar dengan langkah pelan. Begitu pintu tertutup, Shanon membuka mata, mengenakan pakaiannya dan mengikuti mereka. Andy dan Shane berjalan cepat, sampai akhirnya tiba di depan pintu kamar Rainie.

Begitu pintu dibuka, Rainie langsung melompat ke pelukan Andy, suaranya penuh kesedihan.

"Andy, akhirnya kalian datang. Hari ini aku sendirian di hotel, aku sangat takut."

"Aku nggak minta kalian selalu ada 24 jam di sisiku, cukup luangkan dua jam setiap hari untukku saja."

Sambil bicara, Rainie menatap Andy dengan mata basah. Andy paling tidak tahan melihat air matanya, melihat itu hatinya langsung luluh, lalu buru-buru memeluknya dengan penuh rasa sayang sambil menghibur.

"Dua jam mana cukup, malam ini aku dan Shane akan menemanimu sepanjang malam." Shane juga ikut menjelaskan. "Kak Rainie, begitu Mama tertidur kami langsung datang, kami juga ingin bersama Kakak."

Rainie terlihat tersentuh, tetapi tiba-tiba ekspresinya meredup seperti teringat sesuatu. "Sebenarnya hari ini aku juga kedinginan, tapi di mata kalian cuma ada Nyonya Shanon, bahkan syal dan termos yang kubuat khusus untuk kalian..."

Shane khawatir Rainie sedih, cepat-cepat meraih tangannya. "Kak Rainie jangan sedih, itu salahku dan salah Papa. Aku akan menghangatkanmu, tanganku lebih hangat daripada syal."

Andy juga mengusap ujung hidungnya dengan manja. "Masa sih cemburu karena hal sepele begitu saja? Tahu kau belum puas main ski di Swiss, aku sengaja pilih tempat ini, nggak cukup kah?"

Mendengar itu Rainie menengadah, dan mencium di sudut bibirnya. "Terima kasih, Pak Andy." Tatapan Andy seketika mendalam, dia menahan kepala Rainie, bibir mereka bersentuhan dan berciuman dengan penuh gairah. Shane menutup matanya dan berlari menuju kamar.

"Wah, aku nggak mau jadi pengganggu."

Beberapa lama kemudian Andy baru melepaskan, muka Rainie merah padam, dan memukul ringan dada Andy.

"Shane barusan juga di sini loh."

Andy meraih tangannya, menaruhnya di bibir lalu mencium.

"Nggak apa, dia juga sudah terbiasa."

Lalu merangkul pinggang Rainie, menggandeng Shane masuk kamar dan menutup pintu.

Di balik pilar, Shanon sudah menangis sampai air mata membasahi wajah. Walau sudah tahu pengkhianatan mereka sejak lama, melihat sendiri membuatnya merasakan sakit yang menembus tulang. Setiap kata berubah menjadi pedang tajam yang menusuk jantungnya hingga remuk. Yang katanya merayakan ulang tahunnya itu hanya untuk menutupi ketidakpuasan Rainie yang belum puas bermain.

Shanon berlutut menekan dadanya, ucapan Andy dan Shane semalam masih bergema di telinganya. Tidak akan membiarkannya pergi? Tapi Andy, Shane, aku sudah memutuskan untuk meninggalkan kalian.

Bab 4

Keesokan paginya, saat Shanon terbangun, Andy dan Shane sedang masuk ke kamar sambil membawa sarapan. Melihat dia bangun, Andy dengan sangat alami menyerahkan sarapan ke tangannya, menatapnya penuh kasih sayang.

“Aku dan Shane ingin kau tidur lebih lama, jadi kami sengaja bangun lebih pagi untuk ambil sarapan.”

Shane juga memanjat ke atas tempat tidur dengan kaki kecilnya, bersandar di bahunya. “Baru saja ninggalin sebentar aku udah kangen banget, Ma.”

Shanon merasakan kedinginan di sampingnya dan pandangannya menunjukkan sedikit sindiran pada diri sendiri.

Jelas-jelas mereka tidak pulang semalam, baru juga turun dari ranjang Rainie, tapi beraninya bilang “mengambil sarapan”. Dulunya dia tidak tahu akting mereka sehebat ini.

Setelah sarapan, Andy dan Shane langsung mengajaknya ke area ski. Rainie sudah berdandan lengkap dengan perlengkapan ski menunggu mereka di pintu masuk. Tapi Shanon tidak berminat main ski.

Andy menatapnya dengan sedikit khawatir, dia bertanya dengan nada menguji, “Shanon, belakangan ini kau kenapa? Apa aku atau Shane bikin kau nggak senang?”

Shanon menggeleng. “Nggak, cuma urusan temanku mengganggu suasana hatiku.” Baru setelah itu Andy merasa lega, lalu mencium dahinya dengan lembut. “Tenang Shanon, hal kayak gitu pasti nggak bakal terjadi di keluarga kita. Kalau kau nggak mau main ...”

Belum selesai berkata, terdengar suara Rainie yang ragu. “Pak Andy....”

Melihat pandangan Rainie yang berpengharapan, Andy menghela napas kecil, lalu mengubah kata-katanya. “Kau tunggu kita di sini, aku, Shane dan Rainie main beberapa putaran, lalu balik.”

Shane tidak bicara, tapi Shanon dengan mata tajam melihat tangannya diam-diam sudah meraih ujung pakaian Rainie. Mungkin dia terlalu rindu menghabiskan waktu bertiga, sampai sama sekali tidak khawatir tindakannya ketahuan olehnya. Shanon mengangguk tanpa berkata.

Andy menyuruh staf hotel untuk menjaganya, lalu memakaikan sarung tangan dari tas pada tangannya dengan teliti. “Shanon, di sini dingin, aku khawatir kau kedinginan, kalau nggak enak badan langsung telepon aku.”

Shane juga memeriksa resleting pakaiannya. “Aku juga nggak mau lihat Mama flu.” Melihat seluruh perhatian mereka tertuju padanya, Rainie tidak bisa menahan rasa cemburunya. “Nyonya, Pak Andy dan Tuan Muda Shane itu baik banget sama Anda.” Mendengar itu Shanon menatapnya sejenak. Di mata Rainie masih tersisa sedikit rasa cemburu yang tidak sempat disembunyikannya.

Shanon hanya sedikit tersenyum, dan berkata dengan makna tersirat. “Aku rasa keluargamu lebih sayang samamu.”

Fakta bahwa Andy dan anaknya bisa diam-diam membentuk keluarga lain dengan Rainie sudah cukup membuktikan bahwa mereka tidak menghiraukan perasaannya, mereka lebih mengutamakan bersama Rainie.

Belum selesai ucapannya, terdengar suara gemuruh dari kejauhan, tanah di bawah kaki seolah mulai bergetar. Shanon hendak bertanya apa yang terjadi, ketika menengadah dia melihat sekilas bayangan putih menyilaukan bergerak cepat ke arahnya. Orang-orang di sekitarnya langsung berhamburan, suasana menjadi kacau. Dia reflek meraih ujung pakaian Andy. Namun detik berikutnya, dia melihat ujung pakaian Andy terseret dari tangannya menuju ke arah Rainie. Dan Shane yang semula di hadapannya juga berlari ke arah yang sama.

“Rainie!”

“Kak Rainie!”

Gubrak!

Tumpukan salju berat menimpa Shanon. Sebelum kehilangan kesadaran, dia sempat melihat Andy yang pernah bilang mencintainya dan Shane yang selalu menjaganya melindungi wanita yang di pelukannya.

Bab 5

Seminggu sudah berlalu ketika dia sadar kembali. Begitu melihatnya siuman, perawat dengan terburu-buru dan gembira memanggil dokter untuk memeriksanya.

“Nyonya Shanon, akhirnya Anda siuman!”

“Pak Andy dan Tuan Muda Shane sudah mencari hampir semua dokter di kota ini untuk memeriksa Anda. Demi kesembuhan Anda, Pak Andy bahkan mendonorkan dua puluh miliar rupiah, berharap agar perbuatan baiknya bisa lebih cepat menyembuhkan Anda.”

“Mereka pasti akan sangat senang mendengar Anda sudah sadar.”

Begitu selesai bicara, Andy dan Shane pun mendorong pintu dan masuk.

Melihat Shanon sudah siuman, mereka berdua langsung memeluknya dengan ketakutan, pandangan mereka juga dipenuhi rasa sayang.

“Shanon, akhirnya kau bangun, kau tahu nggak betapa khawatirnya aku sepekan ini.”

Mata Shane memerah, suaranya tercekat oleh emosi.

“Mama, aku begitu takut kau nggak bisa sadar lagi.”

Pada umumnya cowok tidak boleh menangis sembarangan, tapi sekarang dia merasakan tetesan air mata di punggung tangannya.

Mata Shane juga berlinangan air mata.

Akan tetapi, air mata mereka berdua tidak membuatnya terharu. Dia hanya merasa ironis.

Ketika bahaya datang, insting perlindungan mereka tertuju pada Rainie. Melihat kenyataan ini, dia sakit hati. Dia yakin telah memberikan cintanya semua pada Andy, mencintai dia dengan segenap jiwanya. Adapun Shane, anaknya, dia membesarkannya sendiri sejak bayi.

Namun Rainie, yang baru muncul selama beberapa bulan, dapat dengan mudah menghapus semua itu dan menggantikan posisinya.

Melihat ini, Andy dan Shane merasa panik dan buru-buru mulai menjelaskan.

“Shanon, situasi saat itu sangat mendesak, aku nggak bisa bedakan yang mana dirimu pada pandangan pertama, jadi aku salah melindungi orang.”

“Mama, Papa dan aku nggak akan membiarkanmu dalam bahaya lagi. Kali ini, semuanya salah kami.”

Tubuh Shanon yang baru sadar masih lemah. Sekarang dia hanya merasa lelah sekali, dia tidak punya tenaga untuk mengungkap sandiwara mereka yang jelek ini.

Dia hanya perlu menunggu seminggu lagi, maka dia bisa meninggalkan tempat ini, meninggalkan ayah dan anak berkedok ini.

Selama beberapa hari, mungkin karena merasa bersalah, Andy dan Shane terus menjaganya di rumah sakit.

Namun, telepon Andy tak henti-hentinya berdering. Panggilan datang tanpa henti setiap hari, tapi dia mengabaikannya setiap kali.

Tetapi pada hari ini, teleponnya bergetar dan pesan masuk. Pupil Andy menyempit dan ekspresinya sedikit berubah ketika membaca pesan tersebut. Beberapa saat kemudian, dia berbicara dengan nada minta maaf.

“Shanon, ada urusan mendesak di kantor. Aku harus mengurusnya.”

Shane juga ikut membaca pesan, dan dengan terburu-buru berkata, “Mama, aku juga akan ikut Papa ke kantor.”

Shanon memperhatikan ekspresi mereka.

Urusan apa yang membutuhkan Shane? Pasti menyangkut Rainie lagi.

Melihatnya mengangguk, kedua ayah dan anak itu bergegas pergi.

Shanon bangun dari tempat tidur dan mengikuti.

Di tikungan koridor rumah sakit, dia menyaksikan Rainie dengan air mata mengalir di wajahnya melemparkan dirinya ke pelukan Andy.

Namun, ekspresi Andy menjadi muram. Dia melepaskan tangan Rainie dengan kasar, dengan nada penuh peringatan dia bertanya, “Ngapain kau di sini? Aku sudah bilang, Shanon belum sepenuhnya pulih. Kau harus tinggal di rumah beberapa hari ini dan jangan muncul di hadapannya!”

Mendengar itu, tangisan Rainie semakin keras dan dia kembali melemparkan dirinya ke dalam pelukan Andy, memeluk pinggangnya erat dengan kedua tangan dan berbicara melalui tangisannya.

“Aku sangat merindukan kalian berdua. Sudah sepuluh hari sejak aku terakhir melihatmu. Kita sepakat kau akan menghabiskan setidaknya dua jam bersamaku setiap hari.”

Melihat Rainie menangis, Shane menjadi gugup dan mulai menjelaskan dengan terburu-buru.

“Kak Rainie, Papa dan aku juga sangat merindukanmu, tapi mama belum sembuh dan kami harus menemaninya.”

“Papa, hiburlah Kak Rainie.”

Merasa kelembapan di dadanya dan mendengar permohonan anaknya, Andy menghela napas, dan ekspresinya melembut.

“Jangan menangis. Hatiku juga hancur melihatmu seperti ini. Aku akan menghabiskan dua hari ke depan bersamamu, oke?”

Tangisan Rainie langsung berhenti.

“Benarkah?”

Setelah mendapatkan konfirmasi dari Andy, Rainie akhirnya tersenyum, lengannya melingkari leher Andy, pandangannya dipenuhi kelembutan.

Pandangan Andy meredup, jakunnya bergerak sedikit. Detik berikutnya, Andy meraih bagian belakang kepala Rainie dan menciumnya dengan penuh gairah.

Keduanya berciuman dengan penuh gairah sampai menghasilkan suara, seolah mengungkapkan semua kerinduan terpendam selama sepuluh hari terakhir.

Melihat ini, Shane menutup matanya dan berbalik, tetapi nadanya diwarnai tawa.

"Papa dan Kak Rainie sungguh memalukan!"

Shanon kembali ke bangsal dengan linglung, air mata mengalir di wajahnya, membasahi bantal. Dia menggigit bibir bawahnya erat-erat untuk menahan isak tangisnya.

Dia terus berkata pada dirinya sendiri, sebentar lagi, sebentar lagi, lalu dia boleh pergi. Inilah terakhir kalinya dia meneteskan air mata untuk kedua orang ini.

Lebih Baik Kejam daripada Penuh Kasih Sayang

Bab 3
Bab
Sesuaikan
Bab Berikutnya