Bab 2

Shanon mendongak dan langsung melihat Andy dan Shane berdiri di pintu. Shane turun dari pelukan Andy, melompat dengan langkah kecil ke pelukannya. “Mama, siapa yang mau pergi?”

Shanon berkata pelan. “Seorang temanku. Pernikahannya hancur, dia berencana meninggalkan suami dan anaknya.”

Shane mendongak dan mencium pipinya dengan kuat. “Teman Mama sangat kasihan. Untung aku dan Papa akan selalu mencintai Mama.”

Andy menaruh jaketnya dan melangkah mendekat, memeluk mereka berdua, nada suaranya seperti biasa penuh kelembutan. “Shane benar, Shanon, kita sekeluarga akan selalu bersama.”

Shanon tidak menjawab, bulu matanya yang panjang menutupi kepahitan di tatapannya. Selamanya kah?

Mereka tidak akan lagi punya selamanya.

Melihat kue di meja, Shane buru-buru menyerahkan tasnya.

“Mama, ini hadiah yang Papa dan aku pilih untukmu!”

Andy mengeluarkan kotak kado dari tas dan membukanya, sebuah kalung zamrud. Dengan nada penuh maaf, Andy berkata, “Shanon, pekerjaan di Prancis terlalu sibuk. Aku dan Shane pulang agak terlambat, jangan marah sama kami ya.”

Sambil berbicara, dia mengambil kalung itu hendak menundukkan kepala untuk memakaikannya di leher Shanon. Saat mendekat, Shanon mencium aroma melati yang kuat. Padahal dia tidak pernah memakai parfum.

Perutnya mendadak mual, tanpa bisa menahan, Shanon mendorong ayah dan anak itu lalu bergegas ke kamar mandi untuk muntah. Andy selalu sangat memperhatikan kesehatannya. Biasanya jika ia batuk sedikit saja, Andy sudah sangat kawatir. Melihat keadaan ini Andy semakin panik dan segera menelepon dokter. Shanon menahannya, matanya yang memerah karena muntah menatapnya tanpa berkedip.

“Aku nggak apa-apa, cuma terpikir tentang suami dan anak temanku itu, merasa perilaku mereka menjijikkan.”

“Andy, kalau kau nggak mencintaiku lagi, aku akan ...”

“Nggak mungkin!”

Andy langsung menyela sebelum dia selesai bicara, melangkah maju dan memeluknya erat seolah ingin menyatu dengannya dan tidak pernah berpisah.

“Shanon, bukankah kau tahu perasaanku? Sepanjang hidup ini aku hanya akan mencintai satu wanita. Aku nggak akan membiarkanmu meninggalkanku!”

Shane juga mengepalkan tangannya, wajahnya serius. “Mama, tenang saja, aku dan Papa pasti nggak akan menyakiti Mama.”

“Aku juga akan bantu awasi Papa. Kalau dia berani nggak setia pada Mama, aku pasti langsung bilang pada Mama! Aku selalu di pihak Mama.”

Kata-kata ini membuat Andy tersenyum. “Dasar bocah, apakah di hatimu aku seperti itu?” Shane menatapnya sinis. “Hmph, bagaimanapun aku paling cinta Mama, aku akan melindungi Mama.”

Mendengar mereka berdebat, ekspresi Shanon tetap tanpa senyum. Dia merasa seolah ada pisau tajam yang mengoyak hatinya berkeping-keping. Andy bilang mencintainya, tapi di luar ada wanita lain. Shane bilang akan menjaganya, tapi dia menutupi perbuatan Andy dari Shanon. Dia tidak lagi bisa membedakan apakah kata-kata mereka kebohongan atau sungguhan. Keesokan paginya, seperti biasa Andy sendiri membuatkan sarapan untuknya, dan menatapnya dengan penuh sayang saat menyajikannya di hadapan Shanon.

“Shanon, habis sarapan kita sekeluarga ke tempat ski, bagaimana?” “Kemarin aku dan Shane pulang terlambat, hari ini kami akan menemanimu, merayakan ulang tahunmu.” Shane juga memberinya segelas jus segar, merangkul pinggangnya dan membujuk dengan manja. “Ayo, ayo Mama, main ski itu seru sekali.”

Shanon tidak berminat dengan ski, tetapi baru saja selesai sarapan, ayah dan anak itu sudah menyiapkan semua perlengkapan dan menyeretnya masuk ke mobil. Sesampainya di area ski, barulah dia tahu alasan ayah dan anak itu kukuh mengajaknya datang ke sini. Begitu turun dari mobil, dia melihat Rainie berdiri di pintu masuk area ski menoleh ke sana-sini. Begitu Andy dan Shane keluar dari mobil, mata Rainie berbinar. Dia segera berlari mendekat, melepas syal di lehernya dengan luwes dan mengikatkannya pada leher Shane, lalu menyerahkan sebuah termos kepada Andy, tatapannya berkilau. Shanon menatap serangkaian gerakan luwesnya itu dengan diam. Meski masih kecil, Shane biasanya tidak suka orang asing menyentuhnya.

Dan sejak enam tahun lalu saat ada orang yang menaruh obat dalam minuman Andy, dia tidak pernah menerima minuman dari wanita selain Shanon.

Andy sedikit berdeham, nadanya terdengar canggung.

“Shanon, ini asistenku, Rainie. Jadwal ke area ski ini diatur olehnya, lebih praktis kalau dia ikut, jadi kuajak dia.”

Shane juga ikut nimbrung, “Iya, iya, Mama, kita hanya perlu main saja, enak kan.”

Apakah untuk alasan praktis, atau karena ingin terus-menerus bersama Rainie? Dia sudah tidak punya energi lagi untuk menyelidiki niat mereka yang sebenarnya.

Saat itu Rainie seolah baru melihatnya, dengan malu-malu mengulurkan tangan. “Halo, Ibu. Aku nggak akan mengganggu kalian.”

Shanon melihat sekilas pergelangan tangan Rainie yang berhias hijau zamrud. “Apa yang kau pakai di pergelangan tanganmu?”

Mendengar itu, Rainie memperlihatkan pergelangan tangan putihnya, di sana terpasang sebuah gelang giok hijau, wajahnya menjawab dengan penuh bahagia, “Ini hadiah dari keluargaku.”

Bab 3

Dalam lima tahun terakhir, Andy sudah memberinya banyak perhiasan. Shanon bisa langsung membedakan bahwa gelang ini seharusnya satu set dengan kalung yang dihadiahka padannya tadi malam.

Shanon mencibir tipis, "Nona Rainie, sepertinya keluargamu sangat menyayangimu." Andy dan Shane memecah satu set perhiasaan itu menjadi dua bagian, separuh untuknya, separuh untuk Rainie. Seperti hati mereka, yang juga bisa dibelah menjadi dua. Rainie tersenyum dengan bahagia. "Iya, mereka selalu bilang paling sayang padaku, memperlakukan aku seperti anak kecil yang dimanja."

Mungkin khawatir dia curiga, sepanjang jalan Andy dan Shane terus memperhatikan keadaannya. Saat dia sedikit batuk, Andy langsung melepas jaketnya untuk menyampirkan di bahunya dengan penuh iba, lalu menuangkan air hangat dari termos dan menyuguhkan sampai ke bibirnya dengan penuh perhatian. Shane juga melepaskan syal dan memakaikan pada lehernya seperti orang dewasa dan menasihati agar dia tetap hangat. Tapi Shanon tidak mau mengotori dirinya dengan barang-barang yang beraroma parfum itu. Dia hanya bilang ingin kembali ke hotel untuk istirahat lalu langsung pergi. Andy dan Shane saling bertukar pandang, serentak memutuskan untuk ikut menemaninya pulang ke hotel. Hingga sore hari, ponsel Andy berdering. Dengan cepat dia mematikan nada dering, lalu menoleh ke arah tempat tidur, untungnya Shanon tidak bergeming, barulah dia lega. Nama Rainie terus muncul di layar, dan Shane menarik lengan Andy, berkata dengan suara kecil. "Papa, aku ingin ketemu Kak Rainie."

Andy buru-buru memberi isyarat untuk tenang, keduanya saling berpandangan, lalu keluar kamar dengan langkah pelan. Begitu pintu tertutup, Shanon membuka mata, mengenakan pakaiannya dan mengikuti mereka. Andy dan Shane berjalan cepat, sampai akhirnya tiba di depan pintu kamar Rainie.

Begitu pintu dibuka, Rainie langsung melompat ke pelukan Andy, suaranya penuh kesedihan.

"Andy, akhirnya kalian datang. Hari ini aku sendirian di hotel, aku sangat takut."

"Aku nggak minta kalian selalu ada 24 jam di sisiku, cukup luangkan dua jam setiap hari untukku saja."

Sambil bicara, Rainie menatap Andy dengan mata basah. Andy paling tidak tahan melihat air matanya, melihat itu hatinya langsung luluh, lalu buru-buru memeluknya dengan penuh rasa sayang sambil menghibur.

"Dua jam mana cukup, malam ini aku dan Shane akan menemanimu sepanjang malam." Shane juga ikut menjelaskan. "Kak Rainie, begitu Mama tertidur kami langsung datang, kami juga ingin bersama Kakak."

Rainie terlihat tersentuh, tetapi tiba-tiba ekspresinya meredup seperti teringat sesuatu. "Sebenarnya hari ini aku juga kedinginan, tapi di mata kalian cuma ada Nyonya Shanon, bahkan syal dan termos yang kubuat khusus untuk kalian..."

Shane khawatir Rainie sedih, cepat-cepat meraih tangannya. "Kak Rainie jangan sedih, itu salahku dan salah Papa. Aku akan menghangatkanmu, tanganku lebih hangat daripada syal."

Andy juga mengusap ujung hidungnya dengan manja. "Masa sih cemburu karena hal sepele begitu saja? Tahu kau belum puas main ski di Swiss, aku sengaja pilih tempat ini, nggak cukup kah?"

Mendengar itu Rainie menengadah, dan mencium di sudut bibirnya. "Terima kasih, Pak Andy." Tatapan Andy seketika mendalam, dia menahan kepala Rainie, bibir mereka bersentuhan dan berciuman dengan penuh gairah. Shane menutup matanya dan berlari menuju kamar.

"Wah, aku nggak mau jadi pengganggu."

Beberapa lama kemudian Andy baru melepaskan, muka Rainie merah padam, dan memukul ringan dada Andy.

"Shane barusan juga di sini loh."

Andy meraih tangannya, menaruhnya di bibir lalu mencium.

"Nggak apa, dia juga sudah terbiasa."

Lalu merangkul pinggang Rainie, menggandeng Shane masuk kamar dan menutup pintu.

Di balik pilar, Shanon sudah menangis sampai air mata membasahi wajah. Walau sudah tahu pengkhianatan mereka sejak lama, melihat sendiri membuatnya merasakan sakit yang menembus tulang. Setiap kata berubah menjadi pedang tajam yang menusuk jantungnya hingga remuk. Yang katanya merayakan ulang tahunnya itu hanya untuk menutupi ketidakpuasan Rainie yang belum puas bermain.

Shanon berlutut menekan dadanya, ucapan Andy dan Shane semalam masih bergema di telinganya. Tidak akan membiarkannya pergi? Tapi Andy, Shane, aku sudah memutuskan untuk meninggalkan kalian.

Bab 4

Keesokan paginya, saat Shanon terbangun, Andy dan Shane sedang masuk ke kamar sambil membawa sarapan. Melihat dia bangun, Andy dengan sangat alami menyerahkan sarapan ke tangannya, menatapnya penuh kasih sayang.

“Aku dan Shane ingin kau tidur lebih lama, jadi kami sengaja bangun lebih pagi untuk ambil sarapan.”

Shane juga memanjat ke atas tempat tidur dengan kaki kecilnya, bersandar di bahunya. “Baru saja ninggalin sebentar aku udah kangen banget, Ma.”

Shanon merasakan kedinginan di sampingnya dan pandangannya menunjukkan sedikit sindiran pada diri sendiri.

Jelas-jelas mereka tidak pulang semalam, baru juga turun dari ranjang Rainie, tapi beraninya bilang “mengambil sarapan”. Dulunya dia tidak tahu akting mereka sehebat ini.

Setelah sarapan, Andy dan Shane langsung mengajaknya ke area ski. Rainie sudah berdandan lengkap dengan perlengkapan ski menunggu mereka di pintu masuk. Tapi Shanon tidak berminat main ski.

Andy menatapnya dengan sedikit khawatir, dia bertanya dengan nada menguji, “Shanon, belakangan ini kau kenapa? Apa aku atau Shane bikin kau nggak senang?”

Shanon menggeleng. “Nggak, cuma urusan temanku mengganggu suasana hatiku.” Baru setelah itu Andy merasa lega, lalu mencium dahinya dengan lembut. “Tenang Shanon, hal kayak gitu pasti nggak bakal terjadi di keluarga kita. Kalau kau nggak mau main ...”

Belum selesai berkata, terdengar suara Rainie yang ragu. “Pak Andy....”

Melihat pandangan Rainie yang berpengharapan, Andy menghela napas kecil, lalu mengubah kata-katanya. “Kau tunggu kita di sini, aku, Shane dan Rainie main beberapa putaran, lalu balik.”

Shane tidak bicara, tapi Shanon dengan mata tajam melihat tangannya diam-diam sudah meraih ujung pakaian Rainie. Mungkin dia terlalu rindu menghabiskan waktu bertiga, sampai sama sekali tidak khawatir tindakannya ketahuan olehnya. Shanon mengangguk tanpa berkata.

Andy menyuruh staf hotel untuk menjaganya, lalu memakaikan sarung tangan dari tas pada tangannya dengan teliti. “Shanon, di sini dingin, aku khawatir kau kedinginan, kalau nggak enak badan langsung telepon aku.”

Shane juga memeriksa resleting pakaiannya. “Aku juga nggak mau lihat Mama flu.” Melihat seluruh perhatian mereka tertuju padanya, Rainie tidak bisa menahan rasa cemburunya. “Nyonya, Pak Andy dan Tuan Muda Shane itu baik banget sama Anda.” Mendengar itu Shanon menatapnya sejenak. Di mata Rainie masih tersisa sedikit rasa cemburu yang tidak sempat disembunyikannya.

Shanon hanya sedikit tersenyum, dan berkata dengan makna tersirat. “Aku rasa keluargamu lebih sayang samamu.”

Fakta bahwa Andy dan anaknya bisa diam-diam membentuk keluarga lain dengan Rainie sudah cukup membuktikan bahwa mereka tidak menghiraukan perasaannya, mereka lebih mengutamakan bersama Rainie.

Belum selesai ucapannya, terdengar suara gemuruh dari kejauhan, tanah di bawah kaki seolah mulai bergetar. Shanon hendak bertanya apa yang terjadi, ketika menengadah dia melihat sekilas bayangan putih menyilaukan bergerak cepat ke arahnya. Orang-orang di sekitarnya langsung berhamburan, suasana menjadi kacau. Dia reflek meraih ujung pakaian Andy. Namun detik berikutnya, dia melihat ujung pakaian Andy terseret dari tangannya menuju ke arah Rainie. Dan Shane yang semula di hadapannya juga berlari ke arah yang sama.

“Rainie!”

“Kak Rainie!”

Gubrak!

Tumpukan salju berat menimpa Shanon. Sebelum kehilangan kesadaran, dia sempat melihat Andy yang pernah bilang mencintainya dan Shane yang selalu menjaganya melindungi wanita yang di pelukannya.

Lebih Baik Kejam daripada Penuh Kasih Sayang

Bab 2
Bab
Sesuaikan
Bab Berikutnya