Bab 1

“Pak, kumohon hentikan. Aku datang ke sini untuk belajar mengemudi, bukan untuk berselingkuh!”

Di dalam mobil latihan, karena aku selalu tak bisa menginjak kopling dengan benar. Pak Peter yang merupakan instruktur, sekaligus teman suamiku menyuruhku duduk di pangkuannya.

Namun, aku mengenakan rok pendek hari ini dan tidak memakai celana pengaman di dalamnya!

Yang lebih parah lagi, dia malah mengeluarkan benda miliknya dan menempelkannya langsung ke arahku.

Namaku Wenny. Baru-baru ini, perusahaan menugaskanku untuk melakukan perjalanan dinas, jadi aku memutuskan untuk membuat SIM.

Kebetulan teman suamiku, Peter adalah seorang instruktur mengemudi dan dia tak memungut biaya dariku.

Pada hari latihan, suamiku menyarankan agar aku berpakaian menarik.

Bagaimanapun, istri adalah wajah suaminya di luar.

Aku pun berpikir sejenak, lalu mengenakan rok pendek ketat yang dibelikan suamiku, yang membentuk jelas bokongku yang besar dan bulat. Sementara bagian dada yang penuh bergoyang setiap kali aku melangkah, seperti riak air.

Mata suamiku langsung terpaku, dia memujiku tanpa henti.

“Bagus! Kamu cantik sekali pakai ini! Temanku pasti iri setengah mati!”

Aku mendengus kesal sambil berkata, “Kamu nggak takut istrimu dilirik pria lain?”

Setelah mengenakan stoking, aku pun berangkat ke lembaga kursus mengemudi.

Sesampainya di depan mobil Peter, aku membungkuk dan mengetuk kaca jendela.

“Pak Peter, aku datang untuk belajar mengemudi.”

Peter menurunkan kaca jendela dan tatapan matanya langsung tertuju padaku.

Aku menunduk dan baru menyadari bahwa saat membungkuk tadi, pakaianku terbuka dan memperlihatkan bagian putih yang cukup luas.

Aku buru-buru menutupinya dengan tangan.

“Kau Wenny, ya? Ayo, cepat naik. Suamimu itu teman baikku, aku pasti akan mengajarmu dengan sungguh-sungguh. Aku jamin sekali tes akan langsung lulus.”

Setelah duduk di kursi penumpang depan, dia menepuk pahaku.

“Perhatikan baik-baik. Kaki kiri injak di sini, kaki kanan dilepas, mobil akan mulai jalan. Saat mobil mulai bergetar, itu namanya setengah kopling.”

“Kamu coba sekarang.”

Saat aku menginjak kopling, karena tak bisa mengatur tenaga dengan baik, mesin mobil malah mati.

Aku mencoba beberapa kali, tapi mesin tetap saja mati.

Peter terlihat tidak sabar. Dia langsung meletakkan satu tangannya di pahaku.

Entah hanya perasaanku atau bukan, telapak tangannya yang lebar seolah sengaja menggesek pahaku yang dibalut stoking. Seketika, tubuhku langsung menegang.

“Aku akan mengajarmu cara mengatur tekanannya. Begitu tanganku memberi isyarat, kamu lepaskan rem.”

Kontak sedekat itu membuatku semakin gugup.

Dengan suara ragu, aku berkata, “Pak, sepertinya kurang pantas begini? Suamiku itu teman baikmu, tapi kamu malah menyentuh pahaku begini….”

Dia malah tertawa lepas, “Takut apa? Justru karena kamu istri temanku, aku ingin benar-benar mengajarimu. Aku bukan sengaja bermacam-macam. Murid lain bahkan belum tentu dapat penjelasan sedetail ini.”

Aku pun merasa lebih tenang dan kembali menginjak kopling di bawah arahannya.

Mobil mulai bergetar perlahan. Tiba-tiba telapak tangannya menekan lebih kuat, mencengkeram pahaku.

“Jangan gerakan kaki dulu. Di titik ini, lalu pelan-pelan lepaskan rem.”

Seumur hidupku, ini pertama kalinya pahaku disentuh pria lain selain suamiku. Bahkan melalui stoking pun, aku bisa merasakan hangat telapak tangannya, memunculkan getaran aneh di dalam hati.

Karena gugup, aku melepas rem terlalu cepat dan mobil langsung melesat maju.

Peter tiba-tiba menginjak rem di kursi penumpang depan dengan kuat, membuat seluruh tubuhku terdorong ke depan karena dorongan yang kuat.

Tangannya tepat menyentuh bagian bawah rokku! Seketika, seluruh tubuhku seperti tersengat listrik, terasa geli.

Ini benar-benar memalukan!

Peter pun segera menarik tangannya dan menatapku.

“Kaki harus dilepas pelan-pelan. Jangan gugup, coba lagi.”

Aku menarik napas dalam-dalam beberapa kali dan akhirnya mobil bisa berjalan.

Berikutnya adalah latihan parkir mundur.

Ini benar-benar menyulitkanku. Aku sudah mencoba berkali-kali, tapi tetap tidak bisa masuk.

Kalau tidak melindas garis, posisinya miring. Tidak ada satu pun yang berhasil.

Peter melihatnya sambil menggelengkan kepala, “Dengan kemampuan seperti ini, sepertinya sepuluh tahun pun belum tentu bisa.”

Mendengar itu, aku jadi panik.

“Lalu bagaimana? Aku sudah mulai sering dinas keluar kota bulan depan, nggak bisa menyetir jelas nggak mungkin.”

Peter mengusap dagunya, lalu menatapku dengan sorot mata yang menggoda.”

“Ada caranya. Kamu duduk di pangkuanku, aku mengajarkanmu langsung. Dijamin cepat bisa.”

Aku terkejut. Duduk di pangkuannya rasanya terlalu intim. Kalau sampai suamiku tahu, dia pasti akan berpikiran aneh-aneh.

“Sepertinya… kurang pantas. Duduk di pangkuanmu, nggak terasa terlalu dekat? Sepertinya suamiku nggak akan setuju.

Melihat reaksiku, Peter langsung mengeluarkan ponselnya dan langsung menelepon suamiku.

“Halo, John. Istrimu sudah belajar tiga jam, tapi masih belum bisa juga. Aku mau menyuruhnya duduk di pangkuanku supaya aku bisa mengajarinya langsung. Kamu setuju, nggak?”

Tak disangka, suamiku langsung menyetujuinya tanpa ragu.

“Aku percaya caramu. Selama dia bisa menyetir, duduk di pangkuan itu bukan masalah.”

Usai bicara, Peter langsung menutup teleponnya.

Terasa seperti ada api yang menyala di hatiku. Kok suamiku bisa sebegitu santainya? Istrinya duduk di pangkuan pria lain, dia pun tidak peduli?

Kalau begitu, aku juga tak perlu begitu menjaga diri.

Dengan perasaan ingin membalas suamiku, aku pun duduk di pangkuan Peter.

Aku sengaja menggeser pinggul ke belakang, hingga bisa merasakan sesuatu yang keras menekanku.

Seketika, wajahku langsung memerah. Peter benar-benar luar biasa, rasanya sangat keras.

Tidak seperti suamiku yang lemas, sudah lama tidak memberiku kebahagiaan sebagai seorang wanita.

Kedua tanganku memegang setir dan Peter langsung memegang tanganku untuk mengajari cara memutar setir.

Dia menyalakan mobil dan sengaja menahannya di setengah kopling, sehingga mobil bergetar dengan hebat.

Seiring dengan getaran mobil, benda itu terus-menerus menekan tubuhku dengan kuat.

Sensasinya sungguh memicu adrenalin. Wajahku memerah sampai ke telinga, seluruh tubuhku terasa panas, seolah-olah ada semut yang merayap di dalam.

Aku tidak tahan lagi dan mengeluarkan rintihan pelan yang tertahan.

“Uh… hm….”

Bab 2

“Pak Peter, bisakah kita jalankan mobilnya sekarang?”

Namun, satu tangan Peter malah menyelinap masuk ke balik kerah bajuku, lalu meremas bagian lembut di dadaku dengan kuat.

“Suamimu tahu kalau kamu sesensitif ini? Dia benar-benar beruntung bisa menikahi istri secantik dirimu.”

Perlakuan itu membuat tubuhku melemas seketika. Aku ingin marah, tapi entah kenapa malah tak bisa.

“Pak Peter, kamu berani sekali. Kamu nggak takut kalau suamiku tahu?”

Aku mencoba menepis tangannya dan merapikan pakaianku.

Namun, Peter malah semakin berani. Dia mengeluarkan benda miliknya dan menempelkannya tepat di bawahku.

Napasku tertahan, jantungku berdebar keras. Benda panas itu menempel erat di bagian tubuhku yang paling sensitif.

Aku mengenakan rok mini dan di baliknya hanya ada lapisan celana dalam yang sangat tipis!

Sentakan itu terasa seolah menembus hingga ke titik terdalam sensitifku.

“Aku dan John sudah berteman begitu lama. Menurutmu, dia bakal lebih percaya padaku atau padamu?”

Sambil menyeringai nakal, dia menekanku kuat-kuat ke badannya, lalu mulai menjalankan mobil.

Meski aku sempat berniat membuat suamiku marah, tapi tindakan ini benar-benar sudah kelewat batas.

Aku ingin berdiri dan menghentikannya.

Namun, benda milik Peter terlalu besar dan sangat panas.

Benda itu menempel erat di pangkal pahaku, seolah memiliki kekuatan magis yang menghisapku.

Tiba-tiba, hasrat dalam tubuhku melonjak. Ada bagian dari diriku yang ingin dipuaskan dengan kuat oleh benda itu, ingin merasakan sensasi yang sebenarnya!

Begitu pikiran itu muncul, aku langsung menepisnya.

Tidak, tidak! Bagaimanapun, aku ini istri orang, tidak seharusnya berpikir begitu.

Tiba-tiba, Peter memegang kedua tanganku dan memutar setir.

“Perhatikan, saat mobil sampai di sini, putar setir ke kiri sampai habis, lalu luruskan kembali.”

Pikiranku sudah kacau balau karena gesekan itu. Aku bahkan tidak bisa lagi membedakan mana kiri dan mana kanan

Hanya bisa membiarkan dia mengendalikan tanganku.

Setiap kali mobil berhenti mendadak, aku merasa benda itu semakin menekan masuk.

Celana dalamku tipis dan sepetinya benda itu sudah mendesak masuk ke celah terdalam.

Seluruh beban tubuhku bertumpu di sana. Hasrat tubuhku semakin kuat, seperti panci presto yang hampir meledak.

Melihat wajahku yang sudah memerah, Peter menghentikan mobil. Tangannya mulai bergerak tidak karuan, meraba-raba tubuhku.

Telapak tangannya yang hangat menyentuh hampir seluruh bagian tubuhku. Jika terus begini, rasanya sel-sel di sekujur tubuhku akan meledak.

Dan tiba-tiba, jarinya menyelinap ke balik rokku, lalu memainkan lembut di sepanjang celah sensitifku.

Seluruh tubuhku gemetar hebat. Aku merasakan gelombang kenikmatan yang luar biasa menjalar dari bawah ke seluruh tubuhku.

“Jangan… nggak boleh di sana… uh….”

Aku tak boleh mengkhianati suamiku!

Namun, sensasi ini… uh… kok bisa… rasanya senyaman ini!

Peter sangat paham titik sensitif wanita. Dia bisa dengan tepat menemukan titik paling peka dan memainkannya dengan liar.

Tenggorokanku terasa gatal dan aku tak bisa menahan desahan yang mulai keluar.

“Ahh… uh… jangan, jangan….”

Peter menarik tangannya. Cairan bening terlihat membasahi jari tengahnya.

“Kamu bahkan sudah sebasah ini, jangan menahan diri lagi. Kamu nggak mau mencoba sensasi selingkuh yang mendebarkan?”

Aku berusaha sekuat tenaga menahan rasa geli yang menusuk sampai ke tulang itu, mencoba menolak sebisanya.

“Nggak, aku nggak boleh mengkhianati suamiku.”

“Kumohon hentikan, aku ke sini untuk latihan menyetir, bukan untuk berselingkuh.”

Siapa sangka, Peter malah semakin menjadi-jadi. Dia menarik celana dalamku hingga bokongku terbuka sepenuhnya.

“Sialan! John saja bisa menidurimu, kenapa aku nggak boleh? Aku harus mendapatkanmu hari ini!”

Hatiku dipenuhi rasa kaget dan takut, tapi rasa takut itu tertutup oleh api gairah yang membakar. Aku ingin menolak, tapi tenagaku seolah lenyap.

“Kumohon, Pak Peter….”

Peter memegang kedua belas pantatku dan mengangkat tubuhku. Tepat di bawahku adalah benda miliknya yang menegang.

Seolah ada daya tarik magis yang memintaku untuk segera duduk di atasnya.

Aku merasakan aliran hangat terus mengalir keluar dari dalam tubuhku.

“Kamu nggak tersiksa menahannya seperti ini? Mau aku memuaskanmu?”

Rasanya seluruh organ tubuhku akan meledak. Aku tak bisa menahannya lagi. Sambil menggoyangkan pinggul, aku berbisik,

“Jangan sampai suamiku tahu….”

Baca Cerita Lengkapnya Sekarang
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk menghadirkan lebih banyak cerita luar biasa Goodnovel
Buka Semua Bab
Cari "B99320" di goodnovel para membaca buku selengkapnya.
Salin kode dan cari di aplikasi NovelShort untuk melanjutkan membaca.
B99320
Salin

Latihan Terlarang Bersama Instruktur Pengemudi

Bab 1
Bab
Sesuaikan
Bab Berikutnya