Bab 1
Setelah terlahir kembali, aku memutuskan untuk menuliskan nama adikku di formulir pendaftaran pernikahan.
Kali ini, aku ingin merestui Hans. Di kehidupan ini, aku membiarkan adikku memakai gaun pengantinku dan cincinku. Aku mengatur setiap pertemuannya dengan adikku.
Setelah dia membawa adikku ke Kota Barga, aku langsung pergi ke Selatan untuk melanjutkan kuliah di Kota Sarna.
Karena di kehidupan sebelumnya, setelah hidup lebih dari setengah abad, dia dan putraku memohon padaku untuk menceraikannya dan merestui hubungannya dengan adikku.
Di kehidupan ini, aku hanya ingin hidup untuk diri sendiri dan meraih kesuksesan, tanpa memikirkan percintaan lagi.
"Serahkan padaku setelah tanda tangan."
Hans Pratama mengetuk meja dengan tidak sabar.
Aku menatap formulir pendaftaran pernikahan sambil mengusap tepi kertas yang kasar dengan ujung jariku. Pikiranku terus mengembara.
Di kehidupan sebelumnya, aku menuliskan namaku dengan serius, seolah-olah dianugerahi titah pernikahan. Kemudian, aku mengajak Hans pergi membeli permen pernikahan dengan gembira.
Alhasil, dia memarahiku habis-habisan. Hanya karena Helen sedang menstruasi dan dia ingin segera pulang untuk membuatkan air gula merah.
Aku menjawab dengan singkat, "Ya, aku tahu."
Aku mengangkat kepalaku untuk melihat ekspresinya. Dia terlihat sangat cemas dan terus melirik jam tangannya. Hari ini, dia mengenakan kemeja putih dengan manset yang tergulung di siku, memperlihatkan otot lengannya yang kekar.
Seingatku, Helen paling suka melihat Hans berpakaian seperti ini. Menurutnya, penampilan ini membuat Hans terlihat rapi dan segar.
"Kalau ada urusan, pergilah dulu."
Aku menahan rasa sakit yang meluap di hatiku dan berpura-pura tenang. "Aku akan menyerahkannya setelah diisi."
Memang benar, dia terlihat lebih lega dan nada bicaranya menjadi lebih lembut.
"Jangan khawatir. Karena kita sudah menikah, aku akan bertanggung jawab padamu."
"Tapi, berhentilah cemburu pada Helen. Kalau sampai orang lain tahu, nggak baik untuk reputasi Helen."
Aku terdiam. Di kehidupan sebelumnya, aku sudah berulang kali menjelaskan hal ini. Namun, di mata Hans, aku adalah seorang kakak yang cemburuan, berpikiran sempit dan tidak bisa menoleransi saudara yang baik hati.
Tanpa basa-basi, dia pergi dengan terburu-buru.
Aku menarik napas dalam-dalam dan berusaha menstabilkan detak jantungku yang tidak beraturan. Namun, kejadian di masa lalu terus melintas di pikiranku.
Pada malam pernikahan, dia tidak pulang semalaman dengan alasan perlu merawat Helen yang sedang sakit. Ketika dia pergi bertugas, dia hanya membawa Helen. Katanya, Helen tidak pernah pergi ke Kota Barga.
Bahkan pada hari kelahiran putra kami, Hans pun tidak datang. Dia pergi menghibur Helen yang baru bercerai.
Sebelum meninggal, putraku masih berusaha membujukku.
"Ibu, bercerailah dengan Ayah. Dari segi mana pun, Ibu nggak bisa saingi Bibi."
"Ayah sudah berusaha hidup bersamamu selama bertahun-tahun, lepaskan Ayah."
Aku menatap suamiku yang duduk di kasur dengan acuh tak acuh, dia tidak mengucapkan sepatah kata pun. Dia secara tidak langsung membenarkan ucapan putra kami.
Aku menggigit bibir bawahku dengan kuat. Setelah bau darah menyebar, aku pun perlahan-lahan melepaskan gigitanku.
Tidak, aku tidak akan mengulangi kesalahan yang sama di kehidupan ini.
Aku mengambil pena, lalu menuliskan dua kata di kolom pemohon.
"Helen Sagara."
Hans, karena kamu begitu mencintainya, aku akan memenuhi keinginanmu.
Aku menyerahkan formulir pendaftaran yang sudah diisi kepada staf, lalu mengambil surat nikah dan meninggalkan Kantor Urusan Agama. Aku bukan hanya tidak sedih, sebaliknya aku merasakan kegembiraan yang tidak dapat dideskripsikan.
Di kehidupan sebelumnya, orang tuaku meninggal saat bertugas. Kemudian, aku dan Helen diadopsi oleh Keluarga Pratama.
Helen pandai berbicara dan beradaptasi. Alhasil, dia diperlakukan lebih baik daripada putri kandung Keluarga Pratama. Ibu Hans sudah lama ingin menikahkan Helen dengan Hans.
Namun, Helen berkata, "Aku nggak mau rebutan dengan kakakku." Oleh karena itu, Hans menikahiku dengan sukarela.
Bab 2
Sebenarnya, dia hanya ingin menggantung Hans. Bagaimanapun, saat itu Hans hanyalah seorang kapten. Dia menantikan yang lebih baik.
Aku pergi ke kampus untuk menanyakan hal-hal yang perlu disiapkan sebelum masuk kuliah serta biaya hidup yang perlu dikeluarkan. Setelah itu, aku pulang dengan tenang.
Sesampai di ruang keluarga Hans, terdengar Helen mengeluh dengan nada manja.
"Kak Hans, kamu meninggalkan kakakku dan pulang untuk menemaniku, kakakku nggak marah?"
"Aku bisa menemaninya kapan saja."
"Tapi, kamu selalu kesakitan setiap datang bulan. Aku khawatir kalau tinggalkan kamu sendirian di rumah."
Helen tersenyum gembira, lalu berpura-pura tertekan.
"Setelah menikah dengan kakakku, Kak Hans masih akan memperlakukanku dengan baik?"
"Tentu saja." Hans menjawab dengan tegas, "Selain kamu, aku perlu baik sama siapa lagi? Kalau kakakmu nggak baik sama kamu, aku akan menceraikannya!"
Aku mengepalkan tanganku erat-erat untuk menahan kekesalan di hatiku.
Ternyata setelah terlahir kembali dan mendengar suamiku begitu kejam padaku, aku tetap akan sedih.
Aku menenangkan diri, lalu berjalan memasuki rumah, seolah-olah tidak terjadi apa pun.
Hans keluar dari kamar Helen dengan canggung.
"Aku ... Helen nggak enak badan, aku pergi melihatnya."
Aku mengiakan dengan pelan, lalu berbalik ke kamarku.
Di kehidupan sebelumnya, aku sering bertengkar dengannya karena mereka terlalu mesra.
Di kehidupan ini, aku tidak ingin membuang-buang waktu dan tenaga lagi.
Dia memanggilku. "Elvy, bagaimana kalau kita membeli sedikit permen pernikahan dan membagikannya pada para tetangga di kompleks?"
Aku menatapnya dengan heran. Kemudian, setelah dipikir-pikir, mungkin ini adalah imbalan karena aku tidak bertengkar dengannya.
"Nggak usah, nggak perlu begitu formal."
Dia tertegun. Sepertinya dia tidak menyangka aku akan menolak usulannya.
"Kak Elvy marah karena Kak Hans merawatku?"
Helen keluar dari kamar dengan ekspresi heran dan lugu.
Dia mengenakan setelan Lenin yang kubeli untuk memotret foto pernikahan.
Di kehidupan sebelumnya, aku menabung selama setengah tahun untuk membeli setelan ini dan belum pernah memakainya.
Menghadapi tatapanku, Helen menjelaskan dengan panik.
"Hari ini, aku melihat pakaian yang ada di kasur Kak Elvy sangat cantik. Aku ingin mencobanya, lupa menggantinya."
Dia menundukkan kepala sambil memainkan jari-jarinya, seperti anak kecil yang ketahuan berbuat salah.
Hans spontan berkata, "Elvy, jangan ...."
Aku menyelanya dengan tenang, "Setelan ini cocok buat kamu. Kukasih ke kamu saja, lagian aku nggak pernah pakai."
Setelah mencium bau darah dan keringat di setelan Lenin itu, aku berlari pulang dan menangis di tengah malam.
Sekarang, meskipun hanya memikirkannya, aku merasa agak mual.
Di bawah tatapan kaget mereka, aku kembali ke kamar dan mengunci pintu. Aku mengeluarkan map dokumen yang berisikan surat penerimaan dari Universitas Sarna.
Kehidupan sebelumnya, aku sangat menyukai wilayah Selatan, terutama jurusan ekonomi. Namun, aku berhenti kuliah demi Hans dan memutuskan untuk melayani mertuaku di rumah. Untungnya, sekarang aku masih memiliki kesempatan. Aku hanya ingin hidup untuk diriku sendiri.
Aku membuka kalender. Sepuluh hari lagi, aku akan meninggalkan tempat ini. Waktuku terbatas, tetapi aku harus mempersiapkannya dengan sepenuh hati.
Tiba-tiba, terdengar suara ketukan pintu. Aku membuka pintu dengan kesal.
Hans membawa semangkuk mi sambil berkata dengan lembut, "Kamu lapar? Aku memasakkan semangkuk mi untukmu."
Seketika, aku termenung.
Di kehidupan sebelumnya, dia selalu bersikap dingin padaku dan sering mengasariku.
Bab 3
Aku sudah lama tidak melihat Hans bersikap lembut padaku.
"Nggak usah, aku sudah makan di luar."
"Bagaimana mungkin? Bukannya kamu nggak rela menghabiskan uang?"
Perkatannya ini menusuk hatiku.
Dulu, aku tidak rela menghabiskan uang, hidup hemat dan menghabiskan sebagian besar gajiku untuk membelikannya barang.
Sekarang, aku akan segera kuliah dan memiliki banyak pengeluaran. Aku harus mengatur keuanganku dengan cermat.
Aku menatapnya sambil berkata dengan tenang, "Seingatku, beberapa hari lalu, kukasih 100 ribu untuk membeli kebutuhan pernikahan. Sepertinya kamu nggak beli, kembalikan padaku."
Dia tertegun, lalu menjelaskan dengan canggung, "Uang itu ... kubelikan sepatu untuk Helen."
Aku mengerutkan bibirku. Membosankan sekali, lagi-lagi seperti ini.
"Ya sudah, aku akan mengunci pintu dan tidur."
"Besok, kukembalikan ke kamu."
Nada bicaranya diselimuti amarah. "Kita ini suami istri, apa perlu begitu perhitungan?"
Aku mendengus dingin. "Jadi, kamu membelikan barang untuk orang lain dengan uang hasil jerih payahku, aku harus terima begitu saja?"
Dia mengetahui dirinya salah, tetapi dia tetap bergumam dengan kesal, "Nggak masuk akal."
Aku malas berdebat dengannya dan langsung menutup pintu.
Beberapa hari berikutnya, aku menjual sebagian barang tidak berharga yang penuh dengan kenangan masa lalu. Kini, sepertinya barang-barang itu hanyalah sampah yang tidak berharga.
Aku mengemas semuanya, lalu menjualnya kepada pemulung barang bekas dengan harga rendah dan memperoleh sedikit uang.
Sore hari, aku lanjut mengemas koperku dan Hans muncul di hadapanku.
Dia memegang uang 100 ribu sambil berkata dengan tegas, "Ini uangmu."
Aku mengambil uang itu sambil menganggukan kepala.
"Terima kasih."
Dia menatapku dengan tatapan rumit. Pandangannya tertuju pada koper yang sedang kukemas.
"Aku berencana membawa Helen menemaniku bertugas di Kota Barga, kamu nggak usah berkemas."
Aku tidak menghentikan aksiku dan hanya menganggukkan kepala.
Sepertinya dia tidak terbiasa dengan sikapku dan agak gelisah.
"Belakangan ini, ada apa denganmu? Kamu berubah drastis."
Aku menoleh dengan kesal, tetapi aku tidak ingin menimbulkan masalah.
Meskipun Hans tidak mencintaiku, kalau dia mengetahui nama Helen yang tertera di formulir pendaftaran, dia mungkin akan mendaftarkan ulang pernikahan kami demi Helen.
Aku tidak ingin berhubungan dengan pasangan berengsek ini lagi.
"Nggak apa-apa, aku cuma mau mengemasi barang-barangku. Setelah kamu pergi ke Kota Barga, aku bisa pindah ke desa."
Dia mengembuskkan napas lega, lalu menjelaskan, "Bukannya aku nggak mau membawamu sebagai pendampingku, tapi Helen nggak pernah pergi ke Kota Barga, dia ingin jalan-jalan. Beberapa bulan lagi, kujemput kamu pergi ke sana."
Aku mengangguk dengan acuh tak acuh.
Di kehidupan sebelumnya, dia tidak datang menjemputku selama delapan tahun.
Setelah Helen menikah dengan seorang komandan militer keturunan pejabat, dia baru membawaku pergi ke Kota Barga.
Dia menatapku dengan heran. Biasanya, setiap kami berduaan, aku akan mengoceh tanpa henti. Sekarang, aku menjadi sangat pendiam, dia malah tidak tenang.
"Bukannya kamu mau punya foto pernikahan? Bagaimana kalau besok kita pergi ke studio foto?"
Tidak boleh, besok aku harus pergi membeli kebutuhan kuliah.
Ketika aku ingin mencari alasan, Helen masuk. Dia merangkul lengan Hans dengan mesra.
"Kak Hans, studio apa? Helen juga mau foto."
Hans mengusap kepala Helen sambil tersenyum. "Oke, besok kita pergi bersama."